• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI APABILA TERJADI WANPRESTASI (STUDI

KEABSAHAN PERJANJIAN LEASING DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERDATA

C. Penyebab Terjadinya Wanprestasi dalam Perjanjian

Dalam pelaksanaan isi perjanjian sebagaimana yang telah ditentukan dalam suatu perjanjian yang sah, tidak jarang terjadi wanprestasi oleh pihak yang dibebani kewajiban (debitur) tersebut. Tidak dipenuhinya suatu prestasi atau

kewajiban (wanprestasi) ini dapat dikarenakan oleh dua kemungkinan alasan. Dua kemungkinan alasan tersebut antara lain adalah :68

1. Karena kesalahan debitur, baik karena kesengajaan ataupun kelalaiannya Kesalahan disini adalah kesalahan yang menimbulkan kerugian. Dikatakan orang mempunyai kesalahan dalam peristiwa tertentu kalau ia sebenarnya dapat menghindari terjadinya peristiwa yang merugikan itu baik dengan tidak berbuat atau berbuat lain dan timbulanya kerugian itu dapat dipersalahkan kepadanya.

Dimana tertentu kesemuanya dengan memperhitungkan keadaan dan suasana pada saat peristiwa itu terjadi.

Kerugian itu dapat dipersalahkan kepadanya (debitur) jika ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam peristiwa yang merugikan itu pada diri debitur yang dapat dipertanggung jawabkan kepadanya. Kita katakan debitur sengaja kalau kerugian itu memang diniati dan dikehendaki oleh debitur, sedangkan kelalaian adalah peristiwa dimana seorang debitur seharusnya tahu atau patut menduga, bahwa dengan perbuatan atau sikap yang diambil olehnya akan timbul kerugian.

Disini debitur belum tahu pasti apakah kerugian akan muncul atau tidak, tetapi sebagai orang yang normal seharusnya tahu atau bisa menduga akan kemungkinan munculnya kerugian tersebut. Dengan demikian kesalahan disini berkaitan dengan masalah “dapat menghindari” (dapat berbuat atau bersikap lain) dan “dapat menduga” (akan timbulnya kerugian).69

68 J. Satrio, Op.Cit, hal. 90

69 Ibid.

2. Karena keadaan memaksa (Overmacht / force majure), diluar kemampuan debitur , atau debitur tidak bersalah

Keadaan memaksa ialah keadaan dimana tidak dapat dipenuhinya prestasi oleh pihak debitur karena terjadi suatu peristiwa bukan karena kesalahannya, peristiwa mana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan. Vollmar menyatakan bahwa overmacht itu hanya dapat timbul dari kenyataankenyataan dan keadaan-keadaan tidak dapat diduga lebih dahulu.

Dalam hukum anglo saxon (inggris) keadaan memaksa ini dilukiskan dengan istilah “Frustration” yang berarti halangan, yaitu suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi diluar tanggung jawab pihak-pihak yang membuat perikatan (perjanjian) itu tidak dapat dilaksanakan sama sekali. Dalam keadaan memaksa ini debitur tidak dapat dipersalahkan karena keadaan memaksa tersebut timbul diluar kemauan dan kemampuan debitur. Wanprestasi yang diakibatkan oleh keadaan memaksa biasa terjadi karena benda yang menjadi objek perikatan itu binasa atau lenyap, bisa juga terjadi karena perbuatan debitur untuk berprestasi itu terhalang seperti yang telah diuraikan di atas. Keadaan memaksa yang menimpa benda objek perikatan biasa menimbulkan kerugian sebagian dan dapat juga menimbulkan kerugian total.

Sedangkan keadaan memaksa yang menghalangi perbuatan debitur memenuhi prestasi itu bisa bersifat sementara maupun bersifat tetap. Unsur-unsur yang terdapat dalam keadaan memaksa itu ialah:

a. Tidak dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang membinasakan benda menjadi objek perikatan, hal ini tentunya bersifat tetap.

b. Tidak dapat dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi, ini dapat bersifat tetap atau sementara.

c. Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan baik oleh debitur maupun oleh kreditur, jadi bukan karena kesalahan para pihak , khususnya debitur.

Mengenai keadaan memaksa yang menjadi salah satu penyebab timbulnya wanprestasi dalam pelaksanaan perjanjian. Dikenal dua macam ajaran mengenai keadaan memaksa tersebut dalam ilmu hukum , yaitu ajaran memaksa yang bersifat objektif dan subjektif. yang mana ajaran mengenai keadaan memaksa (overmachtsleer) ini sudah dikenal dalam hukum Romawi, yang berkembang dari janji (beding) pada perikatan untuk memberikan benda tertentu. Dalam hal benda tersebut karena adanya keadaan yang memaksa musnah maka tidak hanya kewajibannya untuk menyerahkan tetapi seluruh perikatan menjadi hapus, tetapi prestasinya harus benar-benar tidak mungkin lagi.

Pada awalnya dahulu hanya dikenal ajaran mengenai keadaan memaksa yang bersifat objektif. Lalu dalam perkembangannya kemudian muncul ajaran mengenai keadaan memaksa yang bersifat subjektif.

Objektif artinya benda yang menjadi objek perikatan tidak mungkin dapat dipenuhi oleh siapapun. Menurut ajaran ini debitur baru bisa mengemukakan adanya keadaan memaksa (Overmacht) kalau setiap orang dalam kedudukan

debitur tidak mungkin untuk berprestasi (Sebagaimana mestinya). Jadi keadaan memaksa tersebut ada jika setiap orang sama sekali tidak mungkin memenuhi prestasi yang berupa benda objek perikatan itu. Oleh karena itu ukurannya

“orang” (pada umumnya) tidak bisa berprestasi bukan “debitur” tidak bisa berprestasi, sehingga kepribadiannya, kecakapan, keadaannya, kemampuan finansialnya tidak dipakai sebagai ukuran, yang menjadi ukuran adalah orang pada umumnya dan karenanya dikatakan memakai ukuran objektif.70

Dasar ajaran ini adalah ketidakmungkinan. Vollmar menyebutkan keadaan memaksa ini dengan istilah “absolute overmacht” apabila benda objek perikatan itu musnah diluar kesalahan debitur Marsch and soulsby juga menyatakan bahwa suatu perjanjian tidak mungkin dilaksanakan apabila setelah perjanjian dibuat terjadi perubahan dalam hukum yang mengakibatkan bahwa perjanjian yang telah dibuat itu menjadi melawan hukum jika dilaksanakan. Dalam keadaan yang seperti ini secara otomatis keadaan memaksa tersebut mengakhiri perikatan karena tidak mungkin dapat dipenuhi. Dengan kata lain perikatan menjadi batal, keadaan memaksa disini bersifat tetap.

Dikatakan subjektif dikarenakan menyangkut perbuatan debitur itu sendiri, menyangkut kemampuan debitur sendiri, jadi terbatas pada perbuatan atau kemampuan debitur. (2). Keadaan Memaksa yang Bersifat Subjektif Salah seorang sarjana yang terkenal mengembangkan teori tentang keadaan memaksa adalah houwing. Menurut pendapatnya dalam buku V (lima). Brakel keadaan memaksa ada kalau debitur telah melakukan segala upaya yang menurut ukuran

70 Ibid.

yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan patut untuk dilakukan, sesuai dengan perjanjian tersebut.

Debitur oleh Houwing adalah debitur yang bersangkutan. Disini tidak dipakai ukuran “debitur pada umumnya” (objektif), tetapi debitur tertentu, jadi subjektif. Oleh karena yang dipakai sebagai ukuran adalah subjek debitur tertentu, maka kita tidak bisa melepaskan diri dari pertimbangan debitur yang bersangkutan dengan semua ciri-cirinya atau dengan perkataan lain kecakapan, tingkat sosial, kemampuan ekonomis debitur yang bersangkutan turut diperhitungkan.

Dasar ajaran ini adalah kesulitan-kesulitan menurut ajaran ini debitur itu masih mungkin memenuhi prestasi walaupun mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya. Vollmar menyebutnya dengan istilah “relatieve overmacht”.

Keadaan memaksa dalam hal ini bersifat sementara. Oleh karenanya perikatan tidak otomatis batal melainkan hanya terjadi penundaan pelaksanaan prestasi oleh debitur. Jika kesulitan yang menjadi hambatan pelaksanaan prestasi tersebut sudah tidak ada lagi maka pemenuhan prestasi diteruskan.

Timbulnya ajaran mengenai keadaan memaksa seperti yang telah diuraikan di atas dikarenakan keadaan memaksa tidak mendapatkan pengaturan secara umum dalam Undang-Undang. Karena itu hakim berwenang meminta fakta yang terjadi (wanprestasi) bahwa debitur sedang dalam keadaan memaksa (overmacht) atau tidak, sehingga diketahui apakah debitur dapat dibebani kewajiban atas resiko atau tidak atas wanprestasi tersebut.

Seorang debitur yang wanprestasi dapat membela diri dengan mengajukan beberapa macam alasan untuk membebaskan dirinya dari hukuman itu. Pembelaan tersebut ada tiga macam, yaitu:71

1. Mengajukan tuntutan adanya keadaan memaksa (overmacht atau force majeur)

2. Mengajukan bahwa si berpiutang (kreditur) sendiri juga telah lalai (exceptio non adimpleti contractus)

3. Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi (pelepasan hak atau “rechtsverwerking”).

Sedangkan pada penelitian ini, terjadi wanprestasi perjanjian konsumen antara Jekki Saputra dengan PT Adira Dinamika Multi Finance, Tbk. Dimana Jekki Saputra selaku konsumen dari PT Adira Dinamika Multi Finance, Tbk telah melakukan wanprestasi dengan tidak membayar tagihan serta telah melakukan pengalihan terhadap objek jaminan fidusia kepada pihak ketiga. Atas dasar itulah kemudian menjadi dasar penyebab terjadinya sengketa konsumen. Awalnya sengketa ini diselesaikan pada Badan Penyelesaian Sengeketa Konsumen namun tidak mencapai kata sepakat hingga ditempuh jalur peradilan.

Pemberian suatu fasilitas kredit mengandung risiko kemacetan.

Akibatnya, kredit tidak dapat ditagih, sehingga menimbulkan kerugnian. Sebaik apapun analisis kredit yang dilakukan dalam mempertimbangkan permohonan kredit, kemungkinan terjadinya kredit bermasalah dan bermasalah tetap ada.

Kredit bermasalah adalah kredit dimana debiturnya tidak memenuhi persyaratan

71 http://blogprinsip.blogspot.co.id/2012/10/pembelaan-debitur-yang-dituduh-lalai.html diakses pada 15 Juni 2020

yang telah diperjanjikan sebelumnya, misalnya persyaratan mengenai pembayaran bunga, pengambilan pokok pinjaman, peningkatan margin deposit, pengikatan dan peningkatan agunan dan sebagainya.72

Menurut S. Mantayborbir: suatu kredit dikatakan bermasalah karena debitur wanprestasi atau ingkar janji atau tidak menyelesaikan kewajibanya sesuai dengan perjanjian baik jumlah maupun waktu, misalnya pembayaran atas perhitungan bunga maupun utang pokok. 73

Subarjo Joyosumarto mengemukakan: Kredit bermasalah adalah yang angsuran pokok dan bunganya tidak dapat dilunasi selama lebih dari 2 masa angsuran ditambah 21 bulan, atau penyelesaian kredit telah diserahkan kepada pengadilan atau Badan Urusan Piutang Lelang Negara atau telah diajukan ganti rugi kepada perusahaan angsuransi kredit.

Suatu kredit dikatakan bermasalah sejak tidak ditepatinya atau tidak dipenuhinya ketentuan yang tercantum dalam perjanjian kredit, yaitu apabila debitur selama tiga kali berturut-turut tidak membayar angsuran dan bunganya.

Adapun tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

a. Sebelum jatuh tempo, rekening tidak menunjukkan mutasi debet dan kredit;

b. Kredit mengalami overdraft secara terus menerus;

c. Adanya tanda-tanda bahwa debitur tidak sanggup lagi membayar bunga atas kredit yang diberikan pihak kreditur.

72 Mahmoeddin, Melacak Kredit Bermasalah, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2002, hal.

2

73 Ibid, hal. 4

Fasilitas kredit yang diperoleh dari pihak kreditur tidak seluruhnya dapat dikembalikan utangnya dengan lancar sesuai dengan waktu yang telah diperjanjikan. Pada kenyataannya di dalam praktik selalu ada sebagian debitur yang tidak dapat mengembalikan kredit kepada kreditur yang telah meminjamkannya. Apabila debitur tidak dapat membayar lunas utangnya, maka tergambar perjalanan kredit menjadi terhenti atau macet.

Seiring dengan semakin meningkatnya pertumbuhan kredit pada Pegadaian (penyaluran kredit), biasanya disertai dengan meningkatnya kredit macet. Dalam menjalankan kegiatannya di bidang usaha penyaluran kredit, Pegadaian dihadapkan pada permasalahan risiko yaitu risiko pengembalian kredit sehubungan dengan adanya jangka waktu antara pencairan kredit dengan pembayaran kembali. Kemungkinan bagi nasabah debitur untuk melakukan wanprestasi masih terbuka. Bentuk wanprestasi tersebut seperti kondisi dimana kredit yang telah disalurkan kepada nasabah debitur ternyata tidak dapat dibayarkan kembali kepada pihak Pegadaian oleh nasabah debitur tepat pada waktu yang telah diperjanjikan meliputi pinjaman pokok beserta bunga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Wanprestasi yang mungkin dilakukan oleh nasabah debitur yang melakukan perjanjian dengan Pegadaian ada empat macam yaitu:74

1. Tidak melakukan apa- apa yang disanggupi akan dilakukannya.

2. Melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana dijanjikan.

3. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat.

74 R. Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta, PT. Intermasa, 1979, hal. 45

4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Berdasarkan kolektibilitas kredit, yang menggambarkan kualitas kredit tersebut dapat dibagi menjadi lima golongan kolektibilitas, yaitu kredit lancar, kredit dalam perhatian khusus, kredit kurang lancar, kredit diragukan, dan kredit macet. Mengenai masing- masing kualitas kredit tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:75

1. Kredit lancar, yaitu jika memenuhi kriteria:

a. Pembayaran angsuran pokok dan/ atau bunga tepat;

b. Memiliki mutasi rekening yang aktif;

c. Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai.

2. Kredit dalam perhatian khusus, yaitu jika memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga b. Kadang- kadang terjadi cerukan;

c. Mutasi rekening relatif rendah;

d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan;

e. Didukung oleh pinjaman baru.

3. Kredit kurang lancar, yaitu jika memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 90 hari;

b. Sering terjadi cerukan;

c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah;

d. Terjadi pelanggaran kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari;

75 Hermansyah, Op. Cit, hal. 66

e. Dokumentasi pinjaman yang lemah.

4. Kredit yang diragukan, yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 180 hari;

b. Sering terjadi cerukan yang bersifat permanen;

c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari;

d. Terjadi kapitalisasi bunga;

e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun peningkatan jaminan.

5. Kredit macet, yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Terjadi tunggakan angsuran pokok dan/ atau bunga yang telah melampaui 270 hari;

b. Kerugian operasional ditutup pinjaman baru;

c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kredit bermasalah dapat terjadi dalam pelaksanaan kredit. Kredit bermasalah ini terjadi akibat lalainya debitur dalam menjalankan kewajibannya yakni membayar cicilan kredit. Menurut ketentuan Pasal 1238 KUH Perdata, debitur adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa yang berhutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.76

76 M. Bahsan, Op. Cit, hal. 67

Wanprestasi artinya tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan, baik perikatan yang timbul karena perjanjian maupun perikatan yang timbul karena Undang-Undang. Untuk menyatakan apakah seorang debitur bersalah melakukan wanprestasi atau cidera janji, perlu diketahui dalam keadaan bagaimana debitur dikatakan sengaja atau lalai tidak memenuhi prestasi.77

Wanprestasi dapat terjadi dalam beberapa hal. Dalam wanpreastasi ada tiga pokok hal yang menyebabkan terjadinya wanprestasi atau pelanggaran terhadap isi perjanjian, yaitu :

1. Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali, artinya debitur tidak memenuhi kewajiban yang disanggupinya untuk dipenuhi dalam suatu perjanjian atau tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan Undang dalam perjanjian yang timbul karena Undang-Undang.

2. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak baik atau keliru. Disini debitur melaksanakan atau memenuhi apa yang diperjanjikan atau apa yang ditentukan oleh Undang-Undang, tetapi tidak sebagaimana mestinya menurut kualitas yang ditentukan dalam perjanjian atau menurut kualitas yang ditetapkan Undang-Undang.

3. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat waktunya atau terlambat, artinya debitur memenuhi prestasi tetapi terlambat, waktu yang ditetapkan dalam perjanjian tidak terpenuhi.

77 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Perjanjian, Bandung, Sumur,1981, hal.17

Apabila debitur melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati, maka nasabah tersebut telah melakukan wanprestasi. Tentunya hal ini memiliki akibat hukum. Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau sanksi hukum yaitu:78

1. Debitur diwajibkan membayar ganti kerugian yang telah diderita oleh kreditur.

2. Apabila perikatan itu timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan atau pembatalan perikatan melalui hakim.

3. Dalam perikatan untuk memberikan sesuatu, resiko beralih kepada debitur sejak wanprestasi.

4. Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan, atau pembatalan disertai pembayaran ganti kerugian.

5. Debitur wajib membayar biaya perkara jika diperkarakan di muka Pengadilan Negeri, dan debitur dinyatakan bersalah.

Berkenaan dengan banyaknya masalah tentang terjadinya wanprestasi di dalam pemberian kredit yang dikarenakan debitur tidak melunasi hutangnya kepada kreditur yang telah jatuh waktu, maka jaminan debitur akan disita oleh kreditur berdasarkan perjanjian yang disepakati.

Faktor penyebab terjadinya kredit bermasalah dalam pelaksanaan kredit dapat dilihat dalam uraian berikut ini. Faktor-faktor intern kreditur yang dapat menyebabkan kredit bermasalah antara lain:79

1. Taksasi nilai jaminan yang lebih tinggi dari nilai sebenarnya;

78 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal. 205

79 Retnowulan Susanto, Capita Selekta Hukum Perbankan, Jakarta, Ikahi Makamah Agung, 1995, hal. 319

2. Kredit diberikan tanpa pendapat pendapat dan saran dari komite kredit, atau diusulkan oleh petugas yang mempunyai hubungan persahabatan dengan debitur;

3. Penambahan kredit tanpa tambahan jaminan yang cukup;

4. Daftar keuangan dan dokumen pendukung yang diserahkan kepada bank, telah direkayasa sebelumnya, tidak diaudit atau tidak diverifikasi;

5. Kreditur tidak berhasil menguasai jaminan secepatnya, ketika mereka mencium tanda-tanda bahwa kredit yang diberikan berkembang kea rah kredit bermasalah.

Penyebab terjadinya kredit bermasalah ternyata bukan hanya berasal dari kreditur, tetapi ada juga dipengaruhi faktor intern debitur. Faktor intern debitur sebagai penyebab kredit bermasalah, yaitu:80

Dalam perjanjian kredit, debitur dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu debitur perorangan dan debitur perusahaan atau korporasi. Pada debitur perorangan, penyebab kredit bermasalah berkaitan erat dengan penerimaan penghasilan tetap mereka karena sumber dana pembayaran bunga dan angsuran kredit sebagian besar berasal dari penghasilan tetap mereka, misalnya gaji, upah, honorarium dan sebagainya, sehingga apabila terjadi gangguan terhadap kesinambungan penerimaan penghasilan tetap mereka, hal ini akan menyebabkan ketidaklancaran keuangan mereka. Hal ini menyebabkan kredit bermasalah pada debitur perorangan juga berhubungan dengan gangguan terhadap diri pribadi debitur seperti misalnya kecelakaan, sakit, kematian, perceraian dan sebagainya.

80Siswanto Sutojo, Menangani Kredit Bermasalah Konsep, Teknis, dan Kasus, Jakarta, Pustaka Binaman Preessindo, 1997, hal. 20

Sedangkan penyebab kredit bermasalah pada debitur korporasi ada 3 (tiga) faktor utama yaitu salah urus (mismanagement), kurangnya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang usaha yang mereka jalankan, dan penipuan.81

Banyak yang menjadi alasan terjadinya kerugian pinjaman, dan semua alasan yang ada bisa saja tidak berlaku untuk semua perusahaan. Sebagian pejabat kredit mengatakan bahwa penyebab yang paling utama adalah manajemen yang buruk.82 Faktor penting lainnya adalah yang dinamakan dengan kondisi ekonomi yang buruk,selain itu digabungkan dengan ketergantungan yang terlalu besar pada pinjaman.83 Kecurangan juga merupakan penyebab utama kerugian pinjaman.

Walaupun faktor tersebut juga mungkin saja dihadapi jika hubungan antara kreditur dan peminjam mengalami ketegangan dan adanya kemunduran kerja sama antara peminjam dan pihak kreditur yang bersangkutan. Hal ini mungkin terjadi jika likuidasi perusahaan harus dilakukan.

81 Thomas Suyatno, Dasar-Dasar Perkreditan, Jakarta, Gramedia, 1990, hal. 115

82 “Kreditur BUMN Seperti Keong”, http://www.majalahtrust.com/subscribe.html.

diakses terakhir tanggal 15 Juni 2020

83 Ibid.

PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TERJADI