HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian
B. Hasil Penelitian
2) Penyebab Retardasi Intelektual Transendental
Adapun penyebab disabilitas intelektual secara transendental di Kampung Tunagrahita yaitu disabilitas intelektual atau tunagrahita atau idiot warga masyarakat di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo yang diakibatkan oleh adanya kepercayaan tertentu yang ada diluar pikiran serta diri manusia diantaranya yaitu karena nasib yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa terhadap warga tersebut untuk menyandang disabilitas intelektual atau idiot. Mereka percaya bahwa manusia telah ditentukan dan diatur oleh Tuhan dan manusia hanyalah bisa menjangka serta merekadaya namun tidak bisa menentukan. Hal tersebut seperti yang dilontarkan oleh Smn yang memiliki anak kandung penyandang disabilitas intelektual kategori sedang serta bisu yaitu:
“Jane tiyang-tiyang mendho utawi ra jowo niku nek ditingali saking gizi dahare nggih nyatane pencen kirang mulo pitamin ingkang ngge mikir niku ugo kurang. Nanging kabeh yo mboten namung mergo panganan, wonten sanak-sanak jaman sak babagane niku nggih ugo kekirangan pangan nanging mboten mendho. Lha niku kan podo prihatine podo rekosone podo kebebane. Lha sebabe tiyang mendho-mendho mboten jowo niku ananging takdir deneng saking ingkang kuwaos kangge tiyang niku, manungso niku mesti diparing pacobaning urip mergo pacoban urip kangge manungso lan sakawumbarange teng alam ndunyo niki supados manungso eling utawi pengeling marang Gusti ingkang
Moho Agung” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no:
1, 10 Januari 2016).
Dari pernyataan tersebut diartikan bahwa tunagrahita kalau dilihat dari gizi makanannya bisa dikatakan kurang sehingga vitamnin untuk pertumbuhan otak juga kurang. Namun semua disebabkan tidak hanya karena makanan karena terdapat anak-anak sesebaya mereka juga kekurangan makanan namun tidak mengalami tunagrahita. Hal tersebut menunjukkan adanya kesamaan kondisi yang memprihatinkan, sama susahnya, sama bebannya namun tidak tunagrahita. Sehingga bukan berarti makanan saja namun adanya takdir dari Yang Maha Kuasa untuk orang itu, karena manusia diberi cobaan utnuk peringatan bagi umat manusia agar selalu mengingat dan bersyukur pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Besar. Hal yang sama juga diutarakan oleh Snn yang memiliki adik kandung penyandang disabilitas intelektual sebagai berikut:
“Nggih teng mriki katah tiyang-tiyang mendho utawi idiot, jenenge wae manungso yo wonten sing normal ugo wonten sing mboten normal kabeh yo kang kuwaos sing ngatur pancen tiyang niku kados ngoten. Wontene tiyang idiot niku kan kangge tiyang-tiyang normal supoyo bersyukur marang kang kuwaos sampun diparingi kenormalan. Nanging ananging diparingi normal niku mboten ucul tanggungjaweb nggo ngelingi tiyang kang mboten normal, lha lek mboten pekeling, mboten ngopeni, sing wonten tiyang-tiyan mendho nggih podo ciloko mati, kan
mboten mentolo ngoten niku nggih manungso” (Sumber: Wawancara
berdasarkan panduan wawancara no: 1, 13 Januari 2016).
Informasi tersebut dimaksudkan bahwa pengakuan adanya banyaknya warga tunagrahita di Dusun Tanggungrejo, namun penerimaan bahwa manusia diciptakan ada yang normal dan ada yang tidak normal namun dari kesemuanya itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa yang mengatur individu-individu tersebut menjadi tunagrahita. Keberadaan kaum difabel merupakan bentuk pengingat kepada umat normal untuk bersyukur atas anugerah kenormalannya. Bersyukurnya umat normal tersebut yang membentuk tanggungjawab untuk menjaga dan merawat kaum tidak normal, apabila tidak ada tanggungjawab yang ada adalah kepunahan kaum difabel. Selain Snn, PM sebagai sesepuh dan Jogoboyo di Dusun Tanggungrejo juga membenarkan hal tersebut, diantaranya sebagai berikut:
“Tiyang idiot mendho mboten jowo ngoten niko mergo saking
gaib, kersane ingkang kuwaos dados nasibe kados niku. Manungso tankeno kiniro, manungso iso njongko ning ora iso nentokne, isone mung njongko karo ngreko,sing nentokne sing kuwoso. Yo mbojo, yo nggawe anak, yo ngopeni anak sakaluwargane. Mbuh pie-pie carane rekadayane senajan paceklik iso iso urip iso iso waras, senajan kakurangan yo iso urip iso waras kekarepane lan sak usaha rekone nanging yo namung njongko, namung ngreko ning dadine lare kang sehat waras opo dados lare mendho, niku tiyang mboten ngertos, mboten saged nentokne, yo
namung sing kuwaos ingkang saged nentokne” (Sumber: Wawancara
berdasarkan panduan wawancara no: 2, 7 Januari 2016).
Penjelasan tersebut bermaksud bahwa kaum tunagrahita diakibatkan oleh adanya pengaruh gaib dan kehendak sang kuasa. Manusia tankeno kiniro, manusia bisa menjangka namun tidak bisa menentukan, bisanya hanya menjangka dan merekadaya, namun yang menentukan hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia bisa menjangka harapan dengan cara merekadaya tindakan namun
ketentuan hanya ada pada kehendak sang maha kuasa. Bagaimanapun caranya agar hidup serta sehat walaupun dalam keadaan kekurangan namun kenyataannya generasi-generasi mengalami tunagrahita, hal tersebut merupakan bukan kehendak manusia, hanyalah yang berkuasa yang bisa menentukan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tunagrahita apabila dilihat dari gizi makanannya bisa dikatakan kurang sehingga vitamnin untuk pertumbuhan otak juga kurang. Namun semua disebabkan tidak hanya karena makanan karena terdapat anak-anak sesebaya mereka juga kekurangan makanan dan tentunya kekurangan gizi namun tidak mengalami tunagrahita. Hal tersebut menunjukkan adanya kesamaan kondisi yang memprihatinkan, sama susahnya, sama bebannya namun tidak tunagrahita. Sehingga bukan berarti makanan saja namun adanya takdir dari Yang Maha Kuasa untuk orang itu, karena manusia diberi cobaan sebagai peringatan bagi umat manusia agar selalu mengingat dan bersyukur pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Besar. Ciptaan Tuhan atas manusia normal dan manusia difabel kesemuanya itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa yang mengatur individu-individu tersebut menjadi tunagrahita. Keberadaan kaum difabel merupakan bentuk pengingat kepada umat normal untuk bersyukur atas anugerah kenormalannya. Bersyukurnya umat normal tersebut yang membentuk tanggungjawab untuk menjaga dan merawat kaum tidak normal, apabila tidak ada tanggungjawab yang ada adalah kepunahan kaum difabel. Lebih lanjut bahwa manusia hanya bisa menjangka dan merekadaya namun penentuan ada pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka gambaran serta penjelasan tersebut merupakan salah satu penjelasan faktor penyebab disabilitas intelektual secara transendental yaitu sesuatu yang berada diluar kehendak manusia, diluar kemampuan manusia serta dipercayai dan diterima keadaan dan kuasanya.