Berisi tentang simpulan dan saran yang diperoleh dari pembahasan di Bab IV.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bank2.1.1. Pengertian Bank
Menurut Undang-undang perbankan No. 10 tahun 1998, bank adalah
badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
2.1.2. Fungsi Bank
Fungsi bank adalah sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya
adalah menghimpun dana dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada
masyarakat dalam bentuk kredit serta memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayaran dan peredaran uang maka menurut Kasmir (2001) dapat disimpulkan
tiga fungsi utama bank dalam pembangunan ekonomi, yaitu:
a. Bank sebagai lembaga yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk
simpanan.
b. Bank sebagai lembaga yang menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk
kredit.
c. Bank sebagai lembaga yang melancarkan transaksi perdagangan dan
2.1.3. Jenis Bank
Menurut Undang-undang Pokok Perbankan No. 7 tahun 1992 dan
ditegaskan lagi dengan keluarnya Undang-undang RI. No. 10 tahun 1998 maka
jenis perbankan terdiri atas:
a. Bank Umum
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
b. Bank Perkreditan Rakyat ( BPR )
Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2.2. Kredit
2.2.1. Pengertian Kredit
Menurut Undang-undang perbankan No. 10 tahun 1998, kredit adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain
yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu
tertentu dengan pemberian bunga.
2.2.2. Unsur-unsur Kredit
Menurut Kasmir (2001) unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian
a. Kepercayaan
Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan (berupa
uang, barang atau jasa) akan benar-benar diterima kembali di masa datang.
Kepercayaan ini diberikan oleh bank, yang sebelumnya sudah dilakukan
penelitian penyelidikan tentang nasabah baik secara internal maupun dari
eksternal. Penelitian dan penyelidikan dilakukan tentang kondisi masa lalu
dan sekarang terhadap nasabah pemohon kredit.
b. Kesepakatan
Selain unsur percaya, di dalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan
antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit. Kesepakatan ini
dituangkan dalam suatu perjanjian yang masing-masing pihak
menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.
c. Jangka Waktu
Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini
mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu
tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
d. Resiko
Adanya tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu resiko tidak
tertagihnya/macetnya pemberian kredit. Semakin panjang suatu kredit
semakin besar resikonya demikian pula sebaliknya. Resiko ini menjadi
tanggungan bank, baik resiko yang disengaja oleh nasabah yang lalai, maupun
oleh resiko yang tidak disengaja, misalnya terjadi bencana alam atau
e. Balas Jasa
Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang
kita kenal dengan nama bunga. Balas jasa dalam bentuk bunga dan biaya
administrasi kredit ini merupakan keuntungan bank sedangkan bagi bank yang
berdasarkan prinsip syariah, balas jasanya ditentukan dengan bagi hasil.
2.2.3. Tujuan dan Fungsi Kredit
Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu. Menurut
Kasmir (2001), tujuan pemberian kredit tersebut tidak akan terlepas dari misi
bank tersebut didirikan. Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit adalah:
a. Mencari Keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit. Hasil tersebut
terutama dalam bentuk bunga yang diperoleh bank sebagai balas jasa dan
biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
b. Membantu Usaha Nasabah
Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan
dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana
tersebut, maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluas
usahanya.
c. Membantu Pemerintah
Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak
perbankan, maka semakin baik, mengingat semakin banyak kredit berarti
2.2.4. Prinsip-prinsip Pemberian Kredit
Menurut Kasmir (2001), dalam melakukan penilaian kriteria-kriteria serta
aspek penilaiannya tetap sama. Begitu pula dengan ukuran-ukuran yang
ditetapkan sudah menjadi standar penilaian yang harus dilakukan oleh bank untuk
mendapatkan nasabah yang benar-benar menguntungkan dilakukan dengan
analisa 5 C dan 7 P.
Adapun penjelasan analisis dengan 5 C kredit adalah sebagai berikut:
a. Character
Suatu keyakinan bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan
kredit benar-benar dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang pekerjaan
maupun yang bersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya,
keadaan keluarga, hobi social standingnya. Ini semua merupakan ukuran
“kemauan” membayar.
b. Capacity
Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis yang
dihubungkan dengan pendidikannya, kemampuan dalam bisnis juga diukur
dengan kemampuannya dalam memahami tentang ketentuan-ketentuan
pemerintah. Begitu pula dengan kemampuannya dalam menjalankan usahanya
selama ini. Pada akhirnya akan terlihat “kamampuannya” dalam mengembalikan kredit yang disalurkan.
c. Capital
Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dilihat laporan keuangan
likuiditas, solvabilitas, rentabilitas dan ukuran lainnya. Capital juga harus dilihat
dari sumber mana saja modal yang ada sekarang ini.
d. Collateral
Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik
maupun non fisik. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi
suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat
mungkin.
e. Conditional
Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik
sekarang dan dimasa yang akan datang sesuai sektor masing-masing, serta
prospek usaha dari sektor yang dijalankan. Penilaian prospek bidang usaha yang
dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga
kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil.
Kemudian penilaian kredit dengan metode analisis 7 P adalah sebagai berikut:
1. Personality
Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya
sehari-hari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah laku
dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.
2. Party
Yaitu mengklasifikasikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau
golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya sehingga
nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan fasilitas
3. Perpose
Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mangambil kredit yang
diinginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat bermacam-macam. Sebagai
contoh apakah untuk modal kerja atau investasi, konsumtif atau produktif dan lain
sebagainya.
4. Prospect
Yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang menguntungkan
atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini
penting mengingat jika suatu fasilitas kredit yang dibiayai tanpa mempunyai
prospek, bukan hanya bank yang rugi akan tetapi juga nasabah.
5. Payment
Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah
diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. Semakin
banyak sumber penghasilan debitur maka akan semakin baik. Sehingga jika salah
satu usahanya merugi akan dapat ditutupi oleh sektor lainnya.
6. Profability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
Profability diukur dari periode apakah akan tetap sama atau akan semakin
meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya.
7. Protection
Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan
2.2.5. Kredit Bermasalah
Hal yang tidak menggembirakan bagi bank sebagai pemberi kredit apabila
kredit yang diberikan menjadi bermasalah. Kredit bermasalah disebabkan debitur
dalam memenuhi kewajibannya yaitu membayar angsuran kredit sekaligus dengan
bunganya tidak sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui dalam perjanjian
kredit. Beberapa pengertian mengenai kolektivitas kredit yang dibuat menurut
ketentuan Bank Indonesia (Martono, 2002: 61) adalah sebagai berikut:
a. Kredit Lancar
Yaitu kredit yang pembayaran pokok pinjaman dan bunganya tepat waktu,
perkembangan rekening baik dan tidak ada tunggakan serta sesuai dengan
persyaratan kredit.
b. Kredit dalam perhatian khusus
Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman atau bunganya terdapat
tunggakan sampai 90 hari.
c. Kredit kurang lancar
Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya
terdapat tunggakan telah melampaui 90 hari waktu yang disepakati.
d. Kredit diragukan
Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya
terdapat tunggakan telah melampaui 180 hari sampai dengan 270 hari dari waktu
e. kredit macet
Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya
terdapat tunggakan telah melampaui 270 hari.
2.3. Suku Bunga Bank
2.3.1. Pengertian Suku Bunga
Menurut Kasmir (2001) bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa
yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah
yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga dapat diartikan sebagai bunga
yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dengan yang harus
dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjamn).
Dalam kegiatan perbankan ada 2 macam bunga yang diberikan kepada
nasabah yaitu:
a. Bunga Simpanan
Bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau balas jasaa bagi nasabah yang
menyimpan uangnya di bank. Bunga simpanan merupakan harga yang harus
dibayar bank kepada nasabahnya, sebagai contoh jasa giro, bunga tabungan,
dan bunga deposito.
b. Bunga Pinjaman
Adalah bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus
2.3.2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi suku bunga
Menurut Kasmir (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya
penetapan suku bunga adalah sebagai berikut:
a. Kebutuhan Dana
Apabila bank kekurangan dana sementara permohonan pinjaman meningkat
maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat dipenuhi dengan
meningkatkan suku bunga simpanan.
b. Persaingan
Dalam memperebutkan dana simpanan, maka selain faktor promosi, yang
paling utama pihak perbankan harus memperhatikan pesaing, dalam arti
misalnya untuk bunga simpanan rata-rata 16%, jika hendak membutuhkan
dana cepat sebaiknya bunga simpanan kita naikkan di atas bunga pesaing.
Namun sebaiknya untuk bunga pinjaman kita harus berada di bawah bunga
pesaing.
c. Kebijaksanaan Pemerintah
Dalam arti baik untuk bunga simpanan maupun bunga pinjaman kita tidak
boleh melebihi bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
d. Target laba yang diinginkan
Sesuai dengan target laba yang diinginkan, jika laba yang diinginkan besar
maka bunga pinjaman ikut besar dan sebaliknya.
e. Jangka waktu
Semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka akan semakin tinggi
mendatang. Demikian pula sebaliknya jika pinjaman berjangka pendek, maka
bunganya relatif lebih rendah.
f. Kualitas Jaminan
Semakin likuid jaminan yang diberikan, maka semakin rendah bunga kredit
yang dibebankan dan sebaliknya.
g. Reputasi perusahaan
Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit sangat
menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya karena
biasanya perusahaan yang bonafit kemungkinan resiko kredit macet di masa
mendatang relatif kecil dan sebaliknya.
h. Produk yang kompetitif
Maksudnya adalah produk yang dibiayai tersebut laku di pasaran.
i. Hubungan baik
Biasanya bank menggolongkan nasabahnya antara nasabah utama (primer)
dan nasabah biasa (sekunder). Penggolongan ini didasarkan kepada keaktifan
serta loyalitas nasabah yang bersangkutan terhadap bank.
j. Jaminan pihak ketiga
Dalam hal ini pihak yang memberikan jaminan kepada penerima kredit.
Biasanya jika pihak yang memberikan jaminan dalam bonafit baik dari segi
kemampuan membayar, nama baik maupun loyalitas terhadap bank, maka
2.3.3. Komponen-Komponen dalam Menentukan Suku Bunga Kredit
Khusus untuk menentukan besar kecilnya suku bunga kredit yang akan
diberikan kepada para debitur terdapat beberapa komponen yang mempengaruhi.
Komponen-komponen ini ada yang dapat diperkecil (dikurangi) dan ada pula
yang tidak.
Menurut Kasmir 2001, adapun komponen dalam menentukan suku bunga
kredit antara lain:
a. Total biaya dana
Merupakan total bunga yang dikeluarkan oleh bank untuk memperoleh dana
simpanan baik dalam bentuk simpanan giro, tabungan maupun deposito. Total
biaya dana tergantung dari seberapa besar bunga yang ditetapkan untuk
memperoleh dana yang diinginkan.
b. Biaya operasi
Biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam
melaksanakan operasinya. Biaya ini terdiri dari biaya gaji pegawai, biaya
administrasi, biaya pemeliharaan dan biaya-biaya lainnya.
c. Cadangan resiko kredit macet
Merupakan cadangan terhadap macetnya kredit yang diberikan pasti
mengandung suatu resiko tiak dibayar. Resiko ini dapat timbul baik disengaja
maupun tidak disengaja. Oleh karena itu pihak bank perlu mencadangkannya
sebagai sikap bersiaga menghadapinya dengan cara membebankan sejumlah
d. Laba yang diinginkan
Setiap kali melakukan transaksi bank selalu ingin memperoleh laba yang
maksimal. Penentuan ini ditentukan oleh beberapa pertimbangan penting,
mengingat penentuan besarnya laba sangat mempengaruhi besarnya bunga kredit.
Dalam hal ini biasanya bank disamping melihat kondisi pesaing juga melihat
kondisi nasabah utama atau bukan dan juga melihat sektor-sektor yang dibiayai,
misalnya jika proyek pemerintah atau untuk pengusaha / rakyat kecil maka
labanya pun berbeda dengan yang komersil.
e. Pajak
Pajak merupakan kewajiban yang dibebankan pemerintah kepada bank yang
memberikan fasilitas kredit kepada nasabahnya.
2.3.4. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam Penetapan Suku Bunga Kredit
Menurut Kasmir (2001), faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
penetapan suku bunga, yaitu:
a. Biaya dana itu sendiri dalam pengertian sebagai cost of fund, cost of money,
cost of loanable fund ataupun sebagai cost of borrowing fund.
b. Faktor nasabah
Dalam kondisi pasar yang bersaing, harga akan terjadi pada titik kesepakatan
antara pembeli dan penjual. Hal ini mungkin akan terjadi karena pembeli
mempunyai hak sepenuhnya untuk memilih harga dari jasa bank (suku bunga
c. Bank pesaing
Untuk merebut nasabah sebanyak mungkin sesuai masing-masing target, harga
atau dalam hal ini tingkat suku bunga kredit merupakan faktor yang menentukan.
Jadi dalam penetapan suku bunga kredit ini perlu dipertimbangkan.
d. Mutu pelayanan
Para pengusaha dalam melaksanakan kegiatannya selalu berharap akan
memperoleh kepastian, ia berani membayar lebih mahal untuk memperoleh
kepastian tersebut. Hingga tidak jarang seorang nasabah bersedia membayar suku
bunga kredit yang lebih tinggi apabila keputusan permohonan kreditnya dapat
diterima saat itu juga.
e. Resiko usaha
Hampir pada setiap jenis usaha mengandung resiko. Adanya resiko yang akan
dihadapi oleh para pengusaha ini perlu diperhitungkan pula oleh bank dalam
penetapan suku bunga kredit. Semakin rendah resiko tentu suku bunganya akan
lebih rendah dan sebaliknya pada resiko usaha yang tinggi suku bunga kreditnya
pun juga lebih tinggi.
2.3.5. Jenis-Jenis Pembebanan Suku Bunga Kredit
Pembebanan besarnya suku bunga kredit dibebankan kepada jenis
kreditnya. Pembebanan disini maksudnya metode perhitungan yang digunakan,
sehingga mempengaruhi jumlah bunga yang akan dibayar. Jumlah bunga yang
akan dibayar akan mempengaruhi jumlah angsuran perbulannya. Dimana jumlah
Metode pembebanan bunga yang dimaksud adalah sebagai berikut
(Kasmir, 2001):
1. Sliding rate
Pembebanan bunga tiap bulan dihitung dari sisa pinjamannya, sehingga
jumlah bunga yang dibayar nasabah setiap bulan menurun seiring dengan
turunnya pokok pinjaman. Akan tetapi pembayaran pokok pinjaman setiap bulan
sama. Cicilan nasabah (pokok pinjaman ditambah bunga) otomatis dari bulan ke
bulan semakin menurun. Jenis sliding rate ini biasanya diberikan kepada sektor
produktif, dengan maksud si nasabah merasa tidak terbebani terhadap
pinjamannya.
2. Flat rate
Pembebanan bunga setiap bulan tetap dari jumlah pinjamannya, demikian pula
pokok pinjaman setiap bulan juga dibayar sama, sehingga cicilan setiap bulan
sama sampai kredit tersebut lunas. Jenis flat rate ini diberikan kepada kredit yang
bersifat konsumtif seperti pembelian rumah tinggal, pembelian mobil pribadi atau
kredit konsumtif lainnya.
3. Floating rate
Jenis ini membebankan bunga dikaitkan dengan bunga yang ada di pasar
uang, sehingga bunga yang dibayar setiap bulan sanagat tergantung dari bunga
pasar uang pada bulan tersebut. Jumlah bunga yang dibayarkan dapat lebih tinggi
atau lebih rendah dari bulan yang bersangkutan. Pada akhirnya hal ini juga
berpengaruh terhadap cicilannya setiap bulan.
Menurut Edward dan Khan (1985) ada dua jenis faktor yang menentukan nilai
pendapatan nasional, jumlah uang beredar (JUB), dan inflasi yang diharapkan.
Sedangkan faktor eksternal merupakan suku bunga luar negeri dan tingkat
perubahan nilai tukar valuta asing yang diharapkan.
Menurut Laksmono (2001), nilai suku bunga domestic di Indonesia sangat terkait
dengan suku bunga internasional. Hal ini disebabkan oleh akses pasar keuangan
domestik terhadap pasar keuangan internasional dan kebijakan nilai tukar yang
kurang fleksibel. Peningkatan akses tersebut telah memperbesar kendala
manajemen moneter Bank Indonesia. Setiap upaya untuk mempengaruhi money
supply dengan meningkatkan suku bunga di atas suku bunga internasional akan
mendapat gangguan dari arus modal masuk berjangka pendek. Namun, Bank
Indonesia terlihat dapat mempertahankan derajat kebebasan beberapa suku bunga
domestic tanpa merubah kebijakan nilai tukar.
Selanjutnya Laksmono (2001), mengatakan bahwa selain suku bunga
internasional, tingkat diskonto SBI juga merupakan faktor penting dalam
penentuan suku bunga di Indonesia. Peningkatan diskonto SBI segera direspon
PUAB (Pasar Uang Antar Bank), sedangkan respon suku bunga deposito baru
muncul setelah 7-8 bulan.
Kemudian, Winardi (1995), berpendapat bahwa faktor lain yang turut
berpengaruh dalam penentuan suku bunga di Indonesia adalah kondisi likuiditas
yang berdampak pada suku bunga PUAB dalam jangka pendek. Namun dalam
jangka panjang akan mendorong arus modal masuk sehingga pengaruhnya
terhadap suku bunga deposito dan suku bunga kredit lebih kecil.
Sedangkan Widjaja (2009), menyimpulkan bahwa suku bunga KPR sangat
tingkat bunga KPR komersil pada Bank Tabungan Negara berpotensi mengalami
kenaikan sekitar 1-2% dari rata-rata tingkat bunga saat ini sebesar 14-16%.
Dengan terjadinya perubahan suku bunga KPR, maka kalangan yang paling
terkena dampak langsung dari kenaikan suku bunga pinjaman tersebut adalah
konsumen di kelas menengah kebawah.
2.4. Pengertian Debitur dan Kreditur
Dikaitkan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (1) UUK, Debitur adalah pihak yang
memiliki utang terhadap kreditur dan kreditur adalah pihak yang memiliki tagihan
atau piutang terhadap debitur yang berhutang padanya. Bagi pihak bank kredit
perumahan yang diberikan kepada nasabah adalah berupa piutang bagi pihak bank
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM
PERUSAHAAN
3.1. Metodologi Penelitian 3.1.1. Objek Penelitian
Adapun objek penelitian yang diteliti oleh penulis yaitu jumlah debitur
dan perubahan suku bunga KPR pada jenis KPR Griya Utama (KGU) di PT Bank
Tabungan Negara, Tbk cabang Batam yang beralamat di Jl. Sriwijaya, Komplek
Regency Park, Lot 29 Pelita, Batam.
3.1.2. Teknik Pengumpulan Data
Metode atau teknik pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu:
a. Observasi
Hadi (1986), mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang
kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan
psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan
dan ingatan. Pada penelitian ini penulis melakukan observasi pada bagian
kredit untuk memperoleh data perubahan suku bunga KPR dan jumlah debitur.
b. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan apabila peneliti
ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam (Sugiyono,
bagian kredit untuk memperoleh informasi tentang perubahan suku bunga
KPR dan jumlah debitur.
c. Dokumentasi
Hajar (1999), menyatakan bahwa dokumentasi merupakan teknik
pengumpulan data berupa file atau dokumen yang terkait dengan objek
penelitian. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang lengkap
dengan cara mengumpulkan data laporan perubahan suku bunga beserta
jumlah debitur dari periode Januari 2006-Desember 2009.
3.1.3. Metode Analisis Data
Menurut Sugiono (2008), metode deskriptif digunakan untuk mengetahui
nilai dua variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan
dengan variabel lain. Metode ini menggambarkan segala sesuatu mengenai objek
dengan menggunakan kalimat-kalimat.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif untuk menjawab
rumusan masalah yang pertama yaitu dengan cara memaparkan faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi perubahan suku bunga KPR pada PT Bank Tabungan
Negara, Tbk cabang Batam. Selain itu digunakan metode analisis regresi
sederhana untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh perubahan suku bunga
KPR terhadap jumlah debitur pada PT Bank Tabungan Negara, Tbk cabang
Batam. Data diolah dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Service
Persamaan yang akan diuji adalah:
Y = a + bx
Keterangan:
x = perubahan suku bunga
y = jumlah debitur
a = konstanta