• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyebaran kuesioner atau wawancara terfokus

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 49-57)

MONITORING DAN EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM SERTIFIKASI GURU KOTA SALATIGA

3. Penyebaran kuesioner atau wawancara terfokus

Isi kuesioner dan wawancara disesuaikan dengan desain gap analysis yang akan dilakukan. Pertanyaan kuesioner dan wawancara mencakup aspek dan dimensi yang akan diukur. Dimensi pelayanan misalnya adalah dimensi: fisik, dimensi keterlibatan, dimensi ketepatan, dimensi keterjaminan, dan dimensi empati. Untuk memudahkan pengukuran secara kuantitatif, maka setiap dimensi yang dinilai diberi skala atau skor. Peserta FFGD adalah guru dan kepala sekolah serta komite sekolah SD pelaksana MBS dari 16 SD, pengawas sekolah yag bersangkutan, Ka UPTD, serta Dewan Pendidikan yang semuanya berjumlah 24 orang.

4. Analisis Data

Dengan menggunakan statistik deskriptif dapat diketahui: rata-rata skor untuk setiap pasangan faktor yang sedang dikalkulasi kesenjangannya. Selain itu juga untuk perhitungan kesenjangan untuk masing-masing dimensi.

5. Follow Up

Dengan berdasarkan hasil analisis tersebut, kita dapat mengetahui kinerja pelayanan yang diberikannya. Selanjutnya lembaga yang bersangkutran dapat menyusun kebijakan yang diperlukan untuk menutupi kesenjangan tersebut.

Guna kepentingan monev yang dapat dipertanggung-jawabkan, sumber informasi diusahakan merata dan seimbang dari semua stake-holder, baik birokrat/dinas pendidikan, pelaksana lapang (Kepala Sekolah, guru, komite sekolah dan pengawas), dan masyarakat yang terepresentasikan Dalam Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang semuanya 24 orang. Bentuk kegiatan ini ditempuh melalui penjaringan informasi dengan kuestioner yang dilanjutkan dengan wawancara/diskusi terfokus atau yang lebih dikenal FGD dengan stake holder terpilih. Standar yang digali melalui kuestioner diambil dari Buku Panduan Sertifikasi Guru; Garis besar hasil kuestioner dibahas dalam FGD dikaitkan dengan faktor yang mempengaruhinya.

38

Hasil Analisis Kesenjangan (Monev) Program Sertifikasi Guru

Setelah pengisian kuestionaer dan FGD dengan melibatkan 24 orang kunci, dianalisis yang hasilnya dapatlah dirangkum dalam 4 pokok monev seperti berikut ini.

Proses Implementasi Sertifikasi Guru Yang Sesuai Standar

Gap bernilai positif nilai aktual dengan Ideal atau yang seharusnya dalam implementasi program sertifikasi guru dapat disampaikan seperti berikut ini.

1.

Dasar utama pelaksanaan sertifikasi menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional

2.

Seleksi calon peserta, lebih transparan dan objektif apalagi melalui system online atau website

3.

Tidak-ada pemotongan oleh (atau upeti untuk) oknum tertentu atas tunjangan sertifikasi yang

diterima guru selama ini.

Kesenjangan Proses Implementasi Program Sertifikasi Guru

Gap hasil monev program sertifikasi guru bernilai (-) negatif karena nilai aktual lebih kecil dari nilai target, terkait dengan proses implementasi seperti berikut ini.

1.

Syarat sertifikasi guru diperketat, dengan menyelenggarakan uji kompetensi; ada guru yang takut diuji kompetensi, guru yang bersangkutan dinilai tidak profesional

2.

Calon peserta sertifikasi guru harus memenuhi berbagai persyaratan. Diantaranya, pada 1 Januari 2012 sudah mencapai usian 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru atau mempunyai golongan IV/A atau memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/A

3.

Sertifikasi guru belum menjamin peningkatan kualitas guru; kalau guru mengikuti sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan/ seharusnya untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standar kompetensi guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud.

4.

Sertifikasi guru belum dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel; Berujung pada peningkatan mutu pendidikan nasional melalui peningkatan guru dan kesejahteraan guru; Terkesan belum dilaksanakan secara terencana dan sistematis.

5.

LPTK Penyelenggara sertifikasi guru belum berupaya melaksanakan proses PLPG sebagaimana mestinya.

Keberhasilan Program Sertifikasi Guru Sesuai Dengan Standar

Gap bernilai positif nilai aktual dengan standar atau yang seharusnya dalam implementasi program sertifikasi guru dapat disampaikan seperti berikut ini.

1.

Guru profesional (bersertifikat) merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas

2.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 14/2005, sertifikasi guru akan terus dilaksanakan sampai Undang-Undang tidak mengamanatkan pelaksanaan sertifikasi guru

39

3.

Sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi untuk meningkat kualitas guru, memiliki kompetensi, mengangkat harkat dan wibawa guru sehingga guru lebih dihargai dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia

4.

Manfaat Sertifikasi Guru:

a. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru itu sendiri.

b. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang akan dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di negeri ini.

c. Memperoleh tunjangan profesi bagi guru yang lulus ujian sertifikasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan guru

5.

Sikap yang harus dibangun para guru adalah profesionalisme, kualitas, mengenal dan menekuni profesi keguruan, meningkatkan kualitas keguruan, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru, kerasan dan bangga atas keguruannya

Banyak faktor yang ikut menentukan keberhasilan sertifikasi guru yaitu: komunikasi, sumber daya, sikap para pelaksana, stuktur birokrasi, organisasi pelaksana, lingkungan.

Kesenjangan Dampak Implementasi Program Sertifikasi Guru

Gap hasil monev dampak program sertifikasi guru bernilai (-) negatif karena nilai aktual yang dicapai lebih kecil dari nilai target, terkait dengan hasil/dampak implementasi seperti berikut ini.

1.

Sertifikasi guru bertujuan untuk:

a. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional

b. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan c. Meningkatkan martabat guru

d. Meningkatkan profesionalitas guru

2.

Sertifikasi seharusnya dimanfaatkan juga untuk memetakan kondisi guru. Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan guru tidak pukul rata, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan guru untuk meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik profesional.

3.

Sertifikasi guru harusnya memuaskan, mampu menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan

4.

Sesuai tujuan, sertifikasi guru belum mampu melahirkan guru yang profesional

5.

Sertifikai guru baru sekadar menambah pendapatan guru

6.

Penerimaan tunjangan profesi (sebesar satu kali gaji pokok) belum tepat waktu, ada yang setiap tiga bulan, enam bulan, atau per tahun yang kepastiannya kurang jelas.

Pembahasan

Uraian berikut ini memaparkan pembahasan hasil monev ditinjau dari tiga sisi, keberhasilan program, kekurang-berhasilan program sertifikasi guru dan faktor yang mempengaruhinya.

40 Sisi Keberhasilan Program Sertifikasi Guru

Pada awalnya banyak fihak mempertanyakan keberhasilan program Sertifikasi Guru. Dalam perbincangasn awal, dalam portofolio ditemukan dokumen yang aspal dan meragukan. Setelah itu ada PLPG untuk memenuhi syarat sertifikasi juga dirasa tidak begitu efektif. Fenomena-fenomena tadi menghantar kepada kesan bahwa program sertifikasi tidak banyak membantu meningkatkan kualitas guru, dan program itu salah sasaran (Kompas, 13 November 2009).

Di tengah sisnisme pelaksanaan sertifikasi yg terkesan formalistik, ada dua fenomena yang harus dilihat sebagai keberhasilan implementasi program Sertifikasi Guru. Yang pertama, terkait dengan dimensi proses dan yang kedua terkait dengan hasil atau dampak program.

Berdasarkan hasil monev, keberhasilan implementasi Program sertifikasi guru menyangkut: Seleksi calon peserta yang lebih transparan dan objektif apalagi melalui system online atau website dan tidak-adanya pemotongan oleh (atau upeti untuk) oknum tertentu atas tunjangan sertifikasi yang diterima guru selama ini. Selain itu sesuai dasar utama pelaksanaan sertifikasi yang menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional benar-benar terpenuhi.

Keberhasilan Program sertifikasi guru dapat dipaparkan sesuai hasil monev ini adalah terpenuhinya syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas (Guru profesional adalah guru yang bersertifikat); Oleh karena itu, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 14/2005, sertifikasi guru akan terus dilaksanakan. Selanjutnya sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi untuk meningkat kualitas guru, memiliki kompetensi, mengangkat harkat dan wibawa guru sehingga guru lebih dihargai, selain itu yang jauh lebih penting adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sertifikasi guru telah terbukti memberi manfaat: Memperoleh tunjangan profesi bagi guru yang lulus ujian sertifikasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan guru, melindungi profesi guru dari praktik-praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten (yang dapat merusak citra profesi guru itu sendiri) dan melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang akan dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di negeri ini.

Sikap yang harus dibangun para guru adalah profesionalisme, kualitas, mengenal dan menekuni profesi keguruan, meningkatkan kualitas keguruan, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru, kerasan dan bangga atas keguruannya Banyak faktor yang ikut menentukan keberhasilan sertifikasi guru yaitu: komunikasi, sumber daya, sikap para pelaksana, stuktur birokrasi, organisasi pelaksana, lingkungan. Semua faktor tersebut perlu mendapat perhatian agar dapat diantisipasi agar memberi pengaruh positif atas keberlanjutan program sertifikasi guru. Sisi Kekurang-berhasilan Program Sertifikasi Guru

Pada sisi ini juga dapat dipilah menjadi 2 segi yaitu segi proses implementasi dan segi hasil atau dampak program sertifikasi guru. Proses yang kurang sesuai (terdapat kesenjangan yang tinggi dengan Ideal atau yang seharusnya) dalam implementasi terkait dengan persyaratan sertifikasi guru yang makin diperketat, dengan menyelenggarakan uji kompetensi; ada guru yang takut diuji kompetensi, guru yang bersangkutan dinilai tak profesional. Selain itu, calon peserta harus

41

memenuhi berbagai persyaratan: usia, pengalaman kerja, golongan atau angka kredit kumulatif. Hal yang masih memprihatinkan terkait dengan jaminan peningkatan kualitas guru; kalau guru mengikuti sertifikasi, (tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi), melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standar kompetensi guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud belum terwujud. Sertifikasi guru terkesan belum dilaksanakan secara objektif, transparan, terencana dan sistematis serta akuntabel; Dengan demikian disangsikan kalau akan berujung pada peningkatan mutu pendidikan nasional (melalui peningkatan guru dan kesejahteraan guru). ; Dilaksanakan secara.

LPTK Penyelenggara sertifikasi guru belum berupaya melaksanakan proses PLPG sebagaimana mestinya. Oleh karena itu pemerintah perlu menyiapkan lembaga penjaminan mutu untuk memantau keberlanjutan profesionalisme kinerja guru yang sertified agar mutu pendidikan nasional dapat meningkat.

Kekurang-berhasilan (kesenjangan) dampak Program Sertifikasi guru dalam implementasinya terkait dengan penentuan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, peningkatan proses dan mutu hasil pendidikan, peningkatan martabat dan profesionalitas guru; Sertifikasi seharusnya dimanfaatkan juga untuk memetakan kondisi guru. Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan guru tidak pukul rata, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan guru untuk meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik profesional.

Sertifikasi guru belum memuaskan, belum mampu menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; Sesuai tujuan, sertifikasi guru belum sepenuhnya mampu melahirkan guru yang profesional; Yang terjadi, sertifikai guru baru sekadar menambah pendapatan guru; Penerimaan tunjangan profesi (sebesar satu kali gaji pokok) belum selalu tepat waktu, ada yang setiap tiga bulan, enam bulan, atau per tahun. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan pembenahan sambil melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan sertifikasi guru, apakah sudah sesuai dengan tujuan UU yaitu menciptakan guru yang berkualitas dan profesional.sosial dan ekonomi?.

Faktor yang Mempengaruhi

Sehubungan dengan implementasi kebijakan/program sertifikasi guru yang hasil monevnya seperti di atas, keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor: (1) The policy design. (2) Strategy. (3) The commitment and capacity of the bureaucratic system; (4) Particularly the degree of support of opposition encountered in the community, and the ability of those likely to benefit to be able to build effective coalitions of on-going support and political pressure. Kebijakan Program sertifikasi guru akan berhasil-guna jika dalam implementasinya berlangsung dengan baik. Baik-buruknya implementasi tersebut yang oleh Alexander, R. (1992) dapat dianalisis dari (1) praktek yang terobservasi dan (2) ide, nilai dan kepercayaan dengan berbagai aspeknya yang bisa dipakai sebagai kerangka kerja/berpikir tentang faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Dalam membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan sertifikasi guru, menarik untuk memperhatikan pendapat Herman, J. dalam Hough, J. R. (ed) (1984) seperti berikut ini. To appreciate more fully why key policy problems have been tackled in particular ways; It is helpful to

42

have some understanding of the main policy actors involved and of the characteristic ways in which education policy is developed and applied. Within any community, divergent and often conflicting views are held about where the real power lies in terms of edu ation poli y de isions”. Aktor yang dimaksud terutama menyangkut konsern mereka yang lebih lanjut terdapat lima tipe seperti diungkapkan oleh Rein Van der Vegt, Leo F. Smyth, Roland Vandenberg (2001): 1. the identity- inclusion concern, 2. investment of effort, 3. professional competence, 4. influence, dan 4. fairness.

Akhirnya Winarsih, 2008. Telah berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Implementasi Kebijakan Sertifikasi Guru Sekolah Dasar (Studi Kasus Di Kabupaten Semarang), yaitu: 1). Komunikasi, yang meliputi transmisi, konsistensi, dan kejelasan. Informasi tentang pelaksanaan sertifikasi guru SD telah dimengerti dengan cermat oleh para pelaksana. Dalam pelaksanaannya, para pelaksana sudah mampu menyampaikan informasi dengan baik. Kejelasan merupakan aspek yang menjadi permasalahan dalam komunikasi informasi kebijakan sertifikasi guru SD di Kabupaten Semarang. Ketidakjelasan informasi ini antara lain mengenai persyaratan masa kerja guru, format (portofolio dan RPP). 2). Sumber daya yang meliputi staf, informasi, wewenang dan fasilitas. Terkait dengan Informasi implementasi kebijakan sertifikasi guru sudah memadai namun bagi guru yang ingin memiliki buku panduan harus menggandakan sendiri. Dalam pelaksanaan sertifikasi Guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang mampu menjalankan wewenang secara efektif . komponen fasilitas, di Kabupaten Semarang termasuk tidak memadai baik sarana dan prasarana maupun anggaran khusus untuk pelaksanaan sertifikasi tidak ada. 3). Disposisi Implementor, Secara umum kecenderungan pelaksana dalam implementasi kebijakan guru adalah baik. Para pelaksana kebijakan sertifikasi ini memiliki sikap atau perspektif yang mendukung kebijakan sehingga proses implementasi kebijakan berjalan efektif. 4). Struktur Birokrasi, dalam pelaksanaan sertifikasi guru termasuk baik. SOP yang digunakan mengacu pada buku pedoman. Dan 5). Kondisi Sosial Ekonomi mendukung pelaksanaan sertifikasi guru; Kesadaran para guru bahwa kalau sudah tersertifikasi maka diakui profesionalismenya serta mendapatkan tunjangan profesi menjadi faktor pendukung.

Penutup

Secara singkat, gap analysis program sertifikasi gurtu ini bermanfaat untuk: menilai seberapa besar kesenjangan antara kinerja aktual dengan suatu ideal yang diharapkan; sehingga dapat diketahui peningkatan kinerja yang diperlukan untuk menutup kesenjangan, dan menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan terkait prioritas waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan dan manfaat pelayanan sertifikasi guru yang telah ditetapkan.

Keberhasilan implementasi Program sertifikasi guru menyangkut: proses seleksi calon peserta yang lebih transparan dan objektif apalagi melalui system online; Telah dihasilkan guru yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.Telah terpenuhinya syarat untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas (yang mampu mengangkat harkat dan wibawa guru) untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Sertifikasi guru telah terbukti memberi manfaat: guru memperoleh tunjangan profesi (tidak ada pemotongan) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan guru, melindungi profesi guru dan melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan atau tidak profesional.

43

Masih terdapat gap yang bernilai negatif terkait dengan persyaratan, rekruitmen dan proses sertifikasi guru; sehingga wajar jika hasil/dampaknya belum maksimal, terutama terkait dengan peningkatan martabat dan profesionalitas guru, Sertifikasi guru belum memuaskan, belum mampu menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan; belum sepenuhnya mampu melahirkan guru yang profesional.

Sertifikasi guru, merupakan kebijakan yang sangat strategis, karena langkah dan tujuan melakukan sertifikasi guru untuk meningkat kualitas guru, memiliki kompetensi, mengangkat harkat dan wibawa guru sehingga guru lebih dihargai dan untuk meningkatkan kualitas pendidiakan di Indonesia. Dengan demikian guru akan bisa menikmati tunjangan sertifikasi dan mereka akan selalu terdorong untuk menjadi lebih profesional.

Sehubungan dengan implementasi kebijakan/program sertifikasi guru yang hasil monevnya seperti di atas, keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor maupun aktor baik yang terlibat langsung dengan program sertifikasi maupun tidak secara langsung: Pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan sertifikasi guru, apakah sudah sesuai dengan tujuan UU yaitu menciptakan guru yang berkualitas dan profesional. Jikalau program ini bisa berkesinambungan, kualitas guru- guru di Indonesia pasti akan meningkat. Kerberhasilan ini memang akan dirasakan bangsa ini untuk jangka waktu yang panjang. Dalam beberapa tahun ke depan, bangsa ini akan mempunyai guru-guru yang lebih berkualitas dan berdedikasi untuk menjadi guru.

Pustaka

Ali Rahmat, 2011. Kontroversi Pendidikan Profesi Guru. http://alirahmat.multiply.com/ journal/item/40?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. 2007. Panduan Monitoring dan Evaluasi Program Sertifikasi

Guru Agama/Bidang Studi Agama Dalam Jabatan. Jakarta: Departemen Agama RI

Dunn, William. (1981). Public Policy Analysis. An Introduction. New Jersey: Prentce-Hall. Hough, J. R. (1984). Educational Policy. An International Survey. New York: St. Martin's.

Harian Kompas 2009. Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran. http://edukasi.kompas.com/ read/2009/11/13/07473414/Sertifikasi.Guru.Tidak.Tepat.Sasaran

MacRae. Duncan dan Wilde, James A. (1985). Policy Analysis For Public Decisions. New York: University Press of America.

Presiden RI. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen.

Ripley, R.B., and Franklin, G.A. 1986. Policy Implementation and Bureaucracy (2nd ed.) Dorsey Press. Semeru, 2010. Pelaksanaan Sertifkasi Guru dalam Jabatan 2007: Studi Kasus di Provinsi Jambi, Jawa

Barat, dan Kalimantan Barat. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU

Sutjipto (1987). Analisis Kebijaksanaan Pendidikan (Satu Pengantar). Jakarta: Dirjen Dikti.

Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Rencana Strategis Pembangunan Nasional 2000-2004. Jakarta.

44

Vegt, R.V.D., Smyth, L.F., Vandenberghe, R. 2001. Implementing educational policy at the shool level

– Organization dynamics and teacher concerns. Journal of Educational Administration. Vol. 39.Iss. 1

Vidovich, L. 2001. A Conceptual framework for Analysis of Education Policy and Practices. Paper Proposed for presentation at the Australian Association for Research in Education, Fremantle December.

Wibawa, Samodra dkk (1994). Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: P.T, Raja Grafindo Persada.

Winarsih, 2008. Implementasi Kebijakan Sertifikasi Guru Sekolah Dasar (Studi Kasus Di Kabupaten Semarang), Tesis. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro

45

PENGEMBANGAN BUKU PEDOMAN LATIHAN PENCAK SILAT BAGI PEMULA

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 49-57)