• Tidak ada hasil yang ditemukan

: PENUTUP

Dalam dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja (Halaman 15-48)

Menguraikan Simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerja.

S S

P E E RE R E NC N CA AN N AA A AN N K IN I N ER E RJ JA A

A. RENCANA KERJA TAHUNAN erencanaan Kinerja merupakan proses penetapan kegiatan tahunan dan indikator kinerja berdasarkan program, kebijakan

dan sasaran yang telah ditetapkan dalam sasaran strategis, dalam Rencana Strategis Bina Penunjang Pelayanan Medik dan Sarana Kesehatan BUK Kementerian Kesehatan yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2020 untuk mencapai sasaran organisasi.

Secara singkat dapat digambarkan sasaran strategis dan sasaran program/kegiatan yang ingin dicapai selama kurun waktu 5 tahun sebagai berikut.

SASARAN, INDIKATOR, OUPUT, dan TARGET BPFK MAKASSAR TAHUN 2020 – 2024

NO PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS

Efisiensi 1 Peningkatan PNBP Miliar

Rupiah 4 4,5 5,0 6,0 7,0 8,0 2 Perspektif

Stakeholder

Terwujudnya

Kepuasan Pelanggan 2 Indeks Kepuasan

Pelanggan Indeks 76,61 95% 76,61 76,61 76,61 76,61

4 Jumlah Fasyankes yang dilayani

Jml

Fasyankes 500 600 650 720 790 865 5 Tingkat Produktifitas Alat

yang dikalibrasi Jml Alat 25000 25000 30000 36000 44000 53000

NO PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS

NO

KPI KPI SATUAN BASE

LINE 2020 2021 2022 2023 2024 Laboratorium 8 Tingkat Temuan yang

ditindaklanjuti Persentase 100 100 100 100 100 100

10 Pekerja radiasi yang

termonitor radiasinya Jml Petugas 800 1250 1450 1550 1650 1750

12 Jenis Kemampuan Layanan Jenis

Pelayanan 107 70 109 110 112 113

Terwujudnya Peningkatan Keandalan Sarpras

13 Tingkat Keandalan Alat

Ukur Standar Persentase 85 85 85 85 85 85

14 Tingkat kompetensi dan

kemampuan SDM teknis Persentase 96 96 96 96 96 96

Terwujudnya

Budaya Kerja 15 Tingkat penilaian budaya

kerja pegawai Persentase 87 83 83 83 83 83

Terwujudnya layanan berdasarkan IT terintegrasi

16 Jenis kegiatan berbasis IT Jenis

Aplikasi 2 2 2 4 4 4

1. TUJUAN DAN SASARAN a. Tujuan

i) Tujuan Umum

a. Terlaksananya kebijakan dan manajemen pengelolaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan guna mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan..

b. Terwujudnya fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki sarana, prasarana dan

b. Terlaksananya bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi di bidang sarana, prasarana dan peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi.

c. Tersedianya sumberdaya manusia yang kompeten di bidang sarana, prasarana dan peralatan kesehatan.

d. Meningkatnya cakupan pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi

e. Terselenggaranya keamanan dan keselamatan kerja bagi petugas pada sarana pelayanan.

b. Sasaran

Meningkatnya fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki sarana, prasarana dan peralatan kesehatan yang sesuai standar, aman dan bermutu, melalui Kalibrasi, Pengujian, Sarana dan Prasarana serta peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi.

Tujuan dan sasaran dari Misi BPFK Makassar merupakan salah satu rangkaian dalam proses tersedianya sarana, prasarana dan alat kesehatan yang aman dan bermutu sesuai standar, dengan fokus utama berupa tindakan kalibrasi/pengujian dan pengembangan kompetensi SDM, penyiapan sarana laboratorium yang terakreditasi oleh KAN serta pengembangan organisasi BPFK Makassar melalui penetapan UPFPFK Papua menjadi satker untuk wilayah Propinsi Papua dan Papua Barat.

Dalam mencapai tujuan dan sasaran tentunya akan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal organisasi. BPFK sebagai UPT Kemenkes selaku Laboratorium Kalibrasi, Pengujian dan Proteksi Radiasi pada sarana pelayanan dalam keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi dari seluruh pelaku pembangunan bidang kesehatan baik yang ada dilingkungan pemerintah maupun diluar pemerintah.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan dan sasaran :

a. Partisipasi: Partisipasi para pengelola sarana pelayanan kesehatan dalam rangka Kalibrasi, Pengujian serta Proteksi Radiasi sarana, prasarana dan alat kesehatan secara berkala sesuai amanat Undang-Undang No. 44 tentang Rumah Sakit sangat diperlukan.

b. Sumber Daya Manusia: Berdasarkan tugas pokok dan fungsi BPFK Makassar haruslah memiliki sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan pengetahuan serta jumlah SDM yang memadai, sehingga kualitas alat kesehatan yang bermutu dan aman dapat tersedia.

c. Dana: BPFK Makassar dalam melakukan kegiatan kalibrasi, pengujian dan proteksi radiasi pada sarana pelayanan yang ada di wilayah Indonesia Bagian Timur (10

Propinsi) memerlukan biaya cukup besar mengingat geografi wilayah kerja BPFK Makassar terdiri dari Pulau-pulau.

d. Kemampuan Kalibrasi BPFK Makassar: dalam melakukan kalibrasi dan pengujian sarana, prasarana dan alat kesehatan pada sarana pelayanan kesehatan diperlukan alat kalibrasi yang lengkap untuk memenuhi permintaan kalibrasi dan pengujian dari sarana pelayanan kesehatan yang semakin banyak jumlah dan jenisnya.

e. Akreditasi Laboratorium: untuk mengantisipasi persaingan global dan memberikan tingkat kepercayaan dan menjamin mutu pelayanan Kalibrasi dan Pengujian kepada sarana pelayanan maka BPFK Makassar akan selalu berupaya meningkatkan laboratorium agar dapat terakareditasi oleh lembaga akreditasi atau KAN.

B. PENETAPAN KINERJA a. Perjanjian Kinerja

No Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Target

(1) (2) (3) (4)

1 Terwujudnya Efisiensi 1 Peningkatan PNBP 4,5 M

2 Terwujudnya Kepuasan Pelanggan 2 Tingkat Kepuasan Pelanggan 95%

3

Terwujudnya Pelayanan Prima 3 Komplain yang ditindaklanjuti 100%

Terwujudnya Peningkatan Cakupan Pelayanan

4 Jenis Pelayanan Kalibrasi sesuai

Permenkes 70%

5 Jumlah Fasyankes yang dilayani 600 Faskes 6 Tingkat Produktifitas Alat yang

dikalibrasi

25.000 Alat 7 Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya 1.250

Personil Terwujudnya Standardisasi

Laboratorium

8 Jenis Akreditasi KAN 2 Jenis 9 Temuan yang ditindaklanjuti 100%

4

Terwujudnya Budaya Kerja 10 Terlaksananya Budaya Kerja oleh

seluruh Pegawai 90%

Terwujudnya Peningkatan

Kompetensi 11 Kompetensi Staff 80%

Terwujudnya Peningkatan

Keandalan Sarpras 12 Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar 85%

b. Kebijakan dan Program 1. Kebijakan

a.

Pelaksanaan kebijakan dan manajemen pengelolaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan dan penggunaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi pada sarana pelayanan sesuai standar mutu dan keamanan serta keselamatan kerja bagi masyarakat dan petugas, oleh karena itu BPFK Makassar akan lebih meningkatkan kerjasama lintas sektor maupun program melalui kegiatan sosialisasi/

seminar/desiminasi, membangun jejaring dan kemitraan dalam pelayanan pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi khususnya dengan pihak Pemprov dan Dinkes Propinsi serta Dinkes Kab/Kota dalam wilayah kerja BPFK Makassar serta seluruh stake holder yang bertujuan agar pelaksanaan kalibrasi pada sarana pelayanan (RSUP/RSUD, RB, RSB. LABORATORIUM, KLINIK, BALAI, dan PUSKESMAS/PUSTU) milik pemerintah dan swasta dapat lebih ditingkatkan, selain itu BPFK Makassar akan meningkatkan kerja sama dengan Dinkes Propinsi Papua serta Pihak Pemprov Papua dalam rangka pengembangan UPFPFK Papua agar dapat menjadi satuan kerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Papua untuk wilayah Papua dan Papua Barat.

b.

Untuk menjamin ketersediaan layanan Kalibrasi dan Pengujian yang bermutu baik berupa layanan teknis Kalibrasi dan Pengujian maka BPFK Makassar senantiasa melakukan peningkatan Laboratorium yang dimiliki melalui standar-standar nasional maupun internasional dengan memperoleh Akreditasi KAN-ISO/IEC 17025:2017, sedangkan untuk layanan Administrasi BPFK memperoleh Sertifikasi ISO-9001:2015 dari Badan Sertifikasi PT TUV SUD INDONESIA.

c.

Melakukan Interkomparasi antar Laboratorium Kalibrasi dan Pengujian milik Pemerintah dan Swasta yang telah diakui baik secara nasional dan internasional.

d.

Untuk menjaga mutu layanan serta mengantisipasi perkembangan teknologi khususnya dalam bidang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan BPFK Makassar juga terus berupa meningkatkan kapasitas personil dengan mengikuti sejumlah pelatihan-pelatihan teknis yang terkait dan mendukung pelaksanaan tugas masing-masing personil.

e.

Untuk menjamin kepuasan pelanggan terhadap pelayanan BPFK Makassar, manajemen BPFK Makassar secara berkesinambungan juga terus melakukan evaluasi berupa survey kepuasan pelanggan serta melaksanakan pengawasan dan evaluasi secara internal dalam bentuk audit internal, kaji ulang manajemen, serta kaji ulang dokumen mutu.

2. Program

Pembinaan Upaya Kesehatan

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan.

2.1. Rencana Kegiatan Tahun 2020

RENCANA KERJA TAHUN 2020

BALAI PENGAMANAN FASILITAS KESEHATAN MAKASSAR

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET

KINERJA KEGIATAN PIC JADWAL KEGIATAN

TW1 TW2 TW3 TW4

1 Terwujudnya Efisiensi Peningkatan PNBP 4,5 M

Penagihan Piutang PNBP Kasubag TU

1 M 2,5 M 3 M 4,5 M

Penagihan Piutang PNBP pada Propinsi

Papua dan Papua Barat Kasubag TU 2 Terwujudnya

Kepuasan Pelanggan

Tingkat Kepuasan

Pelanggan 95% Temu Pelanggan BPFK Makassar di

Propinsi Sulawesi Tengah Kasie TOP 50% 65% 85% 95%

3 Terwujudnya Pelayanan Prima

Komplain yang

ditindaklanjuti 100%

Kaji Ulang Manajemen, Kaji Ulang Dokumen, dan Penyusunan Metode Kerja

Kasie TOP

50% 75% 85% 100%

Rapat/Pertemuan/Konsultasi Lintas

Sektor dan Instansi Terkait Kasubag TU Monitoring Sarana dan Prasarana

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kasie Yantek

4

Laboratorium Kalibrasi Kasie TOP

40% 50% 60% 70%

Pengembangan UPF dan Instalasi/Unit

Penguji Alat Kesehatan Kasie Yantek

Jumlah Fasyankes

yang dilayani 600 Faskes

Pelayanan Pengujian dan Kalibrasi

untuk Faskes Lokus Prioritas Kasie Yantek

200 Faskes 350 Faskes 450 Faskes 600 Faskes

Tingkat

Produktifitas Alat yang dikalibrasi

25.000 Alat

Pemeliharaan, Perbaikan dan

Rekalibrasi Alat Pengujian/Kalibrasi Kasie TOP

7500 Alat 10000 Alat 17500 Alat 25000 Alat

KAN 2 Jenis Pemantapan Mutu dan Akreditasi

Laboratorium Kasie TOP - 1 - 2

Kegiatan oleh Instansi Pusat/Terkait Kasubag TU

60% 70% 80% 90%

Pemantapan Kinerja Pegawai BPFK

Makassar dan UPF Papua Kasubag TU Kebutuhan Sehari-hari Perkantoran Kasubag TU Honorarium Satpam, Pengemudi,

Petugas Kebersihan, dan Pramubakti Kasubag TU Pemeliharaan Sarana Prasarana,

Kendaraan Bermotor, Peralatan dan Mesin

Kasubag TU Pertemuan Rutin / Berkala Kasubag TU Honorarium Pegawai Pemerintah Non

Administrasi

Pelatihan dan Sertifikasi Pengadaan

Barang dan Jasa Kasie TOP

Peningkatan SDM Instalasi PKSPK Kasie TOP Peningkatan SDM UPF Papua Kasie TOP Pelatihan Tenaga Ahli Uji Kesesuaian Kasie TOP Rekualifikasi PPR Medik Kasie TOP Pelatihan Uji Kesesuaian Pesawat

Sinar-X Kasie TOP

Peningkatan SDM Lainnya Kasie TOP Audit Internal BPFK Makassar dan UPF

PFK Papua Kasie TOP

8

Terwujudnya Peningkatan Keandalan Sarpras

Tingkat Keandalan

Alat Ukur Standar 85%

Pengadaan Peralatan Pengujian,

Kalibrasi dan Proteksi Radiasi Kasubag TU

- - 25% 85%

Pengadaan Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi DAN Peralatan Fasilitas Perkantoran

Kasubag TU Perjalanan Dinas dalam rangka Proses

Pengadaan Barang dan Jasa Kasubag TU

2.2. Indikator Kegiatan

1. Peningkatan PNBP

2. Tingkat Kepuasan Pelanggan 3. Komplain yang ditindaklanjuti

4. Jenis Pelayanan Kalibrasi sesuai Permenkes 5. Jumlah Fasyankes yang dilayani

6. Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi 7. Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya 8. Jenis Akreditasi KAN

9. Temuan yang ditindaklanjuti

10. Terlaksananya Budaya Kerja oleh seluruh Pegawai 11. Kompetensi Staff

12. Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar

A KU K U N N TA T AB B IL I L I I TA T AS S K IN I N E E RJ R JA A

A. CAPAIANKINERJA ORGANISASI Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan

tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi BPFK Makassar.

Pengukuran dimaksud merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan. Penilaian tersebut merupakan kegiatan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan.

Pengukuran kinerja kegiatan BPFK Makassar telah menggunakan indikator kuantitatif, hal ini dilakukan supaya lebih terukur dan mudah dievaluasi. Penetapan indikator yang digunakan dalam setiap kegiatan disesuaikan dengan sifat kegiatan masing-masing, sehingga kegiatan-kegiatan tersebut dapat diukur pencapaiannya.

Analisis Pencapaian Kinerja

Analisis pencapaian kinerja sasaran merupakan tingkat pencapaian target dari masing-masing indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen rencana kerja.

Pengukuran tingkat pencapaian sasaran didasarkan pada data hasil pengukuran kinerja kegiatan. Secara umum pencapaian kinerja BPFK Makassar dapat dilihat pada tabel perbandingan target dan realisasi sesuai Penetapan Kinerja BPFK Makassar Tahun 2020 di bawah ini:

Efisiensi 1 Peningkatan PNBP

Ditindaklanjuti Persentase 100 100 100% TOP

Terwujudnya

Terwujudnya

Realisasi pencapaian target untuk masing-masing indikator kinerja rata-rata tercapai dengan baik namun ada sejumlah indicator terjadi penurunan yang disebabkan adanya kondisi pandemic selama Tahun 2020: Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi dengan persentase capaian 70% dari target, Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya tercapai 125% dari target, Terlaksananya MOU dengan Fasyankes sebesar 113% dari target, Peningkatan PNBP tercapai 104%, serta Jumlah Fasyankes yang dilayani terealisasi sebesar 126% dari target yang ditetapkan.

1) Peningkatan PNBP

Realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2020 adalah sebesar Rp. 4.702.469.591,- atau sebesar 104% dari target Penerimaan sebesar Rp. 4.500.000.000,-. Dari perolehan ini dapat dilihat bahwa ada

Covid-19 yang berdampak pada menurunnya jadwal kunjungan pengujian/kalibrasi ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Adapun grafik realisasi PNBP dari tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Grafik realisasi PNBP dari tahun 2016 – 2020 (Dalam Juta Rupiah)

2) Tingkat Kepuasan Pelanggan

Tingkat Kepuasan Pelanggan diukur berdasarkan Persentase Jumlah Pelanggan yang menyatakan puas terhadap pelayanan yang ada dibandingkan dengan jumlah pelanggan

yang menjadi responden. Untuk tahun 2020 seluruh pelanggan (100%) yang menjadi sampel atau memberikan responnya terhadap pelayanan BPFK Makassar kepuasaannya terhadap pelayanan BPFK Makassar. Nilai ini melebihi target yang telah ditetapkan untuk untuk periode yang sama yaitu 95%.

Kebehasilan ini tidak terlepas dari berbagai usaha BPFK Makassar untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan terus menyempurnakan sistem pelayanan dan mutu pengujian dan kalibrasi seperti penyempurnaan SOP pelayanan, peningkatan efisiensi dan efektivitas sumber daya yang ada, meningkatkan komunikasi dengan pelanggan, pemanfaatan IT, serta usaha-usaha lainnya. Dengan peningkatan mutu tersebut maka pelanggan dapat menerima pelayanan BPFK Makassar sesuai dengan ekspektasi mereka sehingga semua responden yang telah dilakukan survey menyatakan kepuasan atas pelayanan BPFK Makassar.

3) Komplain yang ditindaklanjuti

Dalam rangka meningkatkan pelayanan serta kepuasan pelanggan terhadap pelayanan BPFK Makassar maka BPFK Makassar terus berusaha untuk selalu responsif terhadap pelanggan, baik respon terhadap permintaan layanan demikian juga dengan komplain

dari pelanggan atas layanan BPFK Makassar. Untuk itu maka BPFK Makassar terus berkomitmen untuk selalu menindaklanjuti jika terdapat komplain dari pelanggan BPFK Makassar baik komplain yang secara langsung disampaikan ke manajemen BPFK Makassar melalui media-media yang telah disiapkan seperti via email, surat, atau kotak saran, maupun penyampaian yang disampaikan tidak secara langsung ke manajemen BPFK Makassar seperti penyampaian secara lisan melalui personil BPFK Makassar (tetap dianggap sebagai komplain) untuk selanjutnya direkam dan ditindaklanjuti.

Untuk Tahun 2020 seluruh komplain yang diterima (100%) telah ditindaklanjuti.

Seperti halnya pada tahun 2019, semua komplain (100%) juga ditindaklanjuti oleh manajemen BPFK Makassar. Angka ini diharapkan dapat dipertahankan hingga periode target jangka menengah dengan target yang sama.

4) Jenis Pelayanan Kalibrasi sesuai Permenkes

Dalam Permenkes No. 54 Tahun 2015 Tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan telah ditetapkan 125 jenis alat kesehatan yang wajib untuk dikalibrasi. Oleh karena itu BPFK Makassar yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai institusi pengujian dan kalibrasi

alat kesehatan juga dituntut agar dapat melayani pengujian dan kalibrasi terhadap 125 jenis alat yang telah ditetapkan. Untuk dapat melaksanakan pengujian dan kalibrasi terhadap satu jenis alat kesehatan maka dibutuhkan setidaknya tiga hal yaitu peralatan, SDM, serta metode pengujian dan kalibrasi.

Sampai dengan tahun 2020 jumlah kemampuan pelayanan BPFK Makassar baru di angka 71% dari 125 jenis alat yang ditetapkan dalam Permenkes. Angka ini masih sama dengan hasil capaian hingga tahun 2019 dimana angka ini melebihi target yang ditetapkan untuk tahun 2020 yaitu sebesar 70%. Hal ini tidak lepas dari faktor dukungan anggaran untuk pengadaan alat, dan peningkatan kemampuan SDM serta referensi metode

5) Jumlah Fasyankes yang dilayani

Dari Aspek Pelayanan Pengujian, Kalibrasi, dan Proteksi Radiasi/Uji Kesesuaian Alat Kesehatan pencapaiannya tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Tahun 2020 BPFK Makassar telah melayani 757 fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan Pengujian, Kalibrasi, dan Proteksi Radiasi/Uji Kesesuaian Alat Kesehatan.

Angka ini melebihi target yaitu sebanyak 600 fasilitas pelayanan kesehatan atau 126% dari target, dan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 696 fasyankes, jumlah ini mengalami peningkatan yaitu sebanyak 61 fasyankes atau mengalami peningkatan sebesar 9% dari tahun sebelumnya. Adapun grafik realisasi cakupan pelayanan fasyankes tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Grafik Cakupan Fasilitas Palayanan Kesehatan tahun 2016 – 2020

Tabel Realisasi Cakupan Pelayanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2016 – 2020.

NO PROPINSI 2016 2017 2018 2019 2020

1 SULAWESI

SELATAN 193 225 282 281 369

2 SULAWESI BARAT 6 10 37 39 33

3 SULAWESI

TENGGARA 9 31 31 54 94

4 SULAWESI TENGAH 91 19 75 128 59

5 SULAWESI UTARA 10 19 20 37 35

6 GORONTALO 28 32 30 9 41

7 MALUKU 12 11 8 44 40

8 MALUKU UTARA 17 4 19 30 35

9 PAPUA 16 37 31 49 38

10 PAPUA BARAT 10 9 13 12 4

11 LUAR WILAYAH

KERJA 14 22 12 13 9

JUMLAH 408 419 558 696 757

Tabel Cakupan Fasilitas Palayanan Kesehatan tahun 2016 – 2020 berdasarkan wilayah

Dari tabel di atas terlihat bahwa realisasi cakupan fasyankes sama dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tahun-tahun 2020 juga masih tetap didominasi oleh fasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah propinsi Sulawesi Selatan yaitu sebanyak 369 Fasyankes atau 49% dari keseluruhan fasyankes yang dilayani. Jumlah ini meningkat dari capaian tahun sebelumnya. Besarnya realisasi di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dibandingkan dengan wilayah lainnya ini tentunya tidak lepas dari kemudahan akses dan jarak jangkauan dari BPFK Makassar serta besarnya populasi fasyankes yang terdapat di wilayah ini jika dibandingkan dengan wilayah propinsi lainnya. Sementara untuk Propinsi Papua dan Papua Barat perlu adanya dukungan dalam rangka penguatan UPF Papua agar dapat lebih meningkatkan pelayanannya, terutama dalam hal kelembagaan UPF Papua agar didorong untuk menjadi satker sendiri.

6) Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi

Untuk alat kesehatan yang dikalibrasi/diuji dalam kurun waktu tahun 2020 adalah sebanyak 17.426 alat. Angka ini tidak mencapai dari target yang ditetapkan yaitu sebanyak 25.000 alat atau hanya pada angka 70% dari target, dan jika dibandingkan

dengan jumlah alat yang diuji/kalibrasi pada tahun sebelumnya tercatat mengalami penurunan sebanyak 9.464 alat dari 26.890 pada tahun 2019 yang dicapai pada tahun 2020 sebanyak 17.426 alat. Adapun grafik realisasi pengujian dan kalibrasi alat kesehatan periode tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Adapun realisasi pengujian dan kalibrasi alat kesehatan berdasarkan wilayah propinsi dalam kurun waktu 2016 – 2020 dapat dilihat pada tabel berikut:

NO PROPINSI 2016 2017 2018 2019 2020 Tabel Realisasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan tahun 2016 – 2020 berdasarkan wilayah

Dari tabel Realisasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan di atas terlihat tren peningkatan realiasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan dari tahun ke tahun.

Namun pada tahun 2020 terjadi penurunan yang disebabkan adanya pandemi covid-19 yang berdampak pada menurunnya jadwal kunjungan ke Fasyankes. Jika ditinjau berdasarkan wilayah, maka Sulawesi Selatan menjadi kontributor terbesar terhadap realisasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan. Dari total 17.426 alat kesehatan yang dikalibrasi dalam kurun waktu tahun 2020, sebanyak 9.081 atau sekitar 52% adalah alat kesehatan yang berada di wilayah propinsi Sulawesi Selatan.

Sementara untuk Propinsi Papua dan Papua Barat perlu adanya dukungan dalam rangka penguatan UPF Papua agar dapat lebih meningkatkan pelayanannya, terutama dalam hal kelembagaan UPF Papua agar didorong untuk menjadi satker sendiri.

7) Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya

Salah satu layanan unggulan lainnya dari BPFK Makassar adalah pelayanan Pemantaun Dosis Perorangan (PDP) melalui TLD (Thermoluminescence Dosimeter). Dengan layanan ini diharapkan para pekerja radiasi dapat bekerja dengan aman melalui

sistem pemantaun dosis radiasi yang diperoleh para pekerja radiasi yang dilakukan

secara berkala. Selain itu layanan ini juga menjadi salah satu sumber pemasukan PNBP yang diandalkan oleh BPFK Makassar.

Dalam rangka usaha untuk terus meningkatkan pelayanan PDP maka BPFK Makassar terhadap para pekerja radiasi di wilayah kerja BPFK Makassar maka dari tahun ke tahun BPFK Makassar telah menetapkan target Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya dimana pada tahun 2020 ditargetkan sebanyak 1250 petugas. Namun BPFK Makassar berhasil merealisasikan sebanyak 1.558 Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya. Ini berarti realisasi untuk indikator kinerja ini adalah sebesar 125% dari target yang ditetapkan. Capaian ini juga meningkat 107% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1.453 pekerja radiasi.

Adanya kerusakan pada TLD Reader di tahun 2020 menyebabkan pencapaian tidak terlalu maksimal namun kegiatan sosialisasi tetap dilakukan oleh BPFK Makassar kepada fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki instalasi radiasi medik untuk terus menjaga keamanan dan keselamatan kerja dengan penggunaan alat pemantau dosisi radiasi (yang dalam hal ini adalah TLD), disamping semakin bertambahnya populasi pekerja radiasi yang menjadi konsekuensi dari pertumbuhan sarana pelayanan kesehatan, serta adanya regulasi yang mewajibkan dilakukannya pemantauan dosis perorangan terhadap pekerja radiasi.

Adapun pertumbuhan jumlah Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya dapat dilihat pada grafik berikut:

8) Jenis Akreditasi KAN

Jumlah Jenis Sertifikasi yang dimaksud adalah jenis pelayanan

yang telah mendapatkan pengesahan oleh KAN terkait dengan kompetensi BPFK Makassar untuk melaksanakan tugas-tugas penilaian kesesuian tertentu. Sejak tahun 2015 BPFK Makassar telah memperoleh dua jenis akreditasi KAN yaitu sebagai lembaga penguji dan lembaga kalibrasi. Hingga target jangka menengah di tahun 2020, BPFK Makassar menargetkan jumlah jenis yang sama mengingat jenis pelayanan BPFK Makassar yang utama adalah Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan. Di samping itu menjaga atau mempertahankan sertifikasi KAN adalah merupakan salah satu hal yang tidak mudah, dimana dituntut adanya konsistensi manajemen dan seluruh personil untuk terus menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan akreditasi KAN.

Untuk indikator Jenis Akreditasi KAN, pada tahun 2020 BPFK Makassar menargetkan untuk tetap mempertahankan 2 jenis akreditasi dan berhasil direalisasikan (dipertahankan) 2 jenis akreditasi tersebut, sama dengan tahun sebelumnya.

9) Temuan yang ditindaklanjuti

Dalam rangka menjaga kesesuaian, kecukupan, efektifitas, dan efisiensi sistem manajemen, maka manajemen BPFK Makassar terus melakukan monitoring dan evaluasi sistematik yang teratur baik yang dilaksanakan secara internal atau pihak eksternal untuk mengkaji sistem

manajemen dan penerapannya dalam kegiatan pelayaan pengujian dan/atau kalibrasi.

Diantara kegiatan monitoring dan evaluasi yang dimaksud antara lain adalah kegiatan Audit internal, kaji ulang manajemen, serta asesmen oleh institusi eksternal seperti KAN, BAPETEN, dan TUV.

Adapun salah satu output dari monitoring dan evaluasi ini adalah catatan atas ketidaksesuain yang menjadi temuan berupa tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan, ditambah dengan rekomendasi-rekomendasi peningkatan (improvements).Untuk itu maka

Adapun salah satu output dari monitoring dan evaluasi ini adalah catatan atas ketidaksesuain yang menjadi temuan berupa tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan, ditambah dengan rekomendasi-rekomendasi peningkatan (improvements).Untuk itu maka

Dalam dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja (Halaman 15-48)

Dokumen terkait