BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Hepatitis B adalah suatu peradangan pada hati yang terjadi karena agen penyebab infeksi, yaitu virus hepatitis B.13 Penularan secara parental terjadi melalui suntikan, tranfusi darah, operasi, tusuk jarum, rajah kulit (tattoo), dan hubungan seksual, serta melalui transmisi vertikal dari ibu ke anak. Masa inkubasinya sekitar 75 hari. Terdapat beberapa fase perkembangan penyakit ini, yaitu fase prodromal dimana terdapat keluhan yang tidak khas seperti mual, anoreksia, demam dan fase ikterik yaitu air seni berwarna seperti teh, kulit menguning.23 Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan Cirrhosis hepatis, kanker hati dan dapat menimbulkan kematian.13,22
Pada tahun 2009 di Amerika Serikat, 3.371 kasus infeksi HBV akut dilaporkan nasional, dan diperkirakan 38.000 kasus baru infeksi HBV terjadi setelah memperhitungkan tidak dilaporkan dan tidak didiagnosis. Dari 4.519 orang dilaporkan dengan infeksi HBV akut pada 2007, sekitar 40% dirawat di rumah sakit dan 1,5% meninggal. HBV dapat menyebabkan infeksi kronis, yang dapat menyebabkan sirosis hati, gagal hati, kanker hati, dan kematian.28
Imunisasi Hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B, yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak hati yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair.13 Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah tiga kali. Waktu pemberiannya pada umur 0-11 bulan dan diberikan melalui intramuskular.15
2.5.2. Tuberkulosis
Adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penularannya melalui pernafasan, lewat percikan ludah waktu batuk, bersin atau bercakap-cakap dan melalui udara yang mengandung kuman TBC (karena meludah disembarang tempat), dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa dengan BTA positif.13 Gejala utama pada tersangka TBC adalah batuk berdahak lebih dari tiga minggu, batuk berdarah, sesak nafas, dan nyeri dada. Gejala lainnya adalah berkeringat pada malam hari, demam tidak tinggi/meriang, dan penurunan berat badan.23 Kelompok yang paling rawan terinfeksi bakteri TBC adalah anak usia kurang dari 1 tahun.13
Berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan jumlah penderita Tuberkulosis di Indonesia sekitar 528 ribu atau berada di posisi tiga di dunia setelah India dan Cina. Laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia.25
Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. TBC yang berat contohnya adalah TBC selaput otak, TBC Miller (pada seluruh lapangan paru), dan TBC tulang. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan.15 Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan waktu pemberian imunisasi BCG pada umur 0-11 bulan.
Cara pemberian imunisasi BCG ini dilakukan melalui intra dermal. Efek samping pada BCG dapat berupa terjadinya ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional, serta reaksi panas.16
2.5.3. Poliomielitis
Adalah penyakit yang menyerang susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio tipe 1, 2, atau 3.23 Semua tipe dapat menyebabkan paralisis (lumpuh) atau yang lebih dikenal sebagai kasus AFP, tetapi yang paling paralytogenic adalah tipe1.23,27 Nama lain penyakit polio antara lain Acute Flaccid Paralysis (AFP), Poliomyelitis anterior akut, Paralisis infantile, atau Penyakit Heine-Medin.22 Masa inkubasi polio biasanya 7-14 hari dengan rentang 3-35 hari. Manusia merupakan satu-satunya reservoir dan merupakan sumber penularan. Penularannya melalui makanan atau alat-alat terkontaminasi feses penderita polio (fecal oral transmission).27
Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di tungkai dan lengan. Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.2 Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Namun, pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN. Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai puncaknya, sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan Indonesia terserang penyakit polio, 349 di antaranya terjadi di Indonesia. Tahun 2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan,
sehingga hanya ditemukan 4 penderita di kawasan ini, 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. Pada tahun 2007, di antara negara-negara anggota ASEAN, hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio.2
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.13,15 Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah empat kali. Waktu pemberian imunisasi polio adalah pada umur 0-11 bulan atau saat lahir (0 bulan), dan berikutnya pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan.13 Cara pemberian imunisasi polio melalui oral.13,15
2.5.4. Difteri
Difteri adalah salah satu penyakit infeksi akut yang sangat menular dan disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae dengan gejala panas ≥ 38°C disertai adanya pseudomembran (selaput tipis) putih keabu-abuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) dan kadang-kadang pada kulit, konjungtiva, genitalia dan telinga yang tidak mudah lepas dan mudah berdarah. Dapat disertai nyeri menelan, leher membengkak seperti leher sapi (bullneck) dan sesak nafas disertai bunyi (stridor).19,22
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia dan masih endemik di negara berkembang, akan tetapi jumlah penderita sangat menurun setelah vaksinasi yang ekstensif.13 Di Indonesia, jumlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate (IR) per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur < 1 tahun memiliki IRsebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000penduduk.2
Penyakit ini terutama menyebar pada daerah padat penduduk dan mengenai individu yang tidak diimunisasi. Penularan melalui kontak langsung dengan karier atau penderita, bakteri masuk melalui hidung dan mulut dan akan menempel di mukosa saluran nafas bagian atas. Setelah masa inkubasi selama 2-4 hari, bakteri megeluarkan toksin yang menyebabkan nekrosis (kematian sel) pada jaringan sekitar. Jaringan yang terkena semakin luas dan dalam, kemudian mengeluarkan cairan fibrin berwarna abu-abu yang membentuk selaput (membran) melapisi jaringan. Selain itu juga terjadi pembengkakan jaringan di bawahnya sehingga dapat menyebabkan kesulitan bernafas bila edema ini terjadi di laring atau trakeobronkial. Toksin yang diproduksi bakteri akan menyebar melalui darah dan cairan limfe ke seluruh tubuh dan menimbulkan kerusakan terutama di jantung, sistem saraf dan ginjal yang dapat menyebabkan kematian.13,22
Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya, akan tetapi dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid). Frekuensi pemberian imunisasi DPT adalah tiga kali, dengan maksud pada
pemberian pertama zat anti yang terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan terhadap vaksin) dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti, pemberian kedua dan ketiga, terbentuk zat anti yang cukup. Waktu pemberian imunisasi DPT antara umur 2-11 bulan dengan interval 4 minggu. Imunisasi DPT diberikan melalui intramuskular. Pemberian imunisasi DPT ini dapat berefek samping ringan ataupun berat. Efek ringan dapat berupa pembengkakan, nyeri pada tempat penyuntikan, dan demam. Sedangkan efek beratnya misalnya terjadi menangis hebat, kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, ensefalopati, dan syok.15
2.5.5. Pertusis
Adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular, disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Disertai gejala batuk beruntun dan pada akhir batuk menarik nafas panjang terdengar suara “hup” (whoop) yang khas, biasanya disertai muntah.22,24 Arti kata pertusis adalah batuk yang intensif, sehingga penyakit ini sering disebut batuk rejan, whooping cough, tussin Quinta, violent cough, atau “batuk 100 hari” karna sifat batuknya yang lama dan khas.23
Pertusis ditularkan melalui udara secara droplet, bahan droplet, atau memegang benda-benda yang terkontaminasi dengan sekret nasofaring (jarang). Manusia merupakan satu-satunya pejamu organisme ini. Masa inkubasi penyakit ini 6-20 hari (rata-rata 7 hari).22,23 Pertusis sangat mudah menular pada populasi yang tidak imun, bahkan dikatakan bahwa penularannya 100%.13 Penyebaran penyakit ini terdapat di seluruh dunia dan dapat menyerang semua umur mulai umur 2 minggu sampai 77 tahun dan terbanyak pada penderita di bawah 1 tahun. Semakin muda usia, semakin berbahaya penyakitnya.
Pertusis lebih sering menyerang anak perempuan daripada anak laki-laki. Banyak peneliti mengemukakan bahwa bayi kulit hitam pada usia muda mempunyai insidensi yang lebih tinggi daripada bayi kulit putih, diduga perbedaan rasial ini dihubungkan dengan tingkat kekebalan. Komplikasi utama yang sering ditemukan adalah pneumonia, gangguan neurologis berupa kejang dan ensefalopati akibat hipoksia. Komplikasi ringan lainnya antara lain otitis media, anoreksia, dehidrasi, dan juga akibat tekanan intraabdominal yang meningkat saat batuk seperti epistaksis, hernia, perdarahan konjungtiva dan lainnya.22
2.5.6. Tetanus
Tetanus atau lockjaw merupakan penyakit akut yang menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan oleh racun tetanospasmin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Penyakit ini ditandai dengan kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.22 Gejala awal yang muncul adalah kekakuan otot rahang untuk mengunyah, sehingga anak sukar membuka mulut untuk makan dan minum (trismus). Kekauan ini pada neonatus sering menyulitkan saat menyusui karena mulut bayi “mencucu” seperti mulut ikan. Gejala lain seperti sulit menelan, kekakuan otot wajah, kekakuan otot tubuh (punggung, leher, dan badan) sehingga tubuh dapat melengkung seperti busur, kekakuan otot perut dan kejang-kejang.23 Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke tubuh melalui luka yang terkontaminasi dengan debu, tanah, tinja binatang atau pupuk. Cara masuknya spora ini melalui luka yang terkontaminasi antara lain: luka tusuk (oleh besi, kaleng, paku), luka bakar, luka lecet, otitis media, infeksi gigi, ulkus kulit yang kronis, abortus, dan pemotongan tali pusat (tetanus neonatorum).22
Masa inkubasi tetanus umumnya antara 3-21 hari, namun terdapat variasi masa inkubasi yang lebar, dapat singkat hanya 1-2 hari, dan kadang-kadang lebih dari 1 bulan.13,22 Derajat berat penyakit selain berdasarkan gejala klinis yang tampak juga dapat diramalkan dari lama masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi makin jelek prognosisnya.22
Di negara yang telah maju seperti Amerika Serikat, tetanus sudah sangat jarang dijumpai, karena imunisasi aktif telah dilaksanakan dengan baik, di samping sanitasi lingkungan yang bersih. Sedangkan di negara sedang berkembang termasuk Indonesia, penyakit ini masih banyak dijumpai karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan, mudah terjadinya kontaminasi, perawatan luka yang kurang diperhatikan, dan kurangnya kekebalan terhadap tetanus. Penyakit ini dapat mengenai semua umur. Beberapa peneliti melaporkan angka kejadian lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki dengan perbandingan 3:1, akibat perbedaan aktivitas fisiknya.22 Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76 orang dengan demikian CFR tetanus neonatorum di Indonesia pada tahun 2009 sebesar 48,1%.2
2.5.7. Campak
Penyakit campak ( disebut juga rubeola, measles, atau morbilli) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, dengan gejala awal demam, batuk, pilek, konjungtivitis (mata merah), yang kemudian diikuti dengan bercak kemerahan pada kulit (rash). Masa inkubasinya antara 10-12 hari.23,26
Penyakit ini disebabkan oleh virus campak, dari famili Paramyxovirus, genus Morbillivirus. Virus campak mudah menularkan penyakit. Virulensinya sangat tinggi
terutama pada anak yang rentan dengan kontak keluarga, sehingga hampir 90% anak rentan akan tertular. Campak ditularkan melalui droplet di udara oleh penderita sejak 1 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari sesudah munculnya ruam.23,26 Campak biasanya menyerang anak-anak dengan derajat ringan sampai sedang.23
Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan, yaitu gizi buruk dan daya tahan yang menurun. Penyakit ini terutama menyerang golongan umur 5-9 tahun, tetapi di negara yang belum berkembang insiden tertinggi pada umur di bawah 2 tahun. Tidak ada perbedaan jenis kelamin terhadap insiden campak.22
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52, diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000 penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk.2
Imunisasi campak adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak, karena penyakit ini sangat menular. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.13 Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah satu kali pada umur 9-11 bulan. Cara pemberian imunisasi campak ini melalui subkutan. Imunisasi ini memiliki efek samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan demam. Campak hanya diderita sekali seumur hidup. Angka kejadian campak juga sangat tinggi dalam memengaruhi angka kesakitan dan kematian anak.15