• Tidak ada hasil yang ditemukan

bukan sebagai sebuah pembuktian verifikasi, mengingat data substansi permasalahan yang diangkat ke dalam penelitian ini bersifat study kasus historis yang sebenarnya mesti mendapat pengakuan obyektif dan bukan klaim kebenaran sepihak. Secara implisit kesimpulan ini bermaksud pula memberikan pesan yang terkandung di dalamnya.

BAB II

PENGERTIAN DASAR IDEOLOGI NASIONALIS RELIGIUS

A. Pengertian Dasar Tentang Ideologi.

Secara umum ideologi adalah landasan pokok dimana suatu negara atau dalam suatu bentuk kelembagaan meletakan harapan-harapan atau cita-cita yang disepakati bersama2. Jadi, apa yang telah menjadi kesepakatan bersama, haruslah berjalan di atas roda ideologi, yang mana ideologi itu sendiri merupakan sesuatu yang telah dan harus disepakati secara bersama-sama pula. Ideologi pertama kali dikemukakan oleh D. Tracy, bahwa ideologi adalah sebuah pemahaman atau ide konseptual yang mampu melihat wajah dunia dengan ketertarikannya pada masalah-masalah sosial (Social interest) dan mampu menawarkan “problem solving” atau pemecahan masalah dalam suatu lembaga kemasyarakatan yang bersekala kecil maupun yang

bersekala besar3.

Kalau definisikan secara harfiah, maka ideologi itu sendiri terdiri dari dua suku kata yakni; Ideo yang berarti ide dan logos yang berarti ilmu. Merujuk pada pengertian secara harfiah tersebut, maka bisa jelaskan bahwa ideologi adalah ilmu tentang ide-ide. lebih lengkap lagi tentang pemaknaan ideologi, Ramlan Surbakti menjelaskan bahwa ideologi dapat pula dirumuskan sebagai suatu pandangan atau sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam tentang tujuan tujuan yang hendak dicapai oleh 2

Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia 1999 hal 35

3 Abdul Rahman; Ideologi, Idealisme, dan Pluralisme Bangsa, Buletin wacana POSTRA; Jakarta: ISIS nomor 6/Agustus 2002 hal 79

suatu masyarakat dan mengenai cara-cara yang dianggap paling baik untuk mencapai tujuan4. Tujuan dan cara itu secara moral dianggap paling baik dan adil bagi penghayatnya untuk mengatur perilaku sosial warga masyarakat dalam berbagai segi kehidupan di dunia ini. Dengan rumusan itu dapat disimpulkan ada dua fungsi ideologi dalam masyarakat, pertama, menjadi tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai bersama oleh suatu masyarakat. Dengan demikian ideologi menjadi tolok ukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan keputusan politik. Kedua, sebagai pemersatu masyarakat, dan karenanya menjadi prosedur penyelesasian konflik yang terjadi dalam masyarakat. definisi tentang ideologi juga dikemukakan oleh Jack C. Plano & Roy Olton, bahwa ideologi merupakan sebuah kekuatan dinamis yang setara dengan kekuasaan karena kepaduan dan vitalitas yang diciptakannya mampu untuk dikendalikan menghadapi negara atau kelompok lain5. Merujuk pada definisi Jack C. Plano dan Roy Olton tersebut, maka jelaslah bahwa ideologi itu merupakan landasan-landasan yang memiliki kekuatan dalam membentuk karakter serta cara berpikir suatu masyarakat. Dalam perspektif lain ideologi juga bisa diartikan sebagai gagasan atau teori menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang mau menentukan secara mutlak bagaimana manusia harus hidup dan bertindak.

Keberadaan ideologi dalam sebuah kelembagaan atau lebih khusus pada sebuah Partai politik adalah merupakan sebuah keniscayaan, karena Sangat mustahil dalam suatu lembaga kemasyarakatan menolak adanya ideologi. Hal ini disebabkan

4 Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia 1999 hal 35

5

Karena ideologi merupakan acuan pokok atau kerangka dasar dinamis yang menjadi energi kreatif dalam proses dinamisasi suatu lembaga. Sebuah pemahaman/ide itu bisa dikatakan sebagai sebuah ideologi apabila mampu memuaskan batin, mampu memperbaiki hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan sang pencipta. Suatu ideologi dianggap berhasil apabila mampu menanamkan nilai pada obyek ideologi dalam hal ini masyarakat. Kadang-kadang ideologi juga dapat menjadi titik acuan dalam memandang suatu realitas atau kondisi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Kalau kembali pada pemahamannya Jack C. Plano dan Roy Olton bahwa sebuah ideologi sangat peka terhadap sifat sistem politik, pelaksanaan menjalankan kekuasaan, peran individu, sifat sistem ekonomi dan sistem sosial, serta tujuan masyarakat. Sebagai sebuah sistem keyakinan yang mendasar, sebuah ideologi tidak hanya menggabungkan nilai-nilai dasar masyarakat tetapi ideologi itu sendiri menjadi nilai utama yang harus dipertahankan dan dalam kasus tertentu ideologi harus disebarluaskan kepada masyarakat lain.

Ideologi merupakan acuan pokok atau kerangka dasar dinamis yang menjadi energi kreatif dalam proses dinamisasi suatu lembaga. Ideologi juga merupakan seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa dan digunakan sebagai dasar untuk menata masyarakat dalam bernegara. Ideologi dalam kaitannya dengan Negara Republik Indonesia mengandung nilai-nilai dasar yang hidup dalam sistem kehidupan masyarakat dan mengandung idealisme yang mampu mengakomodasikan tuntutan perkembangan zaman kedalam nilai-nilai dasar yang

sudah dikristalisasikan dalam pancasila dan UUD 1945. Negara adalah lembaga kemasyarakatan dalam skala makro, untuk itu tentunya negara juga membutuhkan yang namanya ideologi6. Negara merupakan patokan bagi setiap lembaga kemasyarakatan dalam lingkup mikro. Bila menengok kembali sejarah maka akan dapati bahwa ideologi-ideologi itu tidak selalu dipertahankan, mengingat dalam masyarakat majemuk yang di dalamnya terdiri dari berbagai kelompok budaya, suku, ras, dan agama, yang mana setiap kelompok memiliki sistem nilai sendiri yang kemudian dijadikan landasan masing-masing golongan, Adalah sangat rawan terjadi tarik menarik ideologi dikarenakan ideologi tersebut belum bisa mengcover setiap sistem nilai tiap-tiap golongan, karena mengingat syarat-syarat penerimaan ideologi itu sendiri. Yakni harus mampu memuaskan batin, mampu memperbaiki hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan sang pencipta7. Ketika syarat itu belum terpenuhi maka sangat mustahil suatu ideologi itu bisa dipertahankan.

B. Pengertian Umum Tentang Ideologi Nasionalis Religius

Secara sederhana ideologi nasionalis religius adalah sebuah penggabungan atau kolaborasi dua ideologi, yakni ideologi nasionalis dan ideologi religius, dan

6 Moh Kusnardi, Ilmu Negara;Edisi Revis tentang konstitusi:Jakarta: Gaya Media Pratama

1998 hal 133

7

Magnis Suseno, Franz, Etika Politik; Prinsip Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern,

sebagai pemaknaan untuk masing masing idologi, dapat dipahami bahwa ideologi nasionalis adalah sebuah ideologi yang berwawasan nasionalisme dengan mengedepankan pada nilai-nilai pluralisme bangsa yang memiliki berbagai ragam suku, budaya, agama dengan tujuan untuk membentuk masyarakat yang berkeadilan sosial. Sedangkan ideologi religius adalah sebuah ideologi yang didasarkan pada norma-norma agama yang bersifat universal untuk mengatur kehidupan bernegara. Norma-norma agama tersebut menjadi dasar dalam setiap lapis berkehidupan bernegara dan berdemokrasi8.

Namun tidaklah arif untuk meletakkan posisi nasionalis-religius secara hitam-putih dan diametral-oposisional dalam pengertian yang satu berdiri di satu lembah dan yang lain di lembah lainnya sebagaimana pemaknaan terhadap sejarah bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia, masyarakat seolah-olah digiring untuk mengikuti dan memilih arus Partai politik dengan pengkotakan dasar ideologi yang berujung pada pengelompokan-pengelompokan tertentu. Apalagi keberadaan Partai politik yang mengusung ideologi yang berbeda tersebut memiliki kekuatan parlemen yang sangat besar, dimana pada waktu itu PNI (Partai Nasionalis Indonesia) dan MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) selalu mendominasi dalam perolehan suara. Meskipun demikian, harus pula diakui bahwa dalam lapis

8 Wawancara dengan Prof. Dr. A. Mubarok, (wakil ketua DPP Partai Demokrat) 22 November 2005 di Jakarta

antropologis, politik aliran adalah sesuatu yang lumrah karena mencerminkan keragaman kultural yang memiliki sumber historis dan sosiologis9.

Bahkan, menurut hasil penelitian Robert Jay dan Clofford Geertz, dua antropolog terkemuka asal Amerika, bahwa artikulasi politik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari formulasi kultural santri, priayi, dan abangan, sehingga yang terjadi di masyarakat adalah pengelompokan dengan memandang bahwa kelompok santri akan selalu berdiri di posisi sebagai pemegang ideologi religius, sedangkan kelompok abangan akan selalu berdiri di posisi pemegang ideologi nasionalis10. Pendapat seperti ini tidak bisa dibenarkan dengan mutlak mengingat kelompok santri juga tidak mengabaikan sisi-sisi nasionalisme sebagaimana bisa dilihat dari para tokoh elit Partai yang berjuang di garis tersebut. Sebagai misalnya adalah keberadaan Mohammad Hatta di dalam PNI (Partai Nasionalis Indonesia), meskipun masuk dalam PNI (Partai nasionalis Indonesia), tapi Mohammad Hatta juga sangat diakui sebagai tokoh yang memiliki landasan keagamaan cukup kuat dalam berbangsa dan bernegara. Demikian pula dengan Mohammad Natsir, sebagai tokoh MASYUMI beliau juga mempunyai integritas yang tinggi terhadap bangsa yang plural11.

9

Adnan Buyung Nasution, Politik aliran; tantangan NKRI, WWW.Kompas.com 13 Juni 2001

10

Baca Clifford Geertz, Religion of Java, Chicago and London: Universityof Chicago press 1976. Clifford Geertz dalam membagi entitas keragaman berdasarkan pada penelitian lapangan yang ia lakukan di daerah Jawa Timur, pendapat Geertz ini cukup mendapatkan tanggapan dari berbagai ilmuwan, meskipun untuk sekarang ini wacana tersebut sudah mulai menurun.

11

Mohammad natsir lebih mendasarkan pada nasionalisme Islam, karena benih-benih nasionalisme pada akar sejarahnya didirikan oleh tokoh-tokoh Islam , disamping pada waktu sebelum indonesia merdeka telah banyak berdiri organisasi yang dimotori oleh orang islam seperti SI (Syarikat Islam),

Dengan demikian, sebagai fakta budaya, perbedaan ideologi politik tidaklah menjadi soal. Yang menjadi soal, seperti dikatakan Adnan Buyung Nasution, adalah apabila kelembagaan politik diatur berdasarkan pembelahan politik aliran12. Karena apabila hal tersebut terjadi, yang akan terjadi adalah kecenderungan eksklusivisme yang dikawinkan dengan politik. Apalagi kecenderungan keyakinan agama yang eksklusiv. Jadi kategori nasionalis-religius sebenarnya sudah tampil ke permukaan sejak awal pra kemerdekaan dan pasaca kemerdekaan. Dan sebagai faktanya banyak Partai politik yang mempraktekkan ideologi nasionalis religius meskipun dalam platformnya atau AD/ART tidak secara langsung mencantumkannya.

C. Partai Demokrat Sebagai Pengusung Ideologi Nasionalis Religius

Kelahiran Partai Demokrat didirikan atas inisiatif saudara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terilhami oleh kekalahan terhormat saudara Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilihan Calon wakil Presiden dalam Sidang MPR tahun 2001. Partai Demokrat didirikan oleh 99 (sembilanpuluh sembilan) orang dengan artian berkaitan dengan SBY sebagai penggagas, yakni SBY lahir tanggal 9 bulan 9. Pada tanggal 9 September 2001, bertempat di Gedung Graha Pratama Lantai XI, Jakarta Selatan dihadapan Notaris Aswendi Kamuli, SH., 46 dari 99 orang menyatakan bersedia menjadi Pendiri Partai Demokrat dan hadir menandatangani Akte Pendirian Partai Demokrat. 53 (lima puluh tiga) orang selebihnya tidak hadir tetapi memberikan

lihat BahtiarEffendi, Islam Dan Negara:Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di

Indonesia,Jakarta: Paramadina 1998 hal 63

12

surat kuasa kepada saudara Vence Rumangkang. Selanjutnya pada tanggal 17 Oktober 2002 di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Partai Demokrat dideklarasikan dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pertama pada tanggal 18-19 Oktober 2002 di Hotel Indonesia yang dihadiri Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) seluruh Indonesia13.

Sejalan dengan deklarasi berdirinya Partai Demokrat, sebagai perangkat organisasi dibuatlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai, yang mana sebagai asas Partai adalah pancasila Dan sebagai wujud dari jati diri Partai Demokrat termaktub dalam anggaran dasar Partai, yaitu di pasal 3 (Tiga) yang berbunyi14;

Jati diri Partai adalah nasionalis-religius, yaitu kerja keras untuk kepentingan rakyat dengan landasan moral dan agama serta memperhatikan aspek humanisme, nasionalisme, dan pluralisme dalam rangka mencapai tujuan perdamaian, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat.

Dan sebagai penjabaran makna yang terkandung dalam jati diri nasionalis religius yang mempunyai aspek-aspek humanisme, nasionalisme, dan pluralisme, di dalam doktrin Partai Demokrat termaktub uraian sebagai berikut15:

Nasionalisme

Partai Demokrat menempatkan kepentingan nasional sebagai komitmen utama. Semua kepentingan individu, kelompok dan golongan akan dikalahkan jika mengancam kepentingan nasional bangsa Indonesia. nasionalisme yang dianut Partai Demokrat bukanlah nasionalisme chauvinisme yang memungkinkan terjadinya penindasan suatu bangsa oleh bangsa lain, tetapi nasionalisme yang didasari oleh penghayatan keagamaan,

13

Http///:www.demokrat.or.id./sejarah partai, browsing internet 20 Mei 2006

14 DPP Partai Demokrat, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Demokrat, Jakarta: DPP Partai Demokrat hal 28

menyayangi sesama manusia dan bahkan kepada semua mahluk ciptaan tuhan.

Pluralisme

Sudah menjadi kenyataan sejarah bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, ras, agama dan budaya, dan dari keberagaman lahir solidaritas nasional menghadapi penjajahan hingga lahirlah Negara republik Indonesia. manajemen keragaman itu dimungkinkan karena adanya semangat bhineka tunggal ika, yakni meski ada identitas yang berbeda-beda tetapi pada hakikatnya adalah satu kesatuan, yaitu kesatuan bangsa Indonesia. tugas memanaged keragaman bukan dengan menyeragamkan yang beragam, tetapi menyatukan visi dari kekuatasn yang beragam.

Humanisme

Sejalan dengan ajaran agama, bahwa manusia adalah mahluk yang dimuliakan oleh tuhan yang oleh karena itu manusia berkewajiban memelihara kemuliaan dirinya, wujud perjuangan pemuliaan diri manusia adalah perlindungan hak-hak azasi manusia. Agama mengajarkan perlindungan manusia untuk memperoleh hak-haknya, yakni perlindungan fisik dari penganiayaan, perlindungan nyawa dari pembunuhan, perlindungan akal dari penindasan intelektual, perlindungan harta dari kepemilikannya, serta perlindungan jati diri dari kesucian nasabnya (keturunannya). Ajaran inilah yang menjelma menjadi HAM dalam budaya modern. Dalam pergaulan antar manusia, Partai Demokrat mengakui dan menghormati adanya berbagai solidaritas, seperti solidaritas keagamaan, solidaritas nasional dan solidaritas kemanusiaan. Bangsa Indonesia sesuai dengan pembukaan UUD 1945, menentang penjajahan di muka bumi yang dilakukan oleh bangsa kuat kepada bangsa yang lemah. Bangsa Indonesia juga harus siap menentang setiap ada penindasan hak azasi manusia yang terjadi di belahan dunia manapun sebagai wujud solidaritas kemanusiaan (humanisme).

Dari uraian tersebut bisa dipahami bahwa semangat nasionalisme Partai Demokrat sangat kental dengan dilapisi semangat religiusitas. Makna religiusitas disini adalah penghayatan agama secara umum yang mengedepankan toleransi bersosial. Religiusitas disini berarti pengamalan agama sesuai keyakinan masing-masing tanpa menjadikan satu agama menjadi agama negara. Sisi-sisi religiusitas Partai Demokrat sebenarnya lebih cenderung pada proses upaya bernegara dan berdemokrasi dengan tidak bertentangan dengan aturan agama secara universal. Hal

ini bisa dilihat dari visi misi Partai yang tidak secara jelas atau langsung menggunakan satu agama tertentu sebagai landasan religiusitas sebuah ideologi. Visi misi Partai Demokrat itu adalah sebagai berikut16:

- Visi Partai

Partai Demokrat bersama masyarakat luas berperan mewujudkan keinginan luhur rakyat Indonesia agar mencapai pencerahan dalam kehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur, menjunjung tinggi semangat Nasionalisme, Humanisme dan Internasionalisme, atas dasar ketakwaan kepada Tuhan yang maha Esa dalam tatanan dunia baru yang damai, demokratis dan sejahtera.

- Misi Partai

1. Memberikan garis yang jelas agar Partai berfungsi secara optimal dengan peranan yang signifikan di dalam seluruh proses pembangunan Indonesia baru yang dijiwai oleh semangat reformasi serta pembaharuan dalam semua bidang kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan kedalam formasi semula sebagaimana telah diikrarkan oleh para pejuang, pendiri pencetus Proklamasi kemerdekaan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan titik berat kepada upaya mewujudkan perdamaian, demokrasi (Kedaulatan rakyat) dan kesejahteraaan.

2. Meneruskan perjuangan bangsa dengan semangat kebangsaan baru dalam melanjutkan dan merevisi strategi pembangunan Nasional sebagai tumpuan 16

sejarah bahwa kehadiran Partai Demokrat adalah melanjutkan perjuangan generasi-generasi sebelumnya yang telah aktif sepanjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sejak melawan penjajah merebut Kemerdekaan, merumuskan Pancasila dan UUD 1945, mengisi kemerdekaan secara berkesinambungan hingga memasuki era reformasi.

3. Memperjuangkan tegaknya persamaan hak dan kewajiban Warganegara tanpa membedakan ras, agama, suku dan golongan dalam rangka menciptakan masyarakat sipil (civil society) yang kuat, otonomi daerah yang luas serta terwujudnya representasi kedaulatan rakyat pada struktur lebaga perwakilan dan permusyawaratan.

4. Meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ideologi, paham dan pola pikir yang bertentangan atau tidak sesuai dengan Pancasila.

Secara umum kader dan simpatisan Partai Demokrat adalah plural, mengingat dasar ideologinya adalah nasionalis. Kader dan simpatisan Partai Demokrat banyak berasal dari berbagai macam kalangan, seperti buruh, kelompok lintas agama, akademisi, kaum muda dan berbagai suku. Selain itu simpatisan Partai Demokrat juga berasal dari silent majority (komunitas diam) yang tidak begitu antusias dengan Partai politik17. Fakta ini bisa dilihat dari perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu tahun 2004 yang berhasil masuk dalam urutan sepuluh besar Partai dengan pemilih terbanyak.

17

Di luar hal tersebut, dengan semakin kokohnya posisi partai demokrat setelah keberhasilannya dalam mengusung SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai presiden RI, secara tidak langsung hal tersebut menarik berbagai kalangan untuk bergabung. Sebagaimana diketahui pasca Kongres Bali di tubuh Partai Demokrat diisi oleh orang-orang baru yang sebelumnya bukan kader Partai Demokrat. Sebagai misalnya adalah, mantan Kapolda Irjen Nur Faizi, mantan PB HMI dan anggota KPU Anas Urbaningrum dan lain-lainnya.

BAB III

PRINSIP-PRINSIP DASAR NASIONALIS RELIGIUS PERSPEKTIF PARTAI DEMOKRAT

A. Visi Kemanusiaan Dan Kebangsaan

1. meyakini bahwa tuhan menciptakan manusia berpasangan laki perempuan, bersuku suku, berbangsa bangsa, beraneka budaya, beraneka potensi, perbedaan mana yang dimaksud agar mereka saling berkenalan, saling menghormati dan saling memberi manfaat satu sama lain (litaarafu) guna mencapai tujuan bersama yakni kesejahteraan lahir batin. Visi ini sebenarnya visi agama, visi wahyu tuhan (Q/49:13) kata litaarafu dari arafa urf maruf marifah, mengandung arti kebaikan yang dikenal secara common sence. Maknanya, manusia pada fitrahnya secara sosial mengenali visi kebaikan. Dalam keberagaman sosial, perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai potensi yang yang harus dikelola sehingga menjadi sinergi. Fitrah manusia selalu menyukai kesamaan dan juga perbedaan, senang berkumpul dengan kelompok yang memiliki persamaan, sekaligus di kesempatan lain senang mencari yang berbeda dengan yang lain, senang tampil beda.

2. secara sosial manusia berbeda beda tetapi ukuran keutamaan substansial bersifat universal. Tuhan tidak melihat rupa pakaian, warna kulit dan status sosial, tetapi hati dan jiwanya yang dilihat. Manusia yang bertuhan

tidak akan merendahkan orang lain hanya karena status sosial atau etnik, sebaliknya mengapresiasi kemuliaan budi pekerti dan ahlak atau moralitas (bahasa agamanya Taqwa: Inna akramakum indallahi atqakyum)18

3. pada dasarnya manusia adalah mahluk yang dimuliakan oleh tuhan, oleh karena itu keharusan untuk menghargai dan menghormatyi orang lain sejalan dengan keharusan menghargai dan menghormati diri sendiri. Orang yang dirinya terhormat pasti dihormati orang lain. Dan merendahkan orang lain bermakna sekaligus merendahkan diri sendiri. 4. sejarah telah mentakdirkan masyarakat Indonesia yang berbeda beda suku,

bahasa, budaya dan tradisinya dalam kesatuan kebangsaan, yaitu bangsa Indonesia. Sesama elemen bangsa harus saling mengenal dan mengapresiasi untuk selanjutnya saling membantu dan bekerja sama membangun kejayaan bangsa.

5. perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia telah menorehkan kepahlawanan yang luar bisaa, tetapi sebagai bangsa yang religius mengakui bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tercapai adalah atas berkat rahmat allah SWT, visi ini berasal dari konsep tahmid, ucapan alhamduliilllah segala puji hanya milik allah maknanya bahwa betapapun manusia telah berkarya besar tetapi hakikatnya adalah karena adanya

18

Harus diakui sumbangsih agama Islam dalam Konteks Nasionalis religius banyak didominasi oleh pemikiran islam, hal ini didasarkan pada kenyataan mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, tetapi konsep-konsep tersebut juga tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang lain.

Wawancara dengan Ahmad Mubarok (wakil ketua DPP Partai Demokrat) Jakarta 19 Juni 2006

perkenan dari Allah, oleh karena itu segala pujian yang terima harus pulangkan kepada tuhan yang paling berhak atas segala pujian.

B. Visi keberagamaan

1. bahwa keyakinan kepada suatu agama adalah merupakan hak asasi dan tidak boleh dipaksakan. Visi ini juga merupakan visi wahyu (la ikraha fiddin), (Q/2:256).

2. agama dalam arti keyakinan dan peribadatan tidak mengenal toleransi, oleh karena itu setiap orang beragama tidak boleh mencampuri urusan agama lain, sebaliknya memberi kemerdekaan sepenuhnya kepada setiap pemeluk agama untuk menjalankan ibadah dan keyakinannnya. Visi ini juga merupakan visi wahyu, yaitu, lakum dinukum waliyadin: agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku, tidak perlu bertoleran kepada agama yang ;lain tetapi orang yang beragama harus memberi kebebasan kepada orang lain menjalankan agamanya. Agama tidak dituntut untuk toleran, tetapi penganut agama secara sosial wajib toleran kepada penganut agama yang lain.

3. kesalihan individual dalam beragama harus sejalan dengan kesalihan sosial, saleh secara vertical dan saleh secara horizontal, kata salih berasal dari kata kata salaha-sulh-maslahat,mengandung arti baikdamai dan patuh. Orang yang saleh pasti baik (konstruktif) damai dengan lingkungan dan patuh secara sosial.

4. visi keberagamaan (religiuitas) itu menyentuh kepada aspek-aspek kehidupan;

a. Pluralitas etnik (ras, budaya, bahasa dan agama) b. Nasionalitas; yakni kesadaran berbangsa

c. Hak asasi manusia; visi HAM menurut agama menyebut adanya lima aspek kemanusiaan yang dilindungi hak haknya (alkulliyatul khams) yakni perlindungan kepada jiwa atau diri (hifdz annafs), keyakinan agama (hifdz din) harta (hifdzul mal) intelektual (hifdzul aqal) dan kesucian keturunan (Hifdz Nasl).

d. Demokrasi, yakni mengembangkan musyawarah menghormati hal mayoritas dan melindungi hak hak minoritas. Musyawarah bukan

Dalam dokumen Nasionalisme religius partai demokrat (Halaman 9-55)

Dokumen terkait