• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran sekolah dalam perkembangan peserta didik

Dalam dokumen PROFIL PENULIS (Halaman 107-112)

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN SISWA

H. Peran sekolah dalam perkembangan peserta didik

Peran sekolah dalam mengembangkan perserta didik yang berakarakter dan berdaya saing sangat berpanguruh dalam faktor fisiologi/lingkungan, dimana suatu sekolah harus menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan komukatif, agar dapat terciptanya peserta didik yang berkarakter positif, dikarenakan lingkungan sekolah yang negatif bisa sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologis siswa yang akan berdampak buruk terhadap pendidikan. Oleh karena itu, peranan sekolah sangat penting yaitu dari tata tertib sekolah misi visi sekolah harus bisa di tanamkan pada setiap peserta didik. Sekolah harus memfasilitasi perubahan

secara menyeluruh, prinsip pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan, semua mata pelajaran mengandung makna nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, kemudian proses pendidikan yang dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.

Sebagai indikator sekolah berkarakter diantaranya sekolah selalu nampakdalam keadaan bersih dan nyaman, tersedia toilet yang selalu bersih dan tersedia air dan fasilitasnya, bak sampah tersedia di tempat-tempat yangg semestinya, taman di halaman terpelihara dan menimbulkan rasa sejuk. Adanya disiplin, dimana tenaga kependidikan dan peserta didik datang tepat waktu dan pembelajaran berlangsung dengan baik, adanya aturan yang sudah disetujui oleh warga sekolah harus dilaksakan dengan baik. Adanya suasana yang santun guru dan tenaga kependidikan serta peserta didik saling memberi salam jika bertemu, adanya masyarakat sekolah yang berpakaian rapi dan sopan (Balitbangdiknas). Perubahan pembelajaran harus terjadi di seluruh sekolah sehingga terjadi budaya sekolah. Kepala Sekolah merupakah tokoh sentral perubahan tsb. Jika hanya satu atau dua guru saja dari sekolah tersebut yang diberi pelatihan/sosialisasi maka perubahan sulit terjadi. Perubahan dilakukan dengan melaksanakan penguatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam pelaksanaan KTSP masing-masing sekolah

I. Peran Masyarakat Dalam Perkembangan Peserta Didik

Masyarakat tempat anak-anak hidup dan bergaul dengan orang lain baik itu anak-anak atau orang dewasa lainnya juga merupakan lingungan perkembangan yang memiliki peran dan pengaruh tertentu dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak. Di masyarakat

mereka bergaul, melihat orang-orang berperilaku, menyaksikan berbagai peristiwa, dan di sana pula mereka menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang seharusnya dipenuhi oleh yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman interaksi anak pada masyarakat ini akan memberi kontribusi tersendiri dalam pembentukan perilaku dan perkembangan anak.

Bila dihubungkan dengan lingkungan rumah dan sekolah, lingkungan masyarakat itu bisa mendukung apa yang dikembangkan di rumah dan di sekolah, tetapi bisa pula sebaliknya. Sebagai contoh, lingkungan masyarakat pesantren yang pada masyarakat itu dijungjung tinggi nilai-nilai agama merupakan suatu lahan yang subur bagi keluarga dan anak untuk membina kehidupan berperilaku agama, lingkungan masyarakat akademik merupakan lahan yang subur untuk menumbuhkan minat akademik anak, begitu pula lingkungan masyarakat bisnis merupakan lingkungan yang subur untuk menumbuhkan minat bisnis anak-anak. Dengan demikian, jika rumah dan sekolah mengembangkan suatu budaya atau nilai tertentu yang relevan dengan apa yang berkembang di masyarakat, maka kecenderungan pengaruhnya akan saling mendukung sehingga peluang pencapaiannya akan sangat besar

Namun tidak selamanya budaya-budaya baik yang dikembangkan di rumah dan di sekolah itu sejalan dengan apa yang terjadi di masyarakat. Sementara di rumah dan di sekolah tidak pernah di ajarkan untuk mencuri, untuk berkelahi, menghianati orang lain, dan sebagainya akan tetapi semua hal itu di masyarakat terjadi. Kondisi demikian tentunya akan menimbulkan sejumlah pertanyaan, sikap kritis, dan bahkan mungkin kebingungan pada diri anak. Di sinilah perlunya ikatan psikologis yang kuat antara keluarga dengan anak sehingga keluarga tetap dipercaya sebagai tempat yang

baik untuk membicarakan dan memahami berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Berbeda dengan kasus keluarga dan sekolah, di lingkungan masyarakat susah menentukan siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab. Di rumah, orangtua bisa didudukkan sebagai orang yang paling bertanggung jawab, di sekolah guru juga bisa diposisikan sebagai orang yang paling bertanggung jawab, tapi di masyarakat tidak ada yang bertanggung jawab. Sekalipun di masyarakat ada tokoh masyarakat, tokoh agama, penguasa, dll namun posisi mereka sangat berbeda dengan orangtua di rumah dan guru di sekolah. Karena itu pada akhirnya tanggung jawab itu akan kembali kepada masing-masing keluarga juga. Masyarakat adalah gabungan dari keluarga-keluarga dan individu-individu yang hidup di sana.

Baik-tidaknya suatu masyarakat akan tergantung kepada keluarga-keluarga yang membangun masyarakat yang bersangkutan.

Dengan pemikiran seperti itu, akhirnya keluarga atau orang tua jugalah yang diharapkan dapat membantu anak sehingga mereka bisa memahami persoalan-persoalan masyarakat yang terjadi dan mampu menyesuaikan diri secara positif. Di sini orang tua perlu menjaga keakraban hubungan dengan anak, di samping menyampaikan pemahaman-pemahaman yang tepat tentang berbagai fenomena kehidupan yang dialami dan disaksikan oleh anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak yang bersangkutan

Dalam situasi sekolah, gen-gen mungkin dapat dilihat sebagai bagian dari dunia nyata anak-anak. Meskipun demikian, bagi seseorang yang bekerja secara dekat dengan anak-anak dan remaja, kekuatan dan kelemahan dari pengaruh genetik ini adalah penting untuk dipahami. Seorang guru misalnya, perlu memahami sifat-sifat dan perbedaan-perbedaan individual. Di samping itu, pemahaman tentang dampak faktor-faktor lingkungan terhadap perkembangan

anak, akan memberi pendidik suatu pertimbangan yang optimistis tentang potensi-potensi yang penting ditumbuhkembangkan dalam diri semua peserta didik. McDevitt dan Ormrod (2002) merekomendasikan beberapa hal penting yang perlu dilakukan guru dalam menyikapi pengaruh lingkungan bagi perkembangan anak, di antaranya:

1. Memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan individual anak. Guru yang menghargai berbagai karakteristik fisik, tipe-tipe kepribadian dan bakat-bakat mereka, dapat membuat peserta didik menjadi senang. Anak-anak yang tinggi dan pendek, gemuk dan kurus, yang serasi dan kikuk, yang sedih dan ceria, yang kalem dan pemarah, semuanya harus mendapat tempat yang benar dalam hati guru.

2. Menyadari bahwa sebenarnya faktor lingkungan masyarakat mempengaruhi setiap aspek perkembangan. Gen-gen mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan fisiologis dan pengaruh yang sedang terhadap karakteristik psikologis yang kompleks. Meskipun demikian, perkembangan dan belajar harus dipandang sebagai suatu hasil pertumbuhan biasa dari aspek biologis yang sangat berpengaruh terhadap anak. Faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruhi anak melalui banyak cara, seperti melalui layanan pengajaran dan bimbingan. Anak-anak yang secara genetik memilki kecenderungan untuk menjadi seorang yang mudah marah atau agresif, dapat dilatih dan dibimbing menjadi seorang yang lebih adaptif dan memperlihatkan tingkah laku prososial.

3. Mendorong siswa menentukan pilihan-pilihan sendiri untuk meningkatkan pertumbuhan. Misalnya, untuk tumbuh menjadi lebih dewasa, anak-anak harus aktif mencari lingkungan-lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan

kemampuan naturalnya, dan guru mengambil posisi kunci untuk menolong mereka menemukan aktivitas dan sumber-sumber yang memungkinkan mereka menggunakan dan mengembangkan bakat-bakat mereka.

J. Peran Sosial dan Budaya dalam Perkembangan Peserta Didik

Dalam dokumen PROFIL PENULIS (Halaman 107-112)