• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Penyajian Data Dan Analisis

e) Bersedia diwawancarai, dilakukan survei usaha serta kelayakan dan dinilai jaminannya.

f) Menyerahkan bukti kepemilikan barang jaminan berupa sertifikat tanah/bangunan, PBKB Mobil/motor, SK pertama dan SK terakhir pengangkatan PNS, dan jaminan tabungan atau atas nama perorangan atau lembaga.

g) Bersedia menyerahkan photocopy KTP/SIM/KARTANU dan kartu tanda pengenal lainnya serta persyaratan administrasi lainnya yang ditentukan kemudian.84

mengajukan pembiayaan murabahah, diperoleh data hasil wawancara sebagai berikut:

“Pengajuan pembiayaan murabahah terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, KTP, KK, Buku Nikah, kartu tanda anggota BMTNU, surat izin usaha (SIUP), tanda daftar perusahaan dan data pembiayaan. Setelah syarat pengajuan telah dipenuhi oleh nasabah yang mengajukan. Pihak BMT akan menjelaskan terkait system pada pembiayaan murabahah”.85

Bapak Imam Ma’arif menambahi terkait syarat sebelum mengajukan pembiayaan murabahah

“Pembiayaan murabahah terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya KTP, KK, Buku Nikah, kartu tanda anggota BMTNU, surat izin usaha (SIUP), tanda daftar perusahaan dan data pembiayaan, persyaratan pengajuan pembiayaan dapat ditanyakan oleh nasabah jauh-jauh hari sebelum melakukan pembiayaan murabahah.86

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat dismpulkan bahwa dalam mengajukan pembiayaan murabahah terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh nasabah yang ingin melakukan pembiayaan tersebut, selanjutnya penulis menanyakan terkait system akutansi pada pembiayaan murabahah di BMT NU Cabang Jenggawah.

c. Sistem Akutansi Pembiayaan Murabahah.

Pembiayaan Murabahah merupakan istilah peminjaman untuk pelaku usaha yang dilakukan oleh BMTNU Cabang Jenggawah.

Menurut hasil wawancara dan observasi pada bagian Koordinator Bidang Murabahah yaitu Bapak Ahmad Arif Darmawan dan Bapak Imam Ma’arif sebagai Kepala Cabang BMT NU Jenggawah peneliti

85 Ahmad Arif Darmawan, diwawancarai oleh penulis, Jember 24 Oktober 2022

86 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

menanyakan bagaimana penerapan system akuntansi pembiayaan murahabahah pada BMTNU Cabang Jenggawah Jember, sebagai berikut:

“Pelaksanaan pembiayaan Murabahah akan terjadi ketika pembiayaan telah tertulis besarnya yang diberikan oleh BMTNU kepada nasabah. Akad murabahah akan disepakati ketika nasabah mengajukan akad untuk membeli barang murabahah dan pihak BMT NU sebagai penjual akan menentukan haraga jual barang tersbut serta menentukan keuntungan dari akad murabahah sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak”.87

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa akad pembiayaan murabahah terlaksana maka, pihak BMT NU diharuskan meperhatikan perlakuan akuntasinya dengan melakukan pencatata-pencatatan yang terkait dengan pembiayaan murabahah.

Hasil wawancara ini diperkuat dengan observasi peneliti ketika peneliti melakukan penelitian. Dari uraian diatas peneliti menemukan bahwa Akad murabahah akan disepakati ketika nasabah mengajukan akad untuk membeli barang murabahah dan pihak BMT NU sebagai penjual akan menentukan haraga jual barang tersbut serta menentukan keuntungan dari akad murabahah sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak88

Hal tersbut dikuatkan dengan pernyataan dari bapak Imam Ma’arif menyatakan bahwa:

87 Ahmad Arif Darmawan, diwawancara oleh penulis, Jember, 24 Oktober 2022.

Observasi di BMTNU Cabang Jenggawah, 24 Oktober 2022.

“Pembiayaan murabahah akan terlaksana apabila pihak nasabah bersungguh-sungguh ingin membeli barang dari pihak BMT dan menyetujui harga jual yang telah diberikan oleh BMT. Dalam proses akadnya dijelaskan terlebih dahulu antara harga awal barang, dengan harga jual dari BMT dan biaya penanganan yang diberikan kepada nasabsh, apabila kedua belah pihak setuju.

Maka akad murabahah akan ditindak lanjut sampai proses pencairan”89.

Bapak Ahmad Arif Darmawan menambahi terkait system akutansi pada pembiayaan murabahah

“Sistem akuntansi yang dilakukan oleh BMTNU cabang Jenggawah dilakukan dengan cara komputerisasasi dengan program IT, system ini meminimalisir terjadinya kesalahan dalam penjumlahan jika dilakukan dengancara manual.

Pencatatan akuntansi pembiayaan murabahah dimulai dengan pembuatan jurnal pencairan data, jurnal untuk angsuran, dan jurnal pelunasan”90.

Wawancara di atas dikuatkan oleh pernyataan bapak Imam Ma’arif terkait system akutansi pada pembiayaan murabahah di BMTNU Cabang Jenggawah, beliau mengatakan bahwa:

“Sistem akutansi di BMT menggunakan kecanggihan teknologi yang bernama IT yang telah terhubung pada server computer yang ada di BMT. System tersebut lebih efisien untuk mengurangi kekeliruan apabila melakukan pencatatan secara manual”91.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa system akutansi yang digunakan oleh pihak BMTNU Cabang Jenggawah sistem akutansi yang digunakan oleh pihak BMTNU Cabang Jenggawah yakni menggunakan sistem IT yang telah terhubung pada komputer yang ada di kantor BMTNU Cabang Jenggawah guna

89 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

90 Ahmad Arif Darmawan, diwawancara oleh penulis, Jember, 24 Oktober 2022.

91 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

meminimalisir kekeliruan ketika melakukan sistem akutansi secara manual.

Hal tersbut dikuatkan dengan pernyataan dari bapak Imam Ma’arif menyatakan bahwa BMT menggunakan kecanggihan teknologi yang bernama IT yang telah terhubung pada server computer yang ada di BMT. System tersebut lebih efisien untuk mengurangi kekeliruan apabila melakukan pencatatan secara manual.92

Penerapan akutansi pada pembiayaan murabahah di BMTNU Cabang Jenggawah memiliki beberapa tahapan. Seperti pada pernyataan Bapak Ahmad Arif Darmawan yang mepaparkan bahwa:

“Ketika nasabah mengajukan pembiayaan murabahah, pihak BMT akan menjelaskan tahapannya, adapun tahapannya yakni saat negosisasi dimana pada tahap tersebut dijelaskan penetapan keuntungan yakni sebesar 2,5%, admin sebesar 2,5% dan Al-Khairat sebesar 0,5% yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Dilanjutkan dengan tahap pengakuan dan pengukuran”93.

Pernyataan di atas dikuatkan oleh pendapat dari bapak Imam Ma’arif yang menyatakan bahwa:

“Pembiayaan murabahah memiliki beberapa tahapan yakni tahapan negosiasi yang membahas mengenai keuntungan yang telah disepakati, biaya admin, dan Al-Khairot. Tahap selanjutnya pengakuan dan pengukuran, dimana pada tahap tersebut dilakukan pencatatan pada jurnal dana pembiayaan murabahah”94.

92 Observasi di BMTNU Cabang Jenggawah, 24 Oktober 2022.

93 Ahmad Arif Darmawan, diwawancara oleh penulis, Jember, 24 Oktober 2022.

94 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

d. Penerapan Sistem akutansi pada Restrukturasi Pembiayaan Murabahah Bermasalah

Pembiayaan murabahah tidak selamanya berjalan lancar, terkadang terdapat kendala dari pihak nasabah saat membayar angsuran, terdapat beberapa nasabah mengalami macet untuk membayar angsuran sehingga pihak BMT melakukan restrukturisasi kepada beberapa nasabah yang mengalami kendala dalam membayar angsuran pembiayaan murabahah. Menurut Bapak Ahmad Arif Darmawan menyatakan bahwa:

“Apabila nasabah mengalami kemacetan saat membayar angsuran pembiayaan murabahah, pihak BMT mempunyai beberapa tahapan untuk menyelsaikan pembiayaan murabahah yang bermasalah diantaranya, penagihan secara istiqomah jika nasabah belum sanggup melunasi maka dilanjutkan dengan surat peringatan dan somasi, dilanjtkan lelang barang jaminan dan kebijakan terakhir yang diberikan oleh pihak BMT melakukan restrukturisasi”95.

Pernyataan di atas dikuatkan oleh pendapat Bapak Imam Ma’arif, menyatakan bahwa:

“Ketika nasabah mengalami kendala saat mengangsur pembiayaan murabahah, pihak BMT memeberikan solusi berupa reskruturisasi untuk kebijakan terakhir pada nasabah yang mengalami kemacetan dalam membayar, restrustrurisasi terdiri dari beberapa cara yakni rescheduling (penjadwalan kembali), reconditioning (persyaratan kembali), dan restructuring (penataan kembali)”96.

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa pihak BMT mempunyai solusi ketika ada nasabah yang mengalami

95 Ahmad Arif Darmawan, diwawancara oleh penulis, Jember, 24 Oktober 2022.

96 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

kendala dalam menganggsur pembiayaan murabahah pihak BMT mempunyai beberapa upaya untuk menyelesaikan kendala yang dialami oleh nasabah, diantaranya meliputi penagihan secara istiqomah, ketika pihak BMT menagih kepada nasabah dan nasabah belum mampu menganggsur kewajibannya maka BMT melakukan upaya selanjutnya berupa surat peringatan dan somasi, dilanjutkan lelang barang jaminan dan kebijakan terakhir yang diberikan pihak BMT kepada nasabah yakni restrukturisasi. Restrukturisasi terdapat beberapa cara yakni rescheduling (penjadwalan kembali), reconditioning (persyaratan kembali), dan resctructuring (penataan kembali).

Hasil wawancara ini diperkuat dengan observasi peneliti ketika peneliti melakukan penelitian. Dari uraian diatas peneliti menemukan bahwa pelaksanaan restrukturisasi di BMTNU Cabang Jenggawah seluruhnya dilakukan dengan metode reconditioning yang dilakukan dengan cara memberikan keringanan angsuran pada periode tertentu selama nasabah merasa kesulitan membayar , tanpa tambahan biaya penanganan dan jangka waktu pembayaran.97

Terkait system akutansi restrukturasi pada pembiayaan murabahah yang bermasalah, terdapat perbedaan pada besar angsuran yang dibebankan kepada nasabah, seperti yang diungkapkan oleh bapak Ahmad Arif Darmawan bahwa:

“ketika pihak nasabah melakukan restrukturisasi, maka pihak BMT akan memperpanjang jangka waktu sesuai dengan

97 Observasi di BMTNU Cabang Jenggawah, 24 Oktober 2022.

permintaan nasabah. Misal ibu A mempunyai pembiayaan murabahah sebesar Rp 10.000.000 dengan jangka waktu 1 tahun dengan jumlah angsuran sebesar Rp 1.064.00 tiap bulan. Namun setelah melakukan 8 kali pembayaran beliau mengalami kemacetan dan mengajukan restrukturasi dan pihak BMT menyetujui sehingga jumlah anggsuran yang harus dibayar menjadi 493.000 dengan jangka waktu diperpanjang dari 4 bulan menjadi 8 bulan”98.

Bapak Imam Ma’arif juga menambahi terkait pelaksanaan restrukturasi pada pembiayaan murabahah yang bermasalah. Beliau menyatakan bahwa:

“Ketika nasabah mengalami kemacetan saat membayar angsuran murabahah dan mengajukan restrukturasi maka pihak BMT akan menanyakan kemampuan dari nasabah terkait pengurangan biaya angsuran dan perpanjangan waktu. Contoh bapak W mengajukan pembiayaan murabahah sebesar Rp 20.000.000 dengan jangka waktu 2 tahun dan jumlah angsuran Rp 970.000 tiap bulan diperkecil Rp 598.125 dan diperpanjang dari 9 bulan menjadi 12 bulan”99.

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa restrukturasi pada pembiayaan murabahah yang bermasalah di BMTNU Cabang Jenggawah diberlakukan dengan memperkecil biaya angsuran sesuai dengan kemampuan nasabah dan memperpanjang jangka waktu tempo sesuai dengan kemampuan nasabah. Terkait sistem akutansi pada restrukturasi pembiayaan murabahah yang bermasalah berikut contoh kasus pada transaksi murabahah yang bermasalah dan terjadinya restrukturasi sebagai bentuk kebijakan yang diberikan pihak BMTNU Cabang Jenggawah.

98 Ahmad Arif Darmawan, diwawancara oleh penulis, Jember, 24 Oktober 2022.

99 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

Pada tanggal 5 Februari 2022 Ibu Halimah melakukan pembiayaan dengan akad murabahah. Pembiayaan tersebut sebesar Rp 10.000.000 dengan jangka waktu 10 bulan. uang tersebut digunakan untuk tambahan membeli sepeda motor. Keuntugan yang disepakati sebesar 2,5%, biaya admin sebesar 2,5% dan Al-Khoirot sebesar 0,5%.

Perhitungann terkait rincian transak ibu Halimah sebagai berikut:

Pembiayaan = Rp. 10.000.000/10

= Rp. 1.000.000

Keuntungan = Rp 10.000.000 x 2,5 %

= Rp. 250.000 x 10

= Rp. 2.500.000

Al-Khairot = Rp. 10.000.000 x 0,5%

= Rp. 50.000

Administrasi = Rp. 10.000.000 x 2,5%

= Rp. 250.000 Materai = Rp. 10.000

Tabel 4.1

Jurnal Pencairan Dana Pembiayaan Murabahah

Tgl Kode Nama

Rekening

Keterangan Debet Kredit

5/2/2022 1020101 Piutang Murabahah

Piutang Murabahah Akad Halimah

Rp. 10.000.000

1010100 Kas Piutang Murabahah Akad Halimah

Rp. 10.000.000

1010100 Kas Pendapatan Adminidtras i Akad Halimah

Rp. 250.000

4020200 Pendapatan Admin

Pendapatan Adminidtras

Rp. 250.000

i Akad Halimah 1010100 Kas Mterai

Untuk Akad Halimah

Rp. 10.000

4020301 Pendapatan Materai

Materai Untuk Akad Halimah

Rp. 10.000

1010100 Kas Al-Khairot Akad Halimah

Rp. 50.000

2010405 Al-Khairot Al-Khairat Akad Halimah

Rp. 50.000

1010101 Kas Angsuran Murabahah Akad Halimah

Rp. 1.290.000

1020102 Angsuran Murabah

Angsuran Murabahah Akad Halimah

Rp. 1. 290.000

Tabel di atas merupakan jurnal pencairan akad murabahah, telah dijelaskan bahwa aset murabahah diakui sebesar harga perolehan, dalam hal ini sebesar Rp. 10.000.000. Setelah dana murabahah cair, nasabah diwajibkan untuk membayar biaya yang telah dibebankan pada pembiayaan murabahah. Pembiayaan murabah pada contoh merupakan jenis pembiayaan murabahah bil wakalah yang berarti jual beli dengan sistem murabahah dimanan pihak BMT memberikan kuasa kepada nasabah untuk membeli barang sendiri dan anggota diminta menjaminkan barang (BPKB atau sertifikat tanah) guna sebagai jaminan nasabah. Namun ketika nasabah mengalami masalah dalam membayar angsuran maka pihak BMT akan memberikan kebijakan berupa restrukturasi berupa pengecilan biaya angsuran dan

perpanjangan jangka waktu sesuai dengan kemampuan nasabah. Berikut contoh kasus nasabah yang melakukan restrukturasi pada pembiayaan murabahah bermasalah.

Berdasarkan hal diatas, peneliti melakukan wawancara kepada Wardah selaku nasabah BMT NU Jenggawah, beliau mengatakan bahwa:

“Saya melakukan pembiayaan murabahah sebesar Rp.

10.000.000 dengan jangka waktu 10 bulan. Setelah ditambah biaya keuntungan, biaya admin, Al-khoirot dan materai dihasilkan biaya angsuran sebesar Rp. 1.290.000 tiap bulan.

setelah 5 kali pembayaran ibu Wardah mengalami kemacetan dalam membayarkan kewajibannya pada BMT disebabkan karena usahanya kurang lancar, beliau mengajukan restrukturasi kepada pihak BMT dimanan sisa pokok pada transaksi ibu wardah sebesar Rp. Rp. 5000.000, setelah diretrukturasi biaya angsuran yang dibebankan kepada ibu Wardah menjadi Rp.

585.000 dengan jangka waktu diperpanjang dari 5 bulan menjadi 10 bulan”.100

Pernyataan diatas diperkuat oleh Halimah selaku nasabah yang bermasalah, beliau mengungkapkan bahwa:

“Pembiyaan sebesar Rp 10.000.000, setalah beberapa bulan kondisi usaha saya mengalami penurunan omset dikarenakan sepinya permintaan dari langganan. Dengan kondisi tersebut dan yang bersangkutan memiliki itikad baik untuk tetap membayar angsuran, maka saya mengajukan permohonan dengan memperkecil angsuran. Kemampuan bayar yang bersangkutan saat ini sesuai pendapatan yang diperoleh. Dari hasil kunjungan dan surat permohonan, saya mampu dan komitmen untuk sanggup bayar”101

Terkait sistem akutansi pada restrukturasi akad murabahah bermasalah, pihak BMTNU Cabang Jenggawah hanya melakukan

100 Wardah, diwawancara oleh Penulis, Jember 21 November 2022.

101 Halimah, diwawancara oleh Penulis, Jember 21 November 2022

pencatatan ulang akad murabahah dengan sisa pokok yang belum dilunasi oleh nasabah dan meringankan biaya lainnya seperti biaya keuntungan, administrasi dan al-khoirot serta memperpanjang jangka waktu sesuai dengan kemampuan nasabah. Berikut tabel jurnal terkait restrukturasi pada pembiayaan murabahah bermasalah.

Tabel 4.2

Jurnal Restrukturasi Pembiayaan Murabahah

Tgl Kode Nama Rekening Keterangan Debet Kredit 5/2/22 Sisa pokok akad

murabahah kas

Rp 5000.000 Rp 5000.000

Tabel 4.3

Jurnal Pengangsuran Restrukturasi Pembiyaan Murabahah

Tgl Kode Nama

Rekening

Keterangan Debet kredit

5/2/22 Kas Rp 500.000

Restrukturasi piutang murabahah

Rp 500.000

Kas Rp 85.000

Pendapatan margin

Rp 85.000

Pada tabel di atas merupakan penjurnalan pada resktruturasi pembiayaan murabahah yang bermasalah. Pada contoh permasalah diatas dijelaskan bahwa BMT melakukan restrukturasi dengan memperpanjang jangka waktu dan mengecilkan biaya margin namun pihak BMT masih memperoleh keuntungan walaupun pihak nasabah telah mengajukan restrukturasi.

e. Sistem Akutansi Murabahah Di BMT NU Cabang Jenggawah Berdasarkan PSAK 102

Dalam memberikan pembiayaan murabahah kepada nasabah, BMT NU Cabang Jenggawah menerapkannya sesuai dengan prosedur-prosedur yang berlaku dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.102.

Sistem akutansi pada pembiayaan murabahah di BMTNU Cabang Jenggawah sebagian besar telah sesuai dengan PSAK 102, penerapan yang telah sesuai dengan PSAK 102 pada tahap pengakuan dan pengukuran asset murabahah telah sesuai dengan PSAK 102, pada tahap penyesuaian sebagian telah sesuai dengan PSAK 102, hanya beberapa yang tidak sesuai dengan PSAK 102. Pada bagian penjurnalan di BMT NU cabang Jenggawah dituliskan rekenening murabahah, biaya admin, biaya keuntungan dan Al-khoirot, sedangkan menurut PSAK 102 dijelaskan bahwa penyajian piutang murabahah dituliskan dengan saldo bersih.102

Berdasarkan hal diatas, peneliti melakukan wawancara kepada Bapak Imam Ma’arif selaku kepala cabang BMT NU Jenggawah, beliau mengatakan bahwa:

“Pembiayaan murabahah telah sesuai dengan PSAK 102 memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya, dimana yang dituliskan rekenening murabahah, biaya admin, biaya keuntungan dan Al-khoirot, sedangkan menurut PSAK 102

102 Observasi di BMTNU Cabang Jenggawah, 14 November 2022.

dijelaskan bahwa penyajian piutang murabahah dituliskan dengan saldo bersih”.103

Berdasarkan hasil hasil wawancara dan observasi penerapan sistem akutansi restrukturasi pembiayaan murabahah bermasalah di BMTNU Cabang Jenggawah dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem akutansi di BMTNU menggunakan komputerisasi dengan program IT “Barraty”. Pencatatan akutansi menggunakan sistem Komputer yang terhubung dengan server komputer di kantor BMT dapat mempermudah pihak akuntan untuk mencatat transaksi harian dan meminimalisisr terjadinya kesalahan dalam penjurnalan jika dilakukan dengan cara maual. Pada pembiayaan murabahah BMTNU menerapkan biaya administrasi, biaya keuntungan dan Al-khoirot yang dibebankan kepada nasabah. Penerapan restrukturasi pada pembiayaan murabahah dilakukan dengan melakukan pencatatan ulang dengan sisa pokok pembiayaan murabahah, memperkecil margin dan memperpanjang jangka waktu sesuai dengan kemampuan nasabah yang menganukan restrukturasi. Penerapan murabahah di BMTNU Cabang Jenggawah sebagian telah sesuai dengan PSAK 102 yakni pada tahap pengakuan dan pengukuran, sedangkan pada tahap penyajian, sebagian terdapat ketidaksesuaian dengan PSAK 102.

103 Imam Ma’arif, diwawancara oleh Penulis, Jember 14 November 2022.

Dokumen terkait