BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Penyebab Kegagalan Konversi
d. rata-rata lama pengobatan pada pasien TB paru yang gagal mengalami konversi BTA tahun 2006-2008 dibandingkan dengan standar Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
7 BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Tuberkulosis Paru 1. Mycobacterium tuberculosis
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar (80%) menyerang paru-paru. Mycobacterium tuberculosis termasuk basil gram positif, berbentuk batang, dinding selnya mengandung komplek lipida-glikoprotein serta lilin (wax) yang sulit ditembus zat kimia. Kuman ini mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Pada pengecatan Ziehl Neelsen, bakteri ini tetap mengikat warna pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol sehingga tidak mampu mengikat warna kedua, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC atau TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Anonim, 2003).
2. Etiologi
Riwayat terjadinya tuberkulosis dapat melalui infeksi primer dan pasca primer (post primary).
a. Infeksi primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati
sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap di sana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan pada reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif (Anonim, 2003).
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TBC. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita TBC. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan (Anonim, 2003).
b. Tuberkulosis pasca primer (Post Primary TBC)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Anonim, 2003).
9
9 3. Patogenesis
Penyakit tuberkulosis dikendalikan oleh sistem imunitas seluler. Orang yang menderita kerusakan imunitas seluler seperti terinfeksi HIV dan gagal ginjal kronik mempunyai risiko tuberkulosis yang lebih tinggi. Saat terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, sel fagosit mononuklear atau makrofag berperan sebagai efektor utama sedangkan limfosit T sebagai pendukung utama proteksi/kekebalan. Koordinasi makrofag dan limfosit T sangat diperlukan untuk perlindungan yang optimal. Mycobacterium tuberculosis masuk ke tubuh lewat 3 jalur yaitu saluran pernapasan, saluran cerna dan luka terbuka pada kulit (Price dan Wilson, 2000).
Kebanyakan infeksi tuberkulosis disebabkan karena inhalasi jalur tuberkel. Tempat implantasi basil tuberkel yang paling sering adalah permukaan alveolar dari parenkim paru-paru. Reaksi yang ditimbulkan oleh basil tuberkel merupakan suatu proses peradangan. Leukosit polimorfonuklear mencoba memakan bakteri tersebut, tetapi organisme tersebut tidak dapat dimatikan, lalu terjadi perubahan, leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid. Limfosit mengelilingi tuberkel tersebut. Reaksi ini membutuhkan waktu 10-20 hari. Nekrosis bagian sentral lesi akan mengakibatkan terbentuknya bentuk yang relatif padat seperti keju yang dikenal dengan nekrosis kaseosa.
Penyakit tuberkulosis dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah sehingga menimbulkan lesi pada berbagai organ. Penyebaran seperti ini sering dikenal dengan penyebaran limfohematogen. Jenis penyebaran hematogen lain adalah berupa fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi bila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk ke sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh (Price dan Wilson, 2000).
4. Gejala tuberkulosis a. Gejala utama
Batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih. b. Gejala tambahan
Dahak bercampur darah, batuk darah sesak nafas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam, meriang lebih dari sebulan (Anonim, 2005).
5. Diagnosis TB paru dewasa
Menurut program Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy (DOTS) yang dijalankan di BP4 Yogyakarta, diagnosis utama seseorang dinyatakan penderita TB didasarkan pada pemeriksaan dahak SPS. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu- pagi-sewaktu (SPS). Sewaktu (S) artinya dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. Pagi (P) artinya dahak
11
11
dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. Sewaktu (S) yang kedua artinya dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat pasien menyerahkan dahak pagi (Anonim, 2007).
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa sebagian besar ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Dibandingkan dengan metode baku emas (gold standard) dengan pemeriksaan kultur dahak (paling cepat sekitar 6 minggu), pemeriksaan dahak mikroskopis ini dinilai paling efisien, murah, mudah, bersifat spesifik, sensitif dan dapat dilaksanakan di semua unit laboratorium. Pemeriksaan lain seperti foto toraks dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis/underdiagnosis (Anonim, 2008).
Pemeriksaan foto toraks hanya dilakukan pada kondisi tertentu seperti : a . Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya positif.
b. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
c. Pasien diduga memiliki komplikasi sesak nafas dan hemoptisis berat yang memerlukan penangan khusus.
Suspek TB Paru
Gambar 1. Alur Diagnosis TB Paru Dewasa (Anonim, 2008) Suspek TB Paru
Pemeriksaan dahak mikroskopis, Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
Antibiotik Non-OAT Hasil BTA + + + + + - Hasil BTA + - - Hasil BTA - - - Hasil BTA + + + Hasil BTA + + + + + - - - - Tidak ada perbaikan Ada perbaikan n Pemeriksaan dahak mikroskopis Foto toraks dan
pertimbangan dokter
Foto toraks dan pertimbangan dokter
T B
13
13
B. Pengobatan Tuberkulosis 1. Prinsip pengobatan
Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip sebagai berikut :
a. obat anti tuberkulosis harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hindari penggunaan monoterapi. Pemakaian OAT FDC (Fixed Dose Combination) atau Kombinasi Dosis Tetap (KDT) akan lebih menguntungkan dan dianjurkan.
b. untuk menjamin kepatuhan pasien dalam menelan obat, pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
c. pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap awal (intensif) dan tahap lanjutan.
2. Strategi terapi
Tujuan terapi TB adalah menyembuhkan pasien, mencegah kematian dan kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman. Sasaran terapinya adalah Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi organ paru. Strategi terapi untuk menanggulangi TBC dilakukan melalui terapi nonfarmakologis dan terapi farmakologis.
a. Non-farmakologis
1) Mengisolasi ruangan pasien yang dirawat, dengan menggunakan sinar UV dan dilengkapi lubang ventilasi yang aman (Di Piro, 2005).
2) Operasi untuk membersihkan jaringan paru yang terinfeksi karena adanya lesi (tuberculomonas).
b. Farmakologis
Terapi farmakologis untuk mengatasi TBC dikenal dengan strategi DOTS. Dalam strategi DOTS, pengobatan TB dilakukan baik dengan pemberian OAT dalam bentuk tablet terpisah maupun dengan pemberian OAT FDC (Fixed Dose Combination). Penggunaan obat TB yang dipakai adalah antibiotik dan anti infeksi sintetis untuk membunuh kuman Mycobacterium. Obat lini pertama yang umum dipakai adalah Isoniazid (H), Etambutol (E), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), dan Streptomisin (S).
Isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan streptomisin bersifat bakterisid sedangkan etambutol bersifat bakteriostatik. Isoniazid bekerja dengan mengganggu sintesa mycolic acid yang diperlukan dalam membangun dinding sel bakteri.sehingga dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Rifampisin bekerja dengan membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniazid. Mekanisme kerja rifampisin dengan mengganggu sintesis RNA polimerase bakteri. Pirazinamid bekerja dengan membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam, Mekanisme aksi obat ini didasarkan pada pengubahannya menjadi asam pyrazinamidase yang berasal dari basil tuberkulosa. Streptomisin bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman lewat jalan pengikatan pada RNA ribosomal, sehingga dapat membunuh kuman yang sedang membelah. Mekanisme aksi etambutol dengan
15
15
menghambat sintesis RNA pada kuman yang sedang membelah serta menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel (Anonim, 2005).
Penggunaan obat-obat lini kedua seperti asam aminosasilisat, kanamisin, rifabutin, levofloxacin, ciprofloxacin, ofloxacin, etionamid digunakan bila terjadi resistensi obat primer (Di Piro, 2005). Rifapentin dan rifabutin digunakan sebagai alternatif untuk rifampisin dalam pengobatan kombinasi anti tuberkulosis. Paduan OAT FDC yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia adalah kategori 1 yaitu 2(HRZE)/4(HR)3, kategori 2 yaitu 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3, kategori anak 2HRZ/4HR dan kategori sisipan. Dosis OAT disesuaikan dengan berat badan pasien dan dikemas dalam 1 paket untuk 1 pasien.
Paket kombipak terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam 1 blister harian, yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Panduan OAT ini masih disediakan oleh program penanggulangan TB untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT FDC (Anonim, 2007). Jenis OAT FDC dan penggunaannya antara lain sebagai berikut :
1) Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3
Tahap awal adalah 2(HRZE), lama pengobatan 2 bulan. Pengobatan diberikan harian. Isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), dan etambutol (E) diberikan dalam bentuk FDC. Tahap lanjutan adalah 4(HR)3, lama pengobatan 4 bulan. Pengobatan diberikan 3 kali seminggu. Isoniazid dan rifampisin diberikan dalam bentuk FDC. Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru TB paru BTA
positif, pasien baru TB paru BTA negatif disertai foto toraks positif dan pasien TB ekstra paru.
Tabel I. Dosis untuk paduan OAT FDC untuk Kategori 1 (Anonim, 2008) Berat Badan
Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu RH (150/150) 30 – 37 kg 4FDC 2 tablet 2FDC 2 tablet 38 – 54 kg 4FDC 3 tablet 2FDC 3 tablet 55 – 70 kg 4FDC 4 tablet 2FDC 4 tablet ≥ 71 kg 4FDC 5 tablet 2FDC 5 tablet 2) Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
Tahap awal adalah 2(HRZE)S/(HRZE), lama pengobatan 3 bulan. Isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), dan etambutol (E) diberikan dalam bentuk KDT dan streptomisin (S) diberikan selama 2 bulan pertama berupa suntikan setiap hari.
Tabel II. Dosis untuk paduan OAT FDC Kategori 2 (Anonim, 2008) Berat Badan Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E(275) Selama 56 hari Selama
28 hari selama 20 minggu 30–37 kg 4FDC 2 tab + 500 mg Streptomisin inj. 4FDC 2 tab 2FDC 2 tab + 2 tab Etambutol 38–54 kg 4FDC 3 tab + 750 mg Streptomisin inj. 4FDC 3 tab 2FDC 3 tab + 3 tab Etambutol 55–70 kg 4FDC 4 tab + 1000 mg Streptomisin inj. 4FDC 4 tab 2FDC 4 tab + 4 tab Etambutol ≥ 71 kg 4FDC 5 tab + 1000mg Streptomisin inj. 4FDC 5 tab 2FDC 5 tab + 5 tab Etambutol Catatan:
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500 mg tanpa memperhatikan berat badan. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg)
17
17
Tahap lanjutan adalah 5(HR)3E3, lama pengobatan 5 bulan. Isoniazid dan rifampisin diberikan dalam bentuk FDC dan etambutol diberikan secara lepas. Pengobatan diberikan 3 kali seminggu. Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya, pasien kambuh, pasien gagal, pasien dengan pengobatan setelah default (terputus).
3) OAT sisipan FDC (HRZE)
Paket sisipan FDC adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Tabel III. Dosis FDC untuk Sisipan (Anonim, 2008) Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari
RHZE (150/75/400/275)
30–37 kg 4FDC 2 tablet
38–54 kg 4FDC 3 tablet
55–70 kg 4FDC 4 tablet
≥ 71 kg 4FDC 5 tablet
Penggunaan OAT lini kedua seperti golongan amikasin (misal kanamisin) dan golongan fluorokuinolon tidak dianjurkan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lini pertama dan dapat menyebabkan risiko resistensi pada OAT lini kedua.
3. Efek samping obat
Sebagian besar penderita TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek samping. Namun, sebagian kecil dapat mengalami efek samping. Berdasarkan derajat keseriusannya, efek samping OAT dibagi menjadi :
a. Efek samping berat yaitu efek samping yang dapat menjadi sakit serius. Dalam kasus ini maka OAT harus dihentikan dan penderita harus segera dirujuk ke UPK spesialistik.
b. Efek samping ringan yaitu hanya menyebabkan sedikit perasaan yang tidak enak.
Tabel IV. Efek Samping Berat OAT (Anonim, 2007)
Efek samping Penyebab Penatalaksanaan
Gatal dan kemerahan kulit
Semua jenis OAT Beri antihistamin, bila gejala makin parah beri kortikosteroid dan/atau tindakan suportif (infus) Tuli dan Gangguan
keseimbangan
Streptomisin Hentikan streptomisin, ganti etambutol Ikterus tanpa penyebab
lain
Hampir semua OAT Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang Bingung dan
muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat)
Hampir semua OAT Hentikan semua OAT, segera lakukan tes fungsi hati
Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan etambutol Purpura dan renjatan
(syok)
Rifampisin Hentikan rifampisin
Tabel V. Efek Samping Ringan OAT (Anonim, 2007)
Efek samping Penyebab Penatalaksanaan
Tidak ada nafsu makan,
mual, sakit perut Rifampisin
Obat diminum malam sebelum tidur
Nyeri sendi Pirazinamid Beri aspirin
Kesemutan s/d rasa
terbakar di kaki INH
Beri vitamin B6 100 mg per hari
Warna kemerahan pada
air seni (urin) Rifampisin
Tidak perlu diberi apa-apa, tapi perlu penjelasan kepada
19
19 4. Penggunaan obat yang rasional
Secara umum, prinsip farmakoterapi adalah mencapai tujuan pengobatan yang efektif, aman, dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pemberian obat harus memenuhi tepat indikasi, tepat pasien, pemilihan obat yang tepat (aman, efektif, ekonomis, sesuai kondisi pasien), tepat dosis dan cara pemberian, serta waspada efek samping (Anonim, 2000).
Penggunaan obat yang rasional pada pasien tuberkulosis mengindikasikan bahwa pasien menerima obat-obatan yang sesuai pada kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri, untuk suatu periode waktu yang memadai. Pasien tuberkulosis yang mendapatkan terapi dengan OAT FDC (Fixed Dose Combination) atau KDT harus disesuaikan dengan berat badannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam proses terapi (Siregar, 2005).
C. Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4)
Berdasarkan keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) No. 114 tahun 2004, BP4 merupakan UPTD (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Kesehatan Propinsi DIY dengan 5 unit pelayanan yang tersebar di 5 lokasi di 4 kabupaten/kota yaitu unit Minggiran (Kota), unit Kotagede (Kota), Unit Bantul, Unit Kalasan (Sleman) dan Unit Wates (Kulon Progo. Visi BP4 Yogyakarta adalah menurunkan angka kesakitan, kematian dan penularan penyakit paru (khususnya TBC) sehingga penyakit paru tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk mencapai visi ini, didukung oleh
misi peningkatan profesionalisme pelayanan kesehatan paru, mewujudkan kesembuhan bagi penderita penyakit paru, dan memfasilitasi peningkatan derajat kesehatan di bidang penyakit paru.
Pelayanan unggulan BP4 Yogyakarta yaitu penanggulangan penyakit TB paru dengan strategi DOTS dan konsultasi berhenti merokok. Di samping itu, BP4 Yogyakarta berupaya mempromosikan pelayanan kesehatan dan informasi penyakit paru kepada masyarakat baik langsung maupun melalui surat kabar, radio dan televisi, dan juga melakukan self survey untuk menilai kepuasan pelanggan eksternal terhadap pelayanan yang diberikan BP4. Hasil survey merupakan indikator kinerja pelayanan sehingga dapat menjadi evaluasi untuk melangkah ke depannya.
D. Keterangan Empiris
Keterangan empiris yang diharapkan dari penelitian ini adalah mengetahui informasi tentang evaluasi pengobatan pada pasien TB paru yang gagal konversi, meliputi profil dan jumlah pasien, pola pengobatan (kelas terapi/golongan, jumlah dan dosis, interaksi obat, obat tambahan dan PMO), serta rata-rata lama pengobatan untuk pasien di BP4 Yogyakarta tahun 2006-2008.
21 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian deskriptif yang pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif. Dikatakan observasional karena mengkaji suatu peristiwa atau kejadian yang berkenaan dengan kesehatan tanpa melakukan intervensi (Chandra, 2008). Penelitian deskriptif merupakan studi mengenai frekuensi dan distribusi suatu penyakit pada manusia atau masyarakat menurut karakteristik orang yang menderita, tempat kejadian dan waktu terjadinya. Pengertian retrospektif adalah meneliti ke belakang dengan menggunakan data sekunder untuk melihat apakah ada hubungan atau tidak antara penyakit dan faktor risiko (Chandra, 2008).
B. Definisi Operasional
1. Pasien adalah penderita TB paru BTA positif dengan pengobatan kategori I, yang terbukti gagal konversi, dilihat dari hasil pemeriksaan dahak pada akhir tahap intensif, mendapat obat sisipan, serta berusia 15 tahun ke atas.
2. Gagal konversi adalah suatu status BTA pasien TB paru masih positif pada akhir bulan kedua (akhir tahap intensif).
3. Evaluasi pengobatan adalah menilai kembali hasil pengobatan pasien TB paru yang gagal konversi selama tahun 2006-2008 lalu disesuaikan dengan Standar Pedoman Nasinal Pengobatan Tuberkulosis yang digunakan di BP4.
4. Karakteristik pasien dalam penelitian ini adalah profil pasien TB dilihat dari segi usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal,
5. Pola pengobatan meliputi gambaran OAT FDC yang digunakan pasien, kategori pengobatan, jumlah dan dosis, kelas terapi, golongan dan jenis obat obat tambahan, interaksi obat serta PMO.
6. Efek samping obat adalah efek yang muncul selama pengobatan pasien TB berupa efek samping ringan hingga berat.
7. Obat sisipan adalah tambahan obat yang diberikan pada pasien selama 1 bulan karena pada akhir fase intensif pasien belum mengalami konversi BTA. 8. Lama pengobatan adalah tahapan pengobatan yang dijalani pasien TB paru
yang gagal konversi meliputi tahap intensif 2 bulan, sisipan 1 bulan dan tahap lanjutan 4 bulan.
C. Subyek Penelitian
Menurut Sugiyono (2005), metode sensus merupakan salah satu cara pengambilan subyek penelitian yang melibatkan semua anggota populasi. Pemilihan subyek pada penelitian ini didasarkan pada metode sensus dengan mengambil semua penderita TB Paru BTA positif yang gagal konversi dan memenuhi kriteria inklusi yaitu mendapat pengobatan kategori I serta obat sisipan, berusia dewasa (15 tahun ke atas), dan menjalani masa pengobatan di BP4 Yogyakarta unit Minggiran, Kota Gede dan Kalasan tahun 2006-2008.
23
23
D. Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu TB 01 (Kartu Pengobatan Pasien TB) dan catatan rekam medis pasien (medical record) TB paru yang gagal konversi, yang ditulis oleh dokter maupun perawat di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Yogyakarta.
E. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen berupa panduan wawancara terstruktur yang sebelumnya telah didiskusikan dengan dosen pembimbing. Wawancara terdiri dari dua bagian yaitu tentang gagal konversi dan evaluasi pengobatan. Kajian tentang gagal konversi terdiri dari 3 bagian yang meliputi ketidaktaatan (3 pertanyaan), penyakit penyerta (3 pertanyaan) dan gizi/pola makan pasien (4 pertanyaan), sedangkan untuk evaluasi pengobatan meliputi jumlah dan dosis (3 pertanyaan) serta efek samping (1 pertanyaan).
F. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian “Evaluasi Pengobatan pada Pasien Tuberkulosis Paru yang Gagal Konversi di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Yogyakarta Tahun 2006-2008” dilakukan pada tanggal 12 Februari 2009-13 April 2009. Lokasi penelitian meliputi 3 BP4 Yogyakarta yaitu :
1. BP4 Minggiran yang beralamatkan di Jl. Mayjen D.I. Panjaitan No. 49 Yogyakarta.
3. BP4 Kalasan yang beralamatkan di Jl. Solo Km. 12,5 Kalasan-Sleman.
Lokasi penelitian juga mencakup beberapa tempat tinggal pasien TB paru yang bersedia di wawancarai secara langsung. Wilayah Klaten meliputi desa Biyengan, Cetokan, dan Taskombang. Wilayah Sleman meliputi Kalasan, Randusari, Kringginan, Totogan dan Ambarukmo.
G. Tatacara Penelitian 1. Perencanaan
Perencanaan dimulai dengan penelusuran pustaka, penentuan dan analisis masalah yang akan dijadikan bahan penelitian, mengurus perijinan ke Dinas Perijinan Kota Yogyakarta, BP4 unit Minggiran, Kotagede dan Kalasan.
2. Pengambilan data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder internal yang berupa kartu TB 01, catatan rekam medis dan wawancara dengan beberapa pasien TB paru BTA positif yang gagal konversi. Data pasien yang didapat dari kartu TB 01 meliputi identitas lengkap pasien, PMO, tahun masuk, nomor registrasi TB Kabupaten, klasifikasi dan tipe penderita, hasil pemeriksaan dahak, nomor rekam medis, kategori dan hasil akhir pengobatan. Data pasien yang didapat dari MR meliputi pekerjaan, status perawatan, obat tambahan lain selain OAT.
Wawancara dengan pasien TB paru dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara yang sebelumnya telah disetujui dosen pembimbing. Untuk kelancaran jalannya wawancara, peneliti dibantu langsung dengan salah seorang
25
25
petugas kesehatan Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4). Pasien yang direkomendasikan untuk diwawancarai berjumlah 14 orang. Pemilihan pasien tersebut dilakukan bersama perawat yang bertugas di pojok DOTS BP4. Informasi yang didapat dari hasil wawancara digunakan sebagai pendukung data rekam medis pasien TB paru yang gagal konversi.
3. Pengolahan data
Data yang diperoleh dari catatan rekam medis kemudian diolah menggunakan referensi Pedoman Nasional Penanggulangan TB, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis, IONI (Informatorium Obat Nasional