• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELESAIAN KENDALA-KENDALA YANG DI HADAPI

Hasil Pemeriksaan (HP)

PENYELESAIAN KENDALA-KENDALA YANG DI HADAPI

Untuk memecahkan permasalah tersebut, PPATK telah melakukan tindakan-tindakan sebagai bentuk pemecahan/penyelesaian masalah, antara lain sebagai berikut :

a. PPATK akan mengintensifkan kegiatan audit kepatuhan terhadap pihak pelapor dengan memberikan arahan dan rekomendasi yang mengacu pada UU

PP TPPU, selain itu PPATK secara rutin akan melakukan kegiatan pelatihan terhadap Pihak pelapor baru yang dinilai masih memiliki pemahaman yang rendah;

b. PPATK akan melakukan evaluasi terkait pelaporan secara elektronis terhadap sistem aplikasi yang digunakan oleh PJK melalui kegiatan asistensi yang dilakukan oleh unit kerja yang membidangi pengawasan kepatuhan bersama dengan unit kerja pengembangan aplikasi;

c. PPATK akan menyempurnakan standar prosedur operasional terkait pelaksanaan audit kepatuhan dan audit khusus dengan mengacu pada ketentuan UU PP TPPU agar diperolehnya pedoman pelaksanaan audit bagi auditor PPATK yang update dan selaras dengan ketentuan perundangan terkini;

d. Berkaitan dengan penambahan jumlah dan jenis Pihak Pelapor berdasarkan ketentuan UU PP TPPU PPATK memiliki kewenangan dan tanggung jawab pelaksanaan audit kepatuhan yang meningkat. Hal ini akan ditindaklanjuti dengan melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah lain untuk penambahan SDM auditor, selain itu PPATK juga akan mengintesifkan pelaksanaan joint audit dengan LPP agar pelaksanaan audit kepatuhan lebih menyeluruh dan komprehensif.

Untuk melaksanakan seluruh kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mendukung pencapaian target sasaran berupa Jumlah pelaksanaan audit kepatuhan terhadap pihak pelapor dialokasikan anggaran sebesar Rp1.885,406,000 dari alokasi anggaran tersebut yang terealisasi/terserap sebesar Rp1,282,753,130 atau 68,03 %. Dengan melihat tingkat capaian output sebesar 120% maka dapat dinyatakan bahwa penggunaan anggaran telah dilaksanakan secara efisien.

Pada tahun 2011, PPATK merencanakan target pemberian pendapat hukum dan bantuan hukum termasuk pemberian keterangan ahli sebanyak 25 dokumen. Tercatat sejak Januari s.d Desember 2011 PPATK telah melakukan pemberian keterangan ahli, pendapat hukum dan bantuan hukum sebanyak 53 dokumen atau 212% melebihi dari target yang ditetapkan.

Jumlah dokumen pendapat dan bantuan hukum terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme maupun masalah terkait lainnya.

54

Pemberian pendapat hukum dan bantuan hukum yang diberikan oleh PPATK terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme bertujuan untuk :

a. menyamakan persepsi antara PPATK, aparat penegak hukum, regulator dan pihak pelapor.

b. memberikan masukan kepada aparat penegak hukum, regulator, dan pihak pelapor terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme.

c. Memberikan pemahaman hukum kepada aparat penegak hukum, regulator, dan pihak pelapor terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme.

d. memberikan perlindungan dari resiko hukum bagi pimpinan maupun pegawai PPATK dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Adapun dokumen pendapat dan bantuan hukum terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme maupun masalah terkait lainnya diperoleh melalui kegiatan sebagai berikut:

a. Sosialisasi Rezim Anti Pencucian Uang.

Pada Tahun 2011 PPATK merencanakan untuk dilakukan sosialisasi di 10 kota di Indonesia dan terealisasi di 8 (delapan) kota, yaitu Jember, Batam, Banjarmasin, Palembang, Manado, Jambi, Makassar dan Yogyakarta. Adapun audience dari

Sosialisasi rezim anti pencucian uang meliputi aparat penegak hukum, penyedia jasa keuangan, akademisi dan masyarakat yang diwakilkan oleh Pemerintah Daerah setempat. Tujuan dari sosialisasi antara lain untuk mensosialiasasikan ketentuan-ketentuan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 (UU TPPU) yang baru diundangkan pada tanggal 22 Oktober 2010. Selain itu, tujuan lainnya yaitu menyamakan persepsi baik dari sektor penyedia jasa keuangan dan juga sektor penegakkan hukum. Untuk mencapai tujuan efektif dari sosialisasi, PPATK dalam melaksanakan sosialisasi rezim anti pencucian uang juga melakukan kerjasama dengan Bank Indonesia sebagai regulator dari perbankan, meminta partisipasi aparat penegak hukum termasuk didalamnya penyidik-penyidik TPPU sebagaimana tercantum dalam UU TPPU, serta turut melibatkan pemerintah daerah dan universitas setempat.

Indikator Kinerja Target 2011 Realisasi 2011 Capaian (%) Jumlah dokumen pendapat dan bantuan

hukum terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme maupun masalah terkait lainnya.

Selain bertindak aktif untuk memberikan sosialisasi Rezim Anti Pencucian Uang sebagaimana telah direncanakan dan tertuang dalam Rencana Kegiatan 2011, PPATK menerima permohonan kunjungan untuk pemaparan mengenai Rezim Anti Pencucian Uang. Sepanjang tahun 2011, PPATK telah menerima permohonan untuk melaksanakan kegiatan pemaparan Rezim Anti Pencucian Uang dari 6 (enam) universitas se-Indonesia.

b. Kajian hukum

Dalam pengimplemtasian UU TPPU, masih ditemukan beberapa kendala salah satunya multi tafsir atas ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam UU TPPU dan juga belum adanya peraturan pelaksana dari UU TPPU, sehingga menyulitkan para pihak, baik pihak internal PPATK maupun pihak eksternal PPATK dalam mengimplementasikan UU TPPU tersebut. Pada Tahun 2011, PPATK telah menyelenggarakan 2 (dua) kali kegiatan kajian hukum yang menghasilkan rekomendasi yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan pembuatan peraturan pelaksana. Adapun kegiatan kajian hukum yang telah dilaksanakan oleh PPATK membahas hal-hal sebagai berikut:

1) Kewajiban pelaporan oleh Pihak Pelapor (implementasi Pasal 27 UU TPPU); dan

2) Penundaan sementara dan penghentian Transaksi (implementasi Pasal 26, Pasal 44 ayat (1) huruf i, dan Pasal 70 UU TPPPU.

c. Memberikan Keterangan ahli

PPATK telah memberikan bantuan kepada aparat penegak hukum terkait dengan keterangan ahli. Sampai dengan akhir tahun 2011, jumlah pemberian keterangan ahli adalah sebesar 80 kasus. Jumlah permintaan pemberian keterangan ahli terkait tindak pidana pencucian uang meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah putusan pengadilan terkait tindak pidana pencucian uang. Adapun rincian pemberian keterangan ahli terkait tindak pidana pencucian uang adalah sebagai berikut:

Tabel 25

Pemberian Keterangan Ahli terkait TPPU Tahun 2011

Instansi Jumlah permintan

Bareskrim POLRI 11

Polda 35

Kejaksaan 24

56

Komisi Informasi Pusat (KIP) 1

Pengadilan Militer 1

Pemberian keterangan ahli terkait tindak pidana pencucian uang sampai dengan Desember 2011 telah dijadikan pertimbangan hakim dalam 11 (sebelas) putusan pengadilan.

d. Menyelenggarakan Seminar/Workshop/Diskusi Hukum

Selain penyelenggaraan program sosialisasi, PPATK juga telah menyelenggarakan seminar hukum/workshop/diskusi hukum yang mengangkat isu-isu terkait penanganan perkara tindak pidana pencucian uang. Sampai dengan pertengahan tahun 2011, PPATK telah mengadakan 5 (lima) kegiatan yaitu :

1) Seminar Nasional ”Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Melalui Implementasi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Transfer Dana”; dan

2) Workshop Terpadu ”Penanganan Tindak Pidana Asal dan Pencucian Uang oleh Aparat Penegak Hukum”.

3) Seminar Nasional “Rezim Perampasan Aset Untuk Mendukung Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang”;

4) Seminar Nasional “Pelaksanaan Penghentian Sementara dan Penundaan Transaksi Di Bidang Perbankan, Asuransi dan Pasar Modal Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010”; dan

5) Seminar Nasional “Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Di Lingkungan Birokrasi Dalam Rangka Mewujudkan Aparatur Negara yang Berintegritas dan Profesional”.

6) Penyusunan Modul Terpadu Penaganan Tindak Pidana Asal dan Pencucian Uang dan Modul Sosialisasi

Penyusunan modul tersebut bertujuan untuk dapat dijadikan pedoman bagi instansi-instansi terkait dalam penyelenggaraan pelatihan yang akan diselenggarakan berkenaan dengan upaya penanganan perkara TPPU dan juga untuk meningkatkan kompetensi aparat penegak hukum, serta menyamakan persepsi diantara aparat penegak hukum.

Tujuan penyusunan modul sosialisasi ini antara lain dijadikan pedoman bagi regulator, pihak pelapor, aparat penegak hukum, akademisi serta masyarakat hukum dalam memahami rezim anti pencucian uang serta menyamakan persepsi

semua pihak dalam mengimplementasi peraturan perundang-undangan terkait tindak pidana pencucian uang.

Media penyampaian dan juga penyamaan persepsi termasuk upaya-upaya pemerintah dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dilakukan tidak hanya melalui kegiatan berupa sosialisasi, seminar, workshop ataupun diskusi. Pada tahun 2011 ini, demi terciptanya keefektifan penegakan hukum di bidang TPPU, telah dilakukan penyusunan modul hasil kerjasama PPATK dengan para instansi penyidik TPPU diantaranya kepolisian, KPK, pajak, bea cukai, BNN, kejaksaan. Sistematika modul Penanganan Tindak Pidana Asal dan Pencucian Uang meliputi:

1) Silabus Workshop Terpadu Penanganan Tindak Pidana Asal dan Pencucian Uang;

2) Rezim Anti Pencucian Uang di Indonesia; 3) Fungsi dan Tugas Pokok PPATK;

4) Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Pencucian Uang;

5) Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Korupsi dan TPPU oleh KPK; 6) Penyidikan Tindak Pidana Narkotika dan TPPU oleh BNN;

7) Penyidikan Tindak Pidana Di Bidang Kepabeanan dan Cukai dan TPPU Oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;

8) Penyidikan Di Bidang Perpajakan dan TPPU Oleh Direktorat Jenderal Pajak; 9) Pemeriksaan Perkara dan Penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Selain itu, PPATK juga telah menyusun Modul Sosialisasi Rezim Anti Pencucian Uang dengan bekerjasama dengan Lembaga Anti Pencucian Uang Indonesia (LAPI). Adapun modul tersebut adalah sebagai berikut:

1) Silabus Program Sosialisasi Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme di Indonesia.

2) Modul 1: Rezim Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme di Indonesia. 3) Modul 2: Penegakan Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan

Terorisme di Indonesia.

4) Modul 3: Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme Bagi Industri Perbankan.

58

5) Modul 4: Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme Bagi Industri Pasar Modal.

6) Modul 5: Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

7) Modul 6: Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme Bagi Penyedia Barang dan/atau Jasa.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2011 yang mendukung kepada keberhasilan pencapaian target sasaran dimaksud antara lain :

1) Penyusunan blueprint dan roadmap yang dimaksudkan sebagai panduan dan

percepatan implementasi UU TPPU yang baru. Ruang lingkup blueprint dan roadmap tersebut meliputi aspek legislasi, diseminasi, penataan organisasi atau

tata kerja, tata laksana, termasuk bussiness process dan Standard Operational Procedure (SOP), dan Sumber Daya Manusia (SDM), redifinisi dan revitalisasi

hubungan dengan stakeholder, dan pengembangan teknologi informasi. Adapun

realisasi program kerja tersebut dibagi menjadi jangka Pendek (1 tahun),

jangka menengah (2-3 tahun), dan jangka panjang (4-5 tahun). Blueprint dan

roadmap tersebut disampaikan kepada International Co-operation Review Group

(ICRG) dan The Financial Action Task Force (FATF) sebagai bukti komitmen

Indonesia dalam menerapkan 40+9 Recommendation FATF.

2) Di bidang legislasi, pada Tahun 2011 PPATK telah memprakarsai penyusunan peraturan pelaksana dari UU TPPU yaitu:

a) Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan;

b) Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2011 tentang Penetapan Keanggotaan Indonesia pada Asia Pacific Group on Money Laundering; dan

c) Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2011 tentang Penetapan Keanggotan pada EGMONT Group.

Disamping itu, PPATK menetapkan peraturan-peraturan yang bersifat teknis dalam rangka mendukung implementasi UU TPPU yang baru. Adapun peraturan-peraturan yang telah disahkan pada tahun 2011 sebagai berikut:

1) Peraturan Kepala PPATK Nomor: PER-10/1.02.2/PPATK/10/2011 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Penyedia Barang dan/atau Jasa Lain;

2) Peraturan Kepala PPATK Nomor: PER-11/1.02.2/PPATK/10/2011 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Penyelenggara Pos;

3) Peraturan Kepala PPATK Nomor: PER-12/1.02.2/PPATK/10/2011 tentang Tata Cara Pelaporan Transaksi Bagi Penyedia Barang dan/atau Jasa Lain; 4) Peraturan Kepala PPATK Nomor: PER-14/1.02.2/PPATK/10/2011 tentang

Penerapan PMPJ Bagi Pergadaian;

5) Surat Edaran Kepala PPATK Nomor S-124A/1.02/PPATK/03/2011 tanggal 28 Maret 2011 perihal Penundaan Transaksi oleh Penyedia Jasa Keuangan; 6) Surat Edaran Kepala PPATK Nomor S-124B/1.02/PPATK/03/2011 tanggal

28 maret 2011 perihal Penghentian sementara Transaksi oleh Penyedia Jasa Keuangan atas Permintaan PPATK;

7) Surat Edaran Kepala PPATK Nomor S-125C/1.02.1/PPATK/03/2011 tanggal 28 Maret 2011 perihal Penundaan Transaksi oleh Penyedia Jasa Keuangan atas Permintaan Aparat Penegak Hukum; dan

8) Surat Edaran Kepala PPATK Nomor S-316/1.02.1/PPATK/09/2011 tanggal 8 September 2011 perihal Pelaksanaan Penundaan Transaksi yang Berindikasi Tindak Pidana Pendanaan Terorisme oleh Penyedia Jasa Keuangan.

e. Partisipasi aktif dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang 1) Rancangan Undang-undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana

2) Rancangan Undang-undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme

KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI

Walaupun target kinerja tahun 2011 tercapai dengan memuaskan bukan berarti tidak mendapatkan permasalahan atau kendala, Permasalahan atau kendala yang dihadapi dalam pencapain target sasaran dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada tahun 2011 adalah sebagai berikut:

a. masih terdapat perbedaan persepsi antara PPATK, aparat penegak hukum, pihak pelapor dan regulator dalam penanganan perkara TPPU; dan

b. perlunya peningkatan pemahaman pihak pelapor dan aparat penegak hukum dalam pengimplementasian peraturan perundang-undangan terkait tindak pidana pencucian uang.

60

PENYELESAIAN KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI

Untuk memecahkan permasalah tersebut, PPATK telah melakukan tindakan-tindakan sebagai bentuk pemecahan/penyelesaian masalah, antara lain sebagai berikut:

a. menyelenggarakan kegiatan seperti seminar/workshop, sosialisasi serta diskusi dan kegiatan lainnya dalam rangka menyamakan persepsi aparat penegak hukum, regulator, pihak pelapor, akademisi dan masyarakat;

b. mengefektifkan koordinasi antara PPATK dengan aparat penegak hukum dalam rangka penanganan perkara TPPU; dan

c. menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan terpadu bagi aparat penegak hukum dalam rangka meningkatkan pemahaman aparat penegak hukum dalam penanganan perkara TPPU.

Untuk melaksanakan seluruh kegiatan yang dilaksnakan dalam rangka mendukung pencapaian target sasaran berupa jumlah dokumen pendapat dan bantuan hukum terkait masalah TPPU dan pendanaan terorisme maupun masalah terkait lainnya dialokasikan anggaran sebesar Rp 6.700.000.000,00 dari alokasi anggaran tersebut yang terealisasi/terserap sebesar Rp3.481.004.123,00 atau 51,96%. Dengan melihat tingkat capaian output sebesar 212% untuk ouput berupa dokumen pendapat hukum, bantuan hukum dan keterangan ahli terkait TPPU dan pendanaan terorisme maupun masalah terkait lainnya, maka dapat dinyatakan bahwa penggunaan anggaran telah dilaksanakan secara efisien.

Pada Tahun 2011 Sasaran “Meningkatnya partisipasi pihak terkait dalam upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme” terkait dengan bidang Teknologi Informasi (TI) ditandai dengan adanya jumlah kegiatan operasional dan infrastruktur PPATK dalam mengelola TI PPATK yang sesuai dengan jumlah mutu layanan yang baku. Sesuai rencana kinerja pada tahun 2011, PPATK merencanakan sebanyak 6 kegiatan layanan operasional dan infrastruktur PPATK dalam mengelola TI PPATK yang sesuai dengan jumlah mutu layanan yang baku. Realisasi pada tahun 2011 adalah sebanyak 18 kegiatan atau 300% terealisasi sesuai target. Berikut ini adalah jenis-jenis kegiatan layanan TI di lingkungan PPATK:

Jumlah kegiatan operasional dan infrastruktur PPATK dalam mengelola teknologi informasi PPATK yang sesuai dengan jumlah mutu layanan yang baku (service level guarantee).

Tabel 26

Kegiatan Layanan TI PPATK

No Jenis Kegiatan 1 Instalasi PC / Notebook 2 Perbaikan PC/Notebook 3 Instalasi Printer 4 Perbaikan Printer 5 Perbaikan Scanner 6 Instalasi software 7 Perbaikan software

8 Perbaikan software non standar

9 Instalasi software anti virus

10 Update anti virus

11 Update Anggota Mailing List 12 Perbaikan email

13 Reset Password email

14 Reset Password Domain Account 15 Unlock Domain Account

16 Perbaikan akses internet 17 Permintaan akses file sharing 18 Perbaikan akses file sharing

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan selama tahun 2011 yang mendukung kepada keberhasilan pencapaian target sasaran dimaksud antara lain:

1. Implementasi Sistem Layanan Bantuan sehingga dapat mengukur pencapaian

service level agreement layanan TI kepada pengguna layanan TI. Aplikasi layanan

bantuan TI yang bersifat terpusat dan dalam bentuk website telah dilakukan di bulan Juni 2011. Dalam aplikasi layanan bantuan TI, terdapat daftar layanan TI (IT Service Catalogue) yang bisa diakses oleh user.

2. Mengelola Data Center dan Disaster Recovery Center termasuk perangkat pendukung lingkungan seperti daya listrik dan sistem pendingin agar sistem dapat beroperasi secara efektif. Kegiatan ini dilakukan sepanjang tahun 2011. 3. Peremajaan Server baik sistem Core dan Non Core (pendukung) yang ada di

62

4. Pemeliharaan jalur komunikasi data di PPATK

5. Implementasi Sistem Monitoring perangkat TI PPATK

KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI

Permasalahan atau kendala yang dihadapi dalam pencapaian target sasaran dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada tahun 2011 terkait kegiatan layanan operasional dan infrastruktur PPATK adalah sebagai berikut :

1. Adanya gangguan teknis pada Data Center sehingga mengganggu pemberian layanan TI PPATK antara lain ketidakstabilan suhu ruangan di dalam Data Center dan ketidakstabilan aliran listrik yang mensupply perangkat di Data Center.

2. Adanya gangguan pada jalur komunikasi data PPATK antara lain terputusnya koneksi internet dan terjadinya gangguan email PPATK.

Dokumen terkait