• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PENGENDALIAN PENYAKIT

3.6 Penyakit Yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi

Tetanus Neonatorum adalah Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, disusul dengan kejang–kejang.

Penyebab tetanus neonatorum adalah clostridium tetani yang merupakan kuman gram positif, anaerob, bentuk batang dan ramping.

Kuman tersebut terdapat ditanah, saluran pencernaan manusia dan hewan. Kuman clostridium tetani membuat spora yang tahan lama dan menghasilkan 2 toksin utama yaitu tetanospasmin dan tetanolysin.

Kasus tetanus neonatorum selama kurun waktu 5 tahun terakhir hanya terdeteksi di tahun 2014 yaitu 1 kasus di kabupaten Karimun.

Tahun 2015 ini tidak terdapat kasus tetanus neonatorum.

4.6.2 CAMPAK

Campak adalah infeksi yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini akan memunculkan ruam di seluruh tubuh dan sangat menular. Campak bisa sangat mengganggu dan mengarah pada komplikasi yang lebih

serius. Gejala campak mulai muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh.

Gejala campak yang biasanya muncul adalah: Mata merah, Mata menjadi sensitif terhadap cahaya, Gejala menyerupai pilek seperti radang tenggorokan, hidung beringus atau tersumbat, mengalami demam, bercak putih keabu-abuan pada mulut dan tenggorokan.

Bercak atau ruam berwarna merah-kecokelatan akan muncul di kulit setelah beberapa hari kemudian. Urutan kemunculan bercak ini dari belakang telinga, sekitar kepala, kemudian ke leher. Pada akhirnya ruam akan menyebar ke seluruh tubuh.

Program imunisasi campak di Indonesia dimulai tahun 1982.

Menurut Riskesdas tahun 2010, anak-anak Indonesia berusia 1-2 tahun yang mendapat imunisasi campak mencapai rata-rata 74,4 persen.

Sedangkan, capaian imunisasi campak di Indonesia hingga bulan Desember tahun 2013 adalah sebesar 90,82%. Meski capaian imunisasi campak di Indonesia telah mencakupi 90%, WHO melaporkan terdapat sekitar 6,300 kasus campak di Indonesia pada tahun 2013.

Penyakit ini disebut juga rubeola atau campak merah. Telah tersedia vaksin untuk mencegah penyakit ini. Vaksin untuk campak termasuk dalam bagian dari vaksin MMR (campak, gondongan, campak Jerman).Vaksinasi MMR adalah vaksin gabungan untuk campak, gondongan, dan campak Jerman. Vaksinasi MMR diberikan dua kali.

Pertama diberikan ketika anak berusia 15 bulan dan dosis vaksin MMR berikutnya diberikan saat mereka berusia 5-6 tahun atau sebelum memasuki masa sekolah dasar. Vaksin memiliki fungsi yang cukup penting dalam mencegah campak.

Gambar 3.3 Jumlah Kasus Campak

Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011-2015

Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Tahun 2011 - 2015

Gambar diatas menunjukkan jumlah kasus Campak selama kurun waktu 5 tahun. Dapat dilihat bahwa jumlah kasus Campak yang terdata fluktuatif, tahun 2011 sebesar 561 kasus, menurun ditahun 2012 menjadi 331 kasus, naik kembali ditahun 2013 menjadi 409 kasus, meningkat lagi ditahun 2014 menjadi 491 kasus dan turun kembali ditahun 2015 menjadi 249 kasus.

Menurut data Kabupaten/Kota, tahun 2015 kasus Campak tertinggi adalah di Kota Batam 163 kasus Campak, kemudian berikutnya di Bintan 27 kasus, dan yang terendah adalah Kabupaten Kepulauan Anambas dengan tidak ada kasus Campak yang ditemukan. Gambaran lengkap kasus Campak menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada lampiran profil tabel 20.

Difteri disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans. Masa inkubasi (saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) penyakit ini umumnya dua hingga lima hari.

Gejala-gejala yang mengindikasikan penyakit ini meliputi:

Terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

Demam dan menggigil.

Sakit tenggorokan dan suara serak.

Sulit bernapas atau napas yang cepat.

Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.

Lemas dan lelah.

Hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Vaksin DPT adalah salah satu dari lima imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan lima kali pada saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 1,5-2 tahun, dan lima tahun.

Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidupnya. Tetapi vaksinasi ini dapat diberikan kembali pada saat anak memasuki masa remaja atau tepatnya saat berusia 11-18 tahun untuk memaksimalisasi keefektifannya.

Penderita difteri yang sudah sembuh juga disarankan untuk menerima vaksin karena tetap memiliki risiko untuk kembali tertular penyakit yang sama.

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2011-2015) pelaporan kasus Difteri ada ditahun 2012 dan 2013 dengan jumlah 1 kasus dan ditemukan di Kota Tanjungpinang.

4.6.4 POLIO DAN AFP (ACUTE FLACID PARALYSIS/LUMPUH LAYU AKUT)

Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan bernapas, kelumpuhan, dan pada sebagian kasus menyebabkan kematian.

Sejak awal tahun 2014, WHO (World Health Organization) telah menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara yang bebas dari penyakit ini berkat program vaksinasi polio yang luas. Kebanyakan penderita polio tidak menyadari bahwa diri mereka terinfeksi karena virus polio pada awalnya hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak sama sekali, dan tidak membuat mereka menjadi sakit.

Penyakit polio disebabkan oleh virus yang umumnya masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja dan virus polio.

Sama halnya seperti cacar, polio hanya menjangkiti manusia. Dalam

tubuh manusia, virus polio menjangkiti tenggorokan dan usus. Selain melalui kotoran, virus polio juga bisa menyebar melalui tetesan cairan yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.

Imunisasi atau pemberian vaksin polio dapat meminimalisasi terjangkit virus polio. Anak-anak, wanita hamil dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, sangat rentan terkena virus polio jika di daerah mereka tidak terdapat program imunisasi atau tidak memiliki sistem sanitasi yang bersih dan baik.

Polio dapat dicegah dengan vaksinasi yang bisa memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Anak-anak harus diberikan empat dosis vaksin polio tidak aktif, yaitu pada saat mereka berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan antara 1.5-2 tahun.

Vaksin polio dengan virus tidak aktif memiliki kemungkinan mendekati 100 persen untuk secara efektif mencegah polio setelah tiga kali penyuntikan, dan aman bagi orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah.

Jumlah kasus AFP (non polio) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 berjumlah 14 kasus dengan rincian Kabupaten Karimun 1 kasus, Kabupaten Bintan 1 kasus, Kabupaten Lingga 1 kasus, Kota Batam 7 kasus, dan Kota Tanjungpinang 3 kasus.

Berdasarkan penghitungan jumlah penduduk di bawah 15 tahun (678.654 Jiwa) maka target penemuan kasus AFP di Kepulauan Riau seharusnya sebanyak 12 kasus. Penemuan kasus tahun 2015 adalah 14 kasus, diasumsikan bahwa indikator penemuan kasus AFP di Provinsi Kepulauan Riau telah mencapai target.

Dokumen terkait