BAB V BENTUK GEGURIT AN DHARMAWISESA
5.4 Penokohan dan Perwatakan
Aspek perwatakan (penokohan) merupakan suatu masalah yang tidak dapat terlepas dari pembicaraan kajian nilai pendidian Agama Hindu dalam karya sastra. Perwatakan yang digambarkan dalam cerita Geguritan Dharmawisesa adalah imajinasi pengarang untuk dapat menimbulkan kesan hidup bagi pembaca.
Perwatakan pada umumnya dikembangkan melalui watak tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan tokoh-tokoh tersebut, ada dengan cara menganalitik, yaitu pengarang langsung menceriterakan bagaimana watak tokoh- tokohnya, dan ada dengan cara dramatic, yaitu pengarang tidak secara langsung
menceriterikan bagaimana watak tokoh-tokohnya. Penokohan dapat melalui”penggambaran tempat dan lingkungan tokoh, bentuk lahir (potongan dan lain sebagainya), melalui perbuatan seorang tokoh” (Mursal Esten, 1978:27).
“Sebagai syarat untuk membangun perwatakan tokoh dalam sebuah karya sastra sehingga dapat diterangkan secara baik dan jelas, maka aspek tersebut harus memiliki tiga dimensi, yaitu fisiologis, psikologis, dan sosiologis “(Hutagalung, 1963:63). Ke tiga dimensi di atas merupakan struktur pokok yang membangun perwatakan sehingga dapat menggerakkan tokoh-tokoh, dapat dikatak berhasil digambarkan apabila dapat menarik emosi pembaca sebagai gejolak kepuasan tersendiri.
Setelah membicarakan pengertian perwatakan, tentunya penulis mengalihkan pembicaraan kepada kepada pokok masalah, yaitu mengenai tokoh perwatakan yang ada dalam Geguritan Dharmawisesa. Tetapi untuk menguraikan dan mencari perwatakan tersebut, sebelumnya perlu diperhatikan atau diketahui tokoh-tokoh itu sendiri yang berfungsi sebagai pelaku dalam cerita.
Dalah hampir semua naratif menyebutkan bahwa tokoh dalam cerita terlihat dari banyak sedikitnya tokoh yang berhubungan dengan tokoh lain, yang dalam cerita ada tiga tokoh penting, yaitu tokoh utama, tokoh kedua (sekunder), dan tokoh komplementer (pelengkap). Sehubungan dengan perwatakan dalam Geguritan Dharmawisesa, maka penulis utamakan untuk melihat tokoh utamanya. Tokoh utama selamanya selamanya mendukung ide pengarang, mendapat porsi penulisan paling banyak diantara tokoh-tokoh yang lainnya. Lagi pula sebab akibat selamanya
bersumber dari tokoh utama tersebut, yang menumbuhkan adanya alur selalu bersumber kepada tokoh utama (Sukada, 1983:26).
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat dan diketahui bahwa tokoh utama dalam Geguritan Dharmawisesa adalah Maharaja Janamejaya dan Maharsi Wesampayana. Maharaja Janamejaya adalah raja terakhir kerajaan Hastina Pura dalam cerita Mahabharata. Beliau adalah putra Parikesit dan cucu dari Pandawa terutama Arjuna. Setelah perang Pandawa dan Korawa berakhir, maka Prabu Janamejaya berkeinginan untuk mengetahui silsilah dari nenek moyang beliua. Maharaja Janamejaya menanyakan hal tersebut kepada Maharsi Wesampayana hal ikhwal leluhur Maharaja Janamejaya. Ajaran-ajaran beliau itu kemudian dihimpun oleh Bhagawan Wararuci, ajaran inilah yang kemudian menjadi Sarasamuçcaya. Kedua tokoh utama ini memliki tipe-tipe watak tertentu yang sesuai dengan identitasnya yang telah dipersiapkan.
Setelah mengetahui tokoh utama dalam cerita, sampailah pada tinjauan perwatakan masing-masing tokoh. Pernyataan akan tokoh-tokoh utama dapat diuraiakan sebagai para pelaku yang dilukiskan karakterisasinya melalui sifat fisik (lahir) dan sifat dalam (batin). Kedua karakterisasi sifat tokoh ini dalam cerita tersebut banyak dari sifat bathiniah (dalam) yang dilukiskan di samping itu juga sifat fisiknya. Dalam hubungannya dengan karakterisasai itu, di sini akan diuraiakan secara singkat tentang watak tokoh yang lahir dari dalam (bathiniah) dan sedikit mengenai sifat yang datang dari luar (jasmania).
Perwatakan yang ditampilkan oleh tokoh utama yang bernama Janamejaya yang lahir dari dalam (bathiniah) adalah meunjukkan keluhuran budhinya, setia dan
bijaksana dalam mengikuti petuah-petuah, atau petunjuk-petunjuk Bhagawan Wesampayana, baik tentang ajaran empat tujuan hidup (Catur Purusa Artha), konsep Tri Warga, Catur Warna, Dana Punia, dan tujuan hidup yang sejati. Kedua tokoh tersebut dalam Geguritan Dharmawisesa akan membentuk satu kesatuan dalam menampilkan diri sebagai satu kesatuan yang utuh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, perwatakan yang ditampilkan oleh tokoh utama yang bernama Janamejaya dan Bhagawan Wesampayana sebagai guru menunjukkan keluhuran budhinya, setia dan bijaksana dalam mengikuti petuah- petuah sang guru. Seperti yang telah diuraiakan dalam bait pupuh Durma sebagai berikut ini:
Kawarna ta Bhagawan Wesampayana, mituturi Sang Aji,
Prabhu Janamejaya, lingikang Mahabharata, kotamane tanpa tanding, patut resepang,
pagugwanin sai gulik. (Dharmawisesa,I.14) Terjemahannya:
Diceriterakan Bhagawan Wesampayana, memberikan ajaran kepada belaiu, prabu Janamejaya,
kisah cerita Mahabharata,
keutamaan kisahnya tidak ada yang menandingi, hendaknya dipercaya dan pelajari berulang-ulang.
Dalam kutipan berikutnya dapat dijelaskan seperti di bawah ini: Uduh anaku saluir warah-warah,
pidartan catur wargi, separi polahing. katekaning ambeknia, suba ada mungguh dini, pragat makejang,
sakancane ada dini (Dharmawisesa,I.15). Terjemahannya:
Wahai putraku segala ajaran yang utama, yang mengajarkan tentang empat tujuan hidup, termasuk segala perilakunya,
dan juga pemahamannya, segalanya telah ada di sini,
sudah sangat sempurna seluruhnya, segalanya tersedia di sini.
Menyimak makna pupuh di atas, sangat jelaslah menunjukkan watak yang ditampilkan oleh seorang guru terhadap sisianya, antara Bhagawan Wesampayana dengan Prabhu Janamejaya. Kedua tokoh utama tersebut sama-sama memiliki ksiapan mental secara jasmaniah ataupun rohaniah. Bhagawan Wesampayana menjelaskan bahwa menjadi manusia hendaknya seperti matahari (dewa Surya), yaitu pada saat mulai terbit beliau telah melenyapkan kegelapan dunia, sehingga dunia menjadi terang benderang. Hal ini berarti bahwa jika seseorang di dalam hidupnya berlandaskan dharma laksana maahari yang mampu menyinari setiap orang, dan mengantarkan orang-orang gelap menuju ke jalan yang terang. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan di bawah ini :
Sakadi pamargin ida sang hyang Surya, rikalan ida mijil, ngampehang petengning rat, mangkana sesamenia,
sang maulah dharmajati,
iya nyapuhang,saluir papane basmi. (Dharmawisesa,I.31)
Terjemahannya:
Bagaiakan perjalan matahari, pada waktu terbit,
meniup gelapnya dunia, seperti itu persamaannya, jika melaksanakan dharma,
itu yang menerbangkan,
segala noda dan dosa dimusnahkan.
Berdasarkan uraian di atas, Sang Pandita kemudian menjelaskan keutamaan menjelma menjadi manusia. Semua yang dilahirkan menjadi manusia, apakah hina ataupun sempurna itu merupakan karma yang harus diterima akibat dari apa yang dilakukan pada waktu yang lampau. Hal ni dapat dilihat dalam kutipan pupuh seperti berikut ini.:
Salwir wang twi nista madia motama, jawat ayu kang kinardi,
sateleb ring manahnia, dadia ta mresidayang, sasinadianing hati, manuting lampah, sarat agung dangan alit. (Dharmawisesa,I.32). Terjemahannya:
Semua manusia apakah nista, biasa dan utama, apakah melakukan perbuatan baik,
teguh dengan kata hatinya, pastia dia akan mampu,
akan berhasil sesuai dengan harapannya, sesuai dengan perbuatan,
apakah berat, besar ataukah kecil.
Berdasarkan bait pupuh di atas, bahwa Bhagawan Wesampayana merupakan tokoh sentral yang dijadikan panutan oleh prabhu Janamejaya atau bahkan seluruh umat manusia di muka bumi ini. Dengna demikian watak yang diperankan oleh Bhagawan Wesampayana tidak diragukan lagi, mengingat beliau adalah pendeta kerajaan HastinaPura dan orang suci yang sangat dihormati karena beliau benar-benar menjadi panutan hidup manusia untuk menuju taraf hidup yang lebih sempurna sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Pendeta Wesampayana adalah orang suci yang berbudi pekerti mulia, beliau menjelaskan tentang keutamaan hidup ini, antara lain:
Sangkan jani saenun uripe serakang, dimatine enyen takonin,
japi keweh saratang, ane abot plajahang, jujurang swargane lewih, apang ya sida,
mangda tan malih numadi. (Dharmawisesa, I.21) Terjemahannya:
Oleh karena itu semasih hidup di dunia ini, jika telah mati siapakah yang akan ditanyakan? meskipun sangat berat harus diusahakan, yang sulit dipelajari,
untuk mendapatkan surga yang sangat mulia, agar didapatkan,
agar tidak lagi menjelma ke dunia ini.
Bait di atas menggambarkan, betapa berbudi pekertinya Bhagawan Waisampayana untuk mengajarkan ajaran yang maha tinggi kepada umat manusia. Pada waktu masih hiduplah manusia di muka bumi ini berbuat yang mengakibatkan pahala dari perbuatan itu menuju surga, bahkan diharapkan tidak akan menjelma lagi ke muka bumi ini.
Memang sesungguhnya lahir menjadi manusia itu tidak terlepas dari penderitaan, oleh karenanya di dalam hidup ini diusahakan untuk dapat mengurangi dan bahkan menghapus penderitaan dengan jalan melaksanakan dana punia. Dana punia yang dilakukan oleh setiap orang, pahalanya akan diterima olehnya yang melakukan dana punia itu, bukan ayah atau ibu. Hal ini dikisahkan dalam bait pupuh Sinom di bawah ini:
Punika sang dana punia, tan bapa ibunia mukti, palaning dana punika, sang manggawe ne amukti, mangkana ling sang resi,
janma ne tan marunyuh, jenekeng dharma sadana, yan pageh sinah amanggih, tang rahayu,
sama ri palaning dana. (Dharmawisesa,II.63) Terjemahannya:
Itu, orang yang melaksanakan dana punia, bukan ayah inunya yang menerima,
hasil dari dana punia yang dilakukan, hanya yang berbuat yang menerimanya, demikian sabda Resi Wesampayana, orang yang tidak ragu-ragu ,
untuk mengamalkan ajaran dharma,
jika tekun di dalam mengamalkan ajaran dharma, pasti selamat,
demikian pahalanya orang berdana punia.
Setelah perwatakan yang ditampilkan melalui ajaran-ajaran yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pelaku (sang pendeta) yang dilukiskan karakterisasinya sangat bijaksana yang ditekankan pada sifat dalam ataubathiniah, sedangkan karakterisasi melalui fisik atau sifat luhur dilukiska hanya sekedar sebagai pelengkap. Dari watak yang diperankan oleh Bhagawan Wesampayana dapat diambil kesimpulan bahwa secara keseluruhan tokoh-tokoh utama tersebut mempunyai karakter yang sama mulia yakni sesuai dengan identitasnya seperti Prabhu Janamejaya berwatak mulia, karena beliau adalah seorang raja dan sebagai sisia, sedangkan Bhagawan Wesampayana adalah orang suci, guru besar dan pendeta istana yang memiliki kemampuan ilmu yang sempurna dan beliau juga sebagai Guru yang bijaksana. Karakterisasi perwatakan itu digerakkan dalam pupuh-pupuh yang ditembangkan , sehingga dapat membentuk suasana yang menimbulkan gejolak hati para pembaca serta para pendengar dalam menyimak makna yang terkandung di dalam bait-bait pupuh itu.