• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Ibu, Kesejahteraan Keluarga, dan

Dalam dokumen ISU KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (Halaman 164-170)

Bab 8 Stunting dan Pembangunan SDM

8.4 Pendidikan Ibu, Kesejahteraan Keluarga, dan

8.3.3 Pemahaman Kesehatan Sebelum & Sesudah Melahirkan

Pemahaman masalah kesehatan hendaknya dimulai ketika seseorang calon ibu akan melangkah ke pernikahan. Usia kehamilan ibu yang terlalu muda, di bawah 20 tahun, beresiko BBLR, bayi dengan berat lahir rendah, dan akan mempengaruhi terjadinya stunting kurang lebih 20%.

Pasca melahirkan, seorang ibu harus memperhitungkan jarak kelahiran berikutnya. Jarak kelahiran yang demikian dekat akan beresiko terhadap kesehatan bayi berikutnya. Hal ini disebabkan perhatian akan terbagi terutama dan pemberian ASI Eksklusif dan MPASI (makanan pendamping ASI). Tidak saja ibu hamil dengan umur terlalu muda dan jarak kelahiran terlalu dekat, umur melahirkan yang terlalu tua dan terlalu sering melahirkan juga beresiko terjadinya stunting.

150

bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah memiliki balita stunting sebesar 79,6%, sedangkan 20,4% balita stunting dimiliki oleh ibu dengan tingkat pendidikan tinggi (Tabel 8.4).

Namun seringkali terjadi kontradiksi dengan temuan di atas. Stunting dapat juga terjadi pada seorang ibu berpendidikan tinggi seperti yang ditemukan oleh Maywita dan Putri (2019) di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang tahun 2019 (Tabel 8.5). Faktor penyebabnya antara lain:

Ibu pendidikan tinggi terlalu sibuk dengan urusan a)

publik, sehingga urusan domestik diabaikan. Seperti kurang memiliki waktu luang untuk pemberian ASI eksklusif.

MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan b)

tidak sesuai dengan usia balita, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Tabel 8.3 Pendidikan Ibu dan Kejadian Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Kandanghaur, Kabupaten Indramayu 2019

Pendidikan Stunting

(%)

Tidak Stunting

(%) (n)

Tidak Sekolah 37,5 62,5 16

SD 50,0 50,0 134

SMP 33,3 66,7 90

SMA 23,0 77,0 61

PT 28,6 71,6 7

Total 38,6 61,4 308

Sumber: Husnaniyah dkk, 2020

Tabel 8.4 Pendidikan Ibu dan Kejadian Stunting Wilayah Kerja Puskesmas Way Urang, Kabupaten Lampung Selatan 2020

Pendidikan Stunting (%) Normal (%) Total (%)

Rendah 79,6 55,1 67,3

Tinggi 20,4 44,9 32,7

(n) 49 49 98

Sumber: Sutarto dkk, 2020

Tabel 8.5 Pendidikan Ibu dan Kejadian Stunting di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang 2019

Pendidikan Stunting (%) Normal (%) Total (%)

Rendah 30,0 20,8 25,4

Tinggi 70,0 79,2 74,6

(n) 130 130 260

Sumber: Maywita dan Putri, 2019

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat pndidikan ibu yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya keterlambatan perkembangan anak. Ibu dengan tingkat pendidikan yang rendah, kurang memberikan stimulasi dibandingkan dengan ibu pendidikan tinggi. Ariani dan Yosoprawoto (2012) menyatakan bahwa pola asuh kepada anak, perilaku hidup sehat, ketersediaan dan pola konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua terutama ibu.

Pendidikan dimaksud bukan saja pendidikan formal Ibu tetapi juga pengetahuan tentang kesehatan dan gizi. Menurut Chandra (2020) kurangnya pendidikan kesehatan dan gizi menyebabkan masyarakat lebih mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan.

Orang tua yang paham dan sadar gizi akan selalu memberikan makanan bergizi bukan makanan yang hanya memberikan rasa kenyang. Pengetahuan dan kesadaran tentang gizi tidak bisa diperoleh secara instan, namun melalui proses yang cukup panjang, oleh karena itu pendidikan kesehatan dan gizi harus diberikan sejak dini, misalnya melalui penyuluhan, kelompok PKK, Posyandu, media cetak, media elektronik, dan sosial media.

8.4.2 Kesejahteraan Keluarga

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009, keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi,

152

selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.

Secara umum kesejahteraan keluarga dapat diartikan sebagai kemampuan keluarga untuk memenuhi semua kebutuhan agar dapat hidup layak, sehat, dan produktif. Berkaitan dengan kesejahteraan keluarga, ada faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting yaitu:

Faktor lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal.

a)

Faktor lingkungan prenatal merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih dalam kandungan. Sementara faktor lingkungan postnatal adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir.

Faktor sosial ekonomi. Pengaruh faktor ini sangat besar b)

terhadap kejadian stunting. Faktor sosial meliputi:

pendidikan orangtua dan pekerjaan orangtua yang memberikan kontribusi terhadap tumbuh kembang anak mulai dari dalam kandungan hingga usia emas balita.

Faktor ekonomi berkaitan dengan pendapatan orangtua dan pengeluaran konsumsi terutama konsumsi pangan.

Pendapatan yang kurang berimbas pada ketidak mampuan orang tua memberikan makanan yang berfungsi untuk tumbuh kembang anak yang bersumber dari protein, vitamin, dan mineral sehingga meningkatkan risiko kurang gizi dan mengalami stunting.

Terbatasnya pendapatan orangtua menyebabkan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kondisi ini mengkategorikan keluarga tersebut miskin. Kemiskinan mengakibatkan keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan kuantitas dan kualitas yang baik, apalagi untuk memenuhi kebutuhan pangan: 4 sehat 5 sempurna. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah cenderung berisiko stunting (Semba RD, dkk 2008; Lee J 2012) (Schrijner S:2018).

8.4.3 Akses terhadap Fasilitas Kesehatan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2016, menyebutkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk melaksanakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. Aksesibilitas masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan adalah hak setiap orang untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya kesehatan, termasuk di dalamnya hal untuk mendapatkan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan (Laksono, 2016).

Pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang pola hidup sehat dan mencegah terjadinya permasalahan kesehatan masyarakat atau penyakit. Sedangkan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif berorientasi pada penyembuhan dan pengobatan suatu penyakit serta mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat.

Fasilitas pelayanan kesehatan menyelenggarakan pelayanan kesehatan berupa (1) pelayanan kesehatan perseorangan; dan (2) pelayanan kesehatan masyarakat. Sementara jenis fasilitas pelayanan kesehatan mastarakat terdiri atas:

Tempat praktik mandiri Tenaga Kesehatan, a)

Pusat kesehatan masyarakat, b)

Klinik, c)

Rumah sakit, d)

Apotek, e)

Unit transfuse darah, f)

Laboratorium kesehatan, g)

Optikal, h)

Fasilitas pelayanan kedokteran untu kepentingan i)

hokum,

Fasilitas pelayanan kesehatan tradisional j)

154

Akses pelayanan seringkali dilihat hanya sebatas pemberian pelayanan saja, terkadang akses masyarakat seringkali kurang diperhatikan. Terlebih lagi masyarakat berpenghasilan rendah dan tinggal di daerah terpencil atau letak geografis yang sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan akan semakin kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Beberapa daerah masih banyak kekurangan tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis. Tentunya hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan seharusnya dilihat dari dua sisi yaitu masyarakat dan pemberi layanan kesehatan.

Indikator pengetahuan akses ke fasilitas kesehatan diukur dengan menggunakan beberapa pertanyaan di tingkat rumah tangga. Dalam Riskesdas 2018 (Kementerian Kesehatan, 2018), indikator dianalisis menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) yang dibangun dengan 3 (tiga) dimensi, yaitu (1) jenis alat transportasi yang digunakan ke fasilitas kesehatan; (2) waktu tempuh pulang pergi dari rumah ke fasilitas kesehatan, dan (3) biaya yang dikeluarkan untuk transportasi pulang pergi ke fasilitas kesehatan. Pada Riskesdas 2018, ada 3 (tiga) jenis akses pelayanan kesehatan yang dihitung yaitu (1) akses ke fasilitas Rumah Sakit; (2) akses ke fasilitas Puskesmas/ Pustu/Pusling/Bidan Desa; dan (3) akses ke fasilitas Klinik, praktek Dokter, praktek Dokter Gigi dan praktek Bidan Mandiri.

Berikut Tabel 8.6 menunjukkan proporsi pengetahuan rumah tangga terhadap kemudahan akses ke fasilitas kesehatan. Ternyata lokasi tempat tinggal di perdesaan, dengan tingkat pendidikan kepala rumah tangga rendah dan jenis pekerjaan yang tergolong kedalam kelompok petani, nelayan, dan buruh/sopir/pembantu rumah tangga, mengalami kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan menunjukkan persentase yang besar.

Upaya peningkatan akses dapat dilakukan melalui pemenuhan tenaga kesehatan, peningkatan sarana pelayanan primer seperti Puskesmas, klinik, dokter praktek mandiri, pemenuhan prasarana pendukung seperti alat kesehatan,

obat-obatan terutama untuk pelayanan di daerah terpencil dan sangat terpencil.

Dalam dokumen ISU KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (Halaman 164-170)

Dokumen terkait