• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini menguraikan kesimpulan secara keseluruhan dari evaluasi

data, keterbatasan penelitian dan saran-saran yang bermanfaat

untuk perbaikan kinerja Kantor X.

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Definisi Kinerja

1. Mahsun, dkk., (2007: 157)

Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran,

tujuan, misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning

suatu organisasi.

2. Prawirosentono (1999)

Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau

sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan

tanggung jawab masing-masing dalam upaya mencapai tujuan

organisasi.Terdapat hubungan erat antara kinerja perorangan dengan kinerja

organisasi, dengan kata lain bila kinerja karyawan baik maka kemungkinan

besar kinerja organisasi baik.

3. Handoko (1995)

Kinerja (performance) dengan prestasi kinerja yaitu proses melalui mana

organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan.

B. Evaluasi Kinerja

Menurut Mahsun (2009: 65), evaluasi kinerja adalah kegiatan untuk

8

melaksanakan kegiatan dan fungsi yang diamanahkan kepadanya sebagaimana

visi dan misi organisasi. Tujuan dari evaluasi kinerja:

1. Pengembangan untuk menentukan pegawai yang perlu ditraining dan

membantu evaluasi hasil training.

2. Pemberian reward untuk proses penentuan kenaikan gaji, insentif dan

promosi.

3. Motivasi untuk memotivasi pegawai, mengembangkan inisiatif dan rasa

tanggung jawab sehingga mereka terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya.

4. Perencanaan SDM bermanfaat bagi pengembangan keahlian dan

keterampilan serta perencanaan SDM.

5. Kompensasi memberikan informasi yang digunakan untuk menentukan apa

yang harus diberikan kepada pegawai yang berkinerja tinggi atau rendah dan

bagaimana prinsip pemberian kompensasi yang adil.

6. Evaluasi untuk dasar evaluasi komunikasi yang berkelanjutan antara atasan

dan bawahan menyangkut kinerja pegawai.

C. Ukuran dan Metode Penilaian Kinerja

Menurut Mulyadi (2001) terdapat tiga ukuran yang dapat digunakan

untuk mengukur kinerja secara kuantitatif:

1. Ukuran Kriteria Tunggal (Single Criteria) adalah ukuran kinerja yang hanya

menggunakan satu ukuran dalam menilai kinerja.

2. Ukuran Kriteria Beragam (Multiple Criteria) adalah ukuran kinerja yang

menggunakan berbagai macam ukuran untuk menilai kinerja sebuah

perusahaan.

3. Ukuran Kriteria Gabungan (Composite Criteria) adalah ukuran kinerja yang

menggunakan berbagai macam ukuran, memperhitungkan bobot

masing-masing ukuran dan menghitung rata-ratanya sebagai ukuran menyeluruh

kinerja perusahaan.

Metode pengumpulan data menurut Sri Hadiati (2002) dibagi kedalam

tiga bagian, yaitu:

1. Metode Penilaian dengan Orientasi Masa Lalu

Metode ini merupakan metode dengan menggunakan data-data yang sudah

ada untuk kemudian dilakukan perbandingan atau perhitungan pertumbuhan

baik pertumbuhan penjualan diberbagai pasar sasaran, wilayah, maupun

kelompok pelanggan. Pertumbuhan mengukur seberapa besar kemampuan

perusahaan dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang

dicapai dari satu periode ke periode berikutnya. Dengan diketahuinya

pertumbuhan masing-masing komponen sumber pendapatan dapat

dievaluasi potensi-potensi mana yang perlu mendapat perhatian.

2. Metode Penilaian dengan Orientasi Masa Sekarang

a. Metode Skala Peringkat

Metode ini bersifat subyektif, dibuat dua kolom dimana satu kolom

berisi variabel yang dinilai dan kolom lainnya berisi kategori penilaian

10

sangat kurang. Biasa juga dalam kategori ini diberi angka 90-100 amat

baik, 80-89 baik, 70-79 cukup, 60-69 kurang, 0-59 sangat kurang.

b. Metode Check List

Pada metode ini penilai memberi tanda (√) pada uraian perilaku pegawai baik negatif maupun positif, masing-masing perilaku diberi bobot nilai

yang besarnya tergantung pada tingkat kepentingan perilaku tersebut

terhadap keberhasilan suatu pekerjaan.

c. Metode Insiden Teritikal

Dalam metode ini penilai menuliskan sejumlah pertanyaan terbuka yang

terbagi ke dalam beberapa kategori.

d. Metode Tes dan Observasi

Untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu penilaian dapat berupa tes dan

observasi. Tes merupakan ujian tertulis yang menyangkut berbagai hal

atau ujian praktek yang langsung diamati oleh penilai.

3. Metode Penilaian dengan Orientasi Masa Depan

a. Penilaian Diri Sendiri (Self Assessment)

Metode ini mendasarkan pendapat bahwa seorang pegawai mempunyai

kedewasaan mental, intelektual dan psikologis, sehingga dianggap

bahwa mereka mampu menilai diri sendiri, baik mengenai prestasi

dimasa lalu maupun potensinya yang dapat dikembangkan di masa

mendatang.

b.

Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management by Objective)

Metode ini menggunakan target sebagai acuan kerja. Metode ini didasari

pada pendapat bahwa apabila seseorang dilibatkan dalam penentuan

sasaran kelompok, yang notabene juga akan merupakan bagian dari

sasaran organisasi, maka dia akan merasa bertanggung jawab untuk

mencapai sasaran tersebut.

c. Penilaian Psikologikal

Dalam penilaian ini para ahli dapat menggunakan berbagai teknik

seperti wawancara, berbagai tes psikologi, diskusi dengan para superior.

d. Penggunaan Pusat-pusat Penilaian

Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi para manajer tingkat

menengah yang akan dipromosikan. Dengan semakin banyaknya

pusat-pusat penilaian didirikan semakin mudah organisasi menilai kinerjanya.

D. Definisi Organisasi Sektor Publik

Organisasi adalah alat atau wadah sekelompok orang yang berkumpul

dan bekerja sama dengan cara yang terstruktur untuk mencapai tujuan atau

sejumlah sasaran tertentu yang telah ditetapkan bersama. Pengertian sektor

publik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan umum dan

penyedia barang atau jasa kepada pemilik yang dibayar melalui pajak atau

pendapatan negara lain yang diatur dengan hukum (Mahsun, dkk., 2006).

Munculnya organisasi sektor publik merupakan upaya untuk

menyediakan layanan terhadap kebutuhan masyarakat tanpa pengumpulan laba

12

benar-benar organisasi sosial, ada pula organisasi sektor publik yang bertujuan

untuk pengumpulan laba disamping melayani kebutuhan masyarakat yang

menjadi pokok berdirinya organisasi tersebut.

E. Penilaian Kinerja Sektor Publik

1. Robertson dalam Mahsun (2009: 25)

Pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan

terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk

informasi barang dan jasa; kualitas barang dan jasa (seberapa baik barang

dan jasa diserahkan kepada pelanggan dan sampai seberapa jauh pelanggan

terpuaskan); hasil kegiatan dibandingkan dengan maksud yang diinginkan;

dan efektifitas tindakan dalam mencapai tujuan.

2. Whittaker dalam Mahsun, dkk (2007: 157-158)

Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk

meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.

3. Stout dalam Bastian (2005: 275)

Pengukuran kinerja merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian

pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi melalui hasil-hasil yang

ditampilkan berupa produk, jasa ataupun suatu proses.

Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengukuran

kinerja merupakan suatu metode yang digunakan untuk mencatat dan menilai

pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran dan strategi

sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas

pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Tujuan sistem penilaian kinerja

adalah:

1. Untuk mengkomunikasikan strategi secara lebih baik.

2. Untuk mengukur kinerja finansial dan non-finansial secara berimbang.

3. Untuk mengakomodasikan pemahaman kepentingan manajer level

menengah dan bawah serta memotivasi untuk mencapai goal congruence.

4. Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual

dan kemampuan kolektif yang rasional.

F. Manfaat Pengukuran Kinerja Sektor Publik

Manfaat pengukuran kinerja baik untuk internal maupun eksternal

organisasi sektor publik menurut BPKP dalam Mahsun (2006):

1. Memastikan pemahaman para pelaksana akan ukuran yang digunakan untuk

mencapai kinerja.

2. Memastikan tercapainya rencana kinerja yang telah disepakati.

3. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkan

dengan rencana kerja serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja.

4. Memberikan penghargaan dan hukuman yang objektif atas prestasi

pelaksana yang telah diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang

telah disepakati.

5. Menjadi alat komunikasi antar bawahan dan pimpinan dalam upaya

memperbaiki kinerja organisasi.

6. Mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.

14

8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.

9. Menunjukan peningkatan yang perlu dilakukan.

10.Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

G. Jenis-jenis Tipe Organisasi

Berdirinya organisasi pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Untuk

membedakan tujuan antar organisasi dalam memberikan pelayanan akan

barang atau jasa, maka karakteristik organisasi digolongkan menjadi (Mahsun,

dkk., 2006):

1. Pure-Profit Organization

Tujuannya adalah menyediakan atau menjual barang dan/atau jasa dengan

maksud utama untuk memperoleh laba sebanyak-banyaknya.

Contoh: hotel, swalayan, perusahaan asuransi.

2. Quasi-Profit Organization

Tujuannya adalah menyediakan atau menjual barang dan/atau jasa dengan

maksud untuk memperoleh laba dan mencapai sasaran atau tujuan lainnya.

Contoh: perusahaan BUMN dan BUMD.

3. Quasi-Nonprofit Organization

Tujuannya adalah menyediakan atau menjual barang dan/atau jasa dengan

maksud untuk melayani masyarakat dan memperoleh keuntungan.

Contoh: rumah sakit, poliklinik, sekolah.

4. Pure-Nonprofit Organization

Tujuannya adalah menyediakan atau menjual barang dan/atau jasa dengan

maksud untuk melayani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Contoh: organisasi pemerintahan, panti asuhan, panti jompo, panti

rehabilitasi.

H. Balanced Scorecard

1. Definisi Balanced Scorecard

Balanced scorecard terdiri dari dua kata yaitu balanced (berimbang)

dan scorecard (kartu skor). Ada beberapa definisi dari balanced scorecard

menurut beberapa ahli:

a. Mulyadi (2007: 311)

Balanced scorecard merupakan kartu skor yang dimanfaatkan untuk

mengetahui hasil/skor dari kinerja seseorang atau unit. Melalui kartu

skor pula dapat direncanakan hasil yang ingin dicapai di masa yang akan

datang.

b. Yuwono, dkk. (2003)

Balanced scorecard merupakan suatu sistem manajemen, pengukuran

dan pengendalian yang secara cepat, tepat dan komprehensif dapat

memberikan pemahaman kepada manajer tentang kinerja bisnis.

c. Kaplan dan Norton (1996: 24)

“the balanced scorecard provides executive with an comprehensive

framework that translates a company’s vision and strategy into a coherent set of perfomance measure.”

16

2. Perkembangan Balanced Scorecard

Balanced scorecard pertama kali diperkenalkan oleh Robert S.

Kaplan dan David P. Norton pada tahun 1992 dalam sebuah artikel berjudul

“Balanced Scorecard-Measures that Drive Perfomance”. Balanced

scorecard pertama kali dikenalkan sebagai alat untuk menilai kinerja

organisasi bisnis, namun sebetulnya pemanfaatan balanced scorecard bisa

digunakan oleh semua jenis organisasi. Pada organisasi publik yang

mengedepankan layanan publik, balanced scorecard perlu diadaptasikan

sehingga menghasilkan pengukuran yang sesuai dengan tujuan utama

organisasi.

3. Balanced Scorecard pada Organisasi Sektor Publik

Sektor publik merupakan sektor yang didirikan dengan tujuan

memberikan pelayanan kepada masyarakat bukan untuk mendapatkan

keuntungan (profit). Meskipun sektor publik bukan bertujuan mencari

profit, sektor publik dapat mengukur efektivitas dan efisiensinya dalam

memberikan layanan kepada masyarakat. Untuk itu sektor publik dapat

menggunakan balanced scorecard dalam pengukuran kinerjanya.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan sektor publik yang berbeda

dengan sektor bisnis, maka sebelum digunakan ada beberapa perubahan,

yaitu (Imelda, 2004: 111):

a. Perubahan framework dimana yang menjadi driver dalam balanced

scorecard untuk sektor publik adalah misi untuk melayani masyarakat.

b. Perubahan posisi antara perspektif keuangan dengan perspektif

pelanggan.

c. Perspektif customers diganti dengan perspektif customers and

stakeholders.

d. Perubahan perspektif learning and growth menjadi perspektif Employess

and Organization Capacity

Penerapan balanced scorecard organisasi pemerintah memerlukan

beberapa penyesuaian (Gasperz dalam Rendak dan Suhaedi, 2007: 138)

seperti:

a. Fokus utama sektor publik adalah masyarakat (publik), sedangkan fokus

utama sektor bisnis adalah pelanggan dan pemegang saham.

b. Tujuan utama organisasi publik adalah bukan maksimalisasi hasil-hasil

financial (anggaran), melainkan melayani dan meningkatkan

kesejahteraan masyarakat.

c. Mendefinisikan ukuran dan target dalam perspektif

customers/stakeholders membutuhkan pandangan dan kepedulian yang

tinggi, sebagai konsekuensi dari peran kepengurusan organisasi

pemerintah dan membutuhkan definisi yang jelas serta hasil yang

diinginkan.

Fokus utama dalam sektor publik adalah misi organisasi, secara

umum misi suatu organisasi adalah melayani dan meningkatkan

kesejahteraan masyarakat. Dari misi tersebut diformulasikan

18

tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam 4 perspektif, yaitu: perspektif

customers and stakeholders, perspektif financial, perspektif internal

business process dan perspektif employees and organization capacity.

Perspektif pelanggan (masyarakat) menggambarkan pelayanan yang

berkualitas kepada masyarakat. Perspektif financial mengidentifikasikan

pemberian pelayanan yang efisien. Perspektif proses bisnis internal

menggambarkan proses-proses yang penting bagi organisasi untuk

meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Perspektif pembelajaran dan

pertumbuhan menggambarkan kompetensi dan kemampuan semua anggota

organisasi.

4. Keunggulan Balanced Scorecard

Keunggulan pengukuran dengan metode balanced scorecard

memiliki karakteristik sebagai berikut (Mulyadi, 2007: 323-327):

a. Komprehensif

Balanced scorecard memperluas perspektif yang dicakup dalam

perencanaan strategic, dari yang sebelumnya hanya terbatas pada

perspektif keuangan meluas pada tiga perspektif yang lain, yakni

customer, proses serta pembelajaran dan pertumbuhan.

b. Koheren

Balanced scorecard mewajibkan personel membangun hubungan sebab

akibat (causal relationship) di antara berbagai sasaran strategik yang

ditetapkan dalam perspektif non-keuangan harus mempunyai hubungan

kausal dengan sasaran keuangan, baik secara langsung maupun tidak

langsung.

c. Berimbang

Keseimbangan sasaran strategi yang dihasilkan oleh sistem perencanaan

penting untuk menghasilkan kinerja keuangan yang berkesinambungan.

d. Terukur

Keterukuran sasaran strategik yang dihasilkan sistem perencanaan

strategik menjanjikan ketercapaian berbagai sasaran strategik yang

dihasilkan sistem tersebut. Balanced scorecard mengukur

sasaran-sasaran strategik yang sulit diukur. Sasaran strategik pada perspektif

customer, proses, serta pembelajaran dan pertumbuhan merupakan

sasaran yang tidak mudah diukur, namun dalam pendekatan balanced

scorecard, sasaran pada ketiga perspektif non-keuangan tersebut

20

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kasus. Penelitian studi

kasus adalah penelitian yang melakukan penyidikan secara mendalam

mengenai subjek tertentu untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai

subjek tertentu (Indriantoro dan Supomo, 2002: 26). Penelitian ini dilakukan

secara langsung di Kantor X dengan data elemen-elemen yang menjadi tolak

ukur dalam pengukuran kinerja dengan konsep balanced scorecard.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kantor X.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Februari tahun 2014.

C. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek penelitian

a. Direktur Kantor X.

b. Kepala Bagian Unit Kantor X.

c. Pegawai Kantor X.

d. Masyarakat pengguna jasa pelayanan Kantor X.

2. Objek penelitian

a. Laporan keuangan kegiatan Kantor X periode tahun 2014.

b. Kuesioner untuk menilai kepuasan masyarakat, Direktur dan Kepala

Bagian Unit serta pegawai Kantor X.

D. Data yang Dibutuhkan

1. Data tentang gambaran umum Kantor X yang meliputi: sejarah, visi dan

misi, tugas dan fungsi, pengorganisasian serta sarana dan prasarana.

2. Data yang dibutuhkan dalam pengukuran kinerja berdasarkan balanced

scorecard, antara lain:

a. Perspektif Pelanggan

1)Hasil kuesioner tentang kepuasan pelanggan. Dalam penelitian ini

yang menjadi pelanggan adalah masyarakat yang menggunakan jasa

pelayanan Kantor X.

b. Perspektif Keuangan

1) Laporan keuangan kegiatan untuk periode tahun 2014.

c. Perspektif Proses Bisnis Internal

1) Hasil wawancara dengan Direktur mengenai proses internal yang

telah dilakukan di Kantor X.

d. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

1) Kuesioner untuk mengukur kepuasan Direktur dan Kepala Bagian

Unit tentang atribut komunikasi, penghargaan serta motivasi dan

22

2) Kuesioner untuk mengukur kepuasan pegawai Kantor Xtentang

atribut kualitas pegawai, kualitas sistem informasi, serta motivasi

inisiatif dan pendelegasian wewenang.

E. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas: objek/subjek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2012: 119). Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat pengguna layanan

sertapegawai Kantor X.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dan jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh

populasi. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random

sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan secara

acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono,

2012: 120).

Pengambilan sampel dihitung dengan rumus Slovin:

= +

Keterangan: n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Persen kelonggaran ketelitian karena kesalahan sampel yang masih dapat ditolerir. Untuk penelitian ini menggunakan persen

ketidaktelitian 10%, artinya tingkat keyakinan sampel mewakili populasi sebanyak 90%.

Jumlah sampel dari penelitian ini adalah:

a. Responden Koordinator Direktur dan Kepala Bagian Unit sejumlah

yang ada di Kantor X yaitu 10.

b. Responden pegawai Kantor X diambil sebanyak 38 orang dari

keseluruhan populasi sebanyak 60 orang.

c. Responden masyarakat diambil 100 orang yang menggunakan

pelayanan jasa Kantor Xyang diambil secara insidental sampling.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan

data-data yang diperlukan dengan data-data yang ada di Kantor X. Data yang

dikumpulkan adalah:

1. Gambaran umum Kantor X.

2. Laporan keuangan kegiatan Kantor X periode tahun 2014.

2. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara pencarian dan

pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung.

24

X, serta interaksi yang terjadi baik interaksi antar pegawai, pegawai dengan

masyarakat, maupun pegawai dengan pimpinan.

3. Kuesioner

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan metode survei berupa

daftar pertanyaan kepada subjek penelitian secara tertulis untuk dijawab

oleh responden.

4. Wawancara

Wawancara adalah komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari

responden. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara tatap muka

langsung dengan responden. Dalam penelitian ini wawancara akan

dilakukan dengan Direktur Kantor X. Data yang diperoleh dengan teknik

wawancara akan digunakan untuk menjawab perspektif proses bisnis

internal.

G. Teknik Pengujian Instrumen

Menurut Arikunto (1996: 160) dalam Wulandari (2008), instrumen yang

baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Untuk

mengetahui apakah setiap item dalam kuesioner yang digunakan sudah valid

atau belum, maka perlu dilakukan pengujian terlebih dahulu.

1. Pengujian Validitas

Validitas merupakan ukuran yang menunjukkan tingkat validitas

atau kesahihan suatu instrumen. Sugiyono (2012) menyatakan bahwa uji

validitas merupakan suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi

(content) dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan

instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian.

Uji validitas dilakukan dengan perhitungan dari Karl Pearson yang

dikenal dengan sebutan korelasi product moment.

Rumus Product Moment (Sugiyono, 2008: 235):

∑ − ∑ ∑

√{ ∑ − ∑ }{ ∑ − ∑ }

Keterangan:

= Koefisien kolerasi antara skor tiap-tiap item dengan skor total.

∑ = Skor/nilai dari setiap pertanyaan.

∑ = Skor total dari setiap pertanyaan.

Untuk menentukan apakah instrumen tersebut valid atau tidak valid

digunakan pedoman berikut (Masrun (1979) dalam Sugiyono (2012: 182)):

a. Jika rhitung > rtabel taraf signifikan 5% maka instrumen dikatakan valid.

b. Jika rhitung < rtabel dengan taraf signifikan 5% maka instrumen dikatakan

tidak valid.

Hasil analisis uji validitas dihitung dengan bantuan program SPSS

versi 14.

2. Pengujian Reliabilitas

Reliabilitas (keandalan) merupakan indeks yang menunjukkan

sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan

(Sugiyono, 2012). Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan

untuk memberikan hasil pengukuran relatif konsisten dari waktu ke waktu.

26

merupakan sebuah instrumen alat yang handal, konsisten dan stabil

sehingga bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama.

Reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini dihitung dengan

menggunakan rumus Cronbach Alpha, yaitu sebagai berikut:

̈ = [ − ][ − ]

Keterangan:

̈= Reliabilitas.

= Banyaknya butir soal atau item. = Jumlah varians butir.

= Varians total.

Untuk menentukan apakah instrumen tersebut reliabel atau tidak

digunakan pedoman berikut (Masrun (1979) dalam Sugiyono (2012: 182)):

a. Jika rhitung > rtabel dengan taraf signifikan 5% maka instrumen dikatakan

reliabel.

b. Jika rhitung < rtabel dengan taraf signifikan 5% maka instrumen dikatakan

tidak reliabel.

Hasil analisis uji validitas dihitung dengan bantuan program SPSS

versi 14.

H. Teknik Analisis Data

Analisis yang dilakukan antara lain sebagai berikut:

1. Perspektif Pelanggan

a. Data yang dibutuhkan adalah data primer yang diperoleh melalui

kuesioner untuk mengukur kepuasan masyarakat atas pelayanan yang

diberikan pegawaiKantor X (lampiran 1.1 halaman 75).

b. Analisis yang digunakan adalah:

Multiattribute Attitude Model (MAM)

= ∑ | − |

�=

Keterangan:

Ab = Sikap responden secara keseluruhan terhadap suatu objek.

Wi = Bobot rata-rata yang diberikan responden terhadap atribut i.

Li = Nilai ideal responden pada atribut i.

Xi = Nilai belief rata-rata responden pada atribut i.

N = Jumlah atribut yang diteliti.

Rumus diatas didapat dengan menggunakan langkah sebagai berikut:

1) Menentukan Wi dengan rumus:

= × %

Pemberian bobot untuk masing-masing atribut sebagai berikut:

No. Nilai Bobot 1. 3 3/6 x 100% = 50 2. 2 2/6 x 100% = 33 3. 1 1/6 x 100% = 17 Total 6 100

28

2) Sebelum menghitung nilai ideal dan belief, maka skala sikap

ditentukan terlebih dahulu dalam bentuk skor 1 sampai 5, urutannya

sebagai berikut:

No. Keterangan Skor 1. Sangat Puas/Sangat Berharap 5 2. Puas/Berharap 4

3. Ragu-ragu 3

4. Tidak Puas/Tidak Berharap 2 5. Sangat Tidak Puas/Sangat Tidak Berharap 1

3) Mencari nilai ideal dan belief,digunakan rumus sebagai berikut:

Nilai ideal = Skor x jumlah responden ideal masing-masing alternatif

jawaban.

Nilai belief = Skor x jumlah responden belief masing-masing

alternatif jawaban.

Kemudian mencari nilai ideal rata-rata dan belief rata-rata:

Nilai ideal rata-rata = � � �

Nilai belief rata-rata = � � belie

4)Memasukkan hasil perhitungan Multiatribute Attitude Model (MAM)

ke dalam skala likert (Sugiyono, 2004: 92-94).Hal ini

dapat dilihat dengan skala sikap dibawah ini:

SP P R TP STP

0 100 200 300 400 500

Keterangan:

0 – 100 = Sangat Puas 101 – 200 = Puas

201 – 300 = Ragu-ragu 301 – 400 = Tidak Puas

401– 500 = Sangat Tidak Puas

5) Hasil perhitungan skala sikap secara keseluruhan dapat diartikan sebagai berikut:

(a) Jika skala semakin kecil atau mendekati nol, maka sikap

responden semakin puas terhadap kinerja Kantor X karena

kesenjangan antara ideal dan belief semakin kecil.

(b) Jika skala semakin besar atau makin ke kanan maka sikap

responden semakin tidak puas terhadap kinerja Kantor X karena

kesenjangan antara ideal dan belief semakin besar.

2. Perspektif Keuangan

a. Data yang dibutuhkan adalah laporan keuangan kegiatan Kantor X

Dokumen terkait