• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran dan Tanggung Jawab Penata Kamera

Dalam dokumen BAB III LAPORAN PRODUKSI (Halaman 155-163)

JERRY #41 Oh gitu

3.4.4 Peran dan Tanggung Jawab Penata Kamera

Kedudukan penata kamera dalam pembuatan suatu produksi sangat berperan penting karena penata kamera harus mengambil gambar yang baik yang berhubungan dengan skenario. Dan tentunya harus dengan persetujuan sutradara, karena setiap pengambilan gambar penata kamera harus bekerjasama dengan sutradara, dan penata kamera juga harus memberikan pilihan shot – shot yang bagus kepada sutradara. Karena keberhasilan suatu produksi, ditentukan oleh pengambilan gambar – gambar yang baik dan benar sehingga enak untuk ditonton.

Dalam tiga tahap produksi produksi penata kamera mempunyai peran dan tanggung jawab sebagai berikut :

a. Pra Produksi

1. Mendampingi sutradara riset sekaligus melihat lokasi pengambilan gambar.

208

208 2. Berkonsultasi dengan sutradara tentang gambar – gambar yang

baik untuk diambil.

3. Membuat treatment dengan sutradara untuk menyamakan visi agar tidak terjadi kesalahan saat di lapangan .

4. Menyiapkan alat – alat apa saja yang dibutuhkan pada saat proses produksi.

5. Membuat konsep kamera bersama dengan sutradara. b. Produksi

1. Merekam gambar sesuai konsep yang telah di sepakati pada waktu Pra Produksi.

2. Menjaga keselamatan kamera dan yang berhubungan dengan perekaman gambar.

3. Mengambil gambar sesuai dengan skenario. c. Pasca Produksi

1. Menemani editing untuk melihat hasil gambar yang telah diambil bersama sutradara .

2. Bersama editor dan sutradara memilih gambar yang diperlukan untuk diedit yang berhubungan dengan skenario dokumenter televisi.

3.4.5. Proses Penciptaan Karya

Penulis dalam produksi film pendek tugas akhir yang berjudul ”KATARSIS”, penulis bertugas menjadi penata kamera dalam produksi film

209

209 pendek tugas akhir ini dikarenakan Penulis sangat tertarik untuk menekuni profesi ini. dan Penulis ingin memberikan sebuah gambar yang indah dan menarik untuk di lihat, itu merupakan tantangan bagi Penulis untuk menghasilkan sebuah karya yang menarik untuk dilihat bagi penonton televisi yang kami buat.

Penulis juga ingin menerapkan ilmu yang sudah diberikan oleh dosen pengajar di kampus dan dengan referensi buku – buku tentang ilmu kamera tentang cara pengambilan gambar yang baik, walaupun hanya beberapa buku yang penulis baca, penulis ingin terapkan dalam produksi film pendek Tugas Akhir ini. Walaupun ilmu yang penulis terima dan pengalaman penulis sebagai penata kamera belum begitu banyak untuk bisa menjadi penata kamera yang handal, tetapi Penulis terus belajar dan berusaha banyak mencari pengalaman agar Penulis bisa membuat karya yang baik dan penonton yang melihat karya Penulis akan mengerti karya yang telah Penulis hasilkan dan situasi apa yang Penulis ambil.

a. konsep kreatif

Di dalam pembuatan karya film pendek ”Katarsis” penata kamera berusaha dengan semaksimal mungkin untuk dapat membuat Dokumenter Televisi ini menjadi lebih menarik dan sesuai dengan apa yang di inginkan. Di sini penulis sering menggunakan alat bantu seperti, tripot, boom mic, dan ligting. Tidak jarang Penulis mengambil gambar dengan teknik dengan menggunakan gladecam , karena dalam film ini

210

210 harus menggambil gambar yang bersifat bergerak cepat terhadap scene yang akan terjadi ketika proses suting berlangsung.

b. konsep produksi

Di dalam produksi kali ini yang juga merupakan Tugas Akhir (TA), penulis memegang jabatan sebagai penata kamera dalam produksi yang berjudul ”KATARSIS”. Segala hal yang berkaitan dengan gambar merupakan tanggung jawab penulis. Penulis akan mencoba dengan kemampuan yang penulis miliki, penulis akan berusaha semaksimal mungkin agar karya film pendek ini menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan. Penulis juga memakai beberapa referensi baik itu dari teori - teori buku perpustakaan, film indie , bahkan dari teman. Penulis akan mengambil gambar sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan pada saat praproduksi.

c. konsep teknis

Perencanaan konsep teknis sangat dibutuhkan, didukung pula dengan pembuatan director shot yang akan memudahkan pemilihan bahan - bahan yang akan digunakan dan persiapan alat – alat.

Pemilihan bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan produksi ini adalah 3 buah SD card Sony Pwx fs5 , dimana 2 SD card untuk proses produksi dan 1 SD card untuk cadangan.

211

211  Persiapan peralatan

Peralatan yang di butuhkan oleh penata kamera dalam produksi dokumenter Televisi ” KATARSIS” adalah :

No. Nama Alat Jumlah Unit

1. Sony PWX fs5 1

2. Lensa 3

3. Batterai 2

4. Charger 1

5. Led light fotable 2

6. Kinoflo 1

7. Boom mic 1

8. Zoom mic H4N 1

212 212 10. Perleng 50 m 2 11. Tripod 1 12. Gladecam 1 13. Mini jib 1 14. Slider 1 15. Drone Phantom 4 1 16. Xiomi Yi 4 1

 Teknik – teknik Pengambilan Gambar a. Sudut Pengambilan Gambar (angel)

Sudut pengambilan gambar yang di gunakan penata kamera dalam produksi “KATARSIS” adalah sebagi berikut:

1) Sudut Pengambilan Rendah (Low angel)

Pengambilan gambar yang di ambil dari bawah objek, sudut pengambilan gambar ini merupakan kebalikan dari high angel, sehingga objek terkesan ke agungan,kekuasaan,kuat,dominan,dinamis, dan objel terlihat memiliki kkekuatan yang menonjol dan membuat lebih dramatis.

2) Sudut Pengambilan Normal (eye Angel)

Pengambilan sudut ini di sesuaikan dengan sudut pandang manusia, sudut ini juga di sesuaikan dengan tinggi rendah nya posisi obyek.

213

213 3) Sudut Pengambilan Sejajar Tanah (frog eye)

Pengambilan sudut gambar ini kamera di tempatkan sejajar dengan tanah, sama dengan dasar kedudukan si objek,sehingga si tokoh terkesan misterius.

b. Ukuran Dan Tipe Gambar (type shot)

Untuk menghasilkan gambar yang benar dan sesuai dengan makna seorang cameramen perlu mengetahui beberapa type of shot atau ukuran framing, maka keberagaman type gambar tadi bisa di sangkutkan dengan teknik pengambilan gambar. Ukuran gambar bisa menunjukan emosi seseorang, situasi dan kondisi dari objek atau tokoh. Berikut adalah ukuran gambar atau tipe of shot :

1. ECU (Extreme Close Up)

Pengambilan suatu gambar sebesar mungkin yang menampilkan bagian tertentu dari bagian tubuh manusia atau menampilkan detail objek dan sangat jelas seperti pengambilan gambar pada bagian mata dan mulut.

2. BCU (Big Close Up)

Pengambilan sebatas kepala sampai ke dagu,untuk menunjukan sifat – sifat yang tercermin dari wajah objek,seperti kedalaman pandangan mata, kebencian rawut wajah,dan keharuan seseorang.

214

214 3. CU (Close Up)

Pengambilan gambar secara dekat yang menonjolkan bagian kepala sampai ke bahu untuk menegaskan bagiian dari emosi/reaksi dari objek utama seperti marah dan kesal.

4. MCU (Medium Close Up)

Pengambilan gambar yang meneampilkan dari bagian ujung kepala sampai ke dada, untuk menegaskan profil seseorang.

5. MS (Medium Shot)

Pengambilan gambrar dari mulai kepala sampai ke pinggang, untuk memperlihhatkan sosok objek secara jelas, seperti expresi dan emosi objek.

6. KS (Knee Shot)

Pengambilan gambar sebatas kepala hingga sebatas lutut, di peruntukan pengambilan gambar objek yang berinteraksi dengan jelas. 7. FS (Full Shot)

Pengambilan gambar secar penuh dari kepala hingga kaki dengan ruang gerak objek yang sempit, di peruntukan untuk memperlihatkan objek dengan lingkungan nya.

8. VLS (Very Long Shot)

Pengambilan gambar lebih jauh dari long shot. Digunakan untuk menunjukan objek dengan background yang cukup jauh.

215

215 9. 1 S (One Shot)

Pengambilan gambar satu objek,menunjukan seseorang sedang dalam satu frame atau monolog.

10. 2 S (Two Shot)

Mengabil gambar dengan dua objek,di gunakan untuk memperlihatkan dua orang yang sedang bercakap- cakap.

Dalam dokumen BAB III LAPORAN PRODUKSI (Halaman 155-163)

Dokumen terkait