• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH KETERLIBATAN KAUM TAREKAT DALAM GERAKAN BERNEGARA DAN NASIONALISME

A. Negara Dalam Pandangan Kaum Tarekat

2. Argumentasi Pentingnya Negara

2.1. Peran Pendidikan dan Dakwah Islam

Orientasi pendidikan tarekat, sebagaimana telah diuraikan adalah untuk membentuk moral ideal ilahiyah. Orientasi ini sudah berlangsung sejak periode awal tasawuf, yaitu ketika banyak umat Islam, utamanya yang berkecimpung dalam bidang pemerintahan, tergoda oleh kemewahan materi dan melupakan prinsip-prinsip moral ilahiyah.65 Wabah ḥubb al-dunyâ telah melanda umat Islam. Dalam keadaan seperti ini, para elite sufi kemudian tergerak untuk membuat doktrin sufistik yang dijadikan sebagai alat untuk membentuk moral ilahiyah dan merasakan kenikmatan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Praktik latihan penempaan moral oleh para sufi dilakukan di tempat-tempat tertentu seperti zâwiyah, ribâth dan khanaqah, sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kuil dan pertapaan dalam tradisi Hindu-Budha dan biara dalam tradisi Nasrani.66 Tempat-tempat tersebut kemudian berkembang sedemikian rupa dengan beberapa modifikasi hingga menjadi lembaga-lembaga yang modern. Sebagai contoh lembaga ini di Indonesia, khususnya Jawa adalah lembaga pesantren. Lembaga ini kemudian beradaptasi dengan sistem pendidikan modern, dengan adanya sistem sekolah atau madrasah dengan seperangkat kurikulumnya. Pesantren kemudian bertransformasi dengan tidak hanya mengajarkan ilmu agama semata, namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan modern.67

Tarekat menemukan momentum dalam bidang dakwah Islam pada saat kekuatan politik Islam melemah. Penyerangan Kota Bagdad oleh tentara Mongol tahun 1258 M memberi dampak sangat besar bagi peradaban dan keilmuan Islam karena banyak warisan intelektual Islam yang ikut dimusnahkan. Pada saat yang

65

Abd al-Raḥmân Ibn Khaldûn, Muqaddimah ibn Khaldûn (Beirut: Dâr al-Fikr, 1406 H.), h. 611.

66Abû al Wafâ al-Ghânimî al-Taftâzânî, Sufi dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rofi‘i ‗Utsman (Bandung: Pustaka, 1985), h. 235.

67

33

demikian, para guru sufi justru menjadi gigih membawa amanat dakwah Islam ke berbagai daerah dengan pola dakwah yang berbeda. Gerakan dakwah dilakukan tidak lagi menggunakan kekuatan politik dan penaklukan militer. Gerakan dakwah Islam dilakukan melalui perdagangan ke berbagai penjuru dunia.68

Tarekat menggunakan pola akulturatif-evolutif dalam berdakwah. Gerakan dakwah yang dilakukan oleh para guru tarekat lebih banyak menggunakan tradisi atau budaya setempat sebagai media dakwah. Para guru tarekat mentransformasikan budaya lokal ke dalam sebuah budaya baru yan dijiwai atau dibungkus dengan nilai-nilai Islam. Sebagai contoh hasil dakwah tarekat adalah sistem pesantren yang merupakan modifikasi dari sistem asrama dalam budaya Hindu-Budha. Model pesantren ini apabila ditarik dalam sejarah Islam masih mempunyai hubungan dengan sistem zâwiyah pada masa awal perkembangan tasawuf. Pendekatan kultural yang adaptif-kompromistis dalam penyabaran dakwah Islam ini menurut sebagian peneliti menyebabkan Islam mampu mengakar kuat di beberapa daerah yang telah diislamkan.69

Apabila melihat sejarah Islam di Nusantara, khususnya di pulau Jawa, maka dapat dipastikan bahwa seluruh penyebar Islam adalah para pemimpin tarekat. Berbagai macam tarekat yang masuk ke Indonesia telah mampu menyerap banyak pengikut dari berbagai golongan masyarakat. Beberapa alasan yang dapat menjelaskan hal ini antara lain: pertama, tarekat yang lebih menekankan pengamalan praktis dan etis dapat menarik perhatian masyarakat yang didakwahi. Dakwah atau penyebaran Islam dilakukan melalui contoh perbuatan dari para guru tarekat. Dakwah Islam bukan dilakukan melalui ajaran keagamaan secara teoritis. Kedua, pertemuan rutin yang dilakukan antar sesama pengikut tarekat secara tidak langsung dapat membantu anggota tarekat dalam pemenuhan berbagai kebutuhan mereka. Ketiga, organisasi tarekat mengikut sertakan kaum wanita secara

68

H.A.R. Gibb, Mohammedanism (London: Oxford University Press, 1969), 87. Lihat pula Sir Thomas W. Arnold, Da„wah ilâ Islâm; Baḥth fî Târîkh Nashr „Aqîdah

al-Islâmiyah, terj. Hasan Ibrahim Hasan dkk. (Kairo: Maktabah al-Nahḍah al-Miṣriyah, 1970), h. 26.

69

H.A.R. Gibb, Modern Trends in Islam (Chicago: Chicago University Press, 1945), h. 25.

34

persuasif. Keikut sertaan kaum wanita dalam tarekat ini tidak dapat dilakukan dalam lembaga-lembaga keislaman lain.70

Tercatat bahwa tasawuf memainkan peran penting dalam sejarah agama dan budaya di Melayu-Indonesia. Bahkan dikatakan bahwa bentuk sufi adalah bentuk yang paling cocok dengan mentalitas masyarakat Asia Tenggara.71 Kesuksesan gerakan tasawuf dalam mempromosikan Islam di Asia Tenggara dapat dilihat dari beberapa hal.72 Pertama, penyebaran Islam ke wilayah Timur ketika itu lebih berorientasi pada aspek rohaniah dibanding kebangkitan intelektual, sains dan teknologi. Kejatuhan kota Bagdad menyebabkan kegemilangan intelektual Islam berpindah ke Barat, sementara gerakan dakwah yang bercorak sufistik mengarah ke daerah Timur. Gerakan dakwah Islam ke Asia Tenggara ini banyak dipelopori oleh para sufi dan pedagang.73

Kedua, penyebaran Islam oleh para sufi tidak mengenal diskriminasi menyebabkan Islam dapat diterima oleh semua golongan masyarakat.74 Hal ini berbeda dengan ajaran agama sebelum Islam, yaitu Hindu-Budha. Perbedaan Islam dan agama sebelumnya ini menyebabkan masyarakat berbondong-bondong beralih memeluk Islam. Dakwah sufi yang menonjolkan keadilan dan keharmonisan dalam undang-undang dan akhlak menjadikan Islam semakin menarik. Islam semakin kuat di Nusantara dengan banyaknya raja-raja yang memeluk Islam karena pengaruh para sufi.

Ketiga, penyebaran Islam oleh para sufi menyesuaikan dengan budaya dan adat setempat. Para sufi sangat berhati-hati dalam berdakwah. Mereka mengedepankan upaya islamisasi, tidak mengedepankan unsur-unsur khurafat

70KH. Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta: LKIS, 1992), 347. Lihat pula H. Muhammad Munif, ―Dakwah Melalui Organisasi Nahḍatul ‗Ulama”, Al Misbâh, Vol. 9 No. 2, Juli-Desemner 2013 (261-274), h. 267.

71A. Hashimy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Jakarta: Penerbit PT. Al-Ma‘rifah, 1981), h. 147.

72

Badlihisham Mohd Nasir dan Othman Haji Talib, ―Tasawuf Dalam Gerakan Dakwah TanahAir‖, Jurnal Usuluddin, Bil 18 [2003] 1-24, 3.

73Vladimir Braginsky, Tasawwuf dan Sastera Melayu: Kajian dan Teks Teks, (Jakarta: RUE, 1993), ix.

74

35

dalam masyarakat. Sebagai contoh adalah dakwah wali songo di Jawa yang menggunakan media budaya berupa wayang kulit. Media dakwah ini dipilih untuk memadukan unsur tasawuf dengan unsur mistik serta budaya lokal.75 Melalui media ini, pesan-pesan dakwah disampaikan kepada masyarakat.

Keempat, penyebaran Islam di Nusantara dilakukan melalui sastra tasawuf dalam bahasa Melayu.76 Sebagaimana penyebaran Islam di Bagdad dan Syiria pada masa Ibn Arabi dan al-Ghazali, sastra merupakan salah satu media dakwah yang efektif. Tokoh yang banyak berperan dalam dakwah melalui sastra di Melayu adalah Shamsuddin al-Sumatrani dan Hamzah Fansuri. Keduanya banyak menuliskan karya sastra seperti Syair Perahu dan Mir‟atul Mu‟minîn.77 Dakwah Islam melalui media sastra ini kemudian dilanjutkan oleh Syaikh Nuruddin al-Raniri, Abd al-Ra‘uf Singkel dan Bukhari al-Jauhari.

Kelima, penyebaran Islam terbantu dengan sikap dan peran positif ulama. Peran ulama semakin memperkuat gerakan dakwah yang berorientasi sufi dalam masyarakat dan negara.78 Peran ulama ini kemudian berkembang tidak hanya bersifat ekslusif, namun berkembang pada beberapa aspek yang lebih luas, seperti sastra, pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik. Bahkan dikatakan bahwa ulama sufi merupakan kelompok yang paling peka terhadap perubahan zaman. Ulama sufi juga mampu membakar semangat masyarakat untuk mempertahankan negara dari ancaman penjajah.

Walaupun pendekatan dan peran aktif para ulama sufi dalam menyebarkan Islam sangat besar, namun tidak semuanya mengatas-namakan tarekat.79Banyak di antara mereka yang melakukan dakwah atas nama individu. Gerakan dakwah para sufi ini kemudian berkembang tidak hanya berkutat dalam bidang dakwah, namun juga turut ambil bagian dalam perjuangan menentang penjajah. Setelah

75Muhammad Abu Bakar, "Sufi in the Malay-Indonesia World", dalam Syed Hossein Nasr (ed.), Islamic Spirituality Manefestations, (New York: SCM, 1991), h. 267.

76Badlihisham Mohd Nasir dan Othman Haji Talib, ―Tasawuf Dalam..., h. 4.

77Mana Sikana, Sastera Islam di Malaysia, (Kuala Lumpur: Penerbitan Sarjana, 1983), 6. 78Badlihisham Mohd Nasir dan Othman Haji Talib, ―Tasawuf Dalam 1-24..., h. 5. 79