• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

18. Menawarkan Diri

2.2.2. Penyebab Terjadinya Kepatuhan

Kepatuhan yang terjadi dalam menjalankan sesuatu dalam kehidupan apakah dalam mengatasi masalah kesehatan atau penyakit dapat disebabkan banyak hal yaitu: (1) kepatuhan individu berdasarkan rasa terpaksa atau ketidakpahaman tentang pentingnya perilaku yang baru itu, (2) kepatuhan demi menjaga hubungan baik dengan petugas kesehatan atau tokoh yang menganjurkan perubahan tersebut, (3) kepatuhan timbul karena individu merasa tertarik atau mengagumi petugas kesehatan atau tokoh tersebut, sehingga ingin mematuhi apa yang dianjurkan atau diinstruksikan tanpa memahami sepenuhnya arti dan mamfaat dari tindakan tersebut, tahap ini disebut proses identifikasi. Motivasi untuk mengubah perilaku individu dalam tahap ini lebih baik dari pada dalam tahap kesediaan, namun motivasi ini belum dapat menjamin kelestarian perilaku itu karena individu belum dapat menghubungkan perilaku tersebut dengan nilai-nilai lain dalam hidupnya, sehingga jika dia ditinggalkan petugas atau tokoh idolanya itu maka dia merasa tidak perlu melanjutkan perilaku tersebut.

2.2. 3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepatuhan

Menurut teori Feuerstein dalam Niven (2000) ada 5 faktor yang mendukung kepatuhan pasien, yaitu pendidikan, akomodasi, modifikasi, faktor lingkungan dan sosial, perubahan model terapi dan meningkatnya interaksi profesional kesehatan dengan pasien.

Pendidikan, tingkat pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan sepanjang pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif, yang diperoleh secara mandiri, lewat tahapan-tahapan tertentu mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan ini dapat juga diperoleh secara mandiri dengan menggunakan buku-buku dan kaset sebagai alat penuntun bejajar.

Berdasarkan pendapat Feuer Stein et.al. dalam Niven, (2002), dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan pasien/penderita dapat meningkatkan kepatuhan menjalankan kemoterapi , sepanjang pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif yang diperoleh secara mandiri, lewat tahapan-tahapan tertentu sesuai dengan kemampuan belajar yang dimiliki oleh pasien/penderita. Pendidikan yang diperoleh akan mendasari kepatuhan dalam menjalankan kemoterapi , sehingga penderita tidak asal ikut-ikutan saja tetapi tindakan yang dilakukan sudah berdasarkan pertimbangan tentang baik buruknya atau untung ruginya mematuhi instruksi petugas kesehatan dalam menjalankan kemoterapi.

Akomodasi, suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang dapat memengaruhi kepatuhan. Sebagai contoh pasien yang lebih mandiri, harus merasakan bahwa dia dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan, sementara pasien yang mengalami ansietas menghadapi sesuatu, harus diturunkan terlebih dahulu tingkat ansietasnya dengan cara menyakinkan dia atau dengan teknik-teknik lain sehingga dia termotivasi untuk mengikuti anjuran pengobatan.

Modifikasi faktor lingkungan dan sosial, hal ini berarti membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat penting. Kelompok-kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu kepatuhan terhadap program-program pengobatan seperti pengurangan berat badan, berhenti merokok dan menurunkan konsumsi alkohol.

Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat juga menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima. Pratt dalam Niven (2002) telah memperhatikan bahwa peran yang dimainkan keluarga dalam pengembangan kebiasaan kesehatan dan pengajaran terhadap anak-anak mereka. Keluarga juga memberi dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga yang sakit.

Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga yang lain, teman, waktu, dan uang merupakan faktor-faktor penting dalam kepatuhan terhadap program–program medis. Contoh yang sederhana, tidak memiliki pengasuh, transportasi tidak ada, dan ada anggota keluarga yang sakit, dapat mengurangi kepatuhan pasien. Keluarga dan teman dapat membantu mengurangi ansietas, yang disebabkan oleh penyakit tertentu, mereka dapat menghilangkan godaan ketidaktaatan, dan mereka seringkali dapat menjadi kelompok pendukung untuk mencapai kepatuhan, (Niven 2002).

Keyakinan, sikap dan kepribadian Becker et al dalam Niven (2002), melakukan penelitian pada 50 orang pasien hemodialisa yang harus mematuhi

program pengobatan yang kompleks, meliputi diet, pembatasan cairan dan pengobatan. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan, bahwa keyakinan, sikap dan kepribadian akan kesehatan pasien berguna memperkirakan adanya ketidakpatuhan. tentang terapi yang harus dijalankannya bisa saja dipengaruhi oleh bagaimana cara keluarga memberi memotivasi untuk pasien bisa bangkit dari keterpurukan akan penyakit dan menjalankan terapi kemoterapi.

Perubahan model terapi, program-program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin, dan pasien terlibat aktif dalam pembuatan program tersebut. Dengan cara ini komponen-komponen sederhana dalam program pengobatan dapat diperkuat, untuk selanjutnya dapat mematuhi komponen-komponen yang lebih kompleks.

Anderson dalam Niven (2002) dalam penelitiannya tentang komunikasi dokter, perawat dan pasien di Hongkong, mendapatkan bahwa pasien yang rata-rata diberi 18 jenis informasi untuk diingat dalam setiap konsultasi, hanya mampu mengingat 31 % saja. Dari penjabaran dan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang efektif sangat diperlukan . Tenaga kesehatan harus memberikan informasi yang lengkap guna meningkatkan pemahaman penderita sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam mnjalankan terapi.

Kualitas interaksi juga merupakan hal yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Korsch dan Negrete dalam Niven (2002) telah mengamati 800 kunjungan orangtua dan anak-anaknya ke rumah sakit anak di Los Angeles. Selama 14 hari mereka mewawancarai untuk memastikan ibu-ibu tersebut melaksanakan

nasehat-nasehat yang diberikan oleh dokter, mereka menemukan ada hubungan yang erat antara kepuasan ibu terhadap konsultasi dengan seberapa jauh mereka mematuhi nasehat dokter, tidak ada kaitan antara lamanya konsultasi dengan kepuasan ibu. Jadi konsultasi yang pendek tidak akan tidak produktif. Jika diberikan perhatian untuk meningkatkan kualitas interaksi.

Beberapa keluhan yang specifik adalah kurangnya minat yang diperlihatkan oleh dokter, pengguaan istilah medis yang berlebihan, kurangnya empati dan hampir setengah dari ibu-ibu tersebut tidak memperoleh kejelasan tentang penyebab penyakit anaknya, yang sering kali menimbulkan kecemasan. Dari penelitian ini, dapat dilihat bahwa kesalahan seperti ini dengan mudah diatasi dengan ketrampilan komunikasi terapeutik yang dibina antara pasien dan pasien dengan tenaga kesehatan.

Menurut Ley dan Spelman dalam Niven (2002), menemukan bahwa lebih dari 60% responden yang di wawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti tentang instruksi yang diberikan kepada mereka. Kadang kadang hal ini disebabkan oleh kegagalan/ kesalahan profesional dalam memberikan informasi lengkap, penggunaan istilah-istilah medis dan memberikan banyak instruksi yang harus diingat oleh penderita.

Pemahaman tentang instruksi petugas kesehatan sangat perlu, jika seseorang tidak memahami instruksi maka konsekwensi yang akan didapat adalah ketidakpatuhan. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien, adalah suatu hal penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi diagnosis. Pasien membutuhkan penjelasan tentang kondisinya saat ini, apa

penyebabnya dan apa yang dapat mereka lakukan dengan kondisi seperti itu. Suatu penjelasan tentang penyebab penyakit dan bagaimana pengobatannya, dapat membantu meningkatkan kepercayaan pasien. Untuk melakukan konsultasi dan selanjutnya meningkatkan kepatuhan.

Kozier dkk. (2010) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan yaitu motivasi klien untuk sembuh, dan durasi terapi yang dianjurkan yakni tingkat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan, persepsi keparahan masalah kesehatan, nilai upaya mengurangi ancaman kesehatan, kesulitan memahami dan melakukan perilaku yang dianjurkan, tingkat gangguan penyakit atau rangkaian terapi, keyakinan bahwa terapi atau rejimen yang diprogramkan akan membantu, kerumitan, efek samping, warisan budaya tertentu yang membuat kepatuhan menjadi sulit dilakukan, tingkat kepuasan, kualitas dan jenis hubungan dengan penyedia pelayanan kesehatan serta seluruh terapi yang diprogramkan.

Dokumen terkait