MODUL 4 PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA (UU
5. Penyidikan, Penuntutan, Dan Pemeriksaan di Sidang
6. Mekanisme Penyidikan Tindak Pidana Korupsi;
7. Peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana Korupsi.
Metode Pembelajaran
1. Metode ceramah
Metode ini digunakan pendidik untuk digunakan untuk menjelaskan materi tentang pokok-pokok Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
2. Metode Brainstorming (curah pendapat)
Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
3. Tanya jawab jawab
Metode ini digunakan pendidik untuk bertanya dan menjawab kepada peserta didik dalam rangka mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik tentang materi yang telah disampaikan.
4. Metode penugasan
Metode ini digunakan pendidik untuk memberi penugasan kepada peserta didik terkait dengan materi yang diberikan.
Alat/medial, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Alat/media:
a. White Board/papan flipchart;
b. Laptop;
c. LCD Projector;
d. OHP.
2. Bahan:
a. alat tulis;
b. kertas Flipchart/HVS 3. Sumber belajar:
a. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi;
b. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal : 10 menit
Pendidik melaksanakan apersepsi
a. Pendidik memerintahkan peserta didik melakukan refleksi:
b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan.
c. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Tahap inti : 250 menit
a. Pendidik menyampaikan materi Undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi;
b. Pesesrta didik memperhatikan, mencatat hal-hal penting, bertanya jika ada materi yang belum dimengerti/dipahami;
c. Pendidik menggali pendapat tentang materi yang telah disampaikan;
d. Peserta didik melaksanakan curah pendapat tentang materi yang disampaikan oleh pendidik;
e. Pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya atau menanggapi materi;
f. Peserta didik merespon secara aktif proses belajar mengajar;
g. Pendidik menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
3. Tahap akhir : 10 menit a. Penguatan materi.
Pendidik memberikan ulasan dan penguatan materi secara umum.
b. Cek penguasaan materi.
Pendidik mengecek penguasaan materi pembelajaran dengan bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik.
c. Keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas.
Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari pembelajaran yang disampaikan kepada peserta didik.
d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang disampaikan.
4. Tahap ujian (tes sumatif) : 90 Menit
Tagihan / Tugas
Peserta didik mengumpulkan hasil resume kepada pendidik.
Lembar Kegiatan
Pendidik menugaskan kepada peserta didik untuk membuat resume tentang materi yang telah diberikan.
Bahan Bacaan
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI (UU NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN
ATAS UU NOMOR 31 TAHUN 1999)
1. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan Tindak pidana korupsi
a. Pengertian Korupsi
Korupsi (bahasa Latin: Corruptio dari kata kerja Corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Berdasarkan kamus umum bahasa Indonesia pengertian korupsi adalah perbuatan yang buruk (seperti penggelapan uang, penerimaan suap, pemerasan dan sebagainya). Sedangkan Korup adalah busuk, buruk, memakai kekuasaannya untuk kepentingan sendiri/
keluarga/golongannya.
Dari sudut pandang hukum, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 bahwa unsur Pokok dalam tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
1) Adanya pelaku atau pelaku-pelaku korupsi;
2) Adanya tindakan yang melanggar norma-norma yang berlaku yang dalam ini dapat membentuk moral (aspek agama) etika (aspek profesi), maupun peraturan perundang-undangan (aspek hukum);
3) Adanya unsur merugikan keuangan/kekayaan negara atau masyarakat, langsung atau tidak langsung;
4) Adanya unsur atau tujuan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi/keluarga/golongan.
b. Pengertian Keuangan Negara
Keuangan negara menurut UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena:
1) Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban pejabat lembaga negara baik di tingkat pusat maupun daerah;
2) Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban BUMN/BUMD, yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan negara;
3) Pengertian perekonomian negara adalah kehidupan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan;
4) Ataupun usaha masyarakat secara mandiri yang didasarkan kebijakan pemerintah, baik ditingkat pusat maupun daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bertujuan memberikan manfaat, kemakmuran dan kesejahteraan kepada seluruh kehidupan rakyat.
c. Pengertian Pegawai Negeri
Pengertian pegawai negeri menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001:
1) Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam undang-undang tentang kepegawaian;
2) Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab UU Hukum Pidana;
3) Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah;
4) Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah;
5) Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal dan fasilitas dari negara atau masyarakat.
d. Pengertian penyelenggara negara
Penyelenggara Negara yang dimaskud dalam Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi adalah pejebat negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif atau yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Kondisi yang mendukung munculnya korupsi
a. Konsentrasi kekuasan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik;
b. Kurangnya transparansi dipengambilan keputusan pemerintah;
c. Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal;
d. Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar;
e. Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman lama";
f. Lemahnya ketertiban hukum;
g. Lemahnya profesi hukum;
h. Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa;
i. Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil;
j. Rakyat yang cuek, tidak tertarik, atau mudah dibohongi yang gagal memberikan perhatian yang cukup ke pemilihan umum;
k. Tidak ada kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan atau sumbangan kampanye.
Mengenai kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri dibanding dengan kebutuhan hidup yang makin hari makin meningkat pernah di kupas oleh B Soedarsono yang menyatakan antara lain " pada umumnya orang menghubung-hubungkan tumbuh suburnya korupsi sebab yang paling gampang dihubungkan adalah kurangnya gaji pejabat-pejabat..." namun B Soedarsono juga sadar bahwa hal tersebut tidaklah mutlak karena banyaknya faktor yang bekerja dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kurangnya gaji bukanlah faktor yang paling menentukan, orang-orang yang berkecukupan banyak yang melakukan korupsi. Namun demikian kurangnya gaji dan pendapatan pegawai negeri memang faktor yang paling menonjol dalam arti merata dan meluasnya korupsi di Indonesia, hal ini
dikemukakan oleh Guy J Parker dalam tulisannya berjudul
"Indonesia 1979: The Record Of Three Decades (Asia Survey Vol.
XX No. 2, 1980 : 123). Begitu pula J.W Schoorl mengatakan bahwa " di Indonesia di bagian pertama tahun 1960 situasi begitu merosot sehingga untuk sebagian besar golongan dari pegawai, gaji sebulan hanya sekadar cukup untuk makan selama dua minggu. Dapat dipahami bahwa dalam situasi demikian memaksa para pegawai mencari tambahan dan banyak diantaranya mereka mendapatkan dengan meminta uang ekstra untuk pelayanan yang diberikan". (Sumber buku "Pemberantasan Korupsi karya Andi Hamzah, 2007).
3. Jenis-jenis Tindak Pidana Korupsi
Menurut perspektif hukum, definisi korupsi dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001, dan dikelompokkkan berdasarkan bentuk dan atau jenis tindak pidana korupsi, terdiri dari tigapuluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi, sebagai berikut:
a. Korupsi kerugian kuangan negara
1) Melawan hukum untuk memperkaya diri dan dapat merugikan keuangan negara adalah korupsi. Rumusan ini paling banyak dipakai oleh KPK dalam menjerat para koruptor (pasal 2);
2) Menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara adalah korupsi. Salah satu rumusan favorit yang sering digunakan untuk menjerat para koruptor, terutama para pejabat (pasal 3).
3) Larangan penyalahgunaan kewenangan juga dilakukan pengaturan di dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (pasal 17 dan 18) sebagai berikut:
1) Pasal 17
Badan atau Pejabat Pemerintahan dilarang menyalahgunakan Wewenang. Larangan penyalahgunaan Wewenang meliputi:
a) Larangan melampaui Wewenang;
b) Larangan mencampuradukkan Wewenang;
c) Larangan bertindak sewenang-wenang.
2) Pasal 18
Badan atau Pejabat Pemerintahan dikategorikan melampaui Wewenang apabila Keputusan atau Tindakan yang dilakukan:
a) Melampaui masa jabatan atau batas waktu berlakunya Wewenang;
b) Melampaui batas wilayah berlakunya Wewenang;
c) Bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Badan atau Pejabat Pemerintahan dikategorikan mencampuradukkan Wewenang apabila Keputusan atau Tindakan yang dilakukan:
a) Di luar cakupan bidang atau materi Wewenang yang diberikan;
b) Bertentangan dengan tujuan Wewenang yang diberikan.
Badan atau Pejabat Pemerintahan dikategorikan bertindak sewenang-wenang apabila Keputusan atau Tindakan yang dilakukan:
a) Tanpa dasar Kewenangan; atau
b) Bertentangan dengan Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
b. Korupsi suap menyuap
8 rumusan dalam kelompok suap menyuap Jenis tindak pidana korupsi:
1) Menyuap pegawai negeri adalah korupsi.
Definisinya adalah setiap orang yang memberi sesuatu atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara agar supaya berbuat dan tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya sehingga bertentangan dengan kewajibannya. Selain itu menyuap pegawai negeri bisa dikatakan memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.
2) Memberi hadiah kepada pegawai negeri karena jabatannya adalah korupsi.
Definisinya adalah setiap orang yang memberi sesuatu atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan mengingat kekuasaan atau kewenangan yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap, melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut;
3) Pegawai negeri yang menerima suap adalah korupsi.
Jadi menyuap maupun yang disuap adalah dikategorikan sebagai korupsi;
4) Pegawai negeri yang menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatannya adalah korupsi.
Jadi hampir mirip dengan rumusan di atas, hanya bedanya adalah pada kategori menerima hadiah, bukan memberi hadiah;
5) Menyuap hakim adalah korupsi.
Hampir mirip dengan rumusan di atas, namun dalam konteks bahwa menyuap hakim untuk mempengaruhi putusan perkara;
6) Menyuap advokat adalah korupsi.
Hampir sama dengan menyuap hakim namun dalam konteks untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili;
7) Hakim yang menerima suap adalah korupsi. Intinya adalah yang menyuap dan yang disuap adalah korupsi;
8) Advokat yang menerima suap adalah korupsi.
c. Korupsi pemerasan
Jenis tindak pidana korupsi dalam kelompok pemerasan:
1) Pegawai negeri memeras adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain, yang secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya. Selain itu bisa dikatakan bahwa pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada
waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima pekerjaan atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan hutang;
2) Pegawai negeri memeras pegawai negeri yang lain adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta, menerima atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang. Dua rumusan ini seringkali terjadi di sebagian lingkungan instansi pemerintah. Bagi mereka yang bekerja di instansi pemerintah pasti paham. Maka, perlu diwaspadai bahwa praktek-praktek pemotongan yang terjadi di instansi pemerintah bisa dijadikan temuan oleh KPK dan dianggap sebagai jenis tindak pidana korupsi.
Kita tahu bahwa dampak dari budaya korupsi itu adalah adanya kerugian keuangan negara. Namun dampak yang lebih mengerikan adalah hilangnya sejumlah potensi keuntungan bagi rakyat untuk hidup lebih baik. Gara-gara korupsi, rakyat harus menghadapi terpaan krisis moneter yang melanda Indonesia di tahun 1997 dan hingga sekarang dampak tersebut belum sepenuhnya hilang. Gara-gara korupsi, rakyat harus menghadapi kenyataan bahwa biaya pendidikan di negeri ini yang selangit. Gara-gara korupsi, investor asing harus mengeluarkan biaya ekstra agar bisa berbisnis di Indonesia, yang ujung-ujungnya biaya tersebut dibebankan juga pada rakyat.
Sebelumnya saya telah membahas tentang rumusan korupsi mengenai kerugian uang negara, suap menyuap, dan pemerasan. Berikut ini saya menjelaskan mengenai rumusan yang lainnya, yaitu penggelapan dalam jabatan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.
d. Korupsi penggelapan dalam jabatan
5 Jenis rumusan dalam kelompok penggelapan dalam jabatan tindak pidana korupsi:
1) Pegawai negeri menggelapkan uang atau membiarkan penggelapan adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut;
2) Pegawai negeri memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi;
3) Pegawai negeri merusakkan bukti adalah korupsi.
Definisinya adalah pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya;
4) Pegawai negeri membiarkan orang lain merusakkan bukti adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya;
5) Pegawai negeri membantu orang lain merusakkan bukti adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya.
e. Korupsi perbuatan curang
6 Jenis rumusan dalam kelompok perbuatan curang :
1) Pemborong berbuat curang adalah korupsi. Definisinya adalah pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan, atau penjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan, melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang;
2) Pengawas proyek membiarkan perbuatan curang adalah korupsi. Definisinya adalah setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang;
3) Rekanan TNI/Polri berbuat curang adalah korupsi.
Definisinya adalah setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan TNI/Polri melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang;
4) Pengawas rekanan TNI/Polri membiarkan perbuatan curang adalah korupsi. Definisinya adalah setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan TNI/Polri dengan sengaja membiarkan perbuatan curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang;
5) Penerima barang TNI/Polri membiarkan perbuatan curang adalah korupsi. Definisinya adalah orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan TNI/Polri yang membiarkan membiarkan perbuatan curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang;
6) Pegawai negeri menyerobot tanah negara sehingga merugikan orang lain adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, telah menggunakan tanah negara yang di atasnya terdapat hak pakai, seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, telah merugikan orang yang berhak, padahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
f. Korupsi benturan kepentingan dalam pengadaan
Hanya terdapat satu rumusan dalam benturan kepentingan dalam pengadaan, yaitu pegawai negeri turut serta dalam pengadaan yang diurus adalah korupsi. Definisinya adalah pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan, yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya.
g. Korupsi gratifikasi
1) Sama halnya dengan benturan kepentingan dalam pengadaan, gratifikasi atau hadiah hanya memiliki satu rumusan, yaitu pegawai negeri menerima gratifikasi dan tidak lapor KPK adalah korupsi, yang terdapat dalam pasal. Rumusan definisi ini agak rumit, yaitu setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap menerima suap yang berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. Namun rumusan ini tidak berlaku bila penerima gratifikasi melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK paling lambat 30 hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima.
Beberapa jenis tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, diantaranya:
a) Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi.
Jenis tindak pidana tersebut tertuang dan Definisinya adalah setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi;
b) Tersangka tidak memberikan keterangan mengenai kekayaannya. Jenis tindak pidana tersebut Definisinya adalah setiap orang sebagaimana yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar tentang seluruh harta bendanya dan harta benda suami atau istri, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diketahui dan atau diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan tersangka;
c) Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka. Jenis tindak pidana tersebut Definisinya hampir mirip dengan jenis tindak pidana sebelumnya, namun lebih mengarah pada pihak Bank yang diduga menyimpan harta benda hasil korupsi;
d) Saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu. Jenis tindak pidana tersebut Definisinya hampir mirip dengan jenis tindak pidana sebelumnya, namun lebih berkaitan dengan kesaksian atau saksi ahli;
e) Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu. Jenis tindak pidana tersebut Definisinya hampir mirip dengan jenis tindak pidana sebelumnya, namun lebih berkaitan dengan orang yang karena pekerjaan, harkat, martabat, atau jabatannya yang diwajibkan menyimpan rahasia.
Hal ini dikecualikan bagi petugas agama yang menurut keyakinannya harus menyimpan rahasia;
f) Saksi yang membuka identitas pelapor. Jenis tindak pidana tersebut Definisinya adalah saksi yang dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan menyebut nama atau alamat pelapor, atau hal-hal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor.
Perlu diketahui bahwa tindak pidana korupsi merupakan bentuk kejahatan luar biasa, sehingga perlu adanya upaya-upaya hukum yang tegas, tidak hanya yang terkait langsung dengan tindak pidana korupsi itu sendiri, tetapi juga tindak pidana lain yang memungkinkan terhambatnya proses hukum para koruptor. Ibarat tikus, para koruptor tidak akan pernah berhenti untuk mencari celah apapun yang memungkinkan proses hukum terhadap mereka bisa terhambat, bahkan membebaskan mereka dari segala upaya hukum.
2) Sesuai dengan pedoman dan batasan gratifiikasi dari pimpinan KPK, maka pegawai negeri yang dimaksud dalam Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi meliputi:
a) Pegawai negeri atau aparatur sipil negara (ASN) adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjan kerja;
b) Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara/daearah;
c) Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah. Definisi ini antara lain mencakup pegawai pada BUMN/BUMD.
3) Pengertian penyelenggara negara yang dimaskud dalam Undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi adalah pejebat negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif atau yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4) Pegawai negri/penyelenggara negara wajib menolak pemberi gratifikasi yang berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau
4) Pegawai negri/penyelenggara negara wajib menolak pemberi gratifikasi yang berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau