• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berisi ringkasan dan kesimpulan yang terkait pencapaian kinerja, dan pemanfaatannya untuk umpan balik dalam perencanaan pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.

BAB II

PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015, sebagaimana ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 adalah merupakan tahapan ketiga dari pelaksanaan RPJP Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2005-2025 dan penyusunannya telah diselaraskan dengan RPJM Nasional seperti yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 dan RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan telah disempurnakan dengan Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor : 188.44/0647/KUM/2012 tanggal 28 Desember 2012.

RPJM Provinsi Kalimantan Selatan ini telah menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Rencana Strategis SKPD.

Adapun visi dan misi diuraikan sebagai berikut : A. VISI DAN MISI

Visi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagaimana tercantum pada Renstra 2011-2015 adalah:

“Terwujudnya Tenaga kerja dan Masyarakat Transmigrasi Yang Produktif, Berdaya saing, Mandiri dan Sejahtera”

Penjabaran makna dari visi Dinas Tenaga dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut:

- Produktif mengandung makna:

Bahwa tenaga kerja dan transmigran mempunyai produktivitas yang tinggi sehingga mampu meningkatkan produksi

- Berdaya Saing mengandung makna:

Bahwa tenaga kerja dan transmigran mampu bersaing di pasar kerja maupun menjadi wirausaha

- Mandiri mengandung makna:

Bahwa tenaga kerja dan transmigran mampu hidup mandiri tidak tergantung dari bantuan pemerintah

- Sejahtera mengandung makna:

Bahwa tenaga kerja dan transmigran tingkat kehidupan menjadi sejahtera yang mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri beserta keluarga baik kebutuhan material maupun spiritual.

Dalam rangka pencapaian visi tersebut diatas telah ditetapkan 4 (empat) misi yang harus dilaksanakan yaitu:

1. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia tenaga kerja.

2. Pembinaan Hubungan Industrial, perlindungan dan pengawasan ketenaga kerjaan serta kesejahteraan pekerja.

3. Pembangunan kawasan transmigrasi untuk mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan.

4. Memberdayakan transmigran dan penduduk sekitarnya menuju masyarakat mandiri dalam rangka menunjang pembangunan daerah.

B. TUJUAN

Mengacu pada misi yang telah ditetapkan, maka tujuan yang hendak dicapai dalam kurun waktu lima tahun adalah sebagai berikut :

1. Misi meningkatkan kualitas sumberdaya manusia tenaga kerja, dengan tujuan :

a. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia tenaga kerja b. Meningkatkan akses pencari kerja

2. Misi Pembinaan Hubungan Industrial, perlindungan dan pengawasan ketenaga kerjaan serta kesejahteraan pekerja, dengan tujuan :

a. Pengembangan Hubungan Industrial yang harmonis dan peningkatan jaminan sosial tenaga kerja

b. Meningkatkan perlindungan tenaga kerja dan pengembangan sistem pengawasan ketenagakerjaan

3. Misi Pembangunan kawasan transmigrasi untuk mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan, dengan tujuan :

a. Meningkatkan kualitas kawasan transmigrasi

4. Misi Memberdayakan transmigran dan penduduk sekitarnya menuju masyarakat mandiri dalam rangka menunjang pembangunan daerah, dengan tujuan :

a. Meningkatkan Kapasitas SDM Masyarakat Transmigrans di Kimtrans b. Meningkatkan kualitas, kapabilitas SDM transmigran

C. SASARAN

Mengacu Visi yang hendak dicapai dan 4 (empat) Misi yang akan dilaksanakan tersebut diatas, maka sasaran yang hendak dicapai adalah sebagai berikut :

1. Misi Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia tenaga kerja, dengan sasaran :

a. Meningkatkan pelayanan pelatihan kerja

b. Meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja 2. Misi Pembinaan Hubungan Industrial, perlindungan dan pengawasan

ketenaga kerjaan serta kesejahteraan pekerja, dengan sasaran : a. Meningkatnya sarana hubungan industrial

c. Meningkatkan kesejahteraan pekerja

d. Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program BPJS

e. Meningkatkan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

3. Misi Pembangunan kawasan transmigrasi untuk mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan, dengan sasaran :

a. Terpenuhinya aspek legalitas dalam penyediaan tanah untuk program pembangunan ketansmigrasian

4. Misi Memberdayakan transmigran dan penduduk sekitarnya menuju masyarakat mandiri dalam rangka menunjang pembangunan daerah, dengan sasaran :

a. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat transmigrasi b. Peningkatan citra pembangunan ketransmigrasian

c. Peningkatan pendapatan transmigrans melalui pengembangan kewirausahaan

Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja

No. Sasaran Strategis Indikator

Kinerja Satuan Kondisi Awal Target Akhir 2015 1. Meningkatnya pelayanan pelatihan kerja Persentasi Tenaga Kerja yang telah lulus uji Kompetensi % 0 50 Persentase Tenaga Kerja yang mendapat pelatihan produktivitas % 100 100 Persentase tenaga kerja yang mendapatkan % 50 77

pelatihan kewirausahaan Persentase capaian BLK menuju bertaraf Internasional % 10 100 2. Meningkatnya pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja Persentase Penduduk yang bekerja % 93,18 93,38 Jumlah Angkatan Kerja orang 1754853 1900738 Persentase Kelulusan BLK yang bekerja % 25 35 Persentase Pengurangan Pengangguran terbuka % 0 6.62 Persentase Partisipasi Angkatan Kerja % 0 73.03 Persentase peserta pelatihan kewirausahaan yang telah membuka usaha % 38 85 3. Meningkatnya sarana hubungan industrial Jumlah perusahaan yang membentuk LKS bipartit prsh 54 101 Jumlah serikat pekerja yang terbentuk SP 260 319 Jumlah perusahaan yang membuat peraturan Prsh 256 300

perusahaan Jumlah perusahaan yang membentuk perjanjian kerja bersama Prsh 126 160 4. Mediasi Penyelesaian Kasus Perselisihan Hubungan Industrial Persentase kasus yang diselesaikan dengan perjanjian bersama % 57 80 5. Meningkatnya kesejahteraan pekerja Persentase peningkatan upah % 10,16 9 Jumlah perusahaan yang membentuk koperasi pekerja Prsh 66 90 6. Besaran pekerja/buruh yang menjadi peserta program BPJS Persentase pekerja/buruh yang menjadi peserta program BPJS Ketenaga Kerja % 56 75 7. Meningkatnya Sistem Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Persentase perusahaan yang telah membentuk Norma Ketenagakerjaan % 82 90 Persentase perusahaan yang telah membentuk SMK3 dan P2K3 % 10,8 16,2 Persentase perusahaan yang memenuhi % 72 83

standar lingkungan Kerja yang Sehat (sesuai standar) Persentase tenaga kerja yang mengalami gangguan kesehatan akibat kerja % 12 1,99 8. Terpenuhinya aspek legalitas dalam penyediaan tanah untuk program pembangunan ketransmigrasian Jumlah masalah pertanahan yang dapat diselesaikan % 3 4 Jumlah bidang tanah transmigrans yang difasilitasi pengurusan sertifikatnya Bidang 0 3992 Jumlah lembaga non pemerintah yang berpartisipasi dalam pembangunan transmigrasi lembaga 5 2 9. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat transmigrasi Tumbuh kembangnya peran aktif dan perilaku hidup sehat masyarakat transmigrans jiwa 0 1793 10. Meningkatnya citra pembangunan ketransmigrasian Terpilihnya Pembina Kimtrans dan org 6 6

Transmigrans Teladan yang memenuhi kriteria 11. Peningkatan pendapatan transmigrans melalui pengembangan kewirausahaan Persentase transmigrans yang mendapat bantuan pelatihan atau bimbingan teknis % 60 60 Jumlah kelompok tani dan kelompok usaha yang dikembangkan oleh transmigrans Klp 6 6

Tabel 1. Sasaran pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian

D. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan

Selaras dengan agenda pembangunan nasional, arah kebijakan dan strategi pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian merupakan bagian dari arah kebijakan dan strategi pembangunan nasional, pembangunan bidang ekonomi dan pembangunan wilayah.

- Bidang Ketenagakerjaan

Untuk menjawab tantangan dan pencapaian sasaran penciptaan lapangan kerja, penurunan pengangguran, khususnya dalam mempersiapkan sumberdaya manusia dan iklim ketenagakerjaan yang berfungsi sebagai landasan didalam upaya pengembangan potensi keunggulan komparatif dan kompetitif daerah dan peningkatan kesejahteraan pekerja, maka dapat tercapai apabila pertumbuhan ekonomi yang tercipta dapat memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya dan

tingkat pendapatan pekerja lebih besar dan lebih merata dalam sektor-sektor pembangunan.

Sumber pertumbuhan ekonomi melalui investasi diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Selain investsi, pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah diharapkan juga dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat yang didukung oleh sumber daya manusia agar dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing lebih baik.

Arah kebijakan dan strategi pembangunan ketenagakerjaan yaitu : 1.Peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja dilaksanakan

melalui program peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas dengan sasaran meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja untuk mencetak tenaga kerja dan wirausaha baru yang berdaya saing. 2.Peningkatan kualitas pelayanan penempatan dan pemberdayaan tenaga

kerja dilaksanakan melalui program penempatan dan pemberdayaan tenaga kerja dengan sasaran meningkatnya jumlah tenaga kerja yang memperoleh fasilitas penempatan dan pemberdayaan tenaga kerja.

3.Penciptakan hubungan industrial yang harmonis dan memperbaiki iklim ketenagakerjaan dilaksanakan melalui program pengembangan hubungan idustrial dan peningkatan jaminan sosial tenaga kerja dengan sasaran diterapkannya prinsip-prinsip hubungan industrial di tempat kerja.

4.Peningkatan perlindungan tenaga kerja menciptakan rasa keadilan dalam dunia usaha dan pengembangan sistem pengawasan ketenagakerjaan dilaksanakan melalui program perlindungan tenaga kerja dan pengembangan sistem pengawasan ketenagakerjaan dengan sasaran meningkatnya penerapan pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan di tempat kerja.

- Bidang Ketransmigrasian

Arah kebijakan dan strategi pembangunan desa dan kawasan perdesaan, termasuk di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, kawasan transmigrasi dan kepulauan dan pulau kecil adalah :

1.Pemenuhan standar pelayanan minimal desa termasuk permukiman transmigrasi sesuai dengan kondisi geografis desa;

2.Penanggulanagan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa termasuk di permukiman transmigrasi

3.Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan dan pembentukan modal sosial budaya masyarakat desa termasuk di permukiman transmigrasi;

4.Pengembangan ekonomi kawasan perdesaan termasuk kawasan transmigrasi untuk mendorong keterkaitan desa-kota.

Program yang dilaksanakan untuk mendukung visi misi merupakan kumpulan kegiatan nyata, sistematis dan terpadu guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Program yang telah ditetapkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut :

No NAMA PROGRAM DANA PENANGGUNG

JAWAB 1 Peningkatan Kompetensi Tenaga

Kerja dan Produktivitas APBN

Bid. PKP 2 Peningkatan Kualitas dan

Produktivitas Tenaga Kerja APBD 3 Penempatan dan Perluasan

Kesempatan Kerja APBN 4 Perluasan dan Pengembangan

Kesempatan Kerja APBD 5 Pengembang Hubungan Industrial

dan Peningkatan Jaminan Sosial APBN

Tenaga Kerja

6 Perlindungan dan Pengembangan

Lembaga Ketenagakerjaan APBD 7 Perlindungan Tenaga Kerja dan

Pengembangan Sistem Pengawasan Ketenagakerjaan) APBN 8 Pembangunan Kawasan Transmigrasi APBN Bid. P4T 9 Pengembangan Wilayah Transmigrasi APBD

10 Pengembangan Masyarakat dan

Kawasan Transmigrasi APBN

Bid. P2MKT 11 Pengembangan Wilayah

Transmigrasi APBD

Tabel 2. Program yang dilaksanakan untuk mencapai visi misi

Indikator Kinerja Utama Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan adalah :

NO. INDIKATOR KINERJA UTAMA SATUAN

1 Persentase tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan % 2 Persentase Penduduk yang bekerja % 3 Persentase Kasus yang diselesaikan dengan Perjanjian Bersama (PB) % 4 Persentase Pekerja/buruh yang menjadi peserta program Jaminan Sosial

Tenaga Kerja %

5 Persentase Perusahaan yang melaksanakan norma ketenagakerjaan % 6 Terpilihnya pembina kimtrans dan transmigrans teladan org

E. Rencana Kerja Pembangunan Tahun 2015

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah diwujudkan secara bertahap melalui pembangunan tahunan dengan target Kinerja utama yang akan diukur melalui 4 indikator bersifat makro mempresentasikan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan yang akan dicapai.

Rencana pembangunan tahun 2015 dituangkan dalam RKPD tahun 2015 sebagai dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). RKPD tahun 2013 ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 188.44 / 0549 / KUM / 2012 tanggal 28 Desember 2012. memuat sasaran yang hendak dicapai pada tahun 2014 disertai program-program yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai sasaran.

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA A. Capaian Indikator Kinerja Utama

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010, tentang Pedoman Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, setiap akhir periode instansi melakukan pencapaian target kinerja yang ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja, dimana pengukuran pencapaian target kinerja tersebut dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dengan realisasi kinerja.

Hasil capaian kinerja, baik kekurangan maupun kelebihannya merupakan hasil kerja manajemen dalam mensinergikan berbagai sumber daya dan seluruh komponen yang ada di lingkungan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan, tidak terkecuali pengaruh kondisi dan situasi yang melingkupinya. Upaya pengukuran kinerja diakui tidak selalu mudah, karena hasil capaian suatu indikator tidak semata-mata merupakan output dari satu input (program, kegiatan, sumber dana), akan tetapi merupakan akumulasi, korelasi dan sinergi antara berbagai input dan pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan itu. Dengan demikian keberhasilan realisasi suatu sasaran/kegiatan, tidak dapat diklaim sebagai hasil dari satu sumber dana atau oleh satu pihak saja.

Skala nilai peringkat kinerja dikutip dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 yang juga dipakai dalam penyusunan LAKIP adalah :

NO Interval Nilai Realisasi Kinerja

Kriteria penilaian Realisasi Kinerja Kode 1. 91 ≤ Sangat Baik 2. 76 - 90 Tinggi 3. 66 - 75 Sedang 4. 51 - 65 Rendah 5. ≤ 50 Sangat rendah

Tabel 4. Skala nilai peringkat kinerja (Sumber : Permendagri 54 Tahun 2010)

Pengukuran kinerja merupakan hasil suatu penilaian yang didasarkan pada Indikator Kinerja Utama (IKU) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan sebagai berikut :

No Indikator % Capaian s/d 2014 2015 Target Realisasi % Capaian 1. Persentase tenaga kerja yang

mendapatkan pelatihan 81,20 88,50 100 112,99

2. Persentase penduduk yang

bekerja 98,84 93,38 95,17 101,91

3.

Persentase kasus yang diselesaikan dengan perjanjian bersama (PB)

100 80,00 93,60 117,00

4.

Persentase pekerja/buruh yang menjadi peserta program jaminan sosial tenaga kerja (%)

5. Persentase Perusahaan yang melaksanakan norma ketenagakerjaan

6,55 90,00 97,31 108,12 6. Terpilihnya pembina

kimtrans dan transmigrans teladan

0 6 4 66,66

Tabel 5. Penetapan Kinerja Indikator Kinerja Utama

B. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja Program/Kegiatan

Bagian ini akan menguraikan secara ringkas evaluasi dan analisis capaian seluruh kinerja secara umum. Penyajiannya akan diuraikan per sasaran sebagai berikut :

Tujuan 1. Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia tenaga kerja

- Sasaran: Meningkatkan pelayanan pelatihan kerja Diukur melalui 4 indikator sebagai berikut:

No Indikator % Capaian 2014 2015 Target Realisasi % Capaian 1. Persentase tenaga kerja yang

telah lulus uji kompetensi 0 50,00 85,00 170,00 2. Persentase tenaga kerja yang

mendapatkan pelatihan produktivitas (%)

100,00 100,00 100,00 100,00 3. Persentase tenaga kerja yang

mendapatkan pelatihan kewirausahaan (%)

133,33 77,00 100,00 129,87 4. Persentase capaian BLK

menuju bertaraf Internasional 94,67 100 97,5 97,5 Tabel 6. Capaian Indikator sasaran meningkatkan pelayanan pelatihan kerja

% Tenaga Kerja yang telah lulus uji

kompetensi =

∑ tenaga kerja yang ikut pelatihan

kompetensi X 100 % ∑ tenaga kerja yang lulus pada

pelatihan kompetensi

= 558 X 100 % 656

= 85,06 %

% Tenaga Kerja yang mendapat pelatihan produktivitas =

∑ tenaga kerja yang ikut pelatihan

produktivitas X 100 % ∑ tenaga kerja yang lulus pada

pelatihan produktivitas

= 20 X 100 % 20

= 100 %

% Tenaga Kerja yang mendapat pelatihan

kewirausahaan =

∑ tenaga kerja yang ikut pelatihan

kewirausahaan X 100 % ∑ tenaga kerja yang lulus pada

pelatihan kewirausahaan

= 30 X 100 % 30

= 100 %

Dari 4 (empat) indikator sasaran meningkatkan pelayanan pelatihan kerja, kinerja yang dicapai menunjukkan bahwa 3 (tiga) indikator dengan kriteria sangat baik karena melampaui dari target yang dicanangkan, sedangkan 1 (satu) indikator tinggi karena belum mampu melampaui nilai target yang dicanangkan, hal ini karena keterbatasan jumlah instruktur yang

mempunyai kompetensi, adapun instruktur BLK yang ada sekarang rata rata sudah memasuki usia pensiun dan kompetensinyapun masih untuk dunia kerja terdahulu dalam arti kata kompetensinya belum terlalu memadai untuk melatih lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Perbandingan Realisasi Meningkatkan pelayanan pelatihan kerja tahun 2014 dan tahun 2015 :

Indikator Realisasi

2014

Realisasi 2015 1 Persentase tenaga kerja yang telah lulus

uji kompetensi 0 85,00

2 Persentase tenaga kerja yang

mendapatkan pelatihan produktivitas (%) 100,00 100,00 3. Persentase tenaga kerja yang

mendapatkan pelatihan kewirausahaan (%)

100,00 100,00

4. Persentase capaian BLK menuju bertaraf

Internasional 85,20 97,5

Tabel 7. Perbandingan realisasi sasaran meningkatkan pelayanan pelatihan kerja tahun 2014 dan tahun 2015

Tujuan 2. Meningkatkan akses pencari kerja

- Sasaran: Meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja

Diukur melalui 6 indikator sebagai berikut:

No Indikator % Capaian 2014 2015 Target Realisasi % Capaian 1. Persentase Penduduk yang bekerja (%) 102,82 93,38 95,17 101,92 2. Jumlah Angkatan kerja 107,85 1.900.738 1.968.496 103,56 3. Persentase Kelulusan BLK yang Bekerja (%) 175,78 35,00 47,10 134,29

4. Persentase Pengangguran Terbuka(%)

128,85 6,62 4,83 137,06

5. Persentase Peningkatan Partisipasi angkatan kerja (%) 100,72 73,03 73,21 100,25 6. Persentase peserta pelatihan kewirausahaan yang telah membuka usaha (%)

100,00 85,00 86,67 101,96

Tabel 8. Capaian Indikator sasaran meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja

Persentase Jumlah Penduduk yang bekerja terealisasi 95,97 % dari target senilai 93,34 % dengan nilai absolute sebagai berikut :

% Penduduk bekerja = ∑ Penduduk bekerja

X 100 % ∑ Angkatan Kerja

= 1.968.496 X 100 % 2.068.449

= 95,17 %

Persentase kelulusan BLK yang bekerja terealisasi 47,10 % dari target senilai 35,00 % yang diperoleh dari nilai absolute berikut :

% Kelulusan BLK yang bekerja = ∑ yang bekerja

X 100 % ∑ kelulusan BLK

= 309 X 100 % 656

- Persentase Pengangguran Terbuka terealisasi 4,83 % dari target 6,62 % dengan nilai absolute sebagai berikut :

a. Persentase pengangguran terbuka tahun 2014 adalah 4,03 % b. Persentase pengangguran terbuka tahun 2015 adalah 4,83 % Target RPJM terhadap Persentase pengurangan pengangguran adalah

6,62 % – 6,65 % = - 0,03 %

Sehingga Persentase pengurangan pengangguran adalah 4,03 % – 4,83 % = - 0,80 %

Dari target RPJM yang menghendaki pengurangan pengangguran sebesar 0,03 %, Kinerja SKPD sudah mampu melampaui hingga 0,80 %.

- Persentase peningikatan partisipasi angkatan kerja terealisasi 73,21 % dari target sebesar 73,03 % dengan bilai absolut sebagai berikut :

% peningkatan partisipasi angkatan kerja = ∑ Angkatan Kerja

X 100 % ∑ Penduduk yang bekerja

= 1.968.496 X 100 % 26888

= 73,21 %

- Persentase peserta pelatihan kewirausahaan yang telah membuka usaha terealisasi 86,68 dari target senilai 85,00 % yang diperoleh dari nilai absolute berikut :

% peserta pelatihan bekerja = ∑ yang dapat membuka usaha

X 100 % ∑ yang dilatih

= 26 X 100 % 30

Dari 6 (enam) Indikator sasaran meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja, seluruhnya mendapatkan kriteria sangat baik karena melampaui dari target yang dicanangkan.

Capaian Indikator sasaran meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja didukung oleh program Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja serta program perluasan dan kesempatan kerja dengan kegiatan sebagai berikut :

- Bimtek instruktur lembaga latihan kerja - Monitoring lembaga latihan swasta

- Pemagangan dalam negeri berbasis pengguna - Penyelenggaraan Kegiatan Padat Karya Produktif

- Pembinaan Terapan Teknologi Padat Karya Sistem Kader - Pengembangan Informasi Pasar Kerja

- Pengembangan Bursa Kerja

- Penyusunan dan Penyebarluasan Informasi Ketenagakerjaan - Bimbingan teknis bursa kerja online

- Pemasaran lulusan BLK

- Pembinaan dan pengembangan desa produktiv

Perbandingan realisasi meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja tahun 2014 dan tahun 2015

Indikator Realisasi201

4

Realisasi 2015 1. Persentase jumlah Penduduk yang

bekerja (%) 92,26 95,17

2. Jumlah Angkatan kerja 2.017.754 1.968.496

3. Persentase Kelulusan BLK Bekerja

4. Persentase Pengurangan

Pengangguran Terbuka(%) 4.03 4,83

5. Persentase Partisipasi angkatan kerja

(%) 72,95 73,21

6. Persentase kewirausahaan yang telah membuka peserta pelatihan usaha (%)

80,00 86,67

Tabel 9. Perbandingan realisasi meningkatkan pelayanan penempatan tenaga kerja dan perluasan kerja tahun 2014 dan tahun 2015

Tujuan 3. Pengembangan hubungan industrial yang harmonis dan peningkatan jaminan sosial tenaga kerja

- Sasaran: Meningkatkan sarana hubungan industrial Diukur melalui 4 indikator sebagai berikut:

No Indikator % Capaian 2014 2015 Target Realisasi % Capaian 1. membentuk LKS bipartit Jumlah perusahaan yang

(Prsh)

166,67 101,00 164,00 162,38 2. Jumlah serikat pekerja yang

terbentuk (SP) 112,50 319,00 281,00 88,09 3. membuat Jumlah perusahaan yang peraturan

perusahaan (Prsh)

67,86 300,00 448,00 149,33 4. membentuk perjanjian kerja Jumlah perusahaan yang

bersama (Prsh)

73,79 160,00 117,00 73,13 Tabel 10. Realisasi sasaran meningkatkan sarana hubungan industrial

Dari 4 (empat) Indikator sasaran meningkatkan sarana hubungan industrial, terdapat 2 (dua) indikator dengan kriteria sangat baik dan melampaui dari target yang dicanangkan, 1 (satu) indikator dengan kriteria

tinggi dan 1 (satu) indikator dengan kriteria sedang karena belum dapat melampaui dari target yang dicanangkan.

Adapun Kendala yang dihadapi dalam pencapaian target kinerja tersebut karena kurangnya sosialisasi kepada perusahaan terhadap pembentukan serikat pekerja dan pentingnya peraturan perusahaan yang harus di miliki oleh setiap perusahaan. Sosialisasi kepada perusahaan kurang ini disebabkan tidak adanya dukungan anggaran untuk melaksanakan hal tersebut. Usaha selama ini hanyalah himbuan disetiap pertemuan dan kunjungan monitoring melalui dinas-dinas Kabupaten/Kota, sedangkan upaya langsung melakukan himbauan ke perusahaan tidak ada.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya memberdayakan tenaga penyelesaian perselisihan diluar pengadilan, yang didukung oleh berbagai kegiatan yaitu berupa kegiatan :

- Peningkatan Wawasan Dewan Pengupahan Provinsi - Perundingan Upah Minimum Sektoral Provinsi - Pengawasan Pelaksanaan Upah Minimum

- Pengelolaan kelembagaan dan permasyarakatan Hubungan Industrial - Peningkatan penerapan pengupahan dan jamsostek

- kegiatan Konsolidasi Pelaksanaan Peningkatan Intensitas Pencegahan PHK dan Penyelesaian Perselisihan HI

- Pembinaan Forum Komunikasi Tripartit Provinsi Kal Sel

- Dialog social Hubungan Industrial antar SP/SB, Pengusaha dan Pemerintah Upaya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan dalam mendorong terbentuknya LKS Bipartit antara lain melalui TOT Tata Cara Pembentukan LKS Bipartit di Perusahaan dan Sosialisasi Pembentukan LKS Bipartit. Keberhasilan pembentukan LKS Bipartit tersebut selain disebabkan oleh efektivitas kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan

oleh Ditjen PHI dan Jamsos, tentunya juga atas dukungan Dinas yang membidangi Ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota serta pihak pekerja/SP/SB dan pengusaha/organisasi pengusaha yang semakin meningkat kesadarannya untuk mendirikan LKS Bipartit.

Selanjutnya, terdapat hal yang lebih penting lagi untuk dilakukan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Selatan yaitu bagaimana agar LKS Bipartit dapat bekerja secara optimal dan dapat dirasakan manfaatnya untuk mendukung kondisi hubungan industrial yang harmonis di perusahaan. Selain Lembaga Kerja Sama Bipartit (LKS Bipartit), terdapat Lembaga Kerja Sama Tripartit (LKS Tripartit) yang merupakan forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, dan serikat pekerja/serikat buruh dan Pemerintah.

Perbandingan Realisasi indikator sasaran meningkatkan sarana hubungan industrial Tahun 2014 dan Tahun 2015

Indikator Realisasi

2014

Realisasi 2015 1. Jumlah perusahaan yang

membentuk LKS bipartit (Prsh) 150,00 164,00 2. Jumlah serikat pekerja yang

terbentuk (SP) 342,00 281,00

3. membuat peraturan perusahaan Jumlah perusahaan yang (Prsh)

190,00 448,00

4. membentuk Jumlah perusahaan perjanjian kerja yang bersama (Prsh)

107,00 117,00

Tabel 11. Perbandingan realisasi meningkatkan sarana hubungan industrial tahun 2014 dan tahun 2015

- Sasaran: Mediasi penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial Diukur melalui 1 indikator sebagai berikut:

No Indikator % Capaian s/d 2014 2015 Target Realisasi % Capaian 1. diselesaikan Persentase kasus dengan yang

perjanjian bersama (%)

100,00 80,00 93,60 117,00 Tabel 12. Capaian indikator sasaran Mediasi penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial

- Persentase kasus yang diselesaikan dengan perjanjian kerja bersama terealisasi 93,60 dari target senilai 80,00 % yang diperoleh dari nilai absolute berikut :

% kasus yang diselesaikan dengan perjanjian

kerja bersama =

∑ kasus seluruhnya – jumlah kasus yang diserahkan ke

pengadilan X 100 % ∑ kasus seluruhnya

= 172 - 11 X 100 % 172

= 93,60 %

Indikator sasaran mediasi penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial memperoleh kriteria sangat baik dan dapat mencapai target yang telah dicanangkan. Dari 172 yang telah dicatatkan, hanya 11 kasus yang berlanjut ke tingkat pengadilan, sehingga terdapat 161 kasus dapat terselesaikan dengan baik.

Sebelas kasus yang berlanjut ke tingkat pengadilan tersebut adalah dari berbagai kabupaten, yaitu 2 (dua) Kasus dari Kabupaten Banjar, 1 (satu) kasus dari Kabupaten Banjarbaru, 4 (empat) kasis dari Kotamadya Banjarmasin, 1 (satu) kasus dari Kabupaten HST=1 dan 3 (tiga) kasus dari Kabupaten Tanah Bumbu.

Upaya untuk mencapai kinerja tersebut didukung dengan program Pengembangan hubungan industrial dan peningkatan jaminan sosial tenaga kerja dengan kegiatan :

- Pengelolaan kelembagaan dan permasyarakatan Hubungan Industrial

- kegiatan Konsolidasi Pelaksanaan Peningkatan Intensitas Pencegahan PHK dan Penyelesaian Perselisihan HI

Perbandingan realisasi mediasi penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial Tahun 2014 dan Tahun 2015

Indikator Realisasi

2014

Realisasi 2015 1. Persentase kasus yang diselesaikan

dengan perjanjian bersama (%) 75,00 93,60 Tabel 13. Perbandingan Realiasasi Kinerja Sasaran Mediasi penyelesaian

Dokumen terkait