V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Penyimpangan Pemanfaatan Ruang
Penyimpangan pemanfaatan ruang di Kecamatan Babakan Madang dan Klapanunggal berdasarkan matrik logik disajikan pada Lampiran 3.
Penyimpangan pemanfaatan ruang di Kecamatan Babakan Madang disajikan pada Gambar 7 dan Tabel 9. Dari Gambar 7 dan Tabel 9 menunjukkan bahwa penyimpangan pemanfaatan ruang terjadi di kawasan budidaya dan lindung.
Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan budidaya terjadi di kawasan, perkebunan, hutan produksi, pertanian lahan kering, dan industri. Penyimpangan terbesar terjadi di kawasan perkebunan sebesar 100%, dimana 69.57% untuk tegalan dan 30.43% untuk kebun campuran. Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan hutan produksi terbesar untuk tegalan 21.51%. Penyimpangan di kedua kawasan tersebut sebagian besar terdapat di Desa Karang Tengah. Dimana 1927 dari 3381 rumah tangga berprofesi sebagai petani, dengan komoditas pertanian yang diusahakan adalah ubi kayu (BPS, 2009), sehingga tidak sedikit petani yang menggunakan kawasan perkebunan dan kawasan hutan produksi untuk usaha taninya.
Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan pertanian lahan kering terbesar untuk sawah 18.16%. Penyimpangan tersebut terjadi di sekitar daerah aliran sungai di Desa Karang Tengah, dimana lahan masih bisa ditanami padi sawah.
Gambar 7. Persentase Penyimpangan Pemanfaatan Ruang di Berbagai Jenis Peruntukan di Kecamatan Babakan Madang
100
Tabel 9. Jenis Penyimpangan Pemanfaatan Ruang di Kecamatan Babakan Madang
2 Kawasan Hutan Produksi 1583.27
Pemukiman 13.07 0.83
4 Kawasan Pertanian Lahan
Kering 611.45 Pemukiman 37.71 6.17
Kawasan peruntukan industri menyimpang sebesar 23.38% dari alokasi RTRW dengan jenis penyimpangan menjadi pemukiman. Penyimpangan terjadi di Desa Sentul, dimana 1263 dari 2469 rumah tangga bekerja di sektor industri.
Adanya industri menarik para penduduk di luar desa tersebut untuk bekerja di sana. Sehingga menyebabkan tumbuhnya pemukiman–pemukiman baru sebagai tempat tinggal penduduk pendatang. Dimana pemukiman tersebut sebagian menyimpang dari peruntukan kawasaan industri.
Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan hutan lindung sebesar 0.57%, untuk sawah 0.56% dan tegalan 0.01%. Penyimpangan tersebut terdapat di Desa Karang Tengah dan Bojong Koneng, dimana 1927 dari 3381 rumah tangga di Desa Karang Tengah dan 1406 dari 2618 rumah tangga di Desa Bojong Koneng bekerja sebagai petani (BPS, 2009). Sehingga terdapat beberapa petani yang menggunakan kawasan hutan lindung untuk usaha taninya. Penyimpangan pemanfaatan ruang di setiap desa tersaji pada Lampiran 4. Peta penyimpangan pemanfaatan ruang di Kecamatan Babakan Madang dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Peta Penyimpangan Pemanfaatan Ruang di Kec. Babakan Madang
Penyimpangan pemanfaatan ruang di Kecamatan Klapanunggal hanya terjadi di kawasan budidaya yaitu pada kawasan pertanian lahan kering, industri, hutan produksi, pertanian lahan basah, dan pemukiman pedesaan. Jenis dan luas penyimpangan pemanfaatan ruang tersebut disajikan pada pada Tabel 10 dan Gambar 9. Dari Tabel 10 dan Gambar 9 terlihat bahwa penyimpangan terbesar terjadi di kawasan pertanian lahan kering. Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan pertanian lahan kering digunakan untuk pemukiman 34.18%, selain itu industri 3.09% dan sawah 3.7%. Penyimpangan tersebut sebagian besar terletak di Desa Ligar Mukti. Tingginya penyimpangan kawasan pertanian lahan kering menjadi pemukiman di kawasan tersebut karena jauhnya jarak desa dari pusat kota. Listiawan (2010) mengungkapkan bahwa, jarak desa yang jauh dari pusat kota menyebabkan rendahnya pengawasan aparat terhadap segala bentuk penyimpangan pemanfaatan ruang yang terjadi.
Gambar 9. Persentase Penyimpangan Pemanfaatan Ruang di Berbagai Jenis Peruntukan di Kecamatan Klapanunggal
Tabel 10. Jenis Penyimpangan Pemanfaatan Ruang di Kecamatan Klapanunggal
No
1 Kawasan Hutan Produksi 3756.80
Galian C 116.93 3.11
459.64 Kebun Campuran 165.29 4.40
Lahan Terbuka 4.17 0.11 Pemukiman 33.50 0.89
Sawah 50.65 1.35
Tegalan 89.10 2.37
2 Kawasan Pertanian Lahan Basah 1017.63 Pemukiman 52.78 5.19 52.78
3 Kawasan Pertanian Lahan Kering 796.19
Industri 24.64 3.09
326.29 Pemukiman 272.17 34.18
Sawah 29.48 3.70
4 Kawasan Peruntukan Industri 1250.16 Pemukiman 311.03 24.88 311.03 5 Kawasan Pemukiman Pedesaan 1009.76 Industri 36.71 3.64 36.71
Total 1186.44
Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan pertanian lahan basah dan peruntukan industri berupa pemukiman sebesar 5.19% dan 24.88%.
Penyimpangan tersebut terjadi di Desa Klapanunggal dan Kembang Kuning.
Tingginya jumlah penduduk (11859 jiwa di Desa Klapanunggal dan 13122 jiwa di Desa Kembang Kuning) (BPS, 2008) menyebabkan terjadinya penyimpangan di kedua kawasan tersebut. Selain itu, penduduk di kedua desa tersebut sebagian
besar bekerja di sektor industri (BPS, 2008). Berdasarkan hasil penelitian Restina (2009) kepadatan penduduk dan jenis pekerjaan mempengaruhi terjadinya penyimpangan alokasi ruang. Adanya industri menarik para penduduk untuk bekerja di sana yang menyebabkan tumbuhnya pemukiman–pemukiman di sekitar kawasan industri.
Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan pemukiman perdesaan berupa industri sebesar 36.71 ha atau 3.64%. Penyumbang terbesar penyimpangan tersebut terdapat pada pabrik Holcim, dimana 19.10 ha atau 21.96% dari luas pabrik Holcim tidak sesuai dengan alokasi ruang yang seharusnya digunakan untuk pemukiman perdesaan. PT. Holcim Indonesia Tbk merupakan industri semen ketiga terbesar di Indonesia dengan kapasitas terpasang sebesar 7.9 juta ton. Dengan produksi yang tercapai pada tahun 2005 sebesar 6.5 juta ton (www.winpluscapital.com, 10 Desember 2011).
Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan hutan produksi terbesar untuk kebun campuran sebesar 165.29 ha atau 4.40%. Selain itu untuk galian C sebesar 116.93 ha atau 3.11%. Banyaknya kawasan hutan produksi menjadi kebun campuran karena dekatnya kawasan hutan produksi dengan pemukiman penduduk, sawah, dan tegalan, sehingga banyak penduduk yang memanfaatkan sebagian kawasan hutan produksi menjadi kebun campuran. Penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan hutan produksi untuk galian-C sebesar 116.93 ha atau 3.11%, penyimpangan terjadi Desa Leuwikaret dan Desa Klapanunggal. Di Desa Leuwikaret penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan hutan produksi untuk galian-C disebabkan oleh tambang PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, yang merupakan industri semen terbesar kedua setelah Semen Gresik Grup dengan total kapasitas sebesar 16.5 juta ton atau 37% dari seluruh kapasitas terpasang industri semen di Indonesia (www.winpluscapital.com, 10 Desember 2011). Sedangkan di Desa Klapanunggal penyimpangan kawasan hutan produksi menjadi galian-C terjadi karena terdapat beberapa tambang liar yang dilakukan oleh penduduk sekitar. Tambang liar di desa tersebut disebabkan oleh kurangnya pengawasan aparat berwajib. Penyimpangan pemanfaatan ruang di setiap desa tersaji pada Lampiran 5. Peta penyimpangan pemanfaatan ruang di Kecamatan Babakan Madang dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Peta Penyimpangan Pemanfaatan Ruang di Kecamatan Klapanunggal