• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit Tidak Menular

Dalam dokumen Ind p PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2008 (Halaman 79-85)

E. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT

3. Penyakit Tidak Menular

TABEL 3.21

JUMLAH KASUS HEPATITIS C DI INDONESIA TAHUN 2008

No Provinsi Jumlah Kasus

1 DKI Jakarta 2,810 2 Jawa Barat 960 3 Jawa Timur 621 4 Bali 576 5 Sulawesi Selatan 571 6 Jawa Tengah 418 7 Sumatera Utara 233 8 Sumatera Selatan 226 9 Kalimantan Barat 195 10 Sulawesi Utara 111 11 DI Yogyakarta 91 12 Banten 85 13 Riau 81 14 Papua 60 15 Sumatera Barat 47 16 Lampung 44 17 Kepulauan Riau 39 18 Kalimantan Timur 24

19 Nusa Tenggara Barat 21

20 Kalimantan Selatan 14

21 Jambi 8

7,235 Indonesia

Sumber : Ditjen PP-PL, Depkes RI

3. Penyakit Tidak Menular

Pola penyebab kematian di Indonesia menunjukkan peningkatan proporsi kematian disebabkan penyakit tidak menular. Bila dibandingkan hasil SKRT 1995, SKRT 2001 dan Riskesdas 2007 terlihat proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat sedangkan proporsi penyakit menular telah menurun. Proporsi kematian akibat penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44% menjadi 28%, dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42% menjadi 60%. Menurut hasil Riskesdas 2007, stroke, hipertensi, penyakit jantung iskemik dan penyakit jantung lainnya adalah penyakit tidak menular utama penyebab kematian.

TABEL 3.22

PROPORSI PENYEBAB KEMATIAN ANTARA PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR TAHUN 1980-2001 1980 1986 1992 1995 2001 Menular 69.49% 60.48% 50.72% 48.46% 44.57% Tidak Menular 25.41% 33.83% 43.60% 45.42% 48.53% Jenis Penyakit Tahun

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Ruang lingkup pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah meliputi: hipertensi essensial, penyakit ginjal hipertensi, penyakit jantung hipertensi, stroke, gagal jantung, penyakit jantung koroner (PJK), kardiomiopati, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, dan infark miocard akut.

Angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah cenderung meningkat dan dapat menimbulkan kecacatan dan kematian. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah dengan metode intervensi yang efektif dengan perubahan perilaku kesehatan dan penatalaksanaan yang tepat. Oleh karena itu pengendalian penyakit jantung dan pembuluh darah perlu mendapat perhatian di bidang kesehatan masyarakat. Di negara maju terjadi kecenderungan penurunan kasus penyakit jantung dan pembuluh darah dengan perbaikan gaya hidup dan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap kesehatan. Sementara di negara berkembang terdapat kecenderungan peningkatan kasus yang disebabkan gaya hidup, urbanisasi dan peningkatan usia lanjut.

1) Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah >140 mm Hg (tekanan sistolik) dan/atau >90 mmHg (tekanan diastolik) (Joint National Committe on

Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII, 2003). Hipertensi

berkontribusi secara substansial terhadap risiko penyakit lain antara lain jantung koroner, trombo-embolik, dan stroke dapat mengakibatkan timbulnya kerusakan jantung, otak dan ginjal.

Hipertensi merupakan penyakit sirkulasi darah yang merupakan kasus terbanyak pada rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit. Hasil pencatatan dan pelaporan rumah sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah Sakit) menunjukkan kasus baru penyakit sistem sirkulasi darah terbanyak pada kunjungan rawat jalan maupun jumlah pasien keluar rawat inap dengan diagnosis penyakit Hipertensi tertinggi pada tahun 2007

Hasil Riskesdas 2007 prevalensi Hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Menurut provinsi, prevalensi Hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%).

2) Penyakit Jantung

Penyakit Jantung meliputi berbagai penyakit yang mengganggu fungsi jantung. Riskesdas 2007 mendata penyakit Jantung yang berdasarkan jawaban pertanyaan adanya riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan dan adanya gejala yang mengarah ke penyakit jantung kongenital, angina, aritmia dan dekompensasi kordis. Diperoleh hasil prevalensi penyakit Jantung di Indonesia berdasarkan wawancara sebesar 7,2%, berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0,9%. Cakupan kasus Jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12,5% dari semua responden yang mempunyai gejala subyektif menyerupai gejala penyakit Jantung.

Hasil pencatatan dan pelaporan rumah sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah Sakit) menunjukkan jumlah kasus baru kunjungan rawat jalan dan jumlah pasien rawat inap penyakit Jantung pada pada tahun 2007 sebagai berikut.

GAMBAR 3.37

JUMLAH PASIEN PENYAKIT JANTUNG DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik

Dari grafik di atas terlihat kasus terbanyak adalah penyakit Jantung Iskemik lainnya, jika ditambah kasus Infark Miokard Akut maka semakin jelas bahwa kasus terbanyak adalah kasus penyakit Jantung Iskemik atau yang biasanya lebih dikenal sebagai penyakit Jantung Koroner. Sedangkan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi terjadi pada Infark Miokard Akut (13,49%), Gagal Jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya (13,37%).

GAMBAR 3.38

CFR PENYAKIT JANTUNG DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik

3) Penyakit Pembuluh Darah Otak

Penyakit pembuluh darah otak merupakan penyakit dengan kejadian, kecacatan dan kematian yang cukup tinggi. Stroke merupakan penyakit pembuluh darah otak dengan jumlah pasien terbanyak pada rawat jalan (jumlah kasus baru) maupun rawat inap (jumlah pasien keluar) seperti tergambar pada grafik di bawah ini.

GAMBAR 3.39

JUMLAH PASIEN PENYAKIT PEMBULUH DARAH OTAK DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik

CFR penyakit pembuluh darah otak pada pasien rawat inap di rumah sakit juga tinggi berkisar 11,2% pada infark serebral hingga tertinggi 34,46% pada perdarahan intrakranial. Stroke tak menyebut perdarahan atau infark dan perdarahan intrakranial merupakan penyebab kematian terbanyak di rumah sakit pada tahun 2007 masing-masing 5,24% dan 3,99% dari seluruh kematian di rumah sakit. CFR dari penyakit pembuluh darah otak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

GAMBAR 3.40

CFR PENYAKIT PEMBULUH DARAH OTAK DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Yanmedik, 2009

Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8,3 per 1.000 penduduk, dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1.000 penduduk. Hal ini menunjukkan sekitar 72,3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di Nanggroe Aceh

Darussalam (16,6‰ atau 16,6 per 1.000 penduduk) dan terendah di Papua (3,8‰/ atau 3,8 per 1.000 penduduk).

b. Diabetes Melitus (DM)

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh atau bisa disebutkan sebagai suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat.

Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin.

Menurut para pakar jumlah penderita atau penyandang DM dari tahun ke tahun meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat.

International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems

(ICD-10) membagi DM menjadi lima kelompok, yaitu: 1. DM bergantung insulin (termasuk DM tipe 1) 2. DM tidak bergantung insulin (termasuk DM tipe 2) 3. DM berhubungan malnutrisi

4. DM YDT lainnya (DM yang ditentukan lainnya=Other specified DM) 5. DM YTT (DM yang tidak tentu= unspecified diabetes mellitus)

Jumlah kasus baru kunjungan rawat jalan rumah sakit pada tahun 2007 adalah 28.095 kasus. Keseluruhan DM menyebabkan 4.162 kematian atau CFR sebesar 7,02%. Dari kelima jenis DM, DM YTT dan DM tidak bergantung insulin yang masuk dalam 50 peringkat utama penyebab kematian, rawat inap dan rawat jalan di RS di Indonesia selama tahun 2007. DM YTT merupakan 2,34% penyebab kematian, 1,21% penyebab rawat inap dan 0,89% kunjungan rawat jalan di rumah sakit pada tahun 2007. Sedangkan DM tidak bergantung insulin merupakan 1,34% penyebab kematian, 0,56% penyebab rawat inap dan 0,48% kunjungan rawat jalan. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

TABEL 3.23

SITUASI PENYAKIT DM DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2007

Jumlah % * Jumlah % * Jumlah % *

DM YTT 2,178 2.34 35,513 1.21 79,016 0.89

DM tidak bergantung 1,247 1.34 14,989 0.56 43,104 0.48

4,162 (CFR=7,38

56,378

Jenis DM Kematian Rawat Inap Rawat Jalan

28.095 kasus baru Semua DM

Ket: %* adalah persentase dari seluruh kematian atau dari seluruh pasien rawat inap atau dari seluruh kunjungan rawat jalan rumah sakit

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, 2009

Riskesdas 2007 melakukan wawancara dan pemeriksaan kadar glukosa darah pada sejumlah sampel usia 15 tahun ke atas di daerah perkotaan, dengan diagnosis DM

menggunakan kriteria WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003, yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan < 140 mg/dl didiagnosis tidak DM, 140 - < 200 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) dan > 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM). Diperoleh hasil prevalensi total DM pada penduduk perkotaan (gabungan persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM dan persentase responden yang baru terdiagnosis dalam Riskesdas) sebesar 5,7%, namun hanya 1,5% (kira-kira 26% dari total DM) yang telah mengetahui dirinya menderita DM sebelum pemeriksaan Riskesdas. Sedangkan prevalensi TGT diperoleh 10,2%. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1%), diikuti Riau (10,4 %) dan Nanggroe Aceh Darussalam (8,5%). Prevalensi DM terendah di Papua (1,7%), diikuti NTT (1,8%). Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 157 (21,8%), diikuti Sulawesi Barat (17,6%), dan Sulawesi Utara (17,3%), sedangkan terendah di Jambi (4%), diikuti NTT (4,9%) .

Hasil Riskesdas 2007 tampaknya lebih rendah dibandingkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 yang mendapatkan hasil prevalensi DM adalah 1.2%, tahun 2001 sebesar 7.5% dan tahun 2003 sebesar 14,7% di perkotaan dan 7.2% di perdesaan.

Jumlah pasien keluar rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan diagnosis DM tahun 2007 sebanyak 56.378 pasien dengan CFR 7,38%, sedangkan kasus baru pada rawat jalan sebanyak 28.095 kasus.

c. Neoplasma/Tumor

Neoplasma atau tumor adalah pembengkakan atau luka yang terjadi karena pertumbuhan sel yang abnormal. Tumor bisa berupa benign, pre-malignant dan malignant. Tipe malignant inilah yang yang biasa disebut dengan kanker.

Data penyakit neoplasma/tumor ganas atau kanker diperoleh dari data pasien di rumah sakit. Data yang tersedia adalah data jumlah pasien keluar rawat inap dengan diagnosis kanker, jadi tidak menunjukkan jumlah kasus kanker yang dirawat. Meskipun data ini belum menunjukkan jumlah pasti penderita kanker, namun data ini dapat memberikan gambaran besaran masalah kanker di Indonesia.

Sepuluh peringkat utama penyakit neoplasma ganas pasien rawat inap di rumah sakit sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 tidak banyak berubah. Tiga peringkat pertama adalah neoplasma ganas payudara disusul neoplasma ganas serviks uterus dan neoplama ganas hati dan saluran empedu intrahepatik. Neoplasma ganas colon yang pada tahun sebelumnya peringkat 8 menjadi peringkat 9 bertukar peringkat dengan neoplasma ganas daerah rektosigmoid rectum. Grafik 10 peringkat utama penyakit neoplasma ganas dalam 4 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut ini.

GAMBAR 3.41

10 PERINGKAT UTAMA PENYAKIT KANKER PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2004-2007

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes

Riskesdas 2007 mendata responden yang pernah didiagnosis menderita tumor/kanker oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan jawaban responden, diperoleh hasil prevalensi nasional penyakit Tumor/Kanker adalah 0,43%, tertinggi di Provinsi DI Yogyakarta (0,96%) dan terendah di Maluku (0,15%).

Dalam dokumen Ind p PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2008 (Halaman 79-85)