• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYAKIT GINJAL KRONIK

Dalam dokumen PPK Penyakit Dalam (Halaman 67-73)

Pengertian Kriteria :

1. Kerusakan ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih, berupa kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glumerulus (LFG), berdasarkan : - Kelainan patologik atau

- Petanda kerusakan ginjal, termasuk kelianan pada komposisi darah atau urin atau kelainan pada pemeriksaan pencitraan

2. LFG < 60 ml/menit/1.73 m² yang terjadi selama 3 bulan atau lebih, dengan atau tanpa kerusakan ginjal.

Diagnosis

- Anamnesis : lemas, mual, muntah, sesak nafas, pucat, BAK berkurang

- Pemeriksaan Fisis : anamesis, kulit kering, edema tungkai atau palpebra, tanda bendungan paru

- Laboratorium : gangguan fungsi ginjal

Batasan dan Stadium Penyakit Kronik

LFG Dengan kerusakan tanpa kerusakan

(ml.menit/1,73 m²) Ginjal Ginjal dengan hipertensi tanpa hipertensi dengan hipertensi tanpa hipertensi ≥ 90 1 1 hipertensi "Normal" 0 - 89 2 2 hipertensi ↓ LFG 0 - 59 3 3 + ↓ LFG 3 5 - 29 4 4 3 4 < 15 (atau dialisis) 5 5 4 5 5

Diagnosis Banding Gagal ginjal akut

Pemeriksaan Penunjang

DPL, ureum, kreatinin,UL, CCT ukur, elektrolit (Na, K, Cl, Ca, P, Mg),

Profil lipid, asam urat, gula darah, AGD, SI, TIBC, feritin serum, kormon PTH, albumin, globulin, USG ginjal, pemeriksaan imunologi, hemostasis lengkap, foto polos abdomen, renogram, foto thoraks, EKG, ekokardiografi, biopsi ginjal, HbsAG, Anti HCV, anti HIV

Terapi

Non farmakologis :

♣ Pengaturan asupan protein :

- Pasien non dialisis 0.6-0.75 gram/kgBB ideal/hari sesuai dengan CCT dan toleransi pasien

- Pasien hemodialisis 1-1.2 gram/kgBB ideal/hari - Pasien peritoneal dialisis 1.3 gram/kgBB/hari ♣ Pengaturan asupan kalori : 3 kal/kg/BB ideal/hari

♣ Pengaturan asupan lemak : 30 – 40 % dari kalori total dan mengandung jumlah yang sama antara asam lemak bebas jenuh dan tidak jenuh

♣ Pengaturan asupan karbohidrat : 50 – 60% dari kalori total ♣ Garam (NaCl) : 2 – 3 gram/hari

♣ Kalsium : 1400 – 1600 mg/hari

♣ Fosfor : 5 – 10 mg/kgBB/hari. Pasien HD : 17 mg/hari ♣ Kalsium : 1400-1600 mg/hari

♣ Besi : 10 – 18 mg/hari

♣ Magnesium : 200-300 mg/hari ♣ Asam folat pasien HD : 5 mg

♣ Air : jumlah urin 24 jam + 500 ml (insensible water loss)

Pada CAPD air disesuaikan dengan jumlah dialisat yang keluar. Kenaikan berat badan di antara waktu HD < 5% BB kering

Farmakologis :

♣ Kontrol tekanan darah :

- Penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II  evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin > 35 % atau timbul hiperkalemi harus dihentikan.

- Penghambat kalsium - Diuretik

♣ Pada pasien DM, kontrol gula darah  hindari pemakaian metformin dan obat – obat sulfonilurea dengan masa kerja panjang. Target HbA1C untuk DM tipe 1 0.2 di atas nilai normal tertinggi, untuk DM tipe 2 adalah 6%

♣ Koreksi anemia dengan target Hb 10 -12 g/dl

♣ Kontrol hiperfosfatemi : kalsium karbonat atau kalsium asetat ♣ Kontrol osteodistrofi renal : kalistriol

♣ Koreksi asidosis metabolik dengan target HCO, 20 – 22 mEq/l ♣ Koreksi hiperkalemi

♣ Kontrol dislipidemia dengan target LDL<100 mg/dl, dianjurkan golonga statin ♣ Terapi ginjal pengganti

Komplikasi

Kardiovaskular, gangguan keseimbangan asam basa, cairan dan elektrolit, osteodistrofi renal, anemia

Prognosis Dubia

HIPERTENSI

Pengertian :

Tekanan darah yang sama atau melebhi 140 mmHg sistolik dan/atau sama atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang makan obat antihipertensi

Klasifikasi Tekanan Darah Berdasrkan JNC VII :

________________________________________________________________________

Klasifikasi TD Sistolik TD diastolik

(mmHg) (mmHg)

_________________________________________________________________________

Normal < 120 dan < 80

Pre- hipertensi 120 – 139 atau 80 – 89

Hipertensi stage 1 140 – 159 atau 90 – 99

Hipertensi stage 2 ≥ 160 atau ≥ 100

_________________________________________________________________________

Diagnosis

 Klasifikasi berdasarkan hasi rata – rata pengukuran tekanan darah yang dialkukan minimal 2 kali tiap kunjungan pada 2 kali kunjungan atau lebih dengan menggunakan

cuff yang meliputi minimal 80% lengan ata pada pasien dengan posisi duduk dan telah

beristirahata 5 menit.

 Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5

 Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer

 Pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri diindikasikan pada pasien dengan risiko hipotensi postural (lanjut usia, pasien DM, dll)

 Faktor risiko kardiovaskular - Hipertensi

- Merokok

- Inaktivitas fisik - Dislipidemia - Diabetes melitus

- Mikroalbuminuria ata LFG < 60 ml/menit

- Usia (laki – laki > 55 tahun, perempuan > 65 tahun

- Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular dini ( laki – laki < 55 tahun atau perempuan < 65 tahun)

 Kerusakan organ sasaran :

- Jantung : hipertrofi ventrikel kiri, angina atau riwayat infark miokard, riwayat revaskularisasi koroner, gagal jantung

- Otak : strok atau transient ischemic attack (TUA) - Penyakit ginjal kronik ’penyakit ateri perifer - Retinopati

 Penyebab hipertensi yang telah diidentifikasi : sleep apnea, alkibat obat atau berkaitan dengan obat, penyakit ginjal kronik dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasi aorta, penyakit tiroid atau paratiroid

Diagnosis Banding

peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertansion, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll

Pemeriksaan Penunjang

Utrinalisis, tes fungsi ginjal, gula darah, elekrolit, profil lipid, foto thoraks, EKG, sesuai penyakit ppenyerta : asam urat, aktivitas renin plasma, aldosteron, katekolamin, urin, USG pembuluh darah besar, USG ginjal, akekordiografi

Terapi :

 Pada penggunaan penghambat ACE atau antagonis reseptor All : evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin > 35% atau timbul hiperkalemi harus dihentikan.

 Kondisi khusus lain :

 Obesitas dan sindrom metabolik (tedapat 3 atau lebih keadan berikut : lingkar pinggang laki – laki > 102 cm atau perempuan > 89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan gula darah puasa ³110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi ³150 mg/dl, kolesterol HDL rendah < 40 mg/dl pada laki – laki atau < 50 mg/dl pada perempuan)  modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan penghambat ACE. Pilihan lain adalah antagonis reseptor All, penghambat kalsium, dan penghambat α

 Hipertrofi ventrikel kiri  tatalaksana tekanan darah yang agresif termasuk penurunan berat badan, retriksi asupan natrium dan terapi dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil

 Penyakit arteri perifer  semua kelas anti hipertensi, tatalaksana faktor risiko lain, dan pemberian aspirin.

 Lanjut usia, termasuk penderita hipertensi sistolik terisolasi  diuretika (tiazid) sebagai lini pertama, dimulai dengan dosis rendah 12.5 mg/ari. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit penyerta

 Kehamilan  pilihan terapi adalah golongan metildopa, penyekat reseptor β, antagonis kalsium dan vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AH tidak boleh digunakan selama kehamilan

Komplikasi

Hipertrofi ventrikel kiri, proteinuria dan gangguan fungsi ginjal, ateroskleosis pembuluh darah, retinopati, stroke atau TIA, infark miokard, angina poctoris, gagal jantung.

Prognosis Bonam

KRISIS HIPERTENSI

Dalam dokumen PPK Penyakit Dalam (Halaman 67-73)

Dokumen terkait