• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Serta Masyarakat dan Swasta / Dunia Usaha

MONITORING DAN EVALUAS

E. Peran Serta Masyarakat dan Swasta / Dunia Usaha

Permasalahan aspek peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan Kabupaten Karanganyar antara lain :

 Kebiasaan masyarakat rumah tangga masih membuang limbah langsung ke saluran.  Belum tertariknya pihak swasta untuk melakukan investasi

 Perawatan saluran drainase yang masih rendah oleh masyarakat setempat.

 Pola pikir dan kesadaran masyarakat yang rendah akan lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

 Potensi dan kemampuan masyarakat masih belum cukup ditangani secara konsepsional dan terarah

 Kesadaran masyarakat yang relatif masih rendah dalam memelihara prasarana yang telah ada

Tantangan Pengembangan Drainase

Tantangan pengelolaan drainase di Kabupaten Karanganyar yaitu sebagai berikut :

a) Makin cepat pertumbuhan sehingga terjadi perubahan tata guna lahan yang menyebabkan makin besar koefisien limpasan (coefficient of run off)

b) Penyempitan kapasitas alur saluran yang ada, oleh karena sedimentasi baik oleh sedimen lahan ataupun sampah

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 146

c) Masih terdapat fungsi ganda pada beberapa saluran, yaitu disamping sebagai saluran irigasi juga berfungsi sebagai saluran drainase.

d) Sistem jaringan masih merupakan sistem setempat (lokal) bukan sistem yang menyeluruh. e) Organisasi dan manajemen operasional serta pemeliharaan perlu dibenahi.

Tabel VI.57

Standar Pelayanan Minimal Drainase Kabupaten Karanganyar Jenia Pelayanan Dasar

Drainase

Standar Pelayanan Minimal Batas Waktu Pencapaian

Keterang an Indikator Nilai

Berdasarkan Perpen PU No. 14/PRT/M/2010 Penyehatan

Lingkungan Permukiman

Drainase Tersedianya sistem jaringan dainase skala kawasan dan skala kota sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun

20% 2014 PU

Sumber: Pedoman Penyusunan RPI2-JM Bidang Cipta Karya, 2014 6.4.3.3 Analisis Kebutuhan Drainase

Berkaitan dengan pengelolaan drainase lingkungan pada tahun 2012 di Kabupaten Karanganyar ada delapan item kegiatan pembangunan drainase lingkungan dintaranya adalah pembuatan biopori untuk menangkap air hujan. Pada tahun 2013 peningkatan pengelolaan drainase lingkungan diutamakan untuk pembangunan di wilayah kota dan pemeliharaan jaringan drainase lingkungan yang sudah ada baik dengan sumberdana APBD Kabupaten, APBD Propinsi maupun APBN. Dengan cakupan pelayanan drainase saat ini mencapai 49% dari luas genangan, maka dalam lima tahun ke depan diharapkan sudah tidak ada daerah genangan/banjir.

Melihat permasalahan utama sektor drainase di Kabupaten Karanganyar yaitu permasalahan sistem drainase belum yang terdesentralisir, efisien, efektif dan terpadu, maka dibutuhkan pengembangan bidang drainase meliputi :

1. Pembangunan saluran drainase sesuai dengan kebutuhan debit aliran. 2. Pemeliharaan dan perbaikan saluran drainase yang sudah ada. 3. Mengurangi genangan dan banjir.

4. Normalisasi sungai, mengembalikan fungsi bantaran sungai 5. Keterpaduan sistem drainase di seluruh wilayah.

6. Mempertahankan daerah resapan air

Adapun sasaran atau target yang hendak dicapai dalam sektor pengembangan drainase di Kabupaten Karanganyar antara lain :

1. Peningkatan dimensi saluran lama sebanyak 9 KM dan pemeliharaan saluran drainase pada akhir tahun 2017.

2. Berkurangnya lama waktu genangan menjadi kurang dari 1 jam wilayah perkotaan yang termasuk zona penanganan jangka pendek.

3. Peningkatan proporsi biaya operasional sebesar 10 % terhadap total pendanaan drainase dari yang telah ada sekarang.

4. Dibangunnya saluran drainase disetiap permukiman padat baik oleh develover maupun masyarakat setempat pada akhir tahun 2017.

5. Penambahan saluran pembuangan akhir drainase (sekunder) diperumahan sepanjang 4 KM di daerah dengan zona jangka pendek pada tahun 2014.

6. Berkurangnya rumah tangga yang membuang limbah/sampah langsung ke saluran drainase sebesar 30 % pada tahun 2018.

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 147 7. Peningkatan peran media dan masyarakat dalam penyadaran perilaku hidup bersih dan sehat

di 46 kelurahan pada akhir tahun 2017.

Dalam menentukan wilayah pengembangan saluran drainase yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah di tingkat kelurahan/desa, maka disusun prioritas pengembangan sistem drainase. Penentuan daerah prioritas ini disusun berdasarkan 5 (lima) kriteria seleksi yang mengacu ke SPM, yaitu kepadatan penduduk, tata guna lahan (perdagangan, jasa, maupun permukiman), daerah genangan air hujan, serta tingkat resiko kesehatan.

Perencanaan penanganan ke depan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 Zona 1, (Jangka Pendek) merupakan area dengan tingkat resiko yang relatif besar yang dapat diatasi dalam jangka pendek mencakup 16 kelurahan/desa dalam peta diberi warna merah.

 Zona 2, (Jangka Panjang) merupakan area dengan tingkat resiko menengah yang dapat diatasi dalam jangka menengah dan panjang mencakup 161 kelurahan, dalam peta diberi warna hijau.

Tabel VI.58

Tahapan Pengembangan Drainase Kabupaten Karanganyar No Sistem Cakupan layanan

eksisting (%)

Target cakupan layanan (%) Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang 1 Langsung a Jangka Pendek 70 75 80 85 b Jangka Panjang 5 7 10 15

 Sistem Langsung Jangka Pendek terdapat 11 desa/kel dari 16 desa/kel. Sehingga cakupan layanan eksisting 70%, yang masuk dalam Zona 1 untuk penanganan jangka pendek.

 Sistem Langsung Jangka Panjang terdapat 8 desa/kel dari 161 desa/kel. Sehingga cakupan layanan eksisting 5%, yang masuk dalam Zona 2 untuk penanganan jangka panjang

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 148

Peta 6.3

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 149 6.4.3.4 Kesiapan Daerah terhadap Kriteria Kesiapan (Readiness Criteria) Sektor Pengembangan

PLP Bidang Drainase

A. Pembangunan Prasarana Drainase

Kriteria kegiatan infrastruktur drainase perkotaan 1) Kriteria Lokasi :

 Kota-kota yang sudah memiliki Master Plan Drainase Perkotaan dan DED untuk tahun pertama;

 Kawasan-kawasan permukiman dan strategis di perkotaan (Metropolitan/Kota Besar) yang rawan genangan.

2) Lingkup Kegiatan :

 Pembangunan saluran drainase primer (macro drain), pembangunan kolam retensi, dan bangunan pelengkap utama lainnya (pompa, saringan sampah, dsb);

 Pembangunan saluran drainase sekunder dan tersier (micro drain) oleh pemerintah kab.kota;

 Sosialisasi/diseminasi/ kampanye NSPM pengelolaan saluran drainase termasuk kegiatan pembersihan sampah di sekitar saluran drainase;

 Produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;

 Penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).

3) Kriteria Kesiapan :

 Sudah memiliki RPI2JM dan SSK/Memorandum Program atau sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

 Dilaksanakan dalam rangka pengurangan lokasi genangan di perkotaan;

 Terintegrasi antara makro drain dan mikro drain, serta dengan sistem pengendali banjir;

 Terdapat institusi yang menerima dan mengelola prasarana yang dibangun;

 Tidak ada permasalahan lahan (lahan sudah dibebaskan, milik Pemkot);

 Pemerintah kota bersedia menyediakan alokasi dana untuk biaya operasi dan pemeliharaan;

 Pemerintah Kota akan melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat. 6.4.3.5 Usulan Program dan Kegiatan Sektor PLP Bidang Drainase

Dalam permukiman di suatu wilayah, sarana prasarana drainase merupakan salah satu faktor yang penting untuk menghindari terjadinya masalah banjir. Dimensi dari saluran–saluran drainase tersebut memiliki panjang dan lebar yang berbeda tergantung dari besar limpasan dan debit air di daerah tersebut. Untuk mengatasi banjir minimal sebuah wilayah memiliki saluran tersier dan sekunder dan memanfaatkan sungai–sungai yang melintasi wilayah kabupaten Karanganyar sebagai saluran drainase Primer alami. Saluran tersier dapat secara mandiri dibuat oleh masyarakat. Sedangkan saluran sekunder yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kota.

Usulan kegiatan pembuatan saluran drainase meliputi:

a.

Normalisasi sungai-sungai

Kapasitas pengaliran sungai mengalami penurunan akibat sedimentasi, endapan sampah dan berbagai bangunan yang berada di bantaran sungai serta akibat kegiatan manusia lainnya. Kondisi demikian juga terjadipada saluran-saluran drainase yang ada sehingga daerah yang seharusnya masih tergolong aman banjir menjadi daerah rawan banjir. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan normalisasi saluran drainase.

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 150

b.

Mengembalikan fungsi bantaran sungai.

Keberadaaan bantaran sungaiaatau sempadan sungai adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sungai itu sendiri. Bantaran berfungsi sebagai lahan cadangan sungai untuk menampung debit banjir yang besar. Pada sebagai sungai kondisi dan batas bantaran ini tidak jelas, sebaliknya ada yang mempunyai batas yang jelas dengan tanggul alam dan bertanda bebas aliran air yang jelas pula. Tentu saja tidak seluruh sungai mempunyai bantaran karena lahan bantaran tersebut terbentuk secara almiah dari sungai yang bersangkutan. Untuk menembalikan fungsi tersebut perlu dirintis dengan mengadakan pendataan atau inventarisasi bantaran dengan batas-batasnya, diberi tanda dan memberikan penjelasan kepada masyarakat akan batasdan mafaat bantaran sungai tersebut. Selain itu masyrakat harus konsisten terhadap pemanfaatan bantaran sungai sebagai antisipasi perkembangan pembangunan yang pesat.

c.

Menetapkan garis sempadan sungai dan saluran.

d.

Peningkatan kapasitas saluran primer di sebelah barat Kecamatan Karanganyar;

Peningkatan kapasitas saluran sekunder dalam kota dengan lokasi di pertigaan palur ke Utara.

Perbaikan saluran tersier lingkungan dengan lokasi di Badran Baru, Desa Papahan.

Perbaikan gorong-gorong dengan lokasi di Perum Josroyo Kecamatan Jaten.

Peningkatan kapasitas saluran primer ini didasarkan pada kebutuhan sarana prasarana drainase lingkungan untuk mengatasi masalah genangan banjir.

e.

Pengembangan Saluran Drainase/Gorong-gorong

Pengembangan saluran drainase/gorong-gorong di Kecamatan Gondangrejo, Kecamatan Jaten, Kecamatan Jatipuro, Kecamatan Colomadu, Kecamatan Kebakkramat, Kecamatan Jumapolo, Kecamatan Jaten, Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Jatiyoso, Kecamatan Matesih, Kecamatan Tasikmadu didasarkan pada kebutuhan sarana prasarana drainase lingkungan untuk mengatasi masalah genangan banjir. Kegiatan ini meliputi pembuatan saluran drainase/gorong-gorong, kimir, sumur resapan, talud saluran, turap dan pembangunan saluran dan trotoir air.

f.

Pembuatan tandon air

Pembanguan tandon-tandon air buatan pada beberapa lokasi yang potensial untuk dikembangkan sebagai wilayah retensi air hujan. Dengan adanya tandon air, maka debit air yang mengalir ke badan penerima air (sungai) dapat dikurangi sebesar kapasitas embung/tandon air tersebut.

g.

Pemeliharaan sarana drainase.

Ada beberapa unsur yang diperlukan untuk menunjang suksesnya pemeliharaan sarana drainase yaitu:

Tersedianya badan atau lembaga yang khusus menangani masalah tersebut.

Adanya peraturan yang mendukung

Penyediaan dana yang memadai

Pelibatan peran serta masyarakat.

Secara konsepsi kegiatan pemeliharaan dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu:

Pemeliharaan rutin, dilakukan secara rutin dari waktu ke waktu guna menjaga kondisi prasaran drainase agar tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 151

Pemeliharaan berkala, dilakukan dalam periode waktu 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali. Guna untuk mengembalikan kondisi prasarana drainase agar kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Pemeliharaan darurat, dilakukan untuk mengatasi kondisi darurat yang terjadi sehingga memerlukan penanganan yang segera. Contoh tanggul yang jebol pada saat musim hujan.

h.

Penanggulangan erosi lahan

Bayak upaya yang harus dilakukan untuk menaggulani maslaah erosi lahan ini diantaranya dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu upaya penanggulan secara fisik dan upaya penaggulan secara non-fisik.

Upaya penanggulangan secara fisik

Kegiatan ini dapat dimulai dengan mengadakan inventarisasi jenis kerusakan lahan yang terjadi, dan mengadakan data tentang jenis tanah yang ada pada kawasan perbukitan

serta menetapkan standar “Watershed Management” yang akan ditetapkan sesuai

dengan keadaaan setiap lahan menurut kategori yang homogen.

Metodologi yang dapat diterapkan misalnya pembuatan “terasering” atau pengendalian dengan check dam pada kawasan yang berlereng cukup terjal. Metode penanaman rumput, perlu sampai ke penanaman pohon biasanya sering digunakan untuk mengatasi erosi lahan, namun waktu yang diperlukan akan cukup lama, sehingga diperlukan bangunan penangkap erosi untuk daerah-daerah kritis sebelum program jangka mpanjang/ penanaman pohon mulai berfungsi.

Upaya penanggulangan secara nonfisik

Upaya ini memerlukan waktu yang relatif lama, karena melibatkan penduduk yang berdiam di sekitar lahan eosif. Upaya ini meliputi penyebarluasan informasi pembangunan yang berawawasan lingkungan, anatara lainmneyangkut persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam pemberian izin bagi pembangunan kawasan baik industri, permukiman mapuan wisata.

i.

Pengelolaan kawasan lindung dengan mempertahankan keberadaan maupun fungsinya.

j.

Pembuatan sumur resapan

Pembuatan sumur resapan ini merupakan upaya untuk memperbesar resapan air hujan ke dalam tanah dan memperkecil aliran permukaan sebagi penyebab banjir. Dengan demikian, semakina banyak air yang mengalir ke dalam tanah berarti akan tersimpan air tanah di bawah permukaan bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat dieksloitasi setiap saat.

k.

Pembuatan proyek rencana jaringan sistem penyaluran air hujan

Rencana ini untuk mengetahui daerah pelayanan tangkapan jalur sungai. Dengan diketahui daerah pelayanan, maka akan dapat ditentukan debit pengaliran alir sungai sehingga dapat menentukan pembagian blok-blok pelayanan mana yang kan ditampung oleh suatu sungai. Dengan demikian dapat dicegah kemungkinan meluapnya badan air penerima yang disebabkan besar debit pengaliran air hujan yang diterima melebihi daya tampung.

l.

Pembinaan Pengelolaan Sistem drainase

Pembinaan pengelolaan sistem drainase dengan target peningkatan sistem drainase dan pengembangan perangkat peraturan, serta peningkatan peran, fungsi dan kinerja lembaga/institusi dan SDM pengelolaan drainase di kabupaten.

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 152 Pola pengelolaan dilaksanakan oleh seksi yang mengelola dinas terkait dan bekerjasama dengan perguruan tinggi, Diklat PU, para praktisi dan lembaga swasta. Penagangan program dilakukan melalui kegiatan :

Lokakarya untuk menyiapkan materi peraturan di bidang Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Kawasan Lindung, Garis semapadan sungai.

Pelatihan penyususnan Program Pengelolaan Drainase.

Pelatihan Perencanaan Sistem Drainase.

m.

Pengembangan Program dan Perencanaan Pembangunan Sistem Drainase

Pengembangan program dan perencanaan pembangunan sistem drainase dengan target tersusunnya Masterpalan Distem drainase dan dokumen-dokumen derivat lainnya seperti: dokumen studi kelayakan, dan dokumen perencanaan yang dapat dipakai sebagai acuan dalam implemntasi program di bidang drainase di Kabupaten Karanganyar.

Penanganan program-program dilakukan dengan kegiatan seperti:

Penyusunan masterplan Drainase Wilayah Kota

Penyusunan Software komputer Untuk mendukung Penyusunan Pengelolaan Drainase.

Studi Kelayakan Pembangunan Drainase Wilayah Kota.

Studi Kelayakan Pembangunan Tandon Air/Embung

Studi Kelayakan Pembangunan Sudetan

Studi Kelayakan Pembangunan Polder

RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 VI - 153

Tabel VI.59

Usulan Program dan Kegiatan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kabupaten Karanganyar Tahun 2016-2020

No. Output Lokasi Volu me Satua n

Sumber Dana (x1000) Tahun Pelaksanaan

Indikator Output APBN APBD

Prov.

APBD

Kab. Masyarakat BUMD Swast

a CSR 2016 2017 2018 2019 2020

Rincian Murni PHLN DAK

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21)

Dokumen terkait