• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KERANGKA TEORITIK

C. Pentingnya Penanaman Pendidikan Agama Islam Kepada Peserta Didik

Seorang bayi yang baru lahir adalah makhluk Allah SWT yang tidak berdaya dan senantiasa memerlukan pertolongan untuk dapat melangsungkan hidupnya di dunia ini. Sungguh Maha Bijaksana Allah SWT yang telah menganugerahkan kasih sayang kepada semua Ibu dan Bapak untuk memelihara anaknya dengan baik tanpa mengharapkan imbalan.

Manusia lahir tidak mengetahui apa pun, tetapi ia dianugerahi oleh Allah SWT pancaindra, pikiran, dan rasa sebagai modal untuk menerima ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan dan mendapatkan sikap tertentu melalui proses kematangan dan belajar terlebih dahulu. Mengenai pentingnya belajara menurut A.R. Shaleh dan Soependi

Soeryadinata “Anak manusia tumbuh dan berkembang, baik pikiran, rasa, kemauan, sikap,

dan tingkah lakunya. Dengan demikian, sangat vital adanya factor belajar”.71

Setiap orang tua berkeinginan mempunyai anak yang berkepribadian baik, atau setiap orang tua bercita-cita mempunyai anak yang saleh, yang senantiasa membawa harum nama orang tuanya, karena anak yang baik merupakan kebanggaan orang tua, baik buruknya kelakuan akan mempengaruhi nama baik orang tuanya. Juga anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya merupakan amal baik bagi orang tua yang akan mengalir terus-menerus pahalanya walaupun orang itu sudah meninggal dunia,

sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:”Jikalau manusia itu sudah

meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya, kecuali tiga macam: yaitu shadaqah jariyah (yang mengalir kemanfaatannya), ilmu yang mendoakan orang tuanya (untuk

keselamatan dan kebahagiaan orang tuanya).”

Untuk mencapai hal yang diinginkan itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, maupun pendidikan di masyarakat.

Menurut A.D. Marimba, “Pendidikan adalah bimbingan dan pimpinan secara sadar oleh si

pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya

kepribadian utama.”

71

Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

Pendidikan agama Islam sangat penting sebab dengan pendidikan agama Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan pada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama sesuai dengan ajaran agama Islam.

Pendidkan agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya.

Sebagaimana menurut pendapat Zakiah Darajat bahwa: ”Pada umunya agama seseorang

ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan latihan yang dilaluinya sejak kecil.”

Jadi, perkembangan agama pada seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman hidup sejak kecil, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat terutama pada masa pertumbuhan. Perkembangan agama pada anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, di sekolah, dan lingkungan

masyarakat.”72

Oleh sebab itu, seyogianyalah pendidikan agama Islam ditanamkan dalam pribadi anak sejak ia lahir bahkan sejak dalam kandungan dan kemudian hendaklah dilanjutkan pembinaan pendidikan ini di sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi.

Pendidikan agama Islam perlu diajarkan sebaik-baiknya dengan memakai metode dan alat yang tepat serta manajemen yang baik. Bila pendidikan agama Islam di sekolah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka insya Allah akan banyak membantu mewujudkan harapan setiap orang tua, yaitu memiliki anak yang beriman, bertakwa

72

kepada Allah SWT, berbudi luhur, cerdas, dan terampil, berguna untuk nusa, bangsa, dan agama (anak yang saleh).73

Pendidikan agama merupakan bidang ajaran kajian yang sangat penting dan fundamental dalam pembentukan manusia secara utuh, dan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai tata nilai, pedoman, pembimbing dan pendorong atau penggerak untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang merupakan bagian dari pendidikan agama di Indonesia mempunyai tempat yang sangat strategis dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Secara normatif Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum sebagai refleksi pemikiran pendidikan Islam, sosialisasi, internalisasi, dan rekontruksi pemahaman ajaran dan nilai-nilai Islam. Secara praktis PAI bertujuan mengembangkan kepribadian muslim yang memiliki kemampuan kognitif, afektif, normatif, dan psikomotorik, yang kemudian diejawantahkan dalam cara berfikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupannya. Dengan pembelajaran PAI, siswa diharapkan mampu mengembangkan kepribadian sebagai muslim yang baik, menghayati dan mengamalkan ajaran serta nilai Islam dalam kehidupannya. Dengan demikian PAI tidak hanya dipahami secara teoritis, namun diamalkan secara praktis.

Pendidikan Agama Islam pada dasarnya lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar siswa tidak hanya berhenti pada tataran kompetensi (competence), tetapi sampai memiliki kemauan (will), dan kebiasaan (habbit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Depdiknas merumuskan tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah, yaitu:

73

a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pembiasaan serta pengamalan siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanannya kepada Allah SWT.

b. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, toleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.74

Dari rumusan tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa output dari program Pendidikan Agama Islam adalah terbentuknya siswa yang memiliki akhlak mulia yang merupakan misi utama dari diutusnya Nabi Muhammad SAW di dunia ini. Pendidikan akhlak adalah jiwa Pendidikan dalam Islam, sehingga pencapaian akhlak mulia adalah tujuan sebenarnya Pendidikan.

Di sisi lain, terdapat tiga hal yang ikut melatarbelakangi pentingnya program peningkatan akhlak mulia. Pertama, dalam era globalisasi terdapat pengaruh negatif media elektronik dan media cetak terhadap kehidupan masyarakat. Kedua, kehidupan masyarakat kita sebagian besar belum/tidak kondusif bagi upaya peningkatan akhlak mulia, Ketiga, sebagian peserta didik (terutama di kota-kota besar) berperilaku menyimpang (perkelaian pelajar, tawuran, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan seksual, dan kenakalan remaja lainnya). Upaya peningkatan akhlak mulia bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam (PAI) saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen pendidikan di sekolah, termasuk stakeholder pendidikan.75

74

Hamdani Hamid, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012 ), 222.

75

Dokumen terkait