3.2. ALAT-ALAT BERAT
3.5.2. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi didalam proyek
1. Penambahan air ketika menyalurkan ready mix menggunakan concrete pump
Kadar air dalam ready mix sudah memiliki tingkat yang telah disesuaikan dengan rencana mutu beton yang akan di dapat maka penambahan air tidak diperlukan lagi, penambahan air mampu membuat mutu beton menurun dan menimbulkan retak-retak ketika air menguap dan mencoba keluar dari beton yang mulai mengeras.
Dalam kegiatan pengecoran kontruksi sering terlihat operator concrete pump mengucurkan air dari truk mixer, yang seharusnya air tersebut digunakan untuk mencuci mixer setelah usai membawa ready mix agar tidak merekat di mixer dan membuat alat rusak. Dalam keterangannya operator melakukan hal tersebut karena kawatir boom akan tersumbat dan rusak.
Pengawas telah mencoba untuk memperingati operator namun operator tetap membandel, sehingga ketika tidak dalam pengawasan penuh penyimpangan ini tetap dilakukan.
Laporan Praktik Kerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo Tahap II Ruas Bawen – Solo, Jembatan Tuntang Paket 3.1 : Bawen – Polosiri
111
Denis Bramedio Herlambang 13.12.0068 Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
2. Kurang memperhatikan tinggi jatuh ready mix yang disalurkan oleh boom concrete pump
Perlunya memperhatikan tinggi jatuh beton adalah hal yang penting karena ketika hal tersebut tidak diperhatikan akan mengurangi mutu beton karena agregat tidak rata memenuhi beton sehingga mampu menurunkan kuatt tekan beton dititik-titik tertentu.
Pekerjaan pengecoran dilakukan menggunakan boom yang diameternya cukup besar sehingga sulit menerobos rangkaian besi yang sudah terpasang dengan renggang yang cukup rapat, dibeberapa kegiatan pengecoran kontraktor menggunakan penyalur tambahan agar tinggi jatuh dari ready mix terjaga namun terdapat pula pekkerjaan yang tidak menggunakan penambahan boom seperti pengcoran di footing P1.
3. Membawa keluarga ke proyek menggunakan fasilitas proyek Lokasi proyek merupakan tempat yang cukup berbahaya karena resiko akan terjadi kecelakanan tentunya lebih tinggi. Terdapat kejadian yang cukup mengkhawtirkan ketika operator truk mixer ketika sedang melakukan proses pengecoran membawa satu keluarga kecilnya tanpa menggunakan perlengkapan keamanan kedalam cabin truk sedangkan kaca depan truk dalam keadaan rusak parah.
4. Terdapat pengawas yang tidak menggunakan rompi dan helem pengaman
Berikut merupakan contoh yang tidak baik karena seorang pengawas dengan jabatan yang cukup tinggi di bandi pengawas lainnya meninjau proyek tanpa mengunakan rompi dan helm proyek dan dilakukan berulang walaupun K3 telah menegur
Laporan Praktik Kerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo Tahap II Ruas Bawen – Solo, Jembatan Tuntang Paket 3.1 : Bawen – Polosiri
112
Denis Bramedio Herlambang 13.12.0068 Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
5. Pekerja tidak menggunakan rompi dan keamanan yang aman ketika menaiki tempat yang tinggi
Hampir seluruh pekerja di proyek ini tidak menggunakan perlegkapan keamanan, seperti penggunaan rompi, sarung tangan dan sepatu keamanan. Kondisi yang cukup mengkhawatirkan pula terlihat ketika pekerja sedang berada di ketinggian sekitar ±40 m bahkan lebih dengan kondisi yang cukup sempit melakukan ekerjaan tampa pengaman. Perlengkapan keamanan yang digunakan pekerja hanya dalam bentuk penggunaan helm dan sepatu penutup tanpa fitur khusus keamanan.
6. Diagfragma yang tidak sesuai dengan girder
Diafrgama adalah bagian dari struktur bawah, tujuan diafragma adalah mempersatukan girder, namun metode yang digunakan untuk mendapatkan diafragma dengan metode precast malah menjadikan pekerjaan menjadi bertambah, karena kehadiaran precast diafragma dilapangan dengan ukuran yang tidak sesuai mengharuskan pekerja untuk menyesuaikan ukuran dengan membobok bagian binggir diafragma dan akhirnya mengubah mutu dari kekuatan rencana difragma.
7. Hujan yang terlalu sering
Di lokasi proyek hujan sering dirasakan. Ketika waktu mulai menjelang sore hujan dengan deras langsung mengguyur lokasi proyek yang menyebabkan pekerja tidak mampu berlindung di tempat yang aman, kebanyakan pekerja yang sedang mengerjakan pilar tertahan diatas pilar hingga hujan reda atau memaksa turu perlahan.
Laporan Praktik Kerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo Tahap II Ruas Bawen – Solo, Jembatan Tuntang Paket 3.1 : Bawen – Polosiri
113
Denis Bramedio Herlambang 13.12.0068 Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
BAB IV
PENUTUP
5.1.
KESIMPULAN
1. Terdapat 25 alat yang digunakan selalu dalam pekerjaan pembangunan jembatan.
2. Dalam pembangunan jembatan terdapat alat yang bernama launcher yang berguna untuk menempatkan girder ditumpuan.
3. Dalam pembangunan jembatan tol yang melintasi sungai tuntang pekerjaan tanah tidak begitu dominan, kegiatan dominan berupa pembuatan struktur.
4. Dalam pekerjaan lounching girder waktu yang di butuhkan sekitar 1,5 jam hingga 2 jam, untuk menempatkan girder dan setting launcher sehingga sehari dapat ditargetkan 4-5 girder terpasang pada pier head. 5. Dalam pekerjaan pier head menggunakan metode soring, yaitu
menggunakan penumpu pada bekisting untuk menahan beban ready mix sampai menjadi beton.
6. Penumpu metode soring berupa scafolding yang di modifikasi dengan beberapa profil baja seperti canal c dan H beam yang direkatkan dengan bantuan las.
7. Alat yang selalu bekerja tiap harinya dari pukul 08.00 – 17.00 wib adalah genset dan tower crane.
8. Kondisi lapangan yang baik seperti jalan dan tempat bekerja membuat kinerja alat serta pekerja lebih baik.
9. Perawatan rutin dan pengisian bahan bakar di setiap harinya selalu dilakukan untuk semua alat berat.
10.Terdapat laporan rutin mengenai kondisi alat dan perawatan yang telah dilakukan.
11.Pekerja mampu dan baik dalam pengoprasian alat-alat berat.
Laporan Praktik Kerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo Tahap II Ruas Bawen – Solo, Jembatan Tuntang Paket 3.1 : Bawen – Polosiri
114
Denis Bramedio Herlambang 13.12.0068 Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
13.Hampir seluruh pekerja tidak menggunakan perlengkapan keselamatan kerja.
14.Terdapat beberapa bengawas yang tidak memakai perlengkapan keselamatan kerja.
5.2.
SARAN
1. Disarankan untuk mengontrol selalu ketertiban pekerja dalam mengoprasikan alat berat.
2. Disarankan untuk lebih megoptimalkan jalan menuju proyek dan keadaan lokasi kerja agar pekerja dapat bekerja lebih cepat.
3. Disarankan untuk pekerja, pelaksana dan pengawas lebih tertib dalam pemakaian perlengkapan keselamatan kerja dan bersikap dilokasi proyek.
Laporan Praktik Kerja Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo Tahap II Ruas Bawen – Solo, Jembatan Tuntang Paket 3.1 : Bawen – Polosiri
115
Denis Bramedio Herlambang 13.12.0068 Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
DAFTAR PUSTAKA
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun2004 Tentang Jalan.
JASA MARGA.INVESTOR SUMMIT & CAPITAL MARKET EXPO 2014. 2014.-.