FANARI YA’AHOWU
3.1 Persiapan Awal
3.2.2 Peralatan Tar
Peralatan yang di pergunakan dalam pertunjukan tari ya’ahowu ini selain dari pada kostum yaitu peralatan musik yang bertugas sebagai pengiring tari seperti göndra (gendang besar), aramba (gong besar), faritia (canang), serta mampersiapkan setiap alat pemukul seperti bambu untuk pemukul göndra, kayu kecil 2 buah seukuran 30-40 cm sebagai alat pemukul canang, satu buah kayu
69
kecul dengan panjang kurang lebih 40-50 cm yang ujungnya dibalut dengan kain tebal sebagai alat pemukul gong.
Selain mempersiapkan peralatan musik, penari juga mempersiapkan mbola nafo (sirih) yang nantinya akan di persembahkan kepada para tamu sesuai dengan acara yang dilakukan sebagai bukti penghormatan dan rasa sukacita dari pihak sowatö (sepangkalan) kepada pihak tamu yang datang. Mbola nafo atau sekapur sirih merupakan hal terpenting dan harus ada pada pertunjukan tari Ya’ahowu.
3.2.3 Make Up
Para penari sebelum tampil mempertunjukan tarian, mereka biasaya terlebih dahulu ke salon untuk merias wajah dan menata serta menyanggul rambut mereka agar lebih rapi dan cantik. Kebanyakan dari penari ini mempergunakan prodak salon dan rata-rata menggunakan make up merek Ponds. Ada juga yang menggunakan make up produk dari Orifflame.
Ada juga para anggota penari melakukan sendiri persiapannya. Biasanya mereka menggunakan tata rias yang sederhana dan seadanya dengan keinginan masing-masing anggota.
3.3 Pertunjukan
Secara umum istilah pertunjukan atau seni pertunjukan diambil dari bahasa Inggris performing art. Beberapa definisi seni pertunjukan juga masih berdasarkan penafsiran masing-masing. Ada yang membagi pertunjukan menjadi seni teater, seni musik, dan seni tari. Menurut definisi ini, seni pertunjukan adalah seni yang dipertunjukkan kepada penonton. Sedangkan dalam bahasa Inggris, performing art ini lebih mengacu pada mempertunjukkan hasil seni yang
70
berbentuk apapun kepada penonton. Hampir semua jenis karya seni bisa dipadukan dalam performance art.
Tari yang dilatarbelakangi lukisan atau foto, dengan dekorasi dari hasil seni karya, disertai musik yang menggugah. Bersamaan dengan itu, interaksi dengan penonton juga terbangun melalui masuknya imajinasi penon- ton ke dalam larutan performance art.
Sementara itu, seni pertunjukan modern sudah bisa merumuskan faktor terjadinya sebuah pertunjukan seni atau seni pertunjukan. Faktor itu ada empat. ruang, waktu, tubuh, dan interaksi dengan penonton. Seni pertunjukan yang dimaksud di sini adalah seni pertunjukan yang dikonsep sebagai satu kesatuan pertunjukan yang mempunyai tema dan tujuan tertentu, baik untuk kepentingan orang banyak, maupun bagi seni itu sendiri.
Salah satu dari pertunjukan seni tradisional yang ada sekarang yaitu pertunjukan tari Ya’ahowu atau tarian selamat datang yang ada di Pulau Nias. Tarian ini sering sekali dipertunjukan pada acara-acara adat di pulau Nias. Tarian ini lebih sering dipertunjukan untuk menyambut kedatangan tamu-tamu adat yang mana di dalam tarian ini dimelambangkan rasa sukacita atas datangnya para tamu, tamu yang agung yang disebut balugu (orang yang di hormati) dan kepada tuhenöri (penatua-penatua adat).
71
Gambar 15:
Salah Satu Pertunjukan Tari Ya’ahowu pada Upacara Adat Penyambutan Tamu
Gambar 16:
72 3.5 Deskripsi Gerak
Pada dasarnya gerak tubuh yang berirama atau beritme-ritme memiliki potensi menjadi gerak tari. Salah satu cabang seni tari yang di dalamnya mempelajari gerakan sebagai sumber kajian adalah tari. Dalam kehidupan sehari- hari, manusia selalu bergerak. Gerak dapat dilakukan dengan berpindah tempat (locomotive movement). Sebaliknya, gerakan di tempat disebut gerak di tempat (stationary movement).
Hal lain juga disampaikan oleh Hawkins bahwa, tari adalah ekspresi perasaan manusia yang diubah ke dalam imajinasi dalam bentuk media gerak sehingga gerak yang simbolis tersebut sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990:2). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dirangkum bahwa, pengertian tari adalah unsur dasar gerakyang diungkapan atau ekspresi dalam bentuk perasaan sesuai keselarasan irama.
Dengan demikian dapat diakumulasi bahwa tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari ungkapan beberapa gerak ritmis. Tari juga bisa dikatakan sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihanlatihan, tari digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang mempelajarinya.
73
Dalam gerakan Tari Ya’ahowu terdapat beberapa jenis gerakan, walaupun gerakan dalam tariannya tidak terlalu banyak dan bervariasi, tetapi tari Ya’ahowu ini mampu membuat semua tamu dan penonton yang menikmatinya dapat merasakan kegembiraan dan sukacita setelah melihatnya. Gerakan-gerakan tersebut akan penulis deskripsikan dengan menyertakan gambar berikut.
Gambar 17:
Contoh Visual Gerakan Tari Ya’ahowu
Pada foto diatas gerakan tersebut merupakan gerakan dimana para penari berjalan menuju panggung atau menuju pentas tempat mereka mempersembahkan dan mempertunjukan tari Ya’ahowu kepada para tamu.
74
Gambar 18:
Gerak dalam Pola Berkumpul
Gambar 19:
75
Gerakan pada gambar 18 dan 19 adalah gerakan dimana para penari saling berhadapan dengan membentuk lingkaran 8 dan saling memberikan sapaan dan penghormatan diantara sesama penari yang menggambarkan kekompakan diantara para penari. Gerakan ini juga merupakan gerakan sukacita yang datang dari dalam diri para penari disebabkan karna telah bersedianya para tamu meringankan langkah mereka untuk hadir pada acara adat yang yang sedang diselenggarakan tersebut.
Gambar 20:
76
Gambar 21:
Gerak Fame’e Afo Khö Tome
Gerakan pada gambar 20 dan 21 adalah gerakan fame’e afo khö tome (pemberian/penyerahan sekapur sirih kepada para tamu). Pada bagian ini para penari menarikan mbola nafo (tempat) sekapur sirih yang ada di tangan kanan mereka ke atas kepala mereka yang melambangkan bahwa mereka menyerahkan sekapur sirih kepada para tamu dengan sukacita tanpa tekanan ataupun tanpa berat hati. Pemberian ini nantinya akan diserahkan oleh 2 orang penari yang berposisi di bagian depan formasi barisan tarian, dan ke 2orang penari inilah yang mempunyai tugas untuk menyerahkan sekapur sirih tersebut kepada para tamu yaitu balugu atau tuhenöri.
77
Gambar 22:
78
Gambar 23:
Penyerahan Sekapur Sirih kepada Seorang Penonoton Pria
Pada gambar 22 dan 23 adalah gerakan fame’e afo ( pemberian sekapur siri) kepada tamu yang datang, dan pihak tamu pun menerima sekapur sirih itu dengan sukacita dan melambangkan bahwa mereka sudah diterima dengan senang hati oleh pihak sowatö (yang mengadakan acara).
79
Gambar 24:
Gerakan Akhir dalam Persembahan Tari Ya’ahowu
Gerakan tarian pada gambar 24 di atas merupakan gerakan dimana para penari Ya’ahowu sudah selesai melakukan tugasnya dalam menyambut para tamu yang datang dan merekapun kembali ke tempat mereka dengan sukacita dan selanjutnya menikmati acara berikutnya.
3.6 Musik
Musik adalah sebuah bentuk karya seni yang terdiri dari bunyi-bunyian instrumental atau vocal yang menghasilkan sebuah karya yang indah dan harmonis. Musik juga merupakan perantara untuk mengkomunikasikan ide-ide,
80
perasaan atai pemikiran tertentu dari si pencipta music (komposer) kepada pendengar. Musik juga merupakan suatu kebutuhan yang memegang peranan cukup penting dalam kehidupan seseorang.
Kata atau istilah musik berasal dari bahasa yunani yaitu dari kata muse, yang berarti dewa. Dalam mitologi yunani kata muse berarti dewa-dewi pelindung ilmu pendidikan dan kesenian. Kata muse tersebut kemudian menjadi salah satu pengertian dengan polyhimnis, yang berarti komposer dalam jenis lagu, atau dengan kata lain muse berarti seni atau teknik permainan dari seorang musisi.
Musik terdapat dalam setiap kebudayaan, yang mana banyak kebudayaan menjadikan musik untuk digunakan dalam kegiatan-kegiatan sacral dan upacara yang berhubungan dengan kepercayaan dan adat. Musik juga dijadikan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat, menyemarakkan suasana, mengiringi gerak tari dan lagu dan juga sebagai media kesurupan (trance). Beragam Macam jenis alat musik, telah membuat kebudayaan semakin hidup. Dimanapun dan kapanpun Sebuah alunan musik akan sangat indah bila dibarengi dengan alat-alat musik.
Dalam kebudayaan musik Nias, musik tradisi ini mempunyai peran atau posisi yang sangat penting dalam setiap acara adat di Nias. Sama halnya dengan musik tradisi dari tanah Batak (gondang sabangunan) mempunyai peran yang sangat penting dalam setiap upacara adat yang dilaksanakan dan merupakan sarana untuk membawa atau menyambungkan antara manusia kepada Tuhan atau sarana membawa doa kepada Tuhan untuk dapat di dengar dikabulkan.
Di Nias, alat musik merupakan komponen yang tidak boleh hilang dari kebudayaan, walaupun hal itu harus dibayar dengan nyawa namun tetap dipertahankan. Musik Nias yang asli menggunakan 3 atau 4 nada dalam satu
81
oktav. Jenis ini sekarang sukar sekali ditemukan. Instrumen yang digunakan: gong besar, faritia/saraina (gong kecil), sigu mbawa dan surune mbawa (suling), druridana (garputala bambu), tamburu, gendera, cucu, fodrahi, dan taburana (gendang yang panjangnya 3 meter dengan 2 kulit), koko (semacam celempung/kecapi), dan lagiya (rebab).
Tetapi dari zaman ke zaman banyak alat musik Nias yang sudah jarang di pakai atau ada yang sudah punah dan tidak di kenal masyarakat Nias di zaman modern ini. Musik Nias yang paling sering di bawakan dalam setiap acara adat sekarang hanya terdiri dari dari tiga (3) jenis alat music yang digabungkan dalam satu ensambel music yaitu sebagai berikut.
5. Göndra atau gendang besar merupakan alat musik Nias yang terbuat dari batang pohon besar yang bulat yang telah dikeruk bagian dalamnya, hingga tembus sampai ke ujung sebelah. Kemudian, kedua sisinya ditutup dengan kulit kambing, diikat dengan rotan di sekeliling pinggirnya. Gendang ini merupakan salah satu alat musik tradisional Nias yang masih bertahan sampai sekarang dan merupakan salah satu alat musik yang wajib ada dalam pertunjukan ensambel musik tradisional Nias pada setiap upacara adat atau pesta adat. Gőndra ini dimainkan dimainkan oleh 2 orang pemusik dengan cara memukul membran dengan bagian tengah dari stik rotan dan bukan pada ujung stik rotan. Membran di pukul pada sisi bagian pinggir dari membran dan juga di pukul pada bagian tengah membran. Berikut adalah gambar dari gőndra yang dimainkan oleh 2 (dua) orang pemusik.
82
Gambar 25:
Gambar Dua Orang Pemain Gőndra
6. Aramba atau gong besar merupakan alat musik gong yang berdiameter kira-kira satu meter dan dimainkan oleh satu orang pemusik. Gong ini juga sampai sekarng merupakan alat musik Nias yang bertahan dan wajib ada dalam setiap pertunjukan musik dalam budaya Nias. Berikut ini adalah gambar dari gong dan pemainnya.
83
Gambar 25: Gambar Pemain Gong
7. Faritia/faricia merupakan gong kecil atau dalam bagsa lain disebut sebagai canang atau mong-mongan yang berjumlah dua buah dan dimainkan oleh
84
dua orang. Faritia ini dimainkan dengan menggunakan stik dari kayu. Faritia ini merupakan alat musik yang juga wajib hadir disetiap pertunjukan musik Nias ataupun pada setiap upacara adat di Nias.
Gambar 26:
Faritia yang Dimainkan oleh Dua Orang Pemusik
Ketiga ensambel musik di atas adalah jenis alat musik tradisional Nias yang masih bertahan sampai sekarang dan merupakan musik yang “wajib’ ada di dalam setiap upacara adat, baik itu kematian, pesta pernikahan, owasa, ataupun pada upcara penyambutan tamu adat.
85 3.7 Sinunő
Sinunő atau nyanyian merupakan ungkapan perasaan hati yang dalam yang disertai melodi dan disuarakan secara bersama-sama atau secara sendiri-sendiri, misalnya nyanyian gereja, paduan suara, vocal group, vocal solo, dan lain-lain. Setiap suku bangsa biasanya mempunyai suatu istilah tertentu untuk menyebut musik vokal tradisi sukunya masing-masing. Demikian juga orang Nias, yang menyebut musik vokalnya dengan sinunő. Mengenai kesenian tradisional, adapun suatu kesenian, baik yang tumbuh dari rakyat itu sendiri atau pengaruh dari budaya lain, sehingga masyarakat itu telah mewarisinya secara turun-temurun dari nenek moyang mereka, dapat disebut kesenian tradisonal. Predikat tradisional bisa diartikan segala sesuatu yang sesuai tradisi, sesuai dengan kerangka, pola-pola bentuk maupun penerapan yang selalu berulang-ulang (Sedywati, 1981: 48)
Sesuai dengan pendapat di atas kita dapat mengatakan bahwa musik vokal dapat disuarakan oleh satu orang atau lebih, baik dengan mengunakan iringan alat musik maupun hanya dengan suara manusia itu sendiri.
Pada dasarnya, konsep-konsep nyanyian atau sinunő masyarakat Nias banyak “menyerap” ajaran-ajaran agama Kristen Protestan yang awal kali masuk ke pulau Nias pada tahun 1865, tepatnya di kota Gunung Sitoli, yang dibawa oleh Denninger (seorang missionaris dari Jerman). Setelah itu, muncul Thomas dan Krämer pada tahun 1873 dan terakhir Dr. W. H. Sunderman tiba pada tahun 1876 (Zega, 1986 : 4). Thomas menerjemahkan beberapa buah buku ke dalam bahasa Nias, antara lain:
86
a) Woordebuk (Kamus Nias-Melayu-Belanda).
b) Katechimus (Tata Ibadah Agama Kristen Protestan tulisan dari Martin Luther).
c) Bibelkunde (Alkitab)
d) Buku Zinunő (Buku nyanyian gereja). (Zega,1986:4).
Buku Zinunő adalah buku nyanyian gereja berbahasa Belanda yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Nias seperti halnya buku gereja-gereja Protestan lainnya. Pada buku ini, terlihat percampuran antara musik Barat yang berupa melodi, tangga nada, dan ritme lagu dengan tradisi Nias yang berupa syair lagu. Buku nyanyian ini biasanya dipergunakan pada setiap acara kebaktian gereja Nias maupun di rumah sebagai bagian dari ibadah Kristiani.
Jadi nyanyian sinunő yang terdapat di Nias banyak di pengaruhi oleh kebudayaan dari luar Nias yang dibawa oleh misionaris. Masyarakat Nias
terutama yang ada di Pulau Nias bagian selatan mempunyai sinunő/nyanyian
vocal yang di kenal dengan hoho. Hoho merupakan tradisi nyanyian vokal yang dibawakan oleh sekelompok penghoho (sifahoho atau solau hoho) yang semua penyanyinya adalah pria.
Sinunő Hoho selalu terkait dengan konteks adat dimana iya dimainkan. Biasanya sinunő hoho ini dimainkan pada acara kematian, perkawinan,
penyambutan tamu adat yang di hormati. Pada masa pra-Kristen juga hoho ini dinyanyikan pada acara-acara religi asli Nias (Nias selatan). Teks-teks sinunő hoho ini desesuaikan dengan upacara adat diamana ia ditampilkan.
87
Sinunő hoho di atas merupakan salah satu contoh nyanyian tradisi Nias yang sampai sekarang masih ada di Nias terutama di Nias bagian selatan. Kemudian
sinunő hoho ini juga sekarang dijadikan sebagai bahan rekonstruksi terutama dalam hal pengembangan pariwisata di Nias.
Demikian juga di dalam sinunő atau nyanyian terutama nyanyian vocal yang dinyanyikan dalam mengiringi tari Ya’ahowu berisikan teks-teks yang cenderung menyambut para tamu yang datang, memberikan penghormatan dan menyampaikan rasa sukacita atas terselenggaranya acara adat tersebut. Dalam teks
sinunő ini juga terkandung teks pemberian sirih kepada para tamu yang merupakan wujut sukacita dan penghormatan kepada tamu yang hadir. Nyanyian
atau sinunő ini di iringi oleh alat musik tradisional Nias yang terdiri dari gondang
(gőndra), faritia (canang), dan gong (aramba).
88
BAB IV
ANALISIS MAKNA TEKSSINUNŐ