• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KEUTAMAAN HIDUP DAN KARYA KERASULAN PAULUS

C. Tafsiran Atas 2 Korintus 9:6-15

3. Penjelasan Teks

9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Di ayat 6, makna “menabur banyak” dalam ayat ini bisa dipahami sebagai praktek melakukan suatu pekerjaan yang telah Allah tugaskan kepada kita dengan sepenuh hati, baik dalam bentuk materi maupun juga dalam bentuk dukungan moral. Kedua pekerjaan ini adalah panggilan mulia sebagai umat Kristen yang harus memberitakan kabar baik. Memberitakan kabar baik sama dengan menabur benih. Selain tokoh Rasul Paulus, dalam Injil Yohanes bisa dilihat bahwa Yohanes Pembaptis juga bekerja sebagai penabur. Yesus sendiri menyamakan pekerjaan pengabaran Injil dengan pekerjaan penabur. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa kita pun harus menjadikan pekerjaan ini menjadi hal penting dalam hidup, yaitu menaburkan sebanyak-banyaknya kebaikan kapan dan dimana saja, sebab untuk dapat menuai banyak buah yang baik dalam hidup, perlu orang menaburkan benih-benih kebaikan sebanyak-banyaknya pula.

Di ayat 7, arti dari “memberi dengan kerelaan hati” dalam ayat ini yaitu orang-orang yang memberi dengan kondisi hati yang damai, bukan memberi dengan paksaan. Orang memberi dengan kerelaan hati tanpa pilih-pilih, sekalipun mungkin bantuan yang diberi sebagian akan jatuh di tempat (orang) dimana bantuan yang diberi tidak akan tumbuh atau memberi hasil seperti yang diinginkan si pemberi. Biarlah hal itu menjadi urusan orang yang diberi bantuan dengan Allah. Biar Allah saja yang mengatur dimana benih (bantuan) yang diberi akan jatuh, tumbuh dan menghasilkan. Yang penting adalah kita tidak memberi karena terpaksa, tidak dengan sedih hati dan tidak memberi benih/bantuan yang membinasakan orang lain, tetapi

kita memberi dengan kerelaan hati. Sehingga apa yang diberikan dengan kerelaan hati akan menghasilkan buah kebenaran.

Memberikan yang mau diajarkan Paulus di sini bukan hanya soal harta tetapi bagaimana memberi dengan sukacita dan ikhlas demi iman akan Kristus. Maka bentuk pengorbanan di sini bukan hanya mengorbankan harta yang dimiliki semata melainkan pemberian diri yang penuh, sebagaimana Paulus berkorban demi iman, sehingga ia mampu mengalami segala penderitaan semata-mata karena karunia Allah menyertainya. Tokoh lain dalam Injil yaitu kisah seorang janda miskin yang mempersembahkan dua peser ke dalam peti persembahan. Di mana jumlah dua peser tersebut merupakan segala yang dia miliki pada saat itu, namun ia rela memberikan semuanya (Mrk 12:43).

b. Ayat 8-9

9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

9:9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."

Di ayat 8, “berkecukupan” berarti tidak kekurangan dalam hal apapun, segala yang diperlukan cukup. Dan berkelebihan” berarti teramat banyak, melampaui atau melebihi apa yang diperlukan. Dalam hal ini orang yang bijaksana akan selalu merasa berkecukupan dalam segala hal meskipun sebenarnya dia tidak memiliki kekayaan atau materi yang berlebih. Iman yang dimiliki membuat orang-orang percaya merasa

cukup akan harta duniawi. Dalam LBI (1991: 139) dijelaskan bahwa “Allah akan

memberi kepada yang bermurah hati bukan hanya apa yang dibutuhkan orang itu sendiri, melainkan juga supaya mereka dapat memberi atau berbagi pada yang lain.

Perbuatan baik tersebut Allah akan selalu mengingatnya.” Lebih lanjut orang-orang

percaya yang murah hatinya akan selalu mengalami kebenaran janji Allah bahwa “Ia

akan memenuhi segala keperluannya menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam

Yesus Kristus” (Flp 4:19).

“Ia membagi-bagikan” di ayat 9 berarti Allah melimpahkan berkat karunia bagi orang-orang percaya terpisah dari tindakan atau jasa orang (manusia) itu sendiri. Dengan kata lain, Allah memberi berkat karunia-Nya bagi setiap orang percaya dengan cuma-cuma. Brill Wesley (t.thn: 132) dalam tulisannya mengatakan bahwa

“orang yang percaya kepada Yesus Kristus telah menerima kasih karunia Allah yang

menyelamatkan dan karena itu ia wajib menyatakan kemurahan hatinya.” Hal tersebut

ditegaskan lagi dalam Matius 10:8 “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma,

karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

c. Ayat 10-11

9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

Di ayat 10, “penyedia dan pengganda benih” di sini menjelaskan kepemilikan dan penyediaan dari Tuhan atas segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Dalam

bahasa Yunani kepemilikan Allah berarti “penyediaan” (yaitu, chorēgeō atau

chorus). Istilah lain dalam bahasa Yunani “Koine” yaitu dermawan yang secara melimpah memasok suatu kebutuhan. Orang percaya modern menghubungkannya dengan kemakmuran mereka akan kreativitas, etos kerja, akumulasi pengetahuan, atau usaha diri mereka sendiri. Namun, dalam pandangan Alkitabiah makna

“penyedia” berhubungan dengan semua sumber daya dari Allah. Kepemilikan dan

penyediaan Tuhan atas segala sesuatu tersebut memampukan orang percaya dalam melakukan pelayanan yang dipercayakan oleh Allah.

Ayat 11, makna dari “diperkaya dalam segala hal” ini menerangkan bahwa orang tidak diperkaya dalam hal materi saja, namun juga dalam hal kebutuhan rohani yang membuat orang yang diperkaya dalam hal materi dan rohani tersebut menjadi orang yang murah hati (tulus, murni) otentik (asli) dalam berbagi. Perbuatan kemurahatian itu akan dilihat orang dan memuliakan Allah. Tujuan Allah memperkaya orang percaya adalah supaya suasana kasih dan penghargaan di tengah umat-Nya tumbuh berkembang (Utley, 2011: 283).

d. Ayat 12-15

9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,

9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.

9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Ayat 12, dalam bahasa Yunani “pelayanan kasih” merupakan kata lain dari

leitourgia (liturgi) yang dipakai untuk menyebut kebaktian-kebaktian umum. Pelayanan kasih dapat diwujudnyatakan dalam tindakan pelayanan, atau pelayanan yang didasari oleh kasih. Pelayanan kasih juga dapat disebut dengan pelayanan kasih karena tidak ada imbalan atau gaji, itu dilakukan berkat ketulusan dari hati yang memberi. Pelayanan kasih yang diberikan oleh jemaat Korintus dalam pemberian tersebut membawa hasil yang memuaskan bahkan membawa hasil dua kali lipat.

Hasil tersebut “mencukupkan keperluan orang kudus dan melipatgandakan ucapan syukur kepada Allah” (Brill Wesley, t.thn: 133). Dalam hal ini, Paulus memberi pengertian kepada jemaat Korintus bahwa pelayanan kasih atau kemurahan hati yang telah mereka berikan tidak membuat mereka miskin, melainkan suatu kemurahan yang membuat jiwa mereka kaya sehingga memuji Allah. Dalam ayat 13 dikatakan

“tahan uji dalam pelayanan” dalam arti bahwa jemaat di Korintus sudah terbukti kebaikannya terhadapan pemberian yang mereka berikan untuk orang-orang yang ada di Yerusalem. Berkat kesabaran dan ketekunan jemaat Korintus dalam mengumpulkan dana untuk orang Yerusalem maka dana tersebut pun terkumpul sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitu juga dengan Paulus, dia telah tahan uji

dalam pelayanan, dia ingin menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan tidaklah mudah selalu menghadapi rintangan dan kesulitan, tidak jarang apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Berkat kemurahan hati jemaat Korintus dalam memberikan bantuan kepada orang-orang miskin yang ada di Yerusalem, orang-orang Yahudi merindukan mereka. Orang Kristen yang tinggal di Yerusalem mendoakan orang-orang Korintus (ayat 14). Di sini Paulus menyadari bahwa pemberian orang Korintus tersebut mendatangkan berkat sehingga orang Yahudi dan Yunani yang dahulu tidak saling bergaul, sekarang dipersatukan berkat kemurahan hati orang Korintus tersebut. “Orang Kristen di

Yerusalem menyadari bahwa kasih Allah melimpah atas orang Kristen yang ada di

Korintus” (Brill Wesley, t.thn: 133). LBI (1991: 140) dalam tulisannya mengatakan

bahwa “demikian hal itu mempersatukan dua kelompok dalam suatu kesatuan yang

erat dengan kemurahan hati dan doa.” Hal tersebut ditegaskan lagi dalam Ef 2:14 “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan

yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.”

Di ayat 15, arti dari “karunia” adalah Yesus Kristus sendiri. Ialah karunia

terbesar bagi umat manusia. “Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal kepada manusia, dan sebenarnya karunia itu adalah dasar dari segala pemberian

manusia” (Brill Wesley, t.thn: 134). “Suatu karunia yang demikian luhur sehingga

tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tetapi harus selalu menjadi ungkapan

menyampaikan rasa syukurnya yang tidak dapat diekspresikan lagi. Karena Allah telah memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi manusia merupakan wujud pemberian tertinggi tak terbatas atas manusia. Menurut Paulus pemberian Allah ini adalah hal yang tidak dapat dikatakan dengan bahasa manusia dan sama sekali tidak cukup diekspresikan atau dijelaskan.

Dokumen terkait