V.5. Kontribusi IG terhadap munculnya sengketa batas daerah pada penegasan batas daerah
V.5.1. Penyebab sengketa batas daerah di Indonesia
Pada penelitian ini, diagnosis penyebab sengketa dilakukan pada 45 kasus sengketa batas daerah antar kabupaten/kota. Data kasus sengketa diklasifikasi ke dalam tiga kategori yaitu kategori A, B dan C. Penjelasan masing-masing kategori A, B dan C dijelaskan pada Sub Bab IV.2.5. Diagnosis terhadap 45 kasus sengketa batas dilakukan pada setiap kategori. Jumlah kasus sengketa batas daerah yang terjadi pada saat kegiatan penegasan batas daerah pada masing-masing kategori dirangkum dalam Tabel 5.12.
Tabel 5.12. Jumlah sengketa batas daerah di Indonesia yang terjadi pada saat kegiatan penegasan batas daerah pada era OTDA (tahun 2000 sampai dengan
tahun 2009) pada kategori A, B dan C
Sengketa batas Kategori Jumlah
kasus
A B C
Antar kabupaten/kota 5 24 16 45
Hasil diagnosis penyebab sengketa batas daerah untuk kategori A, B dan C disajikan pada Tabel 5.13., Tabel 5.14. dan Tabel 5.15.
Tabel 5.13.Hasil diagnosis penyebab sengketa batas antar daerah kabupaten/kota pada kategori A
No. Penyebab sengketa Jumlah kasus %
1 Faktor kepentingan 0 0
2 Faktor struktural 0 0
3 Faktor IG 1 20
4 Faktor hubungan 0 0
5 Faktor nilai 0 0
6 Kombinasi faktor IG dengan faktor kepentingan ( 3+1)
2 40
7 Kombinasi faktor IG dengan faktor kepentingan ( 3+2)
2 40
Jumlah 5 100
Pada Tabel 5.13. terdapat lima kasus sengketa batas daerah dengan kategori A. Pada lima kasus tersebut, sengketa batas pada dasarnya bermula dari kondisi peta lampiran undang-undang pembentukan daerah yang tidak memenuhi syarat bila digunakan untuk pedoman penegasan, kemudian dipicu adanya faktor kepentingan sehingga akhirnya menjadi sengketa terbuka. Pada sengketa batas kategori A, ditemukan satu kasus yang disebabkan oleh permasalahan ketidaksamaan garis batas yang digambar pada peta lampiran UUPD dengan daerah tetangga yang berbatasan. Kasus tersebut adalah sengketa antara Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung. Garis batas yang tergambar pada peta wilayah skala 1:100.000 yang dilampirkan pada undang-undang pembentukan daerah Kabupaten Tana Tidung ternyata posisinya tidak sama
dengan garis batas di peta wilayah pembentukan Kabupaten Nunukan skala 1: 250.000 yang dibentuk lebih dahulu. Hal ini menimbulkan masalah ketika kedua daerah melakukan penegasan batas. Sengketa terbuka terjadi dipicu karena pada daerah sengeketa terdapat permohonan rekomendasi izin lokasi perusahaan batubara yang diklaim oleh masing-masing kabupaten.
Faktor lain yang menjadi pemicu sengketa batas adalah faktor struktural meliputi mempermasalahkan kesepakatan batas oleh pejabat sebelumnya yang sudah dituangkan dalam peraturan gubernur atau peraturan menteri dipermasalahkan lagi oleh salah satu daerah melalui TPBD. Penolakan pemekaran desa dan pembangunan fasilitas umum pelayanan kesehatan (puskesmas) yang terletak di daerah perbatasan yang batasnya belum tegas di lapangan juga menjadi pemicu sengketa. Faktor pemicu yang berupa kepentingan dan struktural pada kasus sengketa batas daerah pada kategori A selengkapnya disajikan pada Lampiran 7.
Hasil diagnosis penyebab sengketa batas antar daerah kabupaten/kota pada kategori B disjaikan pada Taebl 5.14.
Tabel 5.14.Hasil diagnosis penyebab sengketa batas antar daerah kabupaten/kota pada kategori B
No. Penyebab sengketa Jml kasus %
1 Faktor kepentingan 0 0
2 Faktor struktural 0 0
3 Faktor IG 8 33
4 Faktor hubungan 0 0
5 Faktor nilai 0 0
6 Kombinasi IG dengan kepentingan ( 3+1)
4 17
7 Kombinasi IG dengan struktural ( 3+2) 12 50
Jumlah 24 100
Jumlah kasus sengketa batas kategori B yang diteliti ada 24 kasus. Pada UU pembentukan daerah sebelum tahun 1999 tidak dilampiri peta wilayah administrasi daerah yang dibentuk, sedang pada UU pembentukan daerah setelah tahun 1999 secara narasi dalam pasal batas wilayah ditulis dilampiri peta wilayah
administrasi, namun dalam 24 kasus sengketa kategori B yang diteliti hanya ditemukan 20 peta lampiran. Pada 20 peta lampiran tersebut 15 peta tidak mencantumkan skala peta. Lima peta yang mencantumkan skala, nilai skala bervariasi yaitu tiga peta mencantumkan nilai skala 1:150.000, satu peta mencantumkan nilai skala 1: 400.000 dan dua peta mencantumkan nilai skala 1: 750.000.
Dalam kondisi satu daerah tidak memiliki peta wilayah dan daerah lain yang berbatasan memiliki peta wilayah namun tidak memenuhi syarat untuk pedoman penegasan batas di lapangan, tentu Tim Penegasan Batas Daerah mengalami kesulitan melakukan penegasan. Selain itu kondisi ini sering mengakibatkan beda penafsiran terhadap posisi garis batas yang ditegaskan. Penambahan fakta adanya faktor pemicu, maka sengketa batas kemudian muncul secara terbuka. Sebagai contoh, sengketa batas antara Kabupaten Rokan Hulu merupakan pemekaran dari Kabupaten Kampar karena faktor pemicu 28 sumur minyak di Kawasan Langgak. Dalam kasus ini TPBD masing-masing daerah mempertahankan klaim posisi batas menurut versinya masing-masing.
Pada 24 kasus sengketa batas kategori B, 10 kasus merupakan sengketa antara kabupaten pemekaran dengan kabupaten induknya. Hal ini mengindikasikan bahwa ketika proses pembentukan DOB pemekaran, kesepakatan batas antara kabupaten induk dengan kabupaten pemekaran belum final. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan pejabat di Sub Direktorat Penataan Wilayah, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah, Kementrian Dalam Negeri (Endarto, 2013):
“bahwa karena desakan yang bersifat politik lebih dominan maka pada saat itu yang penting DOBterbentuk dulu atau dimekarkan dulu, masalah batas yang pasti diselesaikan nanti.”
Berdasar dignosis yang dilakukan terhadap 24 kasus sengketa batas daerah kategori B seperti pada Lampiran 2, ditemukan dua faktor pemicu terjadinya sengketa yaitu faktor kepentingan dan struktural. Faktor pemicu kepentingan meliputi: (1) perebutan lahan dan (2) petebutan sumur minyak. Faktor pemicu struktural meliputi: (1) menghendaki revisi undang-undang pembentukan daerah,
(geospasial) perebutan pemukiman transmigrasi terkait sumberdaya manusia untuk perolehan suara pada pemilihan kepala daerah, (3) peninjauan kesepakatan batas yang telah dilakukan sebelumnya, (4) penolakan pembentukan desa di daerah perbatasan. Dalam faktor pemicu struktural, TPBD memiliki peran penting untuk selalu bertahan secara maksimal dalam klaim posisi garis batas yang diajukan. Indikasi ini terlihat dari beberapa perundingan sengketa batas daerah yang difasilitasi Kementrian Dalam Negeri selalu dilakukan berkali-kali dan tidak kunjung selesai, bahkan akhirnya berujung ke proses pengadilam. Sebagai contoh sengketa batas daerah antara Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir. Usaha untuk memfasilitasi penyelesaian sengketa batas antara kedua kabupaten telah dilakukan sejak tahun 1999, namun sampai tahun 2012, kesepakatan–kesepakatan yang pernah terjadi belum dapat diaplikasikan (Subowo, 2012). Faktor pemicu yang berupa kepentingan dan struktural pada kasus sengketa batas daerah pada kategori B selengkapnya disajikan pada Lampiran 8.
Hasil diagnosis sengketa batas daerah kategori C disajikan pada Tabel 5.15. Tabel 5.15.Hasil diagnosis penyebab sengketa batas antar daerah kabupaten/kota
pada kategori C
No. Penyebab sengketa Jumlah kasus %
1 Faktor kepentingan - -
2 Faktor struktural - -
3 Faktor IG 4 25
4 Faktor hubungan - -
5 Faktor nilai
6 Kombinasi faktor IG dengan faktor kepentingan ( 3+1)
8 50
7 Kombinasi faktor IG dengan faktor struktural ( 3+2)
4 25
Jumlah
Berdasar identifikasi dari tahun pembentukan daerah yang bersengketapada sengketa kategori C, daerah yang bersengketa pada umumnya dibentuk pada awal kemerdekaan yaitu antara tahun 1950 sampai dengan tahun 1959. Sebaran kasus sengketa batas daerah kategori C atas dasar pulau besar dan tahun pembentukan daerah disajikan pada Tabel 5.16.
Tabel 5.16. Sebaran kasus sengketa batas daerah atas dasar pulau dan tahunpembentukan daerah
No. Pulau Jumlah kasus Tahun pembentukan daerah
1 Jawa 3 1950
2 Sumatera 10 1956 3 Kalimantan 2 1959 4 Sulawesi 1 1959
Jumlah 16
Pada awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950 sampai tahun 1959, bila dicermati dalam naskah UUPD yang bersangkutan memang tidak menyebutkan secara tertulis batas wilayah daerah yang dibentuk, bahkan peta lampiran batas wilayah daerah yang dibentuk juga tidak ada. UUPD pada saat itu hanya mengganti atau mencabut UUPD yang dikeluarkan zaman Belanda yang disebut staatsblad. Mengingat masih masa transisi pembentukan daerah-daerah administrasi peninggalanpemerintah kolonial Belanda dijadikan rujukan dalam pembentukan daerah pada masa setelah awal kemerdekaan.
Rumusan pembentukan daerah juga secara langsung menyebut nama-nama daerah (kabupaten/kota) yangsudah dikenal sebelumnya menjadi “Kabupaten” dan “Kota” tanpa menyebutcakupan batas-batas daerah yang dimaksud (Kritiyono, 2008). Setelah daerah dibentuk, batas juga tidak langsung segera ditegaskan di lapangan. Pada saat sistem pemerintahan masih bersifat sentralistik, batas daerah bukan faktor determinan untuk mengelola wilayah, sehingga hampir tidak ada permasalahan tentang batas daerah.
Setelah era otonomi daerah tahun 1999, batas daerah merupakan faktor determinan dalam mengelola wilayah, sehingga banyak daerah yang dibentuk sebelum otonomi daerah mulai melakukan kegiatan penegasan batas daerah. Persoalan muncul ketika melakukan penegasan di lapangan, karena tidak adanya peta batas wilayah hasil penetapan sebelumnya. Oleh karena itu daerah-daerah yang melakukan penegasan batas kemudian mencari dokumen peta yang dianggap dapat digunakan sebagai pedoman untuk menegaskan batas masing-masing daerahnya. Hal ini memang dimungkinkan karena regulasi Permendagri No.1 tahun 2006 tentang pedoman penegasan batas daerah juga menyebutkan bahwa tahap awal dalam kegiatan penegasan adalah melakukan penelitian dokumen.Dokumen yang diteliti dan dimungkinkan dipakai bisa berupa dokumen aspek kesejarahan keberadaan batas daerah masing-masing.
Akibat penggunaan peta yang berbeda untuk melakukan klaim batas oleh masing-masing daerah, maka sering terjadi sengketa posisi garis batas. Sengketa muncul bila terdapat pemicu yaitu faktorlangsung yang menyebabkan perselisihan yang lebih terbuka, misalnya faktor kepentingan untuk menguasai sumberdaya yang bernilai ekonomi. Pada obyek penelitian sengketa batas daerah kategori C, faktor pemicu kepentingan yang ditemukan adalah sumur minyak bumi dan gas, lahan, aset obyek wisata dan kepemilikan pulau. Pemicu lain adalah faktor struktural yang terkait dengan kekuasaan atau wewenang formal. Pada obyek penelitian, faktor pemicu struktural yang ditemukan adalah penerbitan sertifikat tanah yang simpang siur, mempermasalahkan kesepakatan batas yang telah dilakukan pejabat sebelumnya dan jarak rentang kendali pemerintahan dan pelayanan yang terlalu jauh dari ibu kota kabupaten. Faktor pemicu yang berupa kepentingan dan struktural pada kasus sengketa batas daerah pada kategori C disajikan pada Lampiran 9.