• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.5 Penyebaran Pohon Selisik

Wilayah penyebaran pohon selisik pada kelompok A dimulai dari koordinat x (300 – 1000) dan kordinat y (-100 – 500). Sedangkan penyebaran pohon selisik pada kelompok B dimulai dari koordinat x (1000 – 1800) dan y (-100 – 500). Terdapat daerah sepanjang x 1000 yang merupakan daerah perbatasan kelompok A dan B, juga sering terlihat perilaku menelisik pada daerah tersebut.

Perilaku menelisik banyak terjadi di perbatasan kelompok kemungkinan karena terdapat pohon pakan yang menyebar di lokasi tersebut ataupun owa jawa saat owa jawa bergerak menuju perbatasan untuk mengontrol wilayah, owa jawa mendapatkan banyak kotoran sehingga melakukan selisik saat berada di perbatasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan mengenai perilaku sosial (bersuara) bahwa pohon yang digunakan sebagai lokasi owa jawa untuk bersuara biasanya terletak tidak jauh dari pohon pakannya dan diperkirakan berkaitan dengan fungsi aktivitas bersuara sebagai tanda kepemilikan sumber daya yang ada seperti pohon pakan (Oktaviani 2009).

Owa jawa kelompok A banyak melakukan perilaku menelisik pada daerah dengan koordinat x 1000, sedangkan pada kelompok B terjadi pada daerah dengan koordinat x 1400. Kelompok A lebih banyak melakukan perilaku menelisik pada daerah perbatasan, namun selama pengamatan tidak terjadi adanya overlapping

pohon yang digunakan untuk menelisik, atau owa jawa tidak menggunakan pohon yang sama untuk perilaku menelisik

5.2.5.1 Profil pohon selisik

Owa jawa merupakan primata arboreal sejati karena menghabiskan seluruh waktu aktifnya ditajuk pohon. Pohon telisik owa jawa terbagi dalam 3 bentuk strata tajuk, yaitu strata A, B dan C. Dari contoh pohon yang diambil (40 pohon pada masing-masing kelompok) menggambarkan bahwa perilaku menelisik owa jawa kelompok A dan B banyak dilakukan pada pohon dengan urutan strata tajuk yaitu strata A, B dan C. Berdasarkan penelitian Hadi (2002), urutan strata tajuk (A, B dan C) yang digunakan owa untuk beraktivitas menunjukan bahwa habitat owa jawa di sekitar Cikaniki telah terganggu. Penggunan strata A oleh owa jawa untuk perilaku menelisik diduga sebagai upaya perlindungan diri terhadap gangguan dan predator sehingga owa cenderung memilih pohon dengan strata tajuk teratas. Masing-masing kelompok tersebut memiliki komposisi strata tajuk yang berbeda dan koordinat pohon telisik yang berbeda pula. Individu yang terlibat perilaku menelisik menggunakan strata tajuk tertentu sesuai kebutuhan perilaku. Jenis pohon dengan strata tajuk A dan sangat sering digunakan owa jawa untuk perilaku menelisik adalah rasamala (Altingia excelsa).

5.2.5.2 Dominansi pohon selisik

Owa jawa memanfaatkan 322 individu pohon untuk perilaku menelisik, yang berasal dari 47 jenis pohon. Pohon tersebut diklasifikasikan ke dalam 25 famili dengan 8 famili dominan diantaranya Fagaceae yang memiliki jumlah pohon terbanyak diantaranya pasang (Quercus sundaica), ki ronyok (Castanopsis

acuminatissima), pasang kelapa (Lithocarpus sp.), ki hiur (Castanopsis javanica),

saninten (Castanopsis argentea) dan kalimorot (Castanopsis tunggurut) nama latin diperoleh dari pustaka Priyadi et al. (2010). Pohon dari famili Fagaceae memiliki ciri-ciri yaitu pohon dengan batang bebas cabang pendek dan batang melekuk, kulit berwarna abu-abu mengelupas dan banyak tanin (Laboratorium Ekologi Hutan 2004).

Pohon yang paling dominan yang digunakan owa jawa (kelompok A dan B) untuk perilaku menelisik yaitu rasamala (Altingia excelsa) namun tidak termasuk ke dalam famili dominan. Rasamala merupakan salah satu kanopi tajuk utama di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Oktaviani 2009). Rasamala memiliki tajuk rimbun dengan batang kokoh, percabangannya banyak dan mencapai

ketinggian di atas 26 m. Hal tersebut membuat pohon rasamala cocok digunakan pada aktivitas menelisik. Owa jawa yang melakukan aktivitas menelisik pada pohon rasamala akan terlindungi dari panas matahari dan gangguan predator. Rasamala memiliki tajuk pohon lebat dengan daun tunggal dan biasanya tumbuh pada hutan primer daerah ketinggiam 500 - 1700 mdpl (Sastrapradja et al. 1977).

Setiap jenis pohon memiliki satu model pertumbuhan yang khas untuk setiap jenisnya. Model pertumbuhan ini dikenal dengan istilah model arsitektur. Terdapat 4 model arsitektur pohon yg digunakan owa untuk menelisik antara lain Attims, Rauh, Massart, dan Scarrone. Rasamala memiliki model arsitektur Scarrone, yaitu pohon dengan batang monopodial, percabangan berseling (ritmik) dan ortotropik, namun rasamala bukan merupakan jenis pohon dengan model arsitektur dominan. Model arsitektur pohon dominan adalah model Attims dengan jumlah pohon terbanyak yang berasal dari 16 famili yang berbeda. Puspa (Schima

walichii) merupakan jenis pohon dengan model arsitektur Attims. Puspa juga

termasuk jenis pohon yang banyak digunakan untuk aktivitas menelisik. 5.2.6 Faktor yang mempengaruhi perilaku menelisik owa jawa

Perbedaan jenis kelamin dan kelas umur pada setiap individu owa jawa dapat menyebabkan perbedaan intensistas terjadinya perilaku menelisik. Individu owa jawa dengan jenis kelamin jantan akan lebih sering melakukan perilaku menelisik daripada individu betina, begitu pula dengan individu dewasa akan lebih sering melakukan perilaku menelisik daripada individu anak. Nilai frekuensi yang kurang dari satu menunjukan bahwa perilaku tersebut tidak terjadi setiap hari, hanya dilakukan pada hari-hari tertentu.

Cuaca saat pengamatan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi intensitas terjadinya perilaku menelisik. Variasi cuaca diantaranya adalah cuaca cerah, mendung, berawan, berkabut dan hujan. Saat mendung atau hujan hanya sedikit ditemui adanya perilaku menelisik. Owa jawa melakukan perilaku menelisik sepanjang hari dan frekuensinya meningkat saat cuaca cerah. Saat cerah owa jawa aktif melakukan aktivitas hariannya, semakin panjang waktu perilaku menyebabkan banyaknya kebutuhan selisik untuk menghilangkan kotoran serta meningkatkan komunikasi. Hal ini berbeda dari pernyataan Nugraha (2006)

bahwa perilaku autogrooming dan allogrooming pada Macaca fascicularis tidak dipengaruhi oleh cuaca.

Pengamatan perilaku menelisik owa jawa memiliki 10 interval waktu pengamatan per hari yaitu (0 – 10) jam setiap harinya. Pengamatan perilaku menelisik pada interval waktu yang panjang dapat menjadi faktor peningkatan intensitas perilaku menelisik. Secara umum, waktu aktif harian yang semakin panjang membuat peningkatan perilaku menelisik, terlihat pada kisaran waktu aktif (8 – 9) jam. Hal ini berarti, jika waktu aktif perilaku harian memiliki kisaran waktu lebih panjang maka relatif akan terjadi peningkatan frekuensi maupun durasi perilaku menelisik. Namun, saat waktu aktif terpanjang (9 – 10) jam hanya ditemukan 54 kali aktivitas menelisik. Hal ini berarti bahwa waktu aktif pada saat tertentu tidak berpengaruh terhadap peningkatan intensitas perilaku menelisik. Sesuai dengan pernyataan Reichard dan Sommer (1994), Hylobates lar memakai 5,2% dari perilaku hariannya dengan kisaran waktu sekitar 10 jam (5.30 - 15.30 WIB) untuk perilaku allogrooming dan 15 detik untuk autogrooming.

Perilaku menelisik juga dipengaruhi oleh gangguan yaitu ribut antar kelompok, gangguan manusia seperti playback suara owa oleh peneliti owa jawa dan kehadiran manusia dalam jumlah yang banyak. Selama pengamatan dapat dilihat bahwa kelompok A dan B pernah melakukan ribut dengan kelompok lain hingga sebanyak dua kali dalam sehari. Berdasarkan penelitian perilaku sosial (suara) owa jawa, menyebutkan bahwa cuaca, ketersediaan atau kelimpahan pakan, gangguan yang mengancam keberadaan owa jawa dan kerusakan habitat merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bersuara (Oktaviani 2009).

Selain itu, pemutaran playback suara owa jawa memiliki pengaruh terhadap perilaku menelisik. Playback suara owa jawa sering dilakukan pada kelompok A dan hanya sekali pada kelompok B. Selama pengamatan juga dijumpai owa jawa bergerak menghindari kehadiran manusia dalam jumlah banyak, terutama pada kelompok A. Hal ini karena wilayah kelompok A berada pada jalur wisata, sehingga owa jawa kelompok A lebih sering mengalami gangguan daripada kelompok B. Hal ini didukung pernyataan Ladjar (2002), bahwa faktor manusia dapat menjadi pembatas habitat owa jawa, faktor ini meliputi aktivitas akibat adanya jalan.

Dokumen terkait