BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Peran Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan
Pada bab ini, pertama-tama penulis membahas dasar-dasar kewenangan yang menjadi basis eksistensi dan aksi Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatandengan tujuan untuk lebih mengetahui tentang Ombudsman Kota Makassar dan sebagai pengantar untuk memasuki pembahasan kedua. Kemudian setelah itu penulis melangkah ke topik kedua yang merupakan pokok dan inti pembahasan untuk menjabarkan berbagai hal untuk menjawab rumusan masalah pertama yang diajukan oleh karya ilmiah ini yang pembahasannya berkenaan dengan kewenangan-kewenangan yang dimiliki oleh Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan.Pembahasan ketiga merupakan topik yang menurut penulis merupakan topik suplemen dari pembahasan kedua.
1. Peningkatan pelayanan penerimaan siswa baru
Ombudsman yang diharapkan mampu mengembankan amanat untuk memastikan bahwa hak masyarakat terutama hak ekonomi, sosial dan budaya
dalam konteks hak asasi manusia dapat terlindungi dan terpenuhi. Bahwa untuk mewujudkan pelayanan yang terbaik diperlukan pemberdayaan pengawasan eksternal terhadap penyelenggaraan pelayanan umum dan swasta di Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berhubungan dengan salah satu upaya pemberdayaan pengawasan eksternal serta memperhatikan aspirasi yang berkembang agar penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat senantiasa berlangsung adil dan benar maka dibentuklah lembaga Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan.
Seperti halnya yang dikatakan Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan:
“ Untuk mewujudkan pelayanan yang terbaik diperlukan pemberdayaan pengawasan eksternal terhadap penyelenggaraan pelayanan umum atau di Kota Makassar sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan salah satu upaya pemeberdayaan pengawasan eksternal perlu memperhatikan aspirasi yang berkembang agar penyelenggaraan pelayanan berlangsung dengan adil dan benar”. (Wawancara S, Pukul 08:00, 01 april 2015).
Sama halnya yang dikatakan oleh Asisten Bidang Penyelesaian Laporan Pengaduan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa:
“ Pelayanan yang baik diperlukan adanya suatu pengawasan terhadap pelayanan umum atau swasta, dalam pengawasan tersebut perlu memperhatikan aspirasi yang berkembang, agar penyelenggaraan pengawasan akan adil terhadap pelayanan umum dan swasta”. (Wawancara MU, pukul 08:15, 02 april 2015).
Berdasarkan dari kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa Ombudsman harus memastikan bahwa hak masyarakat terutama hak ekonomi, sosial dan budaya dalam konteks hak asasi manusia dapat terlindungi dan
terpenuhi.Dalam hal untuk mewujudkan pelayanan yang terbaik diperlukan adanya suatu pengawasan eksternal, agar pelayanan bisa berjalan sesuai dengan kebutuhan siswa baru.
Ditinjau dari sudut pandang filosofis, bahwa pendirian organisasi Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan adalah salah satu upaya perbaikan dan pembaharuan tata pemerintahan, khususnya dalam kerangka memastikan adanya akses/kontrol warga masyarakat terhadap pelayanan publik dari organisasi Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, maka diperlukan adanya lembaga seperti halnya yang dikatakan dari salah satu elemen mayarakat atau calon siwa baru. Adapun pendapat orang tua calon siswa baru yang mengatakan bahwa:
“ Dalam hal untuk memastikan adanya akses control masyarakat terhadap pelayanan publik dari perwakilan Repunlik Indonesia, diperlukan adanya suatu lembaga untuk menjadi pengawas dalam pelayanan publik, agar perbaikan dan pembaharuan tata pemerintah meningkat”. (Wawancara H, Pukul 15:30, 05 April 2015).
Sama halnya yang dikatakan oleh salah satu elemen masyarakat atau calon siswa baru, mengatakan bahwa”
“ Pelayanan terhadap masyarakat Kota Makassar diperlukan adanya suatu lembaga yang berperan dalam hal pengawasan agar pelayanan di Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan berjalan secara adil dan benar terhadap seluru warga yang ada di Kota Makassar”. (Wawancara HI, Pukul 15:45, 05 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bhawa pendirian suatu lembaga di perwakilan ombudsman yang berperan dalam hal pengawasan memang diperlukan, pendirian lembaga yang disebut Ombudsman oleh suatu langkah yang tepat dalam perbaikan dan pembaharuan tata pemerintah, dan di harapkan berperan dalam pengawasan
terhadap pelayanan yang ada, agar hak masyarakat bisa terjamin dengan adanya lembaga sebagai pengawasan.
Pelayanan publik diartikan sebagai: “suatu kewajiban yang diberikan oleh konstitusi atau undang-undang kepada pemerintah untuk memenuhi hak-hak dasar warna Negara atau penduduk atas suatu layanan (publik)”. Secara tegas menekankan bahwa pelayanan publik merupakan kewajiban pemerintah (negara).Batasan ini berbeda denga batasan yang diberikan oleh Menpan yang mendefinisikan pelayanan publik hanya sebagai kegiatan instansi pemerintah.
Seperti pemahaman yang dikatakan Kepala Perwakilan Ombudsman Kota Makassar, mengatakan bahwa:
“ Pada hakekatnya pelayanan publik merupakan amanat yang diberikan rakyat kepada penyelenggara negara (ekskutif dan legislatif) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Peningkatan kesejahteraan ini dilakukan dengan memprioritaskan pelayanan-pelayanan dasar bagi masyarakat”. (Wawancara S, Pukul 11:00, 09 april 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa Pada hakekatnya penyelenggaraan pelayanan publik merupakan amanat yang diberikan rakyat kepada penyelenggara negara (eksekutif dan legislatif) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.Peningkatan kesejahteraan ini dilakukan dengan memprioritaskan pelayanan-pelayanan dasar bagi masyarakat. Dalam kenyataannya, masih sedikit dari masyarakat yang bisa memahami pelayanan siswa baru sebagai hak dan bukan pemberian pemerintah.
Dalam UU N0.25 tahun 2009 tentang pelayanan siswa baru dikatakan Bahwa negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan penerimaan
siswa baru yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, untuk membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan siswa baru yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan siswa baru. Seperti halnya yang dikatakan oleh Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan. Mengatakan bahwa:
“ Negara berkewajiban melayani setiap warga Negara atau masyarakat untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya, sama halnya dengan Ombudsman, kami berkewajiban melayani masyarakat Kota Makassar yang merupakan peran ombudsman untuk mengawasi para siswa baru”. (Wawancar MP, pukul 09:00, 03 April 2015).
Dari hasil wawancara diatas bahwa Ombudsman berkewajiban untuk melayani masyarakat atau siswa baru agar pengawasannya semakin meningkat hal ini merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam hal pelayanan Ombudsman mengacu pada UU N0.25 tahun 2009 tentang pelayanan , UU tersebut dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masyarakat dan penyelenggaraan dalam pelayanan baik di siswa baru.
Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Seperti halnya yang dikatakan salah satu pegawai bagian penerimaan siswa baru di SMA Negeri 6 Makassar, Mengatakan bahwa:
“ Seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk sebagai orang perseorangan, kelompok, maupun badan hukum yang berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik secara langsung maupun tidak langsung”. (Wawancara AS, pukul 09:00, 06 April 2015).
Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan bagi setiap warga negara dan penduduk dari penyalahgunaan wewenang di dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan pengaturan hukum yang mendukungnya;.
Seperti halnya yang dikatakan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Makassar, mengatakan bahwa:
“ Dalam hal penerimaan siswa baru di SMA Negeri 6 Makassar kami memberikan pelayanan yang baik dan mengacu pada perundangan yang berlaku, ini bertujuan agar tidak ada element masyarakat dibedakan, pelayanan yang kami lakukan begitu adil dan benar”. ( Wawancara AK, pukul 10:00, 06 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa standar pelayanan publik adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.
Ombudsman adalah lembaga negara yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, baik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan termasuk yang diselenggarakan oleh
badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan badan hukum milik negara serta badan swasta, maupun perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja Negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Seperti yang di dikatakan salah Asisten Bidang Keuangan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa:
“ Kami sebagai lemabaga Negara yang mempunyai sebagai penyelengara pengawas pelayan publik, baik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan termasuk yang diselenggarakan oleh badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan badan hukum milik negara serta badan swasta, maupun perseorangan seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja Negara, perlunya adanya pengawas dari penggunaan dana tersebut”. (Wawancara AS, pukul 09:00, 04 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa Ombudsman sebagai penyelenggara pengawas pelayanan , baik yang diselenggarakan Negara dan pemerintahan perlu adanya suaru pengawasan terhadap pelayanan yang diselenggarakan, karena dana dari penyelenggaraan tersebut bersumber daru anggaran pendapatan dan belanja Negara.
Pelayanan publik yang merupakan salah satu kebutuhan dalam rangka pemenuhan pelayanan sesuai peraturan perundang-undangan sepertinya masih menjadi impian, dan jauh dari realisasi dalam pelaksanaannya padahal pemenuhan kebutuhan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara, dan penduduk untuk mendapatkan pelayanan atas barang, jasa dan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik dengan maksimal. Tetapi tidak melayani tetapi minta dilayani; kedua, Rakyat menjadi objek,
menjadi korban, menjadi abdi Penyelenggara Negara; Ketiga, Tidak ada tolak ukur jelas mengenai pemberian pelayanan.
Seperti halnya yang dikatakan salah satu masyarakat atau calon siswa baru, mengemukakan bahwa:
“ Pelayanan publik yang baik masih menjadi impian bagi seluruh elemen masyarakat penerima pelayanan, diharapkan dari pelayanan ini adalah pelayanan publik yang maksimal dan merata, Keluhan dan permasalahan terhadap pelayanan publik yang terjadi selama ini masih menunjukan kuatnya dominasi birokrasi yang dalam praktik penyelenggara negara sebagai subyek sementara masyarakat menjadi objek”. ( Wawancara HI, pukul 15:45, 04 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pelayanan publik yang maksimal masih belum meningkat dalam pelayanannya, Keluhan dan permasalahan terhadap pelayanan publik yang terjadi selama ini masih menunjukan kuatnya dominasi birokrasi yang dalam praktik penyelenggara negara sebagai subyek sementara masyarakat menjadi objek.Dalam keluhan dan permasalahan yang diterima oleh masyarakat diharapkan kepada lembaga yang berperan dalam pengawasan penyelenggara pelayanan meningkatkan dalam hal pengawasannya.
2. Pengawasan penyelenggaraan penerimaan siswa baru
Pengawasan adalah termasuk pengendalian. Pengendalian berasal dari kata “kendali”, sehingga pengendalian mengandung arti mengarahkan, memperbaiki, kegiatan, yang salah arah dan meluruskannya menuju arah yang benar. Akan tetapi ada juga yang tidak setuju akan disamakannya istilah controlling ini dengan pengawasan, karena controlling pengertiannya lebih luas daripada pengawasan dimana dikatakan bahwa pengawasan adalah hanya
kegiatan mengawasi saja atau hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan saja hasil kegiatan mengawasi tadi, sedangkan controlling adalah disamping melakukan pengawasan juga melakukan kegiatan pengendalian menggerakkan, memperbaiki dan meluruskan menuju arah yang benar.
Ombudsman sebagai sebuah lembaga boleh dikata baru dan asing didengar dalam keseharian khususnya dalam pengawasan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah termasuk yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), dan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD). Beranjak pada Ombudsman sebagai sebuah institusi pengawas eksternal independen yang diberi kewenangan dalam melakukan pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik, perlu kita ketahui pentingnya kesejarahan daripada keberadaan Ombudsman itu sendiri.
Seperti yang dikatakan salah satu Asisten Bidang Pengawasan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, mengemukakan bahwa:
“ Kami adalah salah satu organaisasi yang berperan dalam pengawasan pelayanan , dan pengawasan kami berpatokan dengan UU yang ada”. (Wawancara AS, pukul 13:00, 01 april 2015).
Sama halnya yang dikatakan salah satu Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, mengemukakan Bahwa:
“ Pengawasan penyelenggara pelayanan adalah salah satu tugas kami, pengawasan ini bertujuan agar tidak terjadi maladministrasi di element pemerintah dalam pelayanan ”. (Wawancara MP, Pukul 13:30, 01 April). Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa ombudsman adalah sebuah lembaga yang terbentuj dan berperan dalam pengawasan pelayanan baik yang diselenggarakan pemerintah daerah maupun pusat, pengawasan yang dilakukan ini juga bertujuan agar pelayanan terhadap masyarakat adil dan benar.
Ombudsman Republik Indonesia, diawali dengan terbentuknya Komisi Ombudsman Nasional (KON) berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor. 44 tahun 2000 di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor. VIII/MPR/2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan Korupsi dan Nepotisme, memberikan mandat membentuk Undang-Undang beserta peraturan pelaksananya untuk pencegahan korupsi termasuk didalamnya adalah Ombudsman hingga akhirnya pada tahun 2008 baru disyahkan Undang-Undang Nomor. 37 tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia.
Seperti yang dikatakan Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, mengemukakan bahwa:
“ Dalam pembentukan lembaga Ombudsman ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor. 44 tahun 2000 dan Undang-Undang Nomor. 37 tahun 2008, kami Ombudsman berperan berdasarkan UU yang telah disahkan oleh presiden”. (Wawancara S, pukul 13:45, 01 April 2015).
Ide pembentukan lembaga Ombudsman tidak terlepas dari kritik dan dorongan publik tentang sejauh mana efektifitas dan independesinya seperti halnya dipersoalkan terhadap lembaga-lembaga pengawasan sebelumnya. Pertanyaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar ditengah-tengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparatur penyelenggara negara yang melaksanakan urusan pelayanan publik tidak melakukan sebagaimana mestinya, sebagaimana yang terjadi dalam praktik penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan yang menimbulkan kerugikan materiil dan/atau imateriil bagi masyarakat dan perseorangan tidak terus menerus terjadi.
Seperti yang dikatakan oleh Asisten Bidang penyelesaian Laporan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, mengemukakan bahwa:
“ Pembentukan Lembaga Ombudsman tidak terlepas dari kritik dan dorongan terhadap lembaga pengawas sebelumnya, dalam pembentukan lembaga ini tidak lain bertujuan mengawasi pelaksana urusan pelayanan yang tidak semestinya, agar pelayanan yang di Kota Makassar bisa adil dan merata terhadap masyarakat”. (Wawancara MU, pukul 14:00, 01 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan dalam pembentukuan Ombudsman didasari Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor.
44 tahun 2000, dan Undang-Undang Nomor. 37 tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia. Dalam UU tersebut dijelaskan tentang wewenang, fungsi dan tujuan ombudsman itu sendiri. Peran Ombudsman dalam hal pengawasan yang diselenggarakan pemerintah memang sangat diperlukan agar pelayanan bisa adil dan benar terhdap masyarakat.
Pengawasan adalah termasuk pengendalian. Pengendalian mengandung arti mengarahkan, memperbaiki, kegiatan, yang salah arah dan meluruskannya menuju arah yang benar. Akan tetapi ada juga yang tidak setuju akan disamakannya istilah controlling ini dengan pengawasan, karena controlling pengertiannya lebih luas daripada pengawasan dimana dikatakan bahwa pengawasan adalah hanya kegiatan mengawasi saja atau hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan saja hasil kegiatan mengawasi tadi, sedangkan controlling adalah disamping melakukan pengawasan juga melakukan kegiatan pengendalian menggerakkan, memperbaiki dan meluruskan menuju arah yang benar.
Seperti yang dikatakan salah satu Bagian Penerimaan Siswa Baru Di SMA Negeri 6 Makassar, mengtakan bahwa:
“ Pengawasan atau yang disebut dengan pengendalian mengandung arti mengarahkan yang salah arah dan meluruskannya menuju arah yang benar, dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat kami berpatokan terhadap UU tentang pelayanan , agar pelayanan yang kami berikan kepada masyarakat atau calon siswa baru bisa merata dan tidak ada perbedaan dengan siswa lain”. ( Wawancara AS, pukul 10:00, 07 April 2015).
Suatu hal yang berbeda dikatakan oleh calon siswa baru SMA Negeri 6 Makassar, mengemukakan bahwa:
“ Dalam makna pengawasan yaitu mengarahkan atau mengendalikan terkadang sering terjadi pengarahan yang tidak sesuai dengan UU pelayanan yang terjadi. Pelayanan yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 6 Makassar terkadang terjadi suatu maladministrasi atau biasa disebut dengan adanya pengutan biaya yang tidak jelas. (Wawancara MF, Pukul 15:00, 08 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa makna yang terkandung dalam kata pengawasan terhadap pelayanan publik yaitu pengendalian atau pemberi arahan kepada penyelenggara pelayanan , pengawasan terhadap pelayanan tersebut dilaksanakan oleh Lembaga Ombudsman Kota Makassar. Dalam pemngawasan ini bertujuan agar pelayanan tersebut tidak terjadi suatu hal yang ganjil, seperti salah satunya yaitu adanya pungutan biaya yang kurang jelas. Dan juga bertujuan Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan-kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru.
Proses pengawasan pelayanan publik merupakan hal penting, oleh karena itu setiap pimpinan harus dapat menjalankan fungsi pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen. Fungsi pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan lembaga seperti Ombudsman terhadap setiap penyelenggara pelayanan publik, serta mewujudkan peningkatan efektifitas, efisiensi, rasionalitas, dan ketertiban dalam pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas organisasi. Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi akan memberikan implikasi terhadap pelaksanaan rencana akan baik jika
pengawasan dilakukan secara baik, dan tujuan baru dapat diketahui tercapai dengan baik atau tidak setelah proses pengawasan dilakukan. Dengan demikian peranan pengawasan sangat menentukan baik buruknya pelaksanaan suatu rencana.
Seperti halnya yang dikatakan oleh Asisten Bidang Pengawasan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, menegemukakan bahwa:
“ Dari proses pengawasan memang sangatlah penting, oleh karena itu setiap pimpinan harus dapat menjalankan fungsi pengawasan, Fungsi pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan lembaga seperti Ombudsman terhadap setiap penyelenggara pelayanan publik, serta mewujudkan peningkatan efektifitas, efisiensi, rasionalitas, dan ketertiban dalam pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas suatu lembaga”. (Wawancara AS, Pukul 11:00, 02 April 2015).
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa proses pengawasan itu sendiri itu sangat amatlah penting, karena proses pengawasan adalah salah satu factor penunjang dalam menjalankan fungsi dan peran suatu lembaga seperti apa yang sudag ditetapkan dalam UU yang ditetapkan, Ombudsman adalah salah satu lembaga yang berperan dalam hal pengawasan terhadap penyelenggara pelayanan yang diberikan oleh pemerintah terhadap masyarakat.
Dalam rangka pelaksanaan pekarjaan dan untuk mencapai tujuan dari pemerintah yang telah direncanakan maka perlu ada pengawasan, karena dengan pengawasan tersebut, maka tujuan yang akan dicapai dapat dilihat dengan berpedoman rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pemerintah.
Dengan demikian pengawasan itu sangat penting dalam melaksanakan pekerjaan dan tugas pemerintahan, sehingga pengawasan diadakan dengan maksud yaitu, Mengetahui jalannya pekerjaan, apakah lancar atau tidak, Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan-kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru, dan untuk Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak. Berkaitan dengan tujuan pengawasan, Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Makassar, mengemukakan bahwa:
“ Agar terciptanya aparat yang bersih dan berwibawa yang didukung oleh suatu sistem manajemen pemerintah yang berdaya guna dan berhasil guna serta ditunjang oleh partisipasi masyarakat yang konstruksi dan terkendali dalam wujud pengawasan masyarakat (control social) yang obyektif, sehat dan bertanggung jawab. (Wawancar Ak, pukul 10:15, 06 april 2015).
Berdasarkan di atas, dapat diketahui bahwa pada pokoknya tujuan pengawasan adalah membandingkan antara pelaksanaan dan rencana serta instruksi yang telah dibuat, untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan, kelemahan atau kegagalan serta efisiensi dan efektivitas kerja dan untuk mencari jalan keluar apabila ada kesulitan, kelemahan dan kegagalan atau dengan kata lain disebut tindakan korektif.