• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

2. Penyebab Perdagangan Internasional

Menurut Apridar (2009:75), terdapat sejumlah faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional di antaranya yaitu:

a. Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri

b. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara

c. Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi

d. Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlunya pasar baru untuk menjual produk tersebut

18 e. Adanya keterbatasan produksi dan perbedaan dengan negara lain seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk

f. Adanya kesamaan selera penduduk terhadap suatu barang

g. Keinginan menjalin kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.

h. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu pun negara di dunia ini yang dapat hidup sendiri (interdependensi)

Dalam pelaksanaannya, beberapa ekonom terkemuka mengkaji peranan perdagangan internasional yang dipraktikkan pada berbagai negara di dunia. Kemudian terciptalah sejumlah teori yang memberikan gambaran tentang aktivitas perdagangan internasional tersebut :

a. Teori Pra Klasik (Merkantilisme)

Menurut pandangan merkantilisme yang berkembang pada abad keenam belas sampai pertengahan abad kedelapan belas, kekayaan dan kekuasaan suatu negara dapat dilihat dari banyaknya surplus ekspor yang dimiliki. Mereka berpendapat bahwa seharusnya pemerintah lebih merangsang ekspor serta membatasi impor, yang ditambah pula dengan kepemilikan logam mulia berupa emas. Namun bukanlah suatu hal yang memungkinkan bahwa seluruh negara memiliki surplus ekspor di waktu yang bersamaan. Selain itu, jumlah emas yang ada pada suatu waktu adalah tetap. Sehingga negara hanya akan memperoleh keuntungan dari pengorbanan negara lain (Salvatore, 1994:2).

Aliran ini belum mengetahui konsep keunggulan komparatif. Terlihat dari konsep kesejahteraan yang dianut mazhab ini, yang berdasarkan kepada kekayaan dari banyaknya jumlah emas yang dimiliki suatu negara. Ide pokok Merkantilisme secara lebih rinci dalam Hady (2001:24) dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Suatu negara atau raja dianggap kuat dan makmur apabila nilai kegiatan ekspornya melebihi impor

2) Surplus perdagangan yang positif atau ekspor neto yang didapat dari selisih (X-M) tergambar pada pemasukan logam mulia (LM). Oleh

19 karena itu, semakin besar ekspor neto yang diperoleh suatu negara, maka LM yang didapat pun menjadi semakin banyak

3) Alat pembayaran di kala itu adalah berupa LM yang kemudian kerap digunakan untuk pembiayaan armada perang demi memperluas perdagangan luar negeri

Seiring perjalanannya, paham ini tidak terlepas dari kritikan sejumlah tokoh ekonomi, di antaranya adalah David Hume yang dikenal dengan ―Mekanisme Otomatis‖ dari Price Specie Flow Mechanism (PSFM) (Hady, 2001:25-26). Hume memiliki anggapan bahwa apabila LM yang digunakan sebagai alat pembayaran (uang) yang banyak beredar, maka artinya Money Supply (Ms) atau jumlah uang yang beredar banyak. Sedangkan jumlah emas sangatlah terbatas dan produksinya tidak berubah atau tetap. Dengan demikian, yang akan terjadi selanjutnya adalah inflasi dan kenaikan harga di dalam negeri, yang pada gilirannya akan menurunkan kuantitas ekspor dan menaikkan harga ekspor. Di sisi lain, hal ini akan menyebabkan peningkatan kuantitas impor dan harga barang impor menjadi lebih rendah. Maka, dapat diprediksi bahwa ekspor akan menjadi lebih kecil daripada impor. Sehingga akhirnya LM akan menurun atau berkurang. Berarti suatu negara atau raja akan menjadi miskin sebab LM diidentikkan dengan kesejahteraan dan kekayaan.

Berdasarkan Price Specie Flow Mechanism (PSFM), Adam Smith pun turut melontarkan kritikannya terhadap mazhab ini. Smith berpendapat bahwa ukuran kekayaan suatu negara bukan dilihat dari banyaknya LM yang dimiliki. Kritik inilah yang kemudian menjadi pelopor dari teori klasik, yang dikenal juga dengan Teori Keunggulan Absolut (Absolute Advantages).

b. Teori Klasik

Sejak beberapa abad yang lalu, sejumlah ahli ekonomi telah meneliti mengenai kontribusi perdagangan luar negeri dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi. Beberapa di antaranya yaitu Adam Smith, David Ricardo dan John Stuart Mill (Sukirno, 2006:120).

20 1) Adam Smith (Teori Absolute Advantage)

Menurut salah satu pandangan klasik, Adam Smith berpendapat bahwa perdagangan internasional merupakan kebijaksanaan yang baik karena setiap negara yang memiliki keunggulan absolut atau mutlak dapat memproduksi komoditinya hingga memperoleh tingkat efisiensi yang maksimal. Dengan begitu, dunia akan mengalami pertambahan produksi dari spesialisasi melalui perdagangan antarnegara (Salvatore, 1994:2).

Keunggulan mutlak atau absolut, dikenalkan oleh Smith sebagai suatu potensi negara dalam menghasilkan barang ataupun jasa per unit, dengan jumlah faktor input yang lebih sedikit dibanding negara lain. Dengan begitu barang atau jasa dapat dihasilkan dengan biaya yang lebih murah dan produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi, atau dengan kata lain lebih efisien dibanding di negara lainnya.

Keunggulan dari teori ini adalah dapat meningkatkan potensi kemakmuran suatu negara, dengan melakukan perdagangan bebas antar dua negara yang keduanya mempunyai keunggulan absolut yang berbeda, sehingga akan membangun interaksi ekspor impor. Di sisi lain, kekurangannya yakni ketika hanya terdapat satu negara yang memiliki keunggulan absolut, maka kegiatan interaksi tersebut tidak dapat terjadi. Hal ini karena tidak adanya potensi keuntungan yang akan didapatkan. Oleh karena itu, David Ricardo kemudian menyempurnakan teori ini.

2) David Ricardo (Teori Comparative Advantage)

Sementara menurut pandangan klasik lainnya, setelah melihat kelemahan pada teori Absolute Advantage oleh Adam Smith, maka David Ricardo mengutarakan teori Comparative Advantage yang membahas Cost Comparative Advantage (Labour Efficiency) dan Production Comparative (Labour Productivity). Smith berpendapat bahwa sekalipun suatu negara memiliki keunggulan absolut yang lebih kecil dibandingkan negara lain dalam memproduksi suatu komoditi tertentu, namun negara tersebut masih memiliki kesempatan untuk

21 melakukan perdagangan yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Hal itu dapat diperoleh jika negara yang kurang efisien tersebut berspesialisasi dengan cara memproduksi dan mengekspor komoditi yang mengalami kerugian absolut paling kecil (keunggulan komparatif) dan menukarkan sebagian dari outputnya untuk komoditi lain (Salvatore, 1994:3).

c. Teori Modern Hecksher-Ohlin (H-O)

Menurut teori modern dari ekonom Swedia, Eli Hecksher (1919) dan Bertil Ohlin (1933), perdagangan internasional disebabkan oleh adanya perbedaan opportunity cost antarnegara, yang dapat terjadi karena perbedaan produktivitas. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara (factor endowment). Maka selanjutnya yang akan terjadi adalah akan terjadi perbedaan harga barang yang dihasilkan. Nama lain teori tersebut juga dikenal dengan The Proportional Factor Theory. Negara-negara yang memiliki faktor produksi lebih melimpah maupun lebih murah, dapat melakukan spesialisasi dan mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang yang memiliki faktor produksi lebih langka ataupun relatif lebih mahal dalam memproduksinya di negara pengimpor (Apridar, 2009:102).

Sekalipun Teori H-O ini telah mampu menjelaskan mengenai perdagangan internasional yang belum terdapat pada teori-teori pendahulunya, namun Hady (2001:43) memaparkan beberapa kelemahan dalam asumsi-asumsi yang mendasari teori tersebut. Di antaranya yaitu apabila jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki tiap negara relatif sama, maka harga barang yang sejenis akan sama, sehingga tidak akan terjadi perdagangan internasional. Asumsi lainnya bahwa kedua negara memanfaatkan teknologi yang serupa dalam memproduksi, dapat dikatakan tidak valid. Pada kenyataannya, masing-masing negara kerap kali menggunakan teknologi yang tidak sama.

Perdagangan internasional yang ditambahkan menurut Ball (2004:154), timbul karena perbedaan harga-harga relatif di antara negara.

Perbedaan-22 perbedaan ini berasal dari perbedaan dalam biaya produksi, yang diakibatkan oleh:

1) Perbedaan-perbedaan dalam perolehan atas faktor produksi

2) Perbedaan-perbedaan dalam tingkat teknologi yang menentukan intensitas faktor yang digunakan

3) Perbedaan-perbedaan dalam efisiensi pemanfaatan faktor-faktor ini 4) Kurs valuta asing

Dokumen terkait