PEMESINAN DI SMKN 2 JEMBER
B. Penyajian Data
langsung. Dengan demikian setiap bawahan dalam organisasi tersebut dapat mengetahui kepada siapa harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Struktur organisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember dimulai dari atas ke bawah yaitu kepala sekolah yang membawahi wakil kurikulum dan beberapa seorang pegawai di bawahnya yaitu bagian K3 (Ketua Kompetensi Keahlian) semua jurusan, G Normatif, G adaptif, G produktif, konselor, dan Pembina ekstrakulikuler.
Adapun struktur organisasi sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri 2 Jember dilampirkan dalam lampiran 15.
2 XII 75
75
X 100 = 24,27 = 24 309
Jumlah 53
Keterangan:
Untuk mencari perimbangan sampel maka jumlah siswa masing-masing kelas di bagi dengan jumlah siswa seluruhnya (seluruh kelas X, XI dan XII) kemudian dikalikan dengan 100 atau dengan rumus dan hasilnya dibulatkan (Dewi, 2004).
Selanjutnya jumlah responden tersebut dapat ditetapkan sub sampel masing-masing kelas, 53 orang responden yang diperoleh terlampir dalam lampiran 16.
Selanjutnya untuk memperoleh data tentang pengaruh pendidikan agama Islam dan budi pekerti terhadap kualitas kinerja praktik itu melalui angket. Terlebih dahulu akan dikemukakan ketentuan sebagai berikut:
a. Jumlah pertanyaan angket seluruhnya 18 item yang terdiri atas:
1) Pertanyaan tentang pendidikan agama Islam 6 item 2) Pertanyaan tentang budi pekerti 6 item
3) Pertanyaan tentang kinerja 6 item b. Skoring data
Skoring data adalah perhitungan skor yang diperoleh dari masing-masing responden sesuai dengan klasifikasi data tersebut di atas dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Untuk jawaban item a skor 5 2) Untuk jawaban item b skor 4
100 N x X
4) Unruk jawaban item d skor 2 5) Untuk jawaban item e skor 1 C. Penjelasan Persentase Hasil Angket
Angket yang sudah disebar oleh peneliti kepada 53 responden kemudian dikalkulasikan dalam bentuk persentase. Hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pentingnya indikator-indikator yang sudah direncanakan untuk dipelajari oleh peserta didik sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri 2 Jember, berikut penjelasnya:
1. Pentingya Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kualitas Kinerja Peserta Didik
Pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan untuk mendidik kecerdasan spiritual peserta didik. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang materi pelajaran pendidikan agama Islam yang dipelajari peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan, yaitu:
a. Aqidah
1) Iman Kepada Allah
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada peserta didik teknik pemesinan kelas XI TPm.1 dan XII TPm.3 diperoleh gambaran bahwa pembelajaran iman kepada Allah mampu meningkatkan kinerja peserta didik dalam melaksanakan praktikum. Hal ini dikarenakan adanya penjelasan dari guru pendidikan agama Islam yang berisi tentang hikmah bagi orang yang beriman kepada Allah yaitu mendapat pertolongan dari Allah, hati tenang dan tidak pernah gelisah, serta sepanjang hidupnya
tidak akan pernah merasa rugi. Apabila seseorang mampu merasakan indahnya hikmah tersebut maka akan timbullah perasaan senang dan cinta akan pekerjaannya.
Untuk lebih jelasnya peneliti akan menyajikan tanggapan responden mengenai pengaruh pembelajaran iman kepada Allah, dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.8
Tanggapan Responden Mengenai Pengaruh Pendidikan Iman Kepada Allah Terhadap Kinerja Peserta Didik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 36 68%
2. Setuju 10 19%
3. Cukup setuju 4 8%
4. Tidak setuju -
-5. Sangat tidak setuju 3 5%
Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Berdasarkan tabel di atas peneliti menganalisa bahwa sebagian besar responden (68%) menyatakan bahwa pentingnya memberikan pendidikan iman kepada Allah. Guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember selalu memotivasi peserta didik untuk merasakan kebesaran dan keberadaan Allah ketika hendak belajar dan selesai belajar dengan cara memberikan kesempatan peserta didik untuk berdo’a terlebih dahulu sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran. Diharapkan dengan adanya pembiasaan tersebut peserta didik akan selalu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan meningkatkan kinerja peserta didik serta mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
2) Iman Kepada Rosul
Data hasil angket yang disebarkan kepada responden lembaga pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember telah mengajarkan pendidikan spiritual yang sangat baik kepada peserta didik. Terlebih lagi mengenai aspek aqidah khususnya pembelajaran mengenai iman kepada Rosul, peserta didik sudah mampu merasakan adanya hikmah yang tersirat. Hal ini terbukti dengan data angket yang sebagian besar peserta didik mampu meneladani sikap Rosulullah yang selalu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Untuk memperjelas temuan tersebut peneliti akan menyajikan hasil angket dalam tabel di bawah ini.
Tabel 3.9
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Iman Kepada Rosul Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 19 36%
2. Setuju 25 47%
3. Cukup Setuju 9 17%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian responden (47%) menganggap penting mengajarkan keimanan kepada Rosul.
Hal ini tidak lain bertujuan untuk menambah wawasan peserta didik tentang profil Rosulullah yang dapat dijadikan suri tauladan bagi peserta didik.
Dengan adanya pembelajaran keimanan kepada Rosulullah
dengan sungguh-sungguh akan mampu memberikan motivasi kepada peserta didik untuk selalu semangat dan tidak berputus asa dalam mempelajari serangkaian pembelajaran praktikum serta mampu memotivasi peserta didik untuk terus meningkatkan kinerja.
3) Iman Kepada Malaikat
Mengingat adanya hikmah yang terkandung dalam materi pelajaran iman kepada malaikat, maka pembelajaran tersebut sangat penting untuk dipelajari peserta didik. Hal ini dikarenakan apabila seseorang mampu mengaplikasikan keyakinannya kepada malaikat Allah, maka seseorang senantiasa akan berperilaku terpuji, akan selalu optimis, dinamis, bekerja keras, dan akan selalu berhati-hati dalam bertindak.
Hasil angket dalam indikator ini, menunjukkan bahwa sebagian peserta didik telah mampu mengaplikasikan keimanannya kepada malaikat Allah dalam kehidupan nyata. Hal ini terbukti dengan data angket yang akan disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.10
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Iman Kepada Malaikat Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 39 74%
2. Setuju 10 19%
3. Cukup Setuju 4 7%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Berdasarkan tabel di atas 74% responden menyatakan bahwa pendidikan iman kepada malaikat sangatlah berpengaruh dalam meningkatkan kinerja saat praktikum. Hal ini dikarenakan apabila peserta didik mengimplementasikan hikmah yang terkandung maka, peserta didik akan senantiasa selalu berusaha dan bekerja keras dalam mempelajari pembelajaran melalui kegiatan praktik dan meningkatkan kualitas serta kuantitas keahlian sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuni.
b. Akhlak 1) Jujur
Pembelajaran tentang kejujuran merupakan suatu pembelajaran yang memberikan dorongan bagi peserta didik untuk bertindak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa ada rekayasa. Pembelajaran ini sangatlah penting, karena apabila seseorang mampu berperilaku jujur, ia akan mendapatkan kepercayaan dimanapun ia berada, baik itu di dalam keluarga, masyarakat, maupun tempat dimana ia akan bekerja.
Kejujuran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas kinerja seseorang. Apabila peserta didik memiliki sikap untuk jujur dalam setiap perbuatannnya, maka ia akan mematuhi segala peraturan yang ada di sekolah dan juga ia akan datang tepat waktu disaat jam sekolah. Dengan tindakan itulah peserta didik akan memberikan tingkat kepuasan terbaik atas hasil pekerjaan saat melakukan demonstrasi dalam praktik.
Sebagian peserta didik XI TPm.1 dan XII TPm.3 telah menyatakan bahwa ungkapan di atas memang benar. Hal ini dibuktikan dengan hasil angket yang akan disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini.
Tabel 3.11
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Kejujuran Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 22 42%
2. Setuju 24 45%
3. Cukup Setuju 7 13%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
2) Sabar
Sabar merupakan salah satu pendidikan emosional. Dengan adanya pembelajaran akan kesabaran seseorang akan mudah menerima segala sesuatu yang tengah menimpa dirinya.
Peserta didik kejuruan merupakan peserta didik yang dipersiapkan untuk memiliki jiwa produktif yaitu jiwa yang bersifat menghasilkan sesuatu dan tidak bersikap konsumtif atau hanya pengguna. Untuk mencapai salah satu misi tersebut sekolah menyediakan berbagai macam kegiatan praktik. Dengan adanya kegiatan ini peserta didik diharapkan mampu menuangkan teori yang sudah didapatkan di kelas ke dalam penggunaan alat-alat bidang keahlian secara kongkret.
Kegiatan praktik tersebut juga dilakukan oleh peserta didik
bangku adalah salah satu mata pelajaran teknik pemesinan yang menuntut pesrta didik berfikir kreatif dan mampu bersaing dengan teman yang lain untuk segera mungkin mendapatkan hasil dari pekerjaan yang harus dilaksanakan. Praktik kerja bangku membutuhkan stamina yang bagus karena praktik kerja bangku mayoritas berkelut dengan fisik dan menggunakan peralatan yang masih manual. Konsentrasi dan ketelitian juga dibutuhkan dalam praktik kerja bangku, karena tidak jarang benda yang akan dibuat oleh siswa mempunyai toleransi ukuran dan kehalusan yang kecil.
Dalam praktik kerja bangku tersebut peserta didik dituntut untuk memiliki rasa emosional yang seimbang, dengan kata lain peserta didik haruslah memiliki sikap sabar. Karena, dengan kesabaran peserta didik akan memiliki daya konsentrasi, ketelitian, dan optimis, sehingga peserta didik mampu menghasilkan suatu kuantitas yang baik dari kegiatan praktik.
Ungkapan di atas dibuktikan dengan 49% peserta didik menyatakan kesetujuannya. Berikut data persentase pilihan responden.
Tabel 3.12
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Kesabaran Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 26 49%
2. Setuju 20 38%
3. Cukup Setuju 6 11%
4. Tidak Setuju 1 2%
5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
3) Berkompetisi Dalam Kebaikan
Berdasarkan hasil observasi peneliti menemukan gambaran bahwa peserta didik teknik pemesinan memiliki daya saing yang cukup tinggi untuk mengukir prestasi baik itu di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini tidak lain dikarenakan adanya pendidikan tentang anjuran untuk berkompetisi dalam kebaikan.
Berkompetisi dalam kebaikan memang merupakan pembelajaran yang menganjurkan peserta didik untuk bersaing dalam hal prestasi. Dengan adanya pembelajaran ini peserta didik semakin terdorong untuk terus meningkatkan produktivitas kinerjanya. Hal ini terbukti dengan antusias peserta didik dalam menyatakan kesetujuannya tentang ungkapan di atas. Berikut tabel tentang persentase tanggapan responden.
Tabel 3.13
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Berkompetisi Dalam Kebaikan Terhadap Kinerja Praktik
No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 20 38%
2. Setuju 23 43%
3. Cukup Setuju 10 19%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Dari tabel di atas dapat kita ketahui bahwa pembelajaran berkompetisi dalam kebaikan merupakan pembelajaran yang sangat berpengaruh dalam memotifasi peserta didik untuk bersaing guna
gambaran bahwa peserta didik teknik pemesinan memiliki semangat dan berdaya juang yang tinggi untuk mengukir prestasi.
2. Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti Dalam Meningkatkan Kualitas Kinerja Peserta Didik
Pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan yang dipersiapkan pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember untuk membentuk karakter peserta didik kejuruan. Pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan yang menentukan baik atau tidaknya kepribadian seseorang. Pendidikan budi pekerti ini dipelajari melalui beberapa materi yang diajarkan oleh guru kewirausahaan dan ilmu pendidikan sosial.
Berikut daftar materi yang diajarkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember.
a. Diri Sendiri 1) Disiplin
Disiplin merupakan suatu penbelajaran yang mendidik peserta didik untuk mengikuti ketentuan yang pasti dan konsisten yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember telah mempelajari disiplin di pelajaran kewirausahaan.
Pendidikan disiplin ini sangat penting untuk diajarkan karena disiplin merupakan kunci kesuksesan seseorang. Peserta didik yang mempunyai kemauan dan penuh disiplin akan dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja keras secara sungguh-sungguh. Berikut hasil tanggapan responden akan makna
Tabel 3.14
Tanggapan Responden Terhadap Perilaku Disiplin Saat Praktik Praktik (N=53)
No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 20 38%
2. Setuju 22 42%
3. Cukup Setuju 10 19%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju 1 2
Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Dapat kita ketahui bahwa 42% peserta didik sudah mampu berperilaku disiplin. Peserta didik menerapkan perilaku disiplin tidak hanya ketika harus mematuhi segala peraturan sekolah akan tetapi juga peraturan saat praktikum. Apabila peserta didik mematuhi segala peraturan praktikum akan mampu meningkatkan kinerja peserta didik. Dengan disiplin dapat menjamin kelangsungan dan kelancaran saat melaksanakan kegiatan. Sehingga, peserta didik akan tertib dan berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru dan memperagakan alat pemesinan saat praktik.
2) Etos Kerja
Pembelajaran etos kerja pada dasarnya bertujuan untuk membentuk kepribadian peserta didik yang pantang menyerah dan memiliki semangat serta daya juang yang tinggi untuk mencapai kualitas kinerja yang sempurna. Dalam hal ini, peserta didik teknik pemesinan sudah mampu mengimplementasikan sikap etos kerja. Hal ini terbukti dengan perolehan hasil angket
Tabel 3.15
Tanggapan Responden Terkait Etos Kerja Saat Praktik (N=53)
No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 27 51%
2. Setuju 20 38%
3. Cukup Setuju 4 7%
4. Tidak Setuju 2 4%
5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Tabel di atas menyebutkan bahwa 51% peserta didik teknik pemesinan memiliki sikap pantang menyerah, memiliki dorongan ambisi, dan selalu berusaha dalam melaksanakan kegiatan praktik. Dengan hal tersebut peserta didik tidak akan mudah berputus asa disaat mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan praktik.
3) Pengendalian Diri
Pengendalian diri merupakan sikap yang harus diterapkan oleh peserta didik kejuruan yang memang dipersiapkan untuk lebih produktif. Hal mana apabila seseorang mampu mengontrol diri maka ia akan mampu menciptakan komitmen yang tinggi untuk tetap berusaha tanpa mengenal kata menyerah. Salah satu sikap seseorang yang mampu mengendalikan dirinya yaitu akan memiliki sikap tabah.
Ketabahan sendiri bisa diartikan tetap kuat dalam menghadapi cobaan dan kesulitan saat ia berusaha untuk mencapai kinerja yang baik. Dengan adanya pengendalian diri seseorang akan
kompeten, dan maju untuk mencapai kinerja praktik yang lebih baik. Berikut tanggapan responden mengenai sikap pengendalian diri.
Tabel 3.16
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Pengendalian Diri Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 29 55%
2. Setuju 16 30%
3. Cukup Setuju 7 13%
4. Tidak Setuju 1 2%
5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Dari tabel di atas peneliti mendapatkan sebuah gambaran bahwa 55% peserta didik teknik pemesinan telah mampu mengendalikan diri disaat ia mengalami kesulitan ketika mendemonstrasikan alat-alat pemesinan dan tetap berusaha keras untuk bisa lebih berkompeten dalam bidang keahlian.
b. Kemanusiaan
1) Tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan bentuk amanah yang dipikul oleh seseorang. Apabila seseorang mampu melaksanakan amanahnya dengan baik, maka akan mendapatkan hasil yang baik. Orang yang bertanggung jawab juga merupakan seseorang yang siap menanggung resiko atas sesuatu yang dilakukannya.
Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang berani memikul kesalahan dan mampu mempertanggungjawabkan
Peserta didik teknik pemesinan merupakan seorang pemuda yang telah mengerti atas amanah sebagai seorang pelajar. Sebagai contoh mereka telah memahami bahwa apabila peserta didik mampu mengerjakan tugas dengan baik maka, akan memperoleh penilaian yang baik dari guru sebaliknya apabila peserta didik enggan mengerjakan tugas maka, dia akan memperoleh nilai buruk bahkan tidak mendapatkan nilai dari guru. Inilah salah satu bentuk konsekuensi yang harus dialami peserta didik apabila dia mampu bertanggung jawab dan yang tidak bertanggung jawab.
Alhasil, berdasarkan hasil analisa peneliti mendapatkan sebuah gambaran bahwa 47% peserta didik teknik pemesinan telah mampu mengaplikasikan sikap tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan guru saat melaksanakan praktik. Oleh sebab itulah peserta didik teknik pemesinan mampu meningkatkan kualitas kinerjanya. Untuk lebih jelasnya akan digambarkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.17
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Tanggung Jawab Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 25 47%
2. Setuju 21 40%
3. Cukup Setuju 6 11%
4. Tidak Setuju 1 2%
5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
2) Toleransi
Toleransi merupakan salah satu pendidikan budi pekerti yang mendidik peserta didik untuk bisa bersikap menghargai, membiarkan, dan memperbolehkan terhadap segala hal yang bertentangan dengan keadaan dirinya. Lingkungan kelas merupakan suatu keadaan yang terkadang menuntut peserta didik untuk bersaing dalam memperoleh prestasi. Suasana semacam ini terkadang juga mampu membuat seseorang memiliki rasa iri, dengki, dan bahkan malu. Akan tetapi suasana tersebut tidak mungkin terjadi jika seseorang memiliki rasa toleransi yang tinggi. Dengan adanya toleransi peserta didik mampu memahami dan menghargai setiap kemampuan temannya. Oleh sebab itulah, kebanyakan peserta didik mau saling tolong menolong apabila ada teman yang sedang kesulitan dalam menerima pelajaran dari guru.
Keadaan di atas terbukti dengan perolehan angket yang menggambarkan bahwa 55% peserta didik teknik pemesinan menyatakan bahwa ketika merasa kesulitan mereka tidak segan untuk belajar kepada temannya yang dirasa lebih pintar. Hal ini tidak lain bertuan untuk meningkat kualitas kinerja. Untuk lebih jelasnya peneliti menampilkan hasil angket dalam bentuk tabel di bawah ini:
Tabel 3.18
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Toleransi Terhadap Kinerja Praktik (N=53) No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 29 55%
2. Setuju 22 41%
3. Cukup Setuju 1 2%
4. Tidak Setuju 1 2%
5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Pembahasan dan angket di atas membuktikan bahwa mengajarkan pendidikan budi pekerti pada aspek toleransi mampu meningkatkan kinerja peserta didik. Selain itu juga mapu menumbuhkan suasana yang harmonis saat pembelajaran berlangsung. Semua itu dikarenakan apabila seseorang saling memahami dan mengerti akan kemampuan orang yang berbeda maka, orang tersebut tidak akan segan untuk saling membantu dan menyalurkan apa yang ia bisa demi kebaikan semua orang.
3) Rasa kebersamaan dan gotong royong
Rasa kebersamaan dan gotong royong merupakan suatu sikap yang mampu memuculkan sikap saling bekerja sama antar individu. Pendidikan terkait kebersamaan dan gotong royong sangatlah penting diajarkan, terlebih pada peserta didik teknik pemesinan. Hal mana peserta didik teknik pemesinan dituntut untuk lebih bisa berkomunikasi dengan bagian tekniknisi lain untuk memeriksa suatu keadaan mesin.
Tabel di bawah ini memberikan gambaran bahwa peserta
royong dan kebersamaan. Hal ini menandakan bahwa mereka menyetujui bahwa dengan adanya rasa kebersamaan dan gotong royong akan menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan target.
Tabel 3.19
Tanggapan Responden Terhadap Pengaruh Pendidikan Kebersamaan dan Gotong Royong Terhadap Kinerja
Praktik (N=53)
No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 30 57%
2. Setuju 22 41%
3. Cukup Setuju 1 2%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
3. Keadaan Kinerja Praktik Teknik Pemesinan
Kinerja merupakan ukuran keberhasilan peserta didik menghasilkan suatu produk dalam waktu tertentu. Kinerja yang baik akan tercapai apabila peserta didik memiliki kemampuan yang berkompeten dalam bidang kejuruannya dan juga apabila didukung dengan sarana dan prasarana yang ada.
Kinerja seseorang sangat penting untuk selalu ditingkatkan karena berkaitan dengan kualitas dan kuantitas hasil kerja. Apabila peserta didik mampu menunjukkan kinerja yang baik ketika kegiatan praktik maka, ia akan memberikan sesuatu yang lebih baik untuk sekolah. Peserta didik sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 2 Jember telah mampu menghasilkan generasi kejuruan yang memiliki kinerja yang baik. Hal ini terbukti dengan adanya segudang prestasi baik itu yang bersifat regional
maupun nasional. Berikut ini akan dijelaskan mengenai keadaan kinerja peserta didik teknik pemesinan sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri 2 Jember.
a. Mutu Pekerjaan 1) Kualitas
Kualitas merupakan suatu mutu yang dihasilkan baik tidaknya pengukuran kuantitatif yang mencerminkan pengukuran tingkat keputusan yaitu seberapa baik penyelesaian pekerjaan peserta didik saat melaksanakan kegiatan praktik.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan pada teknik pemesinan, dapat diperoleh gambaran bahwa mutu pekerjaan yang dicapai oleh peserta didik sudah memenuhi standar yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah. Hal ini tidak lain dikarenakan penguasaan teori pembelajaran dan juga karena kemampuan peserta didik untuk menggunakan kecerdasan emosional yang ada.
Berikut bukti hasil tanggapan respon terkait pendidikan emosional yang telah diajarkan oleh para pendidik.
Tabel 3.20
Keadaan Kualitas Kinerja Peserta Didik Teknik Pemesinan (N=53)
No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 24 45%
2. Setuju 25 47%
3. Cukup Setuju 3 6%
4. Tidak Setuju 1 2%
5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
Tabel di atas memberikan gambaran bahwa sebagian peserta didik menjawab setuju dengan perolehan persentase sebanyak 47%
yang artinya sangat pentingnya pendidikan emosional yang diajarkan pendidik melalui mata pelajaran kewirausahaan dan ilmu sosial untuk terus diajarkan dan dikembangkan. Hal ini dikarenakan pendidikan emosional dapat mempengaruhi semangat peserta didik untuk meningkatkan kinerjanya, sehingga dalam melaksanakan kegiatan praktik dapat mengurangi kegagalan saat mendemonstrasikan berbagai macam peralatan praktik.
2) Kuantitas
Kuantitas merupakan jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Hal ini berkaitan dengan jumlah pestasi yang diraih peserta didik.
Tabel di bawah ini menggambarkan bahwa 49% peserta didik teknik pemesinan mampu mengerjakan instruksi guru saat praktik dengan baik dan benar. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan emosional dan spiritual dalam hal kesabaran, kedisiplinan, dan pengendalian diri telah mempengaruhi kinerja peserta didik, karena dengan ke tiga sikap tersebut peserta didik mampu melaksanakan kegiatan praktik dengan tertib, teliti, dan mendemonstrasikan alat-alat praktik sesuai dengan instruksi guru.
Tabel 3.21
Gambaran Kuantitas Kinerja Peserta Didik Teknik Pemesinan (N=53)
No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
1 2 3 4
1. Sangat Setuju 26 49%
2. Setuju 17 32%
3. Cukup Setuju 10 19%
4. Tidak Setuju -
-5. Sangat Tidak Setuju -
-Jumlah 53 100%
Sumber: Data Kuesioner Diolah Kembali, 2015
b. Ketangguhan 1) Inisiatif
Inisiatif merupakan salah satu sikap peserta didik untuk memprakarsai dalam artian memengusahakan untuk pertama kalinya menciptakan inovasi terbaru. Kemampuan berinisiatif ini sangat perlu dimiliki oleh peserta didik kejuruan. Hal ini sesuai dengan misi sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri 2 Jember yang mencetak lulusan yang produkti artinya yaitu mampu menghasilkan sesuatu sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Sifat inisiatif tersebut tidak akan muncul apabila peserta didik tidak diajarkan tentang teori bidang keahliannya. Akan tetapi sifat inisiatif bukan sekedar berbicara akan menguasai teori belaka.
Tetapi juga adanya dukungan dari keadaan emosi dan juga motivasi yang tinggi untuk terus belajar serta berusaha untuk bisa berinovasi. Inisiatif adalah suatu proses perpaduan antara teori yang sudah dipelajari dengan keadaan psikis yang baik. Karena,