BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Peran Komunikasi Terhadap Perkembangan Pemaha
Komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian informasi yang melibatkan komunikator atau Dai dan komunikan atau Mad’u. Komunikasi merupakan suatu kebutuhan bagi manusia. Melalui komunikasi seseorang dapat membangun hubungan dengan orang lain, kelompok, organisasi, masyarakat bahkan komunikasi mampu memberi pengaruh terhadap pemahaman seseorang.
Proses komunikasi sendiri terjadi apabila pesan atau informasi yang disampaikan dapat diterima secara baik dan dimengerti maknanya oleh orang lain. Penyampaian informasi itu sendiri dapat terjadi secara langsung seperti berbicara langsung atau tatap muka, komunikasi juga dapat terjadi secara tidak langsung yakni dengan menggunakan alat atau media bantu seperti buku atau media elektronik.
Pada umumnya komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata atau lisan yang mudah dipahami, cara ini dikenal dengan komunikasi verbal misalnya seorang guru mengajar atau dai berpidato, berceramah, berkhutbah dan nasehat agama lainnya untuk memberikan pemahaman yang berefek pada pengamalan. Apabila tidak ada bahasa verbal yang mudah dimengerti oleh komunikator ataupun komunikan maka komunikasi masih bisa dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan atau menunjukan sikap tertentu
misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, sementara dalam dunia dakwah itu sendiri komunikasi macam ini biasanya dengan memperlihatkan atau mempraktekan nilai-nilai Islam secara langsung dihadapan komunikan atau Mad’u, cara ini biasanya dikenal dengan komunikasi non verbal. Namun dalam implementasinya tak jarang seseorang menggunakan kedua tipe komuniksi ini secara bersamaan, baik secara sadar maupun tidak.
a. Proses Komunikasi
Dalam penelitian yang penulis lakukan, penulis melihat secara langsung proses komunikasi yang akhirnya memberikan pengaruh terhadap pemahaman dan pengamalan Islam masyarakat suku Lauje di desa Taipaobal yang terkategorikan dalam dua macam, komunikasi verbal dan non verbal:
1) Komunikasi Verbal
Dai berbicara langsung kepada Mad’u dalam menyampaikan paham Islam, baik itu melalui mimbar khutbah, berkunjung dari rumah ke rumah, mengisi majelis pengajian, mengajar di TPA dan TPQ, berceramah tentang syariat Islam seperti hukum berpuasa, larangan berjudi, pentingnya mendirikan Shalat dan pesan-pesan Islam lainnya. Namun dalam proses komunikasi seperti ini masyarakat cenderung bosan ditambah mereka banyak sekali yang tidak memahami bahasa Indonesia.
Komunikasi verbal lebih efektif jika digunakan oleh komunikator yang juga paham bahasa mereka atau sebaliknya menyampaikan pesan kepada komunikan yang paham bahasa komunikator seperti para tokoh masyarakat atau aparat desa,selain tingkat wawasan mereka lebih di atas dibanding yang lainnya mereka juga paham dengan bahasa Indonesia.
2) Komunikasi non verbal
Dai mempraktekkan secara langsung apa yang telah disampaikan maupun yang belum, agar dapat menjadi contoh bagi masyarakat, proses seperti ini lebih mudah dipahami oleh masyarakat suku Lauje dan memiliki peran besar karena kondisi kurang pahamnya mereka terhadap bahasa verbal yang disampaikan oleh dai, misalnya dai mempraktekan tatacara shalat, memandikan dan mengkafani jenazah serta cara menyembelih hewan.
Beberapa kali penulis mengadakan kajian mengenai tatacara shalat dengan menggunakan komunikasi verbal namun penulis perhatikan sama sekali tidak ada perubahan yang ditunjukan oleh komunikan, setelah penulis menggunakan komunikasi non verbal barulah ada perubahan dengan gerakan shalat yang mereka lakukan, yang dimana penulis mempraktekan secara langsung di hadapan mereka seperti apa gerakan shalat dan bagaimana cara shalat orang yang ketinggalan rakaat. Kurangnya bimbingan dari
para dai mengenai tatacara ibadah, menyebabkan masyarakat merasa malu untuk melaksanakan ibadah di depan banyak orang, dan tidak bisa melaksanakan ibadah secara sendiri-sendiri karena tidak paham bagaimana mempraktekannya. “terus terang mereka ini sangat malu sambayang di masjid karena mereka ini tida tau bagaimana caranya sambayang mau sambayang di rumah juga tidak bisa karena mereka smbayang cuma lihat ke imam, tapi syukur Pak Ustadz kasih tau baru mereka sudah mulai paham.”66
Kejadian lain Menjelang kepulangan penulis dari lokasi penelitian, penulis menyembelih seekor kambing, masyarakat yang menyaksikan merasa heran mengenai cara penyembelihan yang sangat mudah tanpa tata cara dan bacaan yang susah dan merepotkan sebagaimana yang mereka lakukan sehingga dari peristiwa itu mereka mulai berani melakukan sendiri penyembelihan tanpa harus mencari orang khusus dan dilakukan dengan cara yang mudah.
b. Proses Pembinaan Pemahaman dan Pengamalan
Pembinaan pemahaman adalah proses penanaman paham masyarakat secara bertahap yang dilakukan oleh komunikator baik pemahaman terhadap aqidah, ibadah dan akhlak melalui bahasa lisan dan praktek.
66Wawancara dengan Bapak Kaligis SH. Kepala Desa Taipaobal 62 Tahun, 7 juni 2018.
Di desa Taipaobal dai tidak langsung masuk pada materi dakwahnya akan tetapi ada tahapan serta proses yang harus dilalui. i. Perkenalan
Pada tahap ini seorang komunikator terlebih dahulu harus mengenali komunikan yang akan dihadapi, seperti mencari tahu watak masing-masing komunikan dengan cara berinteraksi secara langsung, dari hasil observasi peneliti, rata-rata dai yang masuk di daerah ini melakukan pendekatan kekeluargaan, seperti menyebut orang tua dengan sebutan tete “kakek” dan nene “nenek”, menyebut Kaka untuk yang lebih tua darinya serta sebutan Adeuntuk yang lebih muda sebutan inilah yang mungkin terlihat sepele namun mampu memberikan pengaruh besar terhadap proses komunikasi, sehingga tidak ada batasan antara komunikator dengan komunikan dari sini lah komunikator dapat mengetahui watak dan kebiasan mereka, dapat mengetahui masalah dan keinginan mereka. Biasanya para dai atau komunikator enggan menyebut seseorang dengan sebutan demikian karena terlalu berlebihan dalam menjaga wibawa, mereka lebih sering menggunakan kata umum seperti Bapak atau Ibu sehingga nampak ada batasan diantara mereka.
ii. Penyesuaian dan Pendekatan
Setelah mengetahui bagaimana watak dan kebiasaan mereka, apa masalah dan keinginan mereka barulah komunikator
dapat menyesuaikan diri dengan mereka, menyesuaikan diri dengan makanan mereka di rumah, menyesuaikan diri dengan budaya keseharian mereka serta gaya hidup mereka, pada Tahapan penyesuaian ini sebenarnya berfungsi untuk melakukan pendekatan dan menarik simpatik dari mereka sehingga timbul keinginan untuk belajar mengenai agama pendekatan ini penulis kategorian sebagai pendekatan emosional. Bahkan untuk lebih menarik simpatik dari mereka dai atau komunikator terjun langsung ke lahan pertanian mereka karena 100% masyarakat di sini adalah petani, komunikator bisa berpura-pura tidak tahu soal beberapa tanaman dan bisa juga memberikan solusi dan inovasi baru mengenai budi daya tanaman, pendekatan ini penulis kategorikan sebagai pendekatan ekonomi.
iii. Penyampaian Pesan
Setelah perkenalan, penyesuaian dan perkenalan selesai barulah komunikator masuk pada penyampaian pesan. Menyampaikan apa itu agama Islam, bagaimana ajarannya, pahamnya dan pengamalannya.
Ketiga tahapan di atas sangat sering dilakukan oleh para dai ketika berada di lokasi tersebut. Tentunya hal ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses komunikasi dan itulah beberapa sebab sehingga yang awalnya masyarakat suku Lauje berpaham animisme atau agama nenek moyang kini menjadi masyarakat yang semuanya
beragama Islam, walaupun di sisi lain adanya kelemahan dari unsur komunikasi sebagaimana yang penulis jelaskan pada halaman selanjutnya.
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi terhadap