BAB IV PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD
C. Penyiapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
4
BAB II
STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Tujuan pelaporan keuangan daerah adalah untuk mengatur penyusunan laporan keuangan yang merupakan salah satu kewajiban dari pemerintah kabupaten/kota dalam menyelenggarakan dan mengelola keuangan daerah dalam periode 1 (satu) tahun anggaran.
Pelaporan keuangan merupakan satu kesatuan yang terdiri dari penyelenggaraan akuntansi laporan keuangan, catatan atas laporan keuangan dan informasi tambahan yang harus disajikan bersama-sama.
Pasal 234 ayat (1) dan ayat (2) dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 menyebutkan bahwa sistem akuntansi pemerintah daerah (kabupaten/kota) dilaksanakan oleh pejabat yang diberi wewenang oleh Kepala Daerah yang bersangkutan untuk menyelenggarakan akuntansi, yaitu Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD), dan sistem akuntansi untuk satuan-satuan kerja dilaksanakan oleh Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD).
Dalam pelaksanaan tugasnya, Pejabat Penatausahaan Keuangan-SKPD mengkoordinasikan pelaksanaan sistem dan penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran.
Karena sangat banyaknya istilah dan/atau singkatan yang digunakan dalam Peraturan Perundang-undangan tentang pengelolaan keuangan daerah, maka sebelum disampaikan uraian tentang pertanggungjawaban dan pelaporan anggaran, berikut ini diberikan pengertian umum tentang singkatan dan/atau istilah yang dipergunakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku:
1. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) adalah satuan kerja yang
bertugas melaksanakan pengelolaan APBD untuk tingkat pemerintahan kabupaten/kota dan bertindak sebagai bendahara umum daerah.
2. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada tingkat
suatu Satuan Kerja (sat-ker).
3. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau lebih dari 1
(satu) entitas akuntansi yang menurut ketentuan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban anggaran berupa laporan keuangan.
Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu memahami dan dapat menguasai proses penyelenggaraan sistem akuntansi termasuk Sitem Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD dan SKPKD.
5
4. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang
dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan.
5. Aset atau yang dahulu lebih dikenal dengan nama IKMN/IKMD adalah semua
barang yang berasal atau dibeli dengan dana yang seluruhnya atau sebagian berasal dari anggaran belanja negara/daerah.
6. IKMN atau IKMD adalah singkatan dari Inventaris Kekayaan Milik Negara/
Daerah.
7. Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah daerah yang merupakan selisih
antara aset dan kewajiban pemerintah daerah.
8. Laporan Arus Kas (LAK) adalah laporan yang menggambarkan arus kas selama
periode tertentu dan posisi kas pada tanggal pelaporan.
9. Laporan Realisasi Anggaran (LRA) adalah laporan yang menggambarkan
perbandingan antara anggaran pendapatan dan belanja dengan realisasinya dalam suatu periode tertentu yang menunjukkan ketaatan terhadap peraturan dan/atau ketentuan Perundang-undangan.
10. Neraca adalah laporan yang menyajikan informasi posisi keuangan pemerintah
yang terdiri dari aset, utang dan ekuitas dana pada suatu periode tertentu.
11. Unit Akuntansi Kantor/Proyek (UAK/P) adalah unit akuntansi instansi yang
melakukan kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan pada tingkat kantor dan proyek/unit pelaksana kegiatan atau satuan kerja tertentu.
12. Unit Akuntansi Wilayah (UAW) adalah unit akuntansi instansi yang melakukan
kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan pada tingkat kantor dan proyek atau satuan kerja yang berada dalam satu wilayah (provinsi/kabupaten/kota).
A. Sistem Akuntansi Pemerintahan
Payung hukum yang melandasi penyiapan akuntansi pemerintahan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Peeraturan Pemerintah ini sebagai pelaksanaan ketentuan pasal 32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dalam peraturan pemerintah ini yang dimaksud dengan pemerintah adalah pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.
1. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
Pemerintah menyusun sistem akuntansi pemerintahan yang mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan. Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 23 pasal 32 ayat (2) disebutkan bahwa Standar Akuntansi Pemerintahan
6
disusun oleh komite standar yang independen dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan dari Badan Pemeriksa Keuangan.
Standar akuntansi pemerintahan dimaksud dibutuhkan dalam rangka penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD berupa laporan yang setidak-tidaknya meliputi:
a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA); b. Neraca;
c. Catatan atas Laporan Keuangan, dan; d. Laporan Arus Kas.
2. Sistem Akuntansi Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan ini juga merupakan pelaksanaan dari Pasal 184 ayat (1) dan (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menyebutkan bahwa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 96 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Akuntansi Keuangan Daerah, yang menyatakan bahwa pemerintah daerah berkewajiban menyusun sistem akuntansi pemerintahan daerah dengan mengacu pada standar akuntansi pemerintahan pusat.
Sistem akuntansi pemerintahan daerah tersebut ditetapkan dengan
Peraturan Kepala Daerah yang mengacu pada Peraturan Daerah tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah. Berdasarkan standar akuntansi pemerintahan yang berlaku, kepala daerah suatu pemerintahan kabupaten/kota menetapkan peraturan kepala daerah tentang kebijakan akuntansi.
Selanjutnya, menurut ketentuan Pasal 233 dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, yang merupakan pedoman pelaksanaan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah disebutkan bahwa sistem akuntansi pemerintah daerah paling sedikit harus mencakup:
a. Prosedur akuntansi penerimaan kas. b. Prosedur akuntansi pengeluaran kas. c. Prosedur akuntansi aset, dan.
d. Prosedur akuntansi selain kas.
B. Kebijakan Akuntansi
Kebijakan akuntansi tersebut merupakan dasar pengakuan, pengukuran, dan pelaporan atas aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, belanja dan pembiayaan serta laporan keuangan.
7
Dalam kaitannya dengan penerapan kebijakan akuntansi, Kepala Daerah menetapkan peraturan kepala daerah tentang kebijakan akuntansi pemerintah daerah dengan berpedoman pada standar akuntansi pemerintahan.
Peraturan kepala daerah tentang kebijakan akuntansi tersebut sekurang-kurangnya harus memuat:
1. Definisi, pengakuan, pengukuran dan pelaporan setiap akun dalam laporan keuangan, dan;
2. Prinsip-prinsip penyusunan serta penyajian pelaporan keuangan. Pengakuan dan pengukuran tersebut juga mencakup kebijakan mengenai harga perolehan dan kapitalisasi asset.
Kebijakan harga perolehan merupakan pengakuan terhadap jumlah kas atau jumlah lain yang setara dengan kas yang dibayarkan dan terdiri dari belanja modal, belanja administrasi pembelian/pembangunan, belanja pengiriman, pajak, dan nilai wajar imbalan lainnya yang dibayarkan sebagai komponen harga perolehan aset tetap.
Kebijakan kapitalisasi aset merupakan pengakuan terhadap jumlah kas atau jumlah lain yang setara dengan kas dan nilai wajar imbalan lainnya yang dibayarkan sebagai penambah nilai aset tetap.
Ikhtisar kebijakan akuntansi yang diberlakukan pada setiap tahun anggaran dimuat dalam Catatan Atas Laporan Keuangan tahun anggaran yang bersangkutan. Format Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah tercantum dalam Lampiran 1 dari bahan ajar Modul 3 ini.
C. Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD
Karena materi Diklat Teknis Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan ini ditujukan terutama untuk pejabat Eselon IV (Kasubag Keuangan) pada Satuan-Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), maka topik bahasannya juga lebih dititik beratkan pada SKPD di lingkungan pemerintahan kabupaten/kota, sedangkan uraian ringkas yang menyangkut sistem akuntansi pusat dan daerah hanya sekedar tambahan pengetahuan bagi peserta pelatihan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, khususnya uraian yang tercantum dalam Bab XI tentang Akuntansi Keuangan Daerah, diberikan garis pemisah yang jelas tentang Akuntansi Keuangan Daerah untuk tingkat kabupaten/kota dan Akuntansi Keuangan Daerah pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPKD mencakup: (1) Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas; (2) Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas; (3) Prosedur Akuntansi Aset, dan; (4) Prosedur Akuntansi Selain Kas.
8
1. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD
Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran di lingkungan SKPD terkait yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas mencakup: (i) surat tanda bukti pembayaran; (ii) surat tanda setoran (STS); (iii) bukti transfer; dan (iv) nota kredit bank. Sedangkan buku yang digunakan untuk mencatat transaksi tersebut terdiri dari:
a. Buku jurnal penerimaan Kas; b. Buku Besar, dan;
c. Buku Besar Pembantu.
Meskipun pekerjaan tersebut merupakan tugas dari Bendahara dan/atau Pemegang Kas, tetapi Kasubag Keuangan juga dianjurkan untuk mengenal ketiga format tersebut.
Format Buku Jurnal Penerimaan Kas, Buku Besar, dan Buku Besar Pembantu dapat dilihat pada Lampiran 2, 3, dan 4 dari bahan ajar Modul 3 ini.
Secara lengkap dan lebih rinci, berikut ini disampaikan uraian tentang ”Ringkasan Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD.
a. Ringkasan Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD
Dalam Lampiran E.VI Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 disebutkan bahwa prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD meliputi serangkaian proses manual ataupun lewat aplikasi komputer mulai dari : pencatatan, pengikhtisaran atas transaksi keuangan serta pelaporan keuangan dalam rangka pertanggung-jawaban pelaksanaaan APBD yang terkait dengan penerimaan kas pada SKPD.
Fungsi yang terkait dengan prosedur akuntansi ini dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada Pejabat Penatusahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD).
1) Dokumen yang digunakan
Dokumen yang digunakan dalam proses Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD terdiri dari:
a) Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP-Daerah), yang dibuat oleh PPKD untuk menetapkan pajak daerah atas wajib pajak;
b) Surat Ketetapan Retribusi (SKR), yang dibuat oleh Pengguna Anggaran untuk menetapkan retribusi atas wajib retribusi;
9
c) Surat Tanda Setoran, yang dibuat oleh Bendahara Penerimaan untuk menyetor penerimaan daerah atau oleh PPK-SKPD untuk dijadikan dokumen dalam menyelenggarakan akuntansi pada SKPD.
d) Bukti Transfer yang merupakan dokumen atau bukti atas transfer penerimaan daerah.
e) Nota Kredit Bank, merupakan dokumen atau bukti dari Bank yang menunjukkan adanya transfer yang masuk ke rekening kas umum daerah.
f) Buku jurnal penerimaan kas, yang merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD untuk mencatat dan menggolongkan semua transaksi atau kejadian yang berhubungan dengan penerimaan kas.
g) Buku besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD untu mencatat peringkasan (posting) semua transaksi atau kejadian selain kas dari Jurnal Penerimaan Kas ke dalam Buku Besar untuk setiap rekening aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan,belanja dan pembiayaan.
h) Buku besar pembantu, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD untuk mencatat transaksi-transaksi dan kejadian yang berisi rincian item buku besar untuk setiap rekening yang dianggap perlu.
2) Laporan yang Dihasilkan
Laporan yang dihasilkan dari Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD terdiri atas :
a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA); b) Neraca SKPD, dan;
c) Catatan atas Laporan Keuangan.
3) Uraian Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD
Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD terdiri dari :
a) Fungsi Akuntansi pada PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas mencatat ke dalam jurnal penerimaan kas, diserta uraian rekening-lawan asal penerimaan kas dimaksud; b) Bukti transsaksi penerimaan kas mencakup:
(1) Surat Tanda Setoran; (2) Bukti Transfer; (3) Nota Kredit;
(4) Bukti Penerimaan lainnya.
c) Fungsi Akuntansi pada PPK-SKPD secara periodik atau berkala melakukan posting ke Buku Besar.
d) Jika dianggap perlu Fungsi Akuntansi pada PPK-SKPD dapat membuat Buku Besar Pembantu yang berfungsi sebagai rincian dan kontrol buku besar.
10
e) Pencatatan ke dalam Buku Jurnal Penerimaan Kas dan Buku Besar Pembantu dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan dalam ketentuan yang berlaku
2. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPD
Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran di lingkungan SKPD terkait yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi computer.
Bukti transakasi yang digunakan dalam pelaksanaan prosedur akuntansi pengeluaran kas mencakup Surat Perintah Penyediaan Dana (SP2D), Nota debet Bank dan Bukti Transaksi Kas lainnya yang dalam penyajiannya harus dilengkapi dengan SPM/SPD/Kuitansi pembayaran dan/atau bukti tanda terima barang/jasa.
Sebagaimana halnya dengan prosedur penerimaan kas, maka buku yang digunakan untuk mencatat prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD juga terdiri dari 3 (tiga) macam, yaitu:
a. Buku jurnal pengeluaran Kas; b. Buku Besar; dan;
c. Buku besar pembantu.
Demikian pula dengan tugas pelaksanaan prosedur akuntansi pengeluaran kas dan proses pencatatan pengeluaran kas yang kesemuanya menjadi tanggung jawab dari Pejabat Penatusahaan Keuangan dari satuan kerja yang bersangkutan(PPK-SKPD). Berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas, PPK-SKPD melakukan pencatatan pengeluaran kas tersebut ke dalam buku jurnal pengeluaran kas dan mencantumkan uraian tentang rekening awal yang menyatakan asal pengeluaran kas. Setelah itu secara periodik jurnal pengeluaran kas tersebut di-posting kedalam buku besar dan/atau buku besar pembantu. Setiap akhir periode, semua buku besar yang mencatat pengeluaran kas ditutup dan dijadikan sebagai dasar penyusunan keuangan dari SKPD yang bersangkutan.
Secara lengkap dan lebih rinci, berikut ini disampaikan uraian tentang ”Ringkasan Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD.
a. Ringkasan Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPD
Dalam Lampiran E.VI Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 disebutkan bahwa prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPD meliputi serangkaian proses manual ataupun lewat aplikasi komputer mulai dari : pencatatan, pengikhtisaran atas transaksi dan/atau kejadian keuangan
11
serta pelaporan keuangan dalam rangka pertanggung-jawaban pelaksanaaan APBD yang terkait dengan penngeluaran kas pada SKPD. Fungsi yang terkait dengan prosedur akuntansi pengeluaran kas ini dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada Pejabat Penatusahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD).
1) Dokumen yang digunakan
Dokumen yang digunakan (dokumen sumber dan dokumen pendukung) dalam proses Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD terdiri dari:
a) Surat Penyediaan Dana (SPD), yang dibuat oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) sebagai media atau surat yang menunjukkan tersedianya dana untuk diserap/direalisasi. b) Surat Perintah Membayar (SPM), merupakan dokumen yang
dibuat oleh Pengguna Anggaran untuk mengajukan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang akan diterbitkan oleh Bendahara Umum Daerah (BUD)/kuasa bendahara umum daerah.
c. Kuitansi pembayaran dan Bukti Peneriman Lainnya, yaitu merupakan dokumen yang digunakan sebagai tanda bukti pembayaran.
d) Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), merupakan dokumen yang diterbitkan oleh Bendahara Umum Daerah (BUD)/kuasa bendahara umum daerah untuk mencairkan uang pada Bank yang telah ditunjuk.
e) Bukti Transfer, merupakan dokumen atau bukti atas transfer pengeluaran daerah.
f) Nota Debet Bank, merupakan dokumen atau bukti dari Bank yang menunjukkan adanya transfer uang keluar dari Rekening Kas Umum Daerah.
g) Buku Jurnal Pengeluaran Kas, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD untuk mencatat dan menggolongkan semua transaksi atau kejadian yang berhubungan dengan pengeluaran kas.
h) Buku Besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD untuk mencatat peringkasan (posting) semua transaksi atau kejadian selain kas dari jurnal pengeluaran kas ke dalam buku besar untuk setiap rekening aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
i) Buku besar pembantu, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD untuk mencatat transaksi-transaksi dan kejadian yang berisi rincian item buku besar untuk setiap rekening yang dianggap perlu.
12
2) Laporan yang Dihasilkan
Laporan yang dihasilkan dari Prosedur Akuntansi Penngeluaran Kas pada SKPD terdiri atas :
(a) Laporan Realisasi Anggaran SKPD (LRA); (b) Neraca SKPD, dan;
(c) Catatan atas Laporan Keuangan SKPD.
3) Uraian Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPD
Prosedur Akuntansi Penngeluaran Kas pada SKPD terdiri dari : a) Fungsi Akuntansi pada PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi
penerimaan kas mencatat ke dalam jurnal penerimaan kas, diserta uraian rekening-lawan asal penerimaan kas dimaksud; b) Bukti transaksi penerimaan kas mencakup:
(1) Surat Tanda Setoran; (2) Bukti Transfer; (3) Nota Kredit, dan
(4) Bukti pengeluaran lainnya.
c) Fungsi Akuntansi pada PPK-SKPD secara periodik atau berkala melakukan posting dari buku jurnal ke Buku Besar;
d) Jika dianggap perlu Fungsi Akuntansi pada PPK-SKPD dapat membuat Buku Besar Pembantu yang berfungsi sebagai rincian dan kontrol buku besar;
e) Pencatatan ke dalam Buku Jurnal Penngeluaran Kas dan Buku Besar Pembantu dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan dalam ketentuan yang berlaku
3. Prosedur Akuntansi Aset Pada SKPD
Prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan akuntansi atas perolehan, pemeliharaan, rehabilitasi, perubahan klasifikasi, dan penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/ digunakan oleh SKPD dengan batasan-batasan sebagai berikut:
a. Bahwa pemeliharaan aset tetap yang bersifat rutin rehab berkala tidak dikapitalisasi;
b. Bahwa rehabilitasi yang bersifat sedang dan berat dikapitalisasi bila memenuhi salah satu kriteria: menambah volume, menambah kapasitas, meningkatkan fungsi, meningkatkan efisiensi dan/atau menambah masa manfaat;
c. Bahwa yang dimaksud perubahan klasifikasi aset tetap adalah perubahan dari aset tetap ke klasifikasi selain aset tetap, atau sebaliknya;
d. Bahwa penyusutan merupakan penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap.
13
4. Prosedur Akuntansi Selain Kas Pada SKPD
Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD mencakup:
a. Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ); b. Koreksi kesalahan pencatatan;
c. Penerimaan/pengeluaran hibah selain kas; d. Pembelian secara kredit;
d. Retur pembelian kredit;
e. Pemindahtanganan atas aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas;
f. Penerimaan aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas.
Keterangan:
a. Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ) seperti tersebut pada butir 4.a) merupakan pengesahan atas pengeluaran/belanja melalui mekanisme uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan;
b. Koreksi kesalahan pencatatan sebagaimana tercantum pada butir 4.b) merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal yang sudah terlanjur di-posting ke buku besar.
c. Penerimaan/pengeluaran hibah selain kas seperti yang disebutkan pada butir 4.c) merupakan penerimaan/pengeluaran sumber ekonomi non kas yang merupakan pelaksanaan APBD yang mengandung konsekuensi ekonomi bagi pemerintah daerah;
d. Pembelian secara kredit sebagaimana dimaksud pada butir 4.d) adalah transaksi pembelian aset tetap yang pembayarannya dilakukan dimasa yang akan datang;
e. Retur pembelian seperti disebut pada butir 4.e) merupakan pengembalian aset tetap yang telah dibeli secara kredit;
f. Pemindahtanganan atas aset tetap tanpa konsekuensi kas sebagaimana dimaksud pada butir 4.f) merupakan pemindahtanganan aset tetap kepada pihak ketiga karena suatu hal, tanpa ada penggantian berupa kas;
g. Penerimaan aset tetap tanpa konsekuensi sebagaimana dimaksud pada butir 4.g) merupakan perolehan aset tetap akibat adanya tukar menukar (ruitslaag) dengan pihak ketiga.
14
Suatu hal yang harus diingat adalah bahwa prosedur akuntansi selain kas tersebut di atas memerlukan bukti transaksi berupa bukti memorial yang dilampiri dengan:
a. Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ). b. Berita acara penerimaan barang.
c. Surat keputusan penghapusan barang. d. Surat pengiriman barang.
e. Surat keputusan mutasi barang (antar SKPD). f. Berita acara pemusnahan barang.
g. Berita acara serah terima barang. H. Berita acara penilaian.
Secara garis besar proses akuntansi keuangan daerah pada SKPD yang mencakup ; (i) Akuntansi Penerimaan Kas; (ii) Akuntansi Pengeluaran Kas; (iii) Akuntansi Aset, dan; (iv) Akuntansi Selain Kas pada SKPD dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) – SKPD membuat jurnal sebagai berikut:
a. SPJ Penerimaan dicatat dalam Register Jurnal Penerimaan Kas.
b. SPJ Pengeluaran dan SP2D dicatat dalam Register Jurnal Pengeluaran Kas.
c. Bukti Memorial Transaksi Aset Tetap dicatat dalam Register Jurnal Umum.
d. Bukti memorial transaksi Selain Kas juga dicatat dalam Register Jurnal Umum.
2. Bukti Memorial Transaksi Aset Tetap dibuat berdasarkan bukti transaksi yang terdiri dari:
a. Berita Acara Penerimaan Barang. b. SK Penghapusan Barang.
c. SK Mutasi Barang.
d. Berita Acara Pemusnahan Barang. e. Berita Acara Serah Terima Barang. f. Berita Acara Penilaian.
g. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan.
3. Bukti memorial transaksi Selain Kas dibuat berdasarkan bukti transaksi yang terdiri dari:
a. Berita Acara Penerimaan Barang. b. SK Penghapusan Barang.
c. Surat Pengiriman Barang . d. SK Mutasi Barang.
e. Berita Acara Pemusnahan Barang f. Berita Acara Serah Terima Barang. g. Berita Acara Penilaian.
15
4. Jurnal-jurnal tersebut oleh PPK-SKPD diposting ke Register Buku Besar SKPD. Berdasarkan Buku Besar SKPD ini PPK-SKPD membuat Neraca Saldo-SKPD.
Dalam bentuk diagram proses Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD yang mencakup: (i) Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas; (ii) Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas; (iii) Prosedur Akuntansi Aset, dan; (iv) Prosedur Akuntansi Selain Kas akan nampak sebagai berikut:
16
Bagan Alir proses Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD
Akuntansi Pengeluaran Kas Akuntansi Aset Akuntansi Selain Kas
17
D. Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPKD
Dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang merupakan pelaksanaan dari ketentuan yang tercantum dalam Pasal 155 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, beberapa struktur organisasi pemerintahan daerah harus mulai menyesuaikan diri dan mempedomani isi dari pedoman pengelolaan keuangan daerah.
Sebagai contoh, beberapa pemerintahan kabupaten/kota sudah mulai membentuk Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang disingkat SKPKD, akan tetapi SKPKD tersebut masih ada yang melekat pada struktur organisasi dari instansi/badan pemerintah daerah, misalnya melekat pada struktur organisasi