• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulisan Laporan Penelitian

Dalam dokumen Gambaran Tipe Konflik pada Remaja Lesbian (Halaman 26-151)

BAB III METODE PENELITIAN

H. Metode Analisis Data

5. Penulisan Laporan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak memiliki cara penulisan laporan penelitian yang baku dari mulai penyusunan proposal, pengambilan data, pengolahan dan analisis, hingga ke penyusunan laporan (Poerwandari, 2009). Pada penelitian ini laporan penelitian akan ditulis dalam 5 bab. Bab pertama akan diisi dengan latar belakang penelitian yang berisikan data dan fenomena lapangan tentang lesbian, identifikasi permasalahan yang akan diangkat, tujuan peneliti melakukan penelitian ini, manfaat penelitian ini dilakukan baik dari segi teoritis maupun dari segi praktis, serta sistematika penulisan. Bab kedua akan berisikan landasan teori yang akan menjadi acuan peneliti saat melakukan interpretasi, terdapat tiga teori yang akan dibahas yaitu teori tentan konflik, remaja, serta lesbian.

Bab ketiga akan berisikan metodologi penelitian, dimana di dalamnya akan dijabarkan bagaimana peneliti akan melakukan penelitian ini, mulai dari metodologi yang digunakan, proses pengumpulan datanya, lokasi penelitian, subjek penelitian, alat bantu yang akan digunakan di dalam pengumpulan data, prosedur penelitian yang dilakukan, kredibilitas dari penelitian, serta bagaimana cara peneliti menganalisis data yang ada. Bab keempat akan berisi tentang hasil data yang diperoleh serta pembahasan yang dilakukan berdasarkan pada teori tipe-tipe konflik. Bab

kelima akan berisian kesimpulan yang dari keseluruhan penelitian serta saran yang membangun.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi penjabaran dari hasil wawancara yang telah dianalisa dan dituangkan dalam bentuk narasi. Penjabaran ini dilakukan guna memberikan kemudahan bagi para pembaca dalam memahami tipe konflik yang terjadi pada remaja lesbian. Hasil data yang diperoleh dari Febri dan April dianalia dan diinterpretasi satu per satu. Proses analisa dan interpretasi dilakukan berdasarkan teori yang telah dicantumkan dalam bab II Landasan Teori.

Setiap proses analisa pada bab ini akan diberikan kode tertentu, misalnya R1. W2. 100416. C. B997-999. H41. Kode tersebut diartikan sebagai berikut; R1 berarti Febri; W2 berarti wawancara kedua; 100416 berarti wawancara dilakukan pada 10 april 2016; C berarti pengkodean untuk analisa tematik yang disesuaikan dengan teori; B997-999 berarti ungkapan tersebut berada pada baris 997 sampai dengan 999; H41 berarti ungkapan tersebut berada pada data verbatim halaman 41.

Gambaran Umum Subjek Penelitian Pertama

Tabel 1. Gambaran Umum Partisipan Pertama

Nama Samaran Febri

Usia 18 tahun

Jenis Kelamin Perempuan

Anak Ke 2

Jumlah Saudara Laki-laki 1 Jumlah Saudara Perempuan -

Suku Bangsa Batak

Status Mahasiswa

Tabel 2. Jadwal Wawancara Partisipan Pertama

Pertemuan Waktu

1 Senin, 04 April 2016, pukul 20.17-21.20 WIB 2 Minggu, 10 April 2016, pukul 16.30-17.12 WIB 3 Jumat, 15 April 2016, pukul 14.48-15.30 WIB

1. Subjek Pertama a. Hasil Observasi

1. Pertemuan Pertama

Senin, 04 April 2016, pukul 20.17-21.20 WIB

Wawancara pertama dilakukan di sebuah restoran cepat saji yang berada di kota Medan, tak jauh dari kediaman Subjek. Restoran tersebut dipilih guna mempermudah Subjek. Wawancara dilakukan pada hari Senin, 4 April 2016, pada pukul 20.17- 21.20 WIB. Sebelumnya peneliti dan Febri memastikan bahwa restoran tersebut merupakan tempat yang nyaman untuk melakukan wawancara. Restoran tersebut terdiri dari dua lantai, dan wawancara dilakukan di lantai dua. Dinding restoran tersebut terbuat dari kaca sehingga membuat aktifitas di dalam restoran terlihat oleh orang yang berada di luar.

Ketika memasuki restoran, yang pertama kali terlihat adalah deretan tempat makan yang tersusun rapi dengan meja persegi dan sofa bulat yang sejatinya hanya dapat diduduki oleh satu orang saja. Sebelah kanan pintu masuk yang terbuat dari kaca merupakan tempat pembelian. Tempat pembelian tersebut dijaga oleh lima orang, masing-masing berhadapan dengan satu komputer.

Pada bagian atas tempat pembelian terpampang berbagai sajian yang disediakan beserta dengan harga satuannya. Setiap pembeli dapat menerima pesanannya antara 5-15 menit setelah melakukan pembayaran. Di samping tempat pemesanan terdapat tangga yang merupakan akses untuk naik ke lantai dua. Tangga tersebut terbuat dari semen yang dilapisi oleh marmer berwarna putih.

Pertama kali memasuki lantai dua maka yang terlihat adalah susunan meja yang berbentuk persegi dan bangku yang terbuat dari besi. Dinding restoran yang terbuat dari kaca membuat tempat tersebut menjadi semakin menarik. Pengunjung dapat melihat kemerlipan lampu jalan dan bangunan-bangunan indah yang berada di sekitar restoran. Wawancara dilakukan di sudut kanan restoran setelah sebelumnya peneliti memesan makanan serta minuman.

Pada saat melakukan wawancara hanya terdapat 5 orang pengunjung yang berada di lantai 2 tersebut. 2 di antaranya adalah peneliti dan Febri (bukan nama sebenarnya), 3 orang lagi adalah orang tak dikenal yang duduk di bagian sudut kiri ruangan. Peneliti memperkirakan bahwa lantai 2 tersebut berukuran 9 x 6 meter. Bisa dipastikan bahwa 3 orang yang berada di sudut kiri tersebut tidak mendengar pembicaraan yang terjadi antara peneliti dan Febri.

Saat melakukan wawancara Febri dan peneliti duduk berhadapan sehingga dapat menatap satu sama lain dengan jelas. Peneliti dan Febri hanya berjarak sekitar 60 cm. Saat itu Febri menggunakan baju berwarna kuning berlengan pendek dan pants berwarna putih.

Febri tergolong memiliki badan yang besar. Berat badannya 62 kg dan tinggi badannya 166 cm. Febri memiliki kulit putih bersih, tangannya terlihat memiliki bulu yang lumayan lebat, wajahnya berbentuk bulat dengan dagu agak tirus, matanya panjang dengan pelupuk mata yang terlihat mestipun sedikit, hidungnya sedikit mancung, mulutnya kecil dengan bibir yang berisi, dan rambut panjannya tergerai lurus. Dia tidak memakai aksesoris yang berlebihan, hanya menggunakan jam tangan dan anting-anting berbentuk bunga.

Sekitar sebulan sebelum wawancara dimulai peneliti dan Febri telah 3 kali bertemu, hal ini dilakukan sebagai bentuk pendekatan. Pada saat akan memulai wawancara, peneliti dan Febri bersalaman, tangannya terasa dingin. Febri merupakan orang yang ceria. Dia selalu tersenyum namun ketika ia memastikan bahwa identitasnya tidak akan diketahui oleh orang lain, senyumnya hilang diiringi dengan mata yang dikedipkan dengan cepat, dahi berkerut dan tangan di depan meja dengan posisi menyilang terlihat seperti orang yang takut. Namun setelah memastikan hal tersebut raut wajahnya kembali normal seperti biasanya, mudah tersenyum.

Pada awal wawancara Febri terlihat santai saja. Amarah Febrijelas terlihat pada saat menceritakan kisahnya di saat masih kecil, hal ini terlihat dari perilaku yang ia tampilkan, seperti pengucapan kata perkata lebih lambat dan tangan kanan memegang siku kiri bagian bawah dan sebaliknya tangan kiri memegang siku kanan bagian atas. Febri sempat mengeluarkan kalimat anjir ketika menceritakan kisah tersebut. Nada suaranya juga jauh lebih tinggi ketika menyebutkan kata tersebut. Kedua bibir Febri ditarik ke bagian bawah yang menandakan ia merasakan emosi negatif. Bibirnya hanya tersenyum sesekali, namun bukan senyum keceriaan seperti biasanya melainkan senyum kecil yang getir.

Raut wajahnya juga berubah ketika ia menjawab bagaimana bila ketahuan bahwa ia adalah seorang lesbian. Bibirnya tersenyum tipis dan wajahnya menunduk, terlihat seperti menahan sedih. Pengucapan kata-katanya tetap lancar namun terdengar lambat. Secara keseluruhan Febri menjawab setiap pertanyaan dengan lancar. Tatapan Febri juga lebih sering tertuju kepada peneliti yang menandakan bahwa ia menjalani wawancara dengan sepenuh hati.

Wawancara juga berjalan lancar, tidak terdapat gangguan yang berarti. Febri sangat kooperatif ketika proses wawancara, jawaban yang dilontarkannya juga cukup banyak. Pertemuan sebelumnya membuat hubungan peneliti dengan Febri menjadi dekat. Terkadang terdengar suara tawa pengunjung lainnya namun hal tersebut tidak menghambat proses wawancara. Suara tawanya juga tidak dekat. Kebetulan restoran cepat saji tersebut sepi pada saat itu.

2. Pertemuan Kedua

Minggu, 10 April 2016, pukul 16.30-17.12 WIB

Wawancara kedua dilaksanakan pada hari Minggu, 10 April 2016. Wawancara kedua ini dilakukan pada sore hari, tepatnya pukul 16.30-17.12 WIB di rumah Febri. Wawancara seharusnya dilaksanakan pada hari senin, 11 April 2016, karena Febri mengatakan akan sangat sibuk di hari minggu, ada tugas kuliah

yang harus ia kerjakan. Namun pada hari minggu tersebut tiba-tiba Febri memberitahukan bahwa ia bisa diwawancarai karena tugas yang harus ia kerjakan telah selesai.

Peneliti tiba di rumah Febri sekitar pukul 16.00 WIB. Wawancara tidak bisa dilangsungkan segera karena Febri meminta izin untuk mandi terlebih dahulu. Rumah tersebut dipagari oleh besi berwarna putih setinggi 2 meter. Ketika pagar terbuka kita akan dihadapkan pada sebuah pintu, yang mana pintu tersebut adalah pintu masuk ke dalam rumah. Jarak pagar ke pintu tersebut sekitar 2 meter.

Terdapat beberapa pot besar yang diisi dengan bunga pada bagian depan. Ketika memasuki bagian dalam rumah, maka yang pertama kali terlihat adalah empat buah sofa, 2 di antaranya berukuran panjang yang dapat diduduki oleh 3 orang, dan 2 lagi berukuran kecil yang hanya dapat diduduki oleh 1 orang. Di bagian tengah susunan sofa tersebut terdapat meja persegi panjang yang terbuat dari kaca berwarna hitam. Lebar rumah sekitar 8 meter, namun sayang peneliti tidak dapat memperkirakan panjang rumah tersebut. Ketika tiba di rumahnya peneliti langsung diarahkan ke kamar Febri yang berada tepat di samping ruangan yang berisikan sofa tersebut.

Kamar tersebut berukuran persegi sekitar 4x4 meter dengan dinding berwarna ungu muda. Terdapat 1 buah meja belajar beserta kursinya di bagian dalam, 1 buah lemari dua pintu berwarna coklat dan 1 tempat tidur yang di atasnya terdapat 4 boneka. Pada bagian atas meja belajar yang berwarna hitam tersebut terdapat susunan buku dan beberapa makanan ringan yang susunannya tidak beraturan. Pada pintu bagian belakang terdapat beberapa baju dan celana yang tergantung. Terdapat tiga foto yang ditempelkan di dinding sebelah atas meja belajar.

Suhu di ruangan tersebut tidak panas dan tidak terlalu dingin, sedang. Selesai mandi Febri ke kamar dengan membawa 1 buah kursi. Wawancara dilakukan di depan meja belajar yang mana peneliti dan Febri duduk berhadapan tanpa dihalangi oleh meja sehingga baik peneliti maupun Febri dapat saling melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sama halnya denggan wawancara sebelumnya peneliti dan Febri hanya berjarak sekitar 60 cm saja.

Saat wawancara Febri menggunakan baju tidur berlengan panjang berwarna biru, rambutnya diikat ke atas. Febri masih tetap sering tersenyum. Sebelum memulai wawancara Febri berulang kali mempertanyakan apakah peneliti ingin minum teh. Terdapat 3 jenis makanan ringan yang dibawanya ke kamar dan menyuruh peneliti untuk memakannya. Setelah meletakkan makanan ringan

tersebut, ia keluar dari kamarnya kembali dan masuk lagi dengan membawa gawainya.

Ketika akan memulai wawancara terlihat Febri berulang kali memeriksa gawainya yang berbunyi. Sesekali keningnya berkerut ketika membuka gawai tersebut. Namun setelah peneliti menanyakan apakah wawancara sudah bisa dimulai, ia menganggung dan meletakkan gawainya. Suasana hening menemani jalannya wawancara karena memang hanya ada peneliti dan Febri di rumah tersebut.

Febri masih sama seperti pertemuan sebelumnya, tetap kooperatif dan aktif. Ia menjawab dengan lancar dan tegas pada setiap pertanyaan yang diajukan. Ia juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang masih belum jelas. Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan tanggapan temannya berkaitan LGBT ia lebih dominan menatap lantai dan menurunkan tangannya yang mana sebelumnya berada di atas meja belajar namun hal tersebut terjadi ketika diawal saja, tidak lama kemudian ia kembali mengarahkan pandangannya kepada peneliti seolah menandakan bahwa ia sedih namun harus tetap menghadapi apapun yang terjadi. Ketika membahas tentang kebahagiaannya menjadi lesbian ia sering tertawa seolah menandakan bahwa ia benar-benar bahagia. Febri juga kerap kali menggoda peneliti untuk menjadi seperti dirinya, memiliki orientasi seksual lesbian.

Proses wawancara kali ini lebih kondusif daripada wawancara sebelumnya, wawancara berjalan dengan tanpa hambatan. Pada awalnya peneliti takut wawancara akan terganggu apabila gawai terus berbunyi, namun ternyata selama wawancara gawai tersebut tidak berbunyi sama sekali. Sampai wawancara selesai pun orang tua dan abang Febri masih belum pulang.

3. Pertemuan Ketiga

Jumat, 15 April 2016, pukul 14.48-15.30 WIB

Wawancara ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 15 April 2016 pada pukul 14.48-15.30 WIB. Wawancara dilakukan setelah Febri pulang dari kampus. Berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya, peneliti dan Febri sepakat bahwa wawancara lebih efektif bila dilaksanakan di rumah Febri (bukan nama sebenarnya). Peneliti tiba di rumah Febri sekitar pukul 14.30 WIB.

Rumah masih sama seperti sebelumnya tidak ada perubahan yang berarti, letak pot-pot besarnya juga masih sama. Hanya saja di bagian sudut halaman rumah terdapat sebuah sepeda motor lengkap dengan helmnya. Ketika memasuki rumah yang pertama kali akan terlihat masih tetap sama, yaitu 4 buah sofa. Peneliti disambut oleh Febri dengan senyumnya yang lebar, seakan-akan menyambut orang terdekatnya. Memang setelah melakukan dua kali wawancara peneliti dan Febri menjadi akrab.

Setelah menyambut peneliti dengan membukakan pagar dan membukakan pintu rumah, Febri langsung mengarah ke kamar seperti pertemuan sebelumnya. Sepertinya Febri telah menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk wawancara. Ketika memasuki kamar, sudah terdapat dua buah kursi yang berada di depan meja belajar. Ruangan kamar Febri juga tidak banyak berubah, hanya saja diatas lemari sebelumnya tidak terdapat koper, namun kali ini terdapat koper berwarna ungu di atas lemari.

Pada pertemuan sebelumnya buku-buku tersusun rapi namun pada kali ini, beberapa buku terlihat tidak berada ditempatnya, terdapat ruang-ruang kosong diantara jejeran buku. menandakan buku tersebut diambil dari tempatnya. Di atas meja terdapat buku-buku yang tertumpuk, terdapat 5 buku. Dua diantaranya tebal, sekitar 4 cm bila diukur dengan menggunakan penggaris dan tiga lagi merupakan buku dengan ukuran sedang dengan ketebalan yang sedang juga, sekitar 2 cm bila diukur dengan menggunakan penggaris.

Keadaan rumah juga berbeda dari sebelumnya, saat wawancara ketiga ini, Febri tidak sendirian di rumah, melainkan bersama dengan mamanya. Sesaat sebelum wawancara dimulai seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar, wanita tersebut mengenakan long dress berwarna coklat. Wanita tersebut adalah Ibu Febri . Ibu Febri datang dengan membawa 2 buah minuman,

ternyata Febri telah bercerita kepada Ibunya bahwa ia akan kedatangan seorang teman namun tentu ia tidak mengatakan akan melakukan wawancara. Ia mengatakan bahwa ia dan peneliti akan mengerjakan tugas kuliah.

Ibu Febrisangat bersahabat. Ia masuk dengan tersenyum lebar dan mengatakan bahwa peneliti dan Febri harus mengerjakan tugas dengan benar. Peneliti dan Febrimengiyakan perkataannya. Ibu Febri berbicara dengan penuh kelembutan yang menunjukkan bahwa Febri diasuh oleh seorang Ibu yang penyayang. Setelah berbicara sebentar Ibunya langsung meninggalkan ruangan dan tidak lupa menutup pintu. Setelah itu, Febri berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu dan mengatakan ia melakukan hal tersebut supaya aman dan tidak ada yang masuk.

Setelah itu Febri kembali duduk ke kursi yang berada di depan meja belajar. Kali ini ia duduk dengan menaikkan kakinya dan duduk bersila. Kemudian ia meminum minuman yang telah dibuat oleh Ibunya tersebut.Sebelum minum ia mempersilahkan peneliti untuk meminumnya juga.

Pada wawancara kali ini Febri menggunakan baju kemeja coklat muda yang berlengan panjang dan bercorak volkadot berwarna putih. Ia menggunakan celana longgar yang tidak panjang, sekitar 12 cm di atas lutut. Celana berwarna merah muda

tersebut memberikan kesan santai, ditambah dengan tampilan rambutnya yang dijepit ke atas dengan penjepit rambut yang biasa dikenal dengan sebutan jedayatau penjepit baday.

Wawancara kali ini berlangsung seperti biasa. Perilaku yang ditunjukkan oleh Febri juga sama. Febri selalu menyunggingkan senyuman dan fokus ketika wawancara. Ia memperhatikan setiap pertanyaan yang diajukan, ketika pertanyanyaannya masih belum jelas Febri meminta penjelasan akan pertanyaan tersebut terlebih dahulu baru kemudian menjawabnya . Terkadang ia juga menggoda peneliti lewat kata-kata, seperti mengatakan akan mengenalkan peneliti dengan teman-teman lesbiannya, atau mengatakan supaya peneliti menjadi lesbian saja.

Wawancara kali ini jauh lebih santai dari pada dua wawancara sebelumnya. Namun ketika membahas mengenai abang kandungnya, Febri menurunkan badannya dan menarik sebelah bibirnya ke bawah, seperti tidak ingin membahas hal tersebut. Meskipun begitu ia tetap menjawab pertanyaan peneliti. Berbeda dengan ketika membahas sang ibu, ia tidah hanya menurunkan badannya namun juga menundukkan kepalanya sejenak, seolah – olah ia merasakan suatu kesedihan.

Selama proses wawancara, tidak ada yang mengetuk pintu kamar Febrisehingga proses wawancara berjalan lancar. Hanya saja terkadang terdengar suara-suara kecil yang timbul dari ruang televisi yang menurut penuturan Febri memang berada di sebelah kamarnya. Namun hal tersebut tidak mengganggu proses wawancara. Baik peneliti maupun Febri tetap fokus pada wawancara.

b. Rangkuman Hasil Wawancara

1. Latar Belakang Menjadi Lesbian

Febri (bukan nama yang sebenarnya) merupakan seorang perempuan yang berusia 18 tahun dan saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi di kota Medan. Febri merupakan perempuan yang memiliki suku batak dan diasuh dengan penuh kasih sayang oleh kedua orangtua, terutama ibunya. Febri merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ia memiliki seorang kakak laki-laki.

Febri dan saudara laki-lakinya tidak begitu dekat. Febri mulai menyadari perasaan suka terhadap perempuan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu Febri suka memperhatikan teman-teman perempuannya yang memiliki pembawaan tomboi. Namun pada saat itu ia belum mengartikan perasaan sukanya tersebut sebagai suatu ketertarikan atau perasaan suka secara seksual. Febri mengaku bahwa sebelum menjadi

lesbian ia adalah perempuan straightatau penyuka lawan jenis. Sebelumnya ia sempat berpacaran dengan seorang laki-laki dan sangat menyayangi laki-laki tersebut. Berikut pernyataan Febri yang berhubungan dengan jabaran di atas:

“Iyapernah dulu sama cowok”

(R1. W1. 040416. E. B36. H3) “…kerasa betulnya itu pas udah pacaran lah ya, tapi

dulu waktu aku SMA aku udah suka gitu liat cewek-cewek yang tomboy gitu..”

(R1. W1. 040416. E. B54. H3) Hubungannya dengan laki-laki yang sebelumnya sangat ia sayangi tersebut harus berakhir akibat laki-laki tersebut harus melanjutkan pendidikannya di luar kota. Menurut Febri alasan tersebut sangat tidak pantas dan ia merasa sangat terpukul. Menurut Febri, laki-laki tersebut tidak akan selamanya berada di luar kota sehingga Febri tidak dapat menerima alasan tersebut dan ia merasa sakit hati. Bersamaan dengan retaknya hubungan Febri dengan seorang laki-laki, salah satu teman Febri mengaku homoseksual kepadanya. Febri merasa mulai saat itulah ia menjadi lebih dekat dengan dunia lesbian. Namun Febri mengaku bahwa temannya tersebut tidak pernah memberi dorongan kepada Febri untuk masuk ke dalam dunia lesbian bahkan cenderung melarang. Berikut penuturan Febriberkaitan dengan hal tersebut:

“Awalnya itu aku yang eee awalnya coba-coba aja kan. Itu emm awalnya karena ada temenku yang coming

out ke aku jadi dia bilang kalau dia itu homo, nah dari situlah aku mulai selangkah lebih dekat eh hahah iya haha jadi maksudnya aku jadi lebih dekat sama dunia belok kaan. Tapi sebenarnya teman aku itu yang homo itu ngewanti-wanti aku sebenarnya, dia sering bilang kalo aku itu aku gak boleh jadi homo juga. Terus kebetulanlah pula pacar aku ini , pacar yang cowo dulu, mantan mulai berubah sampe akhirnya kami putus tanpa alasan yang kuat. Hmm kuat sih sebenarnya tapi menurutku itu gak pantes dijadikan alasan sama dia. Hah gitulah”

(R1. W1. 040416. E. B76-87. H4) “Karena kami jauh, dia kuliah diluar kota. Hah gitulah,

iya, dia bilangnya karna kamu jauh sih, gak taulah kalo misal dianya bohong. Maksudnya kan dia gak selamanya juga kan diluar kota itu kan, tapi dianya kaya gitu, yaudahlah. Aku model yang kalo cinta jadi bakalan cinta banget gitulo, jadi sama dia kemarin gitu aku, sumpah itu sakit...”

(R1. W1. 040416. E. B89-94. H4) Putus dengan laki-laki tersebut membuat Febrimerasa kehilangan dan ada saat dimana ia merasa bosan dan tidak tahu harus berbuat apa sehingga saat itu yang ia lakukan adalah mengunduh beberapa aplikasi. Salah satu aplikasi yang diunduhFebri adalah aplikasi berbasis umum namun ia tidak memunculkan profil atau identitas pemilik akun. Di aplikasi inilah Febri akhirnya berkomunikasi dengan pengguna lainnya yang merupakan seorang lesbian. Febri kemudian menjadi penasaran dengan dunia lesbian, ia mulai mengetahui istilah-istilah yang digunakan oleh lesbian hingga akhirnya ia mendapatkan pacar dari

aplikasi tersebut.Berikut penuturan Febri yang berkaitan dengan hal tersebut.

“Hmm iya disitu awalnya aku mulai bencilah sama cowok. Pas putus itukan kadang aku bosan, gak tau kadang aku mau ngapain. Jadi download-downloadaplikasi trus akudapat ada aplikasi kan,bisa fake, gak ketahuan kalo itu kita. Pas ada yang post tentang lesbian gitukan, dia cari anak belok gitulah, jadi chat lah kami kan, aku pura-pura belok”

(R1. W1. 040416. E.B98-103.H5) “… Nah di situ aku penasaran gimana rasanya dekat,

dekat yang gitu dekat kaya pacar gitukan sama cewek”

Dalam dokumen Gambaran Tipe Konflik pada Remaja Lesbian (Halaman 26-151)

Dokumen terkait