TINJAUAN PUSTAKA
4) Penyebaran propagul dan pembentukannya
Biji-biji tumbuhan mangrove yang disebarkan oleh burung misletoe
(Dicaeum hirundinacum) mampu mempertahankan viabilitasnya selama berada
dalam saluran pencernaan burung. Kebanyakan spesies mangrove bijinya mengapung pada air laut (walaupun tenggelam pada air tawar). Propagul dari pohon-pohon mangrove mempunyai daya apung sehingga dapat beradaptasi terhadap penyebaran oleh air.
Faktor-faktor Lingkungan Mangrove
Struktur, fungsi ekosistem mangrove, komposisi dan distribusi spesies, dan pola pertumbuhan organisme mangrove sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mangrove adalah:
a. Cahaya
Intensitas cahaya, kualitas, dan lama penyinaran merupakan faktor penting bagi tumbuhan. Umumnya tanaman mangrove membutuhkan intensitas cahaya matahari tinggi dan penuh, sehingga zona pantai tropis merupakan habitat ideal bagi mangrove. Kisaran intensitas cahaya optimal untuk pertumbuhan mangrove adalah 3000-3800 kkal/m2
- Intensitas cahaya 50% dapat meningkatkan daya tumbuh bibit Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata.
/hari. Pada saat masih kecil (semai) tanaman mangrove memerlukan naungan. Hasil penelitian Komar et al. (1992) menunjukkan bahwa:
- Intensitas cahaya 75% mempercepat pertumbuhan bibit Bruguiera gymnorrhiza.
- Intensitas cahaya 75% meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit Rhizophora
b. Curah hujan
Jumlah, lama, dan distribusi curah hujan merupakan faktor penting yang mengatur perkembangan dan distribusi tumbuhan. Selain itu, curah hujan mempengaruhi faktor lingkungan lain, seperti suhu air dan udara, salinitas air permukaan tanah dan air tanah yang berpengaruh pada daya tahan spesies mangrove. Kartawinata (1977) menyatakan bahwa berdasarkan klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson-1951, hutan mangrove di Indonesia berkembang pada daerah dengan tipe curah hujan A, B, C, dan D dengan nilai Q yang bervariasi mulai 0 sampai 73,7%. Sementara itu, Aksornkoae (1993) menginformasikan bahwa tumbuhan mangrove umumnya tumbuh baik di daerah dengan curah hujan rata-rata 1500-3000 mm/tahun. Namun juga ditemukan pada daerah yang bercurah hujan tinggi, yaitu 4000 mm/th yang tersebar lebih dari saru periode 8-10 bulan per tahun.
c. Suhu Udara
Suhu penting dalam proses fisiologis, seperti fotosintesis dan respirasi. Aksornkoae (1993) dalam Kusmana (1993) menyatakan bahwa pertumbuhan mangrove yang baik memerlukan suhu rata-rata minimal lebih besar dari 20oC dan perbedaan suhu musiman tidak melebihi 5oC, kecuali di Afrika Timur dimana perbedaan suhu musiman mencapai 10o
Berdasarkan hasil penelitian Kusmana (1993) diketahui bahwa hutan mangrove yang terdapat di bagian timur pulau Sumatera tumbuh pada suhu rata- rata bulanan dengan kisaran dari 26,3
C.
o
C sampai dengan 28,7oC. Hutching dan Saenger (1987) mendapatkan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan beberapa jenis tumbuhan mangrove, yaitu Avicennia marina tumbuh baik pada suhu 18- 20oC, R. stylosa, Ceriops spp., Excoecaria agallocha dan Lumnitzera racemosa
pertumbuhan daun segar tertinggi dicapai pada suhu 26-28oC, suhu optimum
Bruguiera spp. 27oC, Xylocarpus spp. berkisar antara 21-26oC dan X. granatum
d. Angin
Angin berpengaruh terhadap ekosistem mangrove melalui aksi gelombang dan arus pantai, yang dapat menyebabkan abrasi dan mengubah struktur mangrove, meningkatkan evapotranspirasi dan angin kuat dapat menghalangi pertumbuhan dan menyebabkan karakteristik fisiologis abnormal, namun demikian diperlukan untuk proses polinasi dan penyebaran benih tanaman.
Pada daerah pantai yang mudah terkena angin badai, tajuk pohon mangrove di sepanjang pantai tersebut biasanya patah dan struktur pepohonan umumnya lebih pendek. Namun demikian, mangrove memainkan peranan penting dalam mengurangi pengaruh badai pantai pada wilayah yang berada di antara daratan dan lautan.
e. Pasang surut
Pasang surut menentukan zonasi komunitas flora dan fauna mangrove. Dinamika pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas pada areal mangrove. Salinitas air menjadi sangat tinggi pada saat pasang naik, dan menurun selama pasang surut. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor yang membatasi distribusi spesies mangrove, terutama distribusi horisontal. Pada areal yang selalu tergenang hanya R. mucronata yang tumbuh baik, sedang Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp. jarang mendominasi daerah yang sering tergenang. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa antara air tawar dengan air laut, dan oleh karenanya mempengaruhi distribusi vertikal organisme mangrove.
Durasi pasang juga memiliki efek yang mirip pada distribusi spesies, struktur vegetatif, dan fungsi ekosistem mangrove. Hutan mangrove yang tumbuh di daerah pasang diurnal memiliki struktur dan kesuburan yang berbeda dari hutan mangrove yang tumbuh di daerah semi-diurnal, dan berbeda juga dengan hutan mangrove yang tumbuh di daerah pasang campuran.
f. Salinitas
Lingkungan asin (bergaram) diperlukan untuk kestabilan ekosistem mangrove, seperti halnya banyak jenis yang kurang bersaing di bawah kondisi air tawar (Lugo 1980). Salinitas air dan salinitas tanah rembesan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan, daya tahan, dan zonasi spesies mangrove. Tumbuhan mangrove tumbuh subur di daerah estuaria dengan salinitas 10-30 ppt. Salinitas yang sangat tinggi (hypersalinity) misalnya ketika salinitas air permukaan melebihi salinitas yang umum di laut (±35 ppt) dapat berpengaruh buruk pada vegetasi mangrove, karena dampak dari tekanan osmotik yang negatif. Akibatnya, tajuk mangrove semakin jauh dari tepian perairan secara umum menjadi kerdil dan berkurang komposisi jenisnya. Meskipun demikian, beberapa spesies dapat tumbuh di daerah dengan salinitas sangat tinggi, seperti yang dilaporkan oleh. Wells (1982) dalam Aksornkoae (1993), bahwa di Australia
Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat tumbuh di daerah dengan
salinitas maksimum 63 ppt, Ceriops spp. 72 ppt., Sonneratia spp. 44 ppt.,
Rhizophora apiculata 65 ppt dan Rhizophora stylosa 74 ppt. g. Tanah
Mangrove terutama tumbuh pada tanah lumpur, namun berbagai jenis mangrove dapat tumbuh di tanah berpasir, koral, tanah berkerikil bahkan tanah gambut. Lear dan Turner (1977) dalam Soeroyo (1993) menyatakan bahwa tanah di hutan mangrove mempunyai ciri-ciri selalu basah, mengandung garam, oksigen sedikit dan kaya akan bahan organik.
Susunan jenis dan kerapatan pada hutan mangrove sangat dipengaruhi oleh susunan tekstur tanah dan konsentrasi ion tanah yang bersangkutan. Pada lahan mangrove yang tanahnya lebih banyak terdiri atas liat (clay) dan demu (silt), terdapat tegakan yang lebih rapat dari lahan yang tanahnya mengandung liat dan debu pada konsentrasi yang lebih rendah. Tanah dengan konsentrasi kation Na > Mg > Ca atau K, tegakan dikuasai oleh jenis Avicennia spp., atau Sonneratia spp., atau Rhizophora spp., atau Bruguiera spp. Adapun pada tanah dengan susunan konsentrasi kation Mg > Ca > Na atau K tegakan dikuasai oleh nipah (Nypa
fruticans). Lebih lanjut pada tanah dengan susunan kation Ca > Mg > Na atau K tegakan dikuasai oleh jenis Melaleuca spp. (Wiroatmodjo 1994). Tanah-tanah mangrove umumnya mengandung zat besi dan bahan-bahan organik yang tinggi, ditambah dengan keberadaan sulfat dari pasang air laut membuat tanah menjadi rentan khsusnya terhadap asam sulfat karena oksidasi, seperti yang sering terjadi pada saat pembuatan tambak. Pada kondisi anaerob yang berlaku secara umum, sulfat dari air laut direduksi menjadi sulfida (FeS) atau pirit (FeS2) oleh bakteri- bakteri perombak sulfat yang termasuk, paling tidak 2 marga bakteri, yaitu
Desulfovibrio dan Desulfomaculum. Drainase alami atau buatan dan aerasi
sedimen yang mengandung pirit mendorong terjadinya oksidasi dan formasi asam sulfat (H2SO4) yang dilepaskan dalam jumlah besar dalam keadaan tidak ada kalsium karbonat (CaCO3
2FeS
), melalui reaksi kimia sebagai berikut: 2 + 2H2O + 7O2 2FeSO4 + H2SO4
Ketika reaksi tersebut terjadi-seringkali sebagai akibat dari pembuatan tambak atau dikonversi menjadi lahan pertanian-pH tanah turun menjadi 3 atau kurang. Kondisi ini merupakan masalah yang sangat serius untuk budidaya perairan dan pertanian serta regenerasi hutan mangrove. Ancaman asam sulfat harus dipertimbangkan secara hati-hati dalam konversi mangrove untuk penggunaan lain, begitu juga dengan ancaman kontaminasi asam terhadap lingkungan. Dilaporkan bahwa kematian massal ikan terjadi saat hujan lebat diakibatkan oleh pencucian asam tanah ke sungai (Dunn 1975).
Pertumbuhan Mangrove Jenis Bakau (Rhizophora mucronata)
Pertumbuhan hutan mangrove sangat erat kaitannya dengan pendangkalan pantai dan penyempitan laut. Menurut Hutabarat dan Evans (1985), daerah hutan bakau merupakan suatu tempat yang bergerak, dimana tanah lumpur dan daratan secara terus menerus dibentuk oleh tumbuh-tumbuhan yang kemudian secara perlahan-lahan berubah menjadi daerah semi terrestrial (semi daratan).
Sampai saat ini tidak banyak tulisan yang memuat penelitian mengenai hutan mangrove, khususnya di bidang sivikulturnya. Kebanyakan tulisan-tulisan yang ada hanya mengenai ekosistem dan ekologi hutan mangrove. Hal tersebut
diakui oleh Kartawinata (1978) yang dikutip oleh Anwar et al. (1984), hampir semua jenis yang membentuk hutan mangrove di Indonesia sudah diketahui, misalnya mengenai variasi komposisi jenis, silvikultur hutan, cara pemencaran bibit, pembungaan dan pembuahan, komposisi fauna, perputaran hara, produktivitas dan dinamika ekosistem. Menurut La Rue dan Mosich (1954) dikutip oleh Chapman (1976), jika biji jatuh dari pohon induk saat air surut, hal ini kemungkinan akan menghasilkan semai mangrove, karena ketika biji jatuh langsung ditancapkan ke lumpur, pada saat itu akar yang baru, membentuk hipokotil. Jika biji jatuh pada waktu air pasang, maka biji akan terbawa oleh air dan mengapung tanpa terjadi perkembangan akar, walaupun terjadi, perkembangan akar tersebut akan sangat lambat sekali. Setelah air surut, biji akan terdampar dan saat itu akar akan tumbuh keluar.
a. Taksonomi dan Penyebaran
Sifat umum dari perkembangan biji mangrove secara vivipar, yaitu biji telah berkecambah sewaktu masuk di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induk. Cara yang khas ini diperlihatkan oleh Rhizophora spp. Lembaga semai dapat menembus buah yang masih bergantungan, yang panjangnya seperti anak panah tetai berat di bagian bawahnya. Kemudian semai jatuh dengan akar ke bawah, sehingga ujung akar itu dapat menancap ke dalam lumpur bila air sedang surut dan membentuk akar-akar cabang dalam waktu beberapa jam saja serta tumbuh di tempat itu. Bila air sedang pasang dan semai akarnya belum kuat melekat di lumpur, maka semai tersebut akan hanyut terbawa air ke tempat lain dan bila air surut akan tumbuh dengan normal kembali bila keadaan menguntungkan (Polunin 1960).
Jenis Rhizophora mucronata bisa mencapai ketinggian 27 m dengan diameter 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah.
Berikut merupakan sistematika tumbuhan bakau (Polunin 1960).: Phyllum : Magnoliophyta
Ordo : Malpighiales Famili : Rhizophoraceae Genus : Rhizophora
Spesies : Rhizophora mucronata
Nama daerah: Bangka itam, dongoh korap, bakau hitam, bakau korap, bakau merah, jankar, lenggayong,belukap, lolaro.
Penyebaran mangrove jenis Rhizophora mucronata di dunia disajikan pada Gambar 2.
Source : UNEP-WCMC, 2001.
Gambar 2. Penyebaran mangrove jenis Rhizophora mucronata di dunia b. Pertumbuhan tinggi
Pertumbuhan tinggi tanaman dapat didefinisikan sebagai bertambah besarnya tanaman yang diikuti oleh peningkatan bobot kering. Menurut Baker (1950), yang dimaksud dengan pertumbuhan pada suatu pohon adalah pertambahan tumbuh dalam besar dan pembentukan jaringan baru, pertumbuhan tersebut dapat pula diukur dari berat seluruh tanaman (biomassa). Dijelaskan pula bahwa pertumbuhan suatu pohon meliputi pertumbuhan bagian atas dan bagian bawah. Adapun faktor-faktor yang menentukan kecepatan pertumbuhan tinggi antara lain unsur-unsur hara yang ada dalam tanah, kandungan air dan cahaya. c. Pertumbuhan Diameter
Menurut Baker (1950), pertumbuhan diameter pohon sangat penting dalam bidang kehutanan terutama untuk menghasilkan kayu gergajian, dijelaskan bahwa pertumbuhan lingkaran tahun pada pohon adalah hasil dari perkembangan cambium dam lapisan dari jaringan meristematik sel-sel.
Budidaya Tumbuhan Bakau (Rhizophora mucronata)
a. Penyiapan lokasi penanaman
Ada beberapa aspek Karakteristik lahan yang perlu diperhatikan adalah: kondisi tanah, salinitas, frekuensi pasang surut, kedalaman dan lama penggenangan pasang surut yang berkaitan dengan topografi dan ketinggian tempat dari permukaan laut, keterbukaan lahan terhadap angin dan kekuatan arus, keberadaan hama pengganggu dan ketersediaan benih (propagul).
Faktor-faktor lingkungan yang paling berperan dalam pertumbuhan mangrove adalah tipe tanah, salinitas, drainase dan arus yang semuanya diakibatkan oleh kombinasi pengaruh dari fenomena pasang surut dan ketinggian dari rata-rata muka laut. Sebagai contoh, keterkaitan antara faktor lingkungan dengan penyebaran jenis-jenis mangrove dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Keterkaitan antara faktor-faktor Lingkungan dengan Penyebaran
Beberapa Jenis Pohon Mangrove Secara Alami Zonasi Pola Pasang Surut Frekuensi Penggenangan (hari/bulan) Salinitas Tipe Tanah Jenis-jenis Pohon Mangrove Pinggir pantai Harian 20+ 10-30 Koral, berpasir, lempung berpasir Avicennia marina, Sonneratia, S. caseolaris, Rhizophora stylosa, R. mucronata dan R. apiculata Tengah Harian 10-19 10-30 Berdebu sampai liat berdebu A. alba, A. Officinalis, R. mucronata, Aegiciras comiculatum, A. floridum, Bruguiera gymnorrhiza, B. sexangula, Ceriops tagal, C. decandra, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemora, Xylocarpus granatum. Pedalaman Tergenang hanya saat 4-9 0-10 Berdebu- liat A. alba, B. sexangula, Ceriops
Zonasi Pola Pasang Surut Frekuensi Penggenangan (hari/bulan) Salinitas Tipe Tanah Jenis-jenis Pohon Mangrove pasang purnama berdebu sampai liat tagal, Excoecaria agallocha, Heritiera littoralis, Scyphiphora hydrophylacea, Xylocarpus granatum, X. mekongensis, Nypa fruticans Pinggir sungai (Riverine) Jarang tergenang: air tawar- payau 2 0-10 Berpasir sampai liat berdebu Muara sungai: Avicennia marina, A. officinalis, Aegiciras comiculatum, A. floridum, Camtostemon philippensis, R. apiculata, R. mucronata, R. stylosa Hulu sungai: A. alba, A. officinalis, Aegiciras comiculatum, A. floridum, Camptostemon philippensis, E. agallocha, Heritiera litoralis, Nypa fruticans, R. mucronata, R. apiculata, Xylocarpus granatum, X. Mekongensis
(Sumber : Strategi Nasional Mangrove 2004)
Pengetahuan tentang faktor-faktor lingkungan tersebut di atas akan memudahkan kita dalam menentukan jenis yang paling sesuai pada lokasi yang akan kita tanam dan teknik pendekatan yang akan digunakan dalam penanaman mangrove
b. Penyiapan Benih
Pada dasarnya tanaman mangrove berbuah hampir sepanjang tahun, namun ada beberapa periode waktu dimana jenis-jenis tertentu berbuah sangat banyak atau dengan kata lain puncak musim berbuah.
Tabel 2. Musim Buah Beberapa Jenis Mangrove
No Spesies Bulan J F M A M J J A S O N D 1 Rhizophora apiculata 2 R. mucronata 3 Bruguiera gymnorrhiza 4 Sonneratia alba 5 Avicennia marina 6 Xylocarpus granatum
(Sumber : Strategi Nasional Mangrove,2004)
Buah atau biji yang dipilih adalah benih yang berasal dari buah yang matang, sehat, segar dan bebas dari hama
Tabel 3. Karakteristik Benih Matang
No Spesies Ukuran Warna atau
ciri lain
1 Rhizophora
apiculata
Panjang ± 20 cm Diameter ± 14 mm
Warana kotiledon berubah dari dari hijau muda menjadi merah kekuningan
2 R. mucronata Pajang ± 50 cm Warna kotiledon berubah dari hijau
muda menjadi kuning
3 Bruguiera
gymnorrhiza
Panjang ± 20 cm Warna hipokotil berubah dari hijau menjadi coklat kemerahan atau merah kehijauan
4 Sonneratia alba Diameter buah ± 40
mm
Buah matang terapung di air
5 Avicennia marina Berat ± 1,5 gr Warna kulit berubah dari hijau
muda menjadi hijau kekuningan
6 Xylocarpus
granatum
Berat biji ± 30 gr Buah retak, warna biji coklat berbercak abu-abu. Radikula tampak jelas. Bila buah tenggelam di air berarti belum matang
c. Pembuatan Tempat Persemaian
Lokasi persemaian sebaiknya di lokasi yang datar dan bersih dari gangguan tanaman pengganggu seperti semak-semak. Apabila lokasi tersebut masih dalam keadaan bersemak, maka sebaiknya dilakukan dahulu pembersihan lahan daerah tersebut. Pada saat pemilihan lokasi persemaian, perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a) Terletak pada zona pasang surut yang tidak terlalu kuat. Tinggi permukaan tanah persemaian ± 60 cm di bawah garis pasang tertinggi saat pasang purnama.
b) Tanah relatif keras
c) Tidak terdapat akumulasi garam, salinitas < 30 o/ d) Tidak terpengaruh oleh ombak atau aliran air sungai
oo
e) Topografi tidak berubah oleh hujan deras
f) Mudah kering dan tidak tergenang secara permanen g) Tersedia tanah untuk media
h) Dekat dengan areal penanaman
i) Untuk persemaian sementara sebaiknya terdapat naungan pohon
Ukuran persemaian sangat bervariasi tergantung pada luasan yang akan kita tanam. Oleh karena itu sebelum membuat perkiraan maka sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu berapa luasan yang akan kita tanam sehingga diketahui jumlah bibit yang akan kita perlukan.
d. Penanaman
Setelah lahan benar-benar siap untuk ditanam, maka dilakukan pemancangan ajir yang berfungsi sebagai penahan bibit agar tidak tumbang. Fungsi lain ajir adalah untuk mengetahui lokasi tanaman, menyeragamkan jarak tanam, tanda tanaman baru. Ajir dibuat dari kayu atau bambu dengan ukuran tinggi 1,5-2 m, lebar 3-4 cm. Posisi ajir diupayakan sampai dasar lumpur (tanah keras), agar dapat dipakai sebagai ikatan bagi bibit yang ditanam. Mengingat kondisi lokasi penanaman berlumpur dalam (>1 meter), maka teknik tanam
dilakukan dengan polybag tidak perlu dibuka, tetapi pada bagian bawah diberi lubang atau sobekan.
e. Pemeliharaan dan Monitoring
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan adalah penyiangan, penyulaman, penjarangan dan pengontrolan terhadap kondisi tanaman. Pemeliharaan awal paling tidak dilakukan selama 1 tahun, terutama dari gangguan gulma dan serangan hama. Monitoring tanaman perlu dilakukan setiap bulan, agar setiap perkembangan kondisi tanamandiketahui.
Kondisi Lingkungan Mangrove di Hutan Lindung Angke Kapuk
a. Konsep Ekologi Restorasi
Hutan mangrove memiliki beberapa karakteristik tertentu, dimana pada kondisi yang baik karakteristik ini akan tetap terjaga dan akan membuat hutan mangrove dapat tumbuh dan lestari meskipun tanpa bantuan manusia. Namun karakteristik yang terdapat pada hutan mangrove ini juga sangat rentan, yaitu pada saat terjadi gangguan akan menyebabkan kondisi struktur hutan menjadi rusak sehingga hutan tidak dapat menjalankan fungsinya. Dalam hal ini juga terdapat kecenderungan jika terjadi gangguan pada salah satu karakteristik, maka akan terjadi gangguan pula terhadap karakteristik yang lain.
Berbagai aktivitas pemanfaatan sumberdaya hutan dan berbagai kepentingan di dalamnya berdampak pada terganggunya fungsi hutan. Sebagian besar gangguan kerusakan hutan diantaranya karena aktivitas akibat logging, shifting cultivation, dan tambak. Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada Gambar 3 di bawah ini
Gambar 3. Alasan dilakukannya restorasi
Pada dasarnya konsep kegiatan restorasi adalah proses pengembalian atau pemulihan (improving) kondisi hutan yang rusak yang meliputi fungsi, struktur, komposisi dan produktivitasnya dengan tujuan dimana kondisi hutan nantinya menjadi lebih baik dan mendekati aslinya (originality). Oleh karena itu melalui restorasi diharapkan fungsi hutan nantinya dapat kembali seperti semula.
Pulihnya fungsi hutan bila terdapat struktur hutan yang sesuai untuk fungsinya. Sehingga dalam restorasi yang perlu dibangun adalah struktur hutannya yang rusak, meliputi kerapatan tegakan, komposisi jenis, pola distribusinya serta berlangsungnya siklus hara tertutup di dalamnya. Pembangunan kembali struktur hutan tersebut harus mengacu pada proses suksesi dan karakter hutan mangrove.
Salah satu lokasi restorasi mangrove ini adalah lahan terdegradasi yang merupakan lahan terbuka, hampir tidak ada vegetasi tumbuh di atasnya sebagai akibat dari pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan dan faktor alam. Dampak dari hilangnya vegetasi memacu terjadinya erosi tanah, hilangnya biodiversitas, kerusakan habitat wildlife, dan berkurangnya kapasitas lahan untuk pertumbuhan tanaman. Untuk menekan dampak lebih lanjut, lahan ini harus dipulihkan melalui aktivitas rehabilitasi lahan.
Tujuan utama dari kegiatan restorasi adalah mengembalikan kondisi lahan atau hutan yang rusak dengan memperbaiki lahan tersebut agar kembali fungsinya seperti sebelum dirusak. Yang dimaksud fungsi hutan di sini mencakup:
- Fungsi hutan sebagai habitat utama untuk flora dan fauna - Sebagai tempat menyimpan keanekaragaman genetik - Konservasi tanah, air, hara, dan keanekaragaman hayati - Sebagai sumber pembangunan ekonomi
- Memelihara keseimbangan iklim lokal dan kondisi iklim global. b. Reklamasi
Kegiatan reklamasi pada lokasi ini merupakan proses civil engineering
untuk mempersiapkan lahan yang terabrasi yang bertujuan menyiapkan lahan untuk penanaman. Dalam kegiatan ini yang dilakukan adalah pengurukan, pengangkutan, penimbunan pada kedalaman atau tingkat tertentu agar jika mau mengadakan penanaman, kondisi lahan sudah layak untuk ditanami.
Kondisi yang kerusakannya sangat berat harus direklamasi terlebih dahulu karena kegiatan rehabilitasi tidak dapat dilaksanakan sebelum kondisi yang sangat rusak itu diperbaiki sampai kondisi lapang siap ditanam kembali. Kondisi lahan yang kerusakannya masih ringan, kegiatan rehabilitasi masih dapat dilaksanakan tanpa melakukan reklamasi. Namun demikian pemilihan metode rehabilitasi yang tepat harus disesuaikan dengan tingkat dan jenis kerusakan pada lahan tersebut.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Kawasan Hutan Angke Kapuk, wilayah Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni-November tahun 2009.
Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang dipergunakan dalam penelitian ini, meliputi: Tali raffia, Salino meter, Meteran dan Kaliper, Kamera digital/Kamera manual dan film, Alat Tulis, Termometer, Lembaran/ Kertas Identifikasi/Tally sheet., Spektrometer, PH meter/water checker dan Bor Tanah
Tahapan Penelitian
Secara umum penelitian kali ini meliputi 7 tahap, yaitu (1) Studi Kepustakaan (2) Orientasi lapang (3) Pembuatan Plot Penelitian (4) Pengambilan Data (5) Pengukuran di lapangan (6) Analisis laboratorium untuk parameter lingkungan (7) Metode Analisis Data. Selengkapnya diagram alur penelitian tersaji pada Gambar 4berikut.
Gambar 4. Diagram alur tahapan penelitian Studi Kepustakaan
Data sekunder yang dikumpulkan di sini melalui beberapa sumber data yang dihimpun, yaitu meliputi: Studi-studi yang dilakukan di lokasi Kawasan Hutan Angke Kapuk, Instansi teknis dinas terkait, penelusuran melalui pustaka, serta beberapa sumber informasi acuan dari penelitian ilmiah yang pernah dilakukan sebelumnya di lokasi tersebut.
Penentuan stasiun
Vegetasi Mangrove Teknis Rehabilitasi Parameter
lingkungan
Laju pertumbuhan tinggi dan diameter
Berpengaruh terhadap sebaran keluasan salinitas,Temperatur tanah dan pH Analisis komponen utama Analisis ragam (ANOVA)
Analisis regresi dan korelasi
Mengetahui sebaran stasiun dan hubungan antar
variabel penelitian
Menguji perbedaan Pertumbuhan vegetasi mangrove diantara stasiun
penelitian
Selesai Mulai
Mengetahui pengaruh