BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Peranan adiponektin pada DM tipe 2
Studi sebelumnya menunjukkan rendahnya kadar adiponektin terjadi pada individu yang obese, pasien dengan tanda-tanda resistensi insulin, penderita DM tipe 2. Hubungan secara langsung antara adiponektin dan resistensi insulin pernah dibuktikan (studi hyperinsulinemic euglycemic clamp). Adiponektin berhubungan secara terbalik dengan indeks massa tubuh (IMT), jumlah jaringan lemak, kadar triasilgliserol, uricemia. Dipercaya bahwa resistensi insulin menjadi faktor kunci terhadap patogenesis diabetes mellitus, sehingga pengaruh adiponektin berkaitan secara langsung terjadinya dan perkembangan DM tipe 211.
Studi lain (Pima Indians) juga menyebutkan dimana populasi yang diteliti dengan angka insiden dan prevalensi DM tipe 2 yang tinggi menunjukkan tingginya kadar adiponektin berhubungan dengan rendahnya resiko DM tipe 2. Selain itu studi yang pernah membandingkan kadar adiponektin pada penderita DM tipe 2 dengan yang bukan, hasilnya menunjukkan bahwa kadar adiponektin pada DM tipe 2 lebih rendah dibandingkan yang bukan DM tipe 2 dan kadar adiponektin tersebut berhubungan terbalik dengan petanda resistensi insulin11.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain penelitian
Penelitian bersifat eksperimental.
3.2 Waktu dan tempat penelitian
Penelitian direncanakan dilakukan mulai bulan September 2010 sampai dengan Januari 2011 di Poliklinik Endokrin dan Metabolik Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
3.3 Subjek penelitian
Penderita DM tipe-2 yang rawat jalan di RSUP H. Adam Malik Medan.
3.4 Kriteria inklusi o Usia 18-50 tahun
o Penderita DM tipe 2 yang HbA1C ≥7% yang diterapi dengan insulin dan atau OHO (Obat Hipoglikemik Oral) kecuali golongan thiazolidindione dan glimepiride.
o Bersedia mengikuti penelitian
3.5 Kriteria eksklusi
o Dalam keadaan komplikasi akut hipoglikemik atau hiperglikemik.
o Dengan penyakit penyerta seperti infeksi, keganasan, gangren diabetik, stroke, infark miokard, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, konsumsi obat penghambat reseptor angiotensin, glimepiride, dan golongan thiazolidindione.
3.6 Besar sampel
(Z + Z) x Sd 2 Perkiraan besarnya sampel : n =
d
= tingkat kemaknaan (ditetapkan peneliti)
= 0,05 → Z = 1,96 (nilai dua arah) Sd = perkiraan simpang baku = 2,55
(sumber dari penelitian Daimon dkk tahun 2003) = power of test (ditetapkan peneliti), 80% → Z = 0,842
d = perbedaan klinik ditentukan 2,0 (1,96+0,842) x 2,55 2
n = = 12,763 ≈ 13 2,0
Jadi, sampel minimal yang diteliti adalah 13 orang.
3.7 Cara kerja
o Seluruh subyek penelitian (penderita diabetes) dimintakan persetujuan secara tertulis tentang kesediaan mengikuti penelitian (informed consent).
o Dilakukan pengambilan data subyek penelitian meliputi : umur, jenis kelamin, kondisi / penyakit penyerta.
o Dilakukan pengukuran vital sign dan pemeriksaan fisik diagnostik.
o Dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan : HbA1c dan kadar adiponektin.
o Subyek dengan HbA1C ≥ 7% diberikan terapi pengendalian DM berupa OHO dan atau insulin selama minimal 3 bulan sampai HbA1C nya mengalami penurunan dari sebelumnya.
o Subyek yang HbA1C nya sudah mengalami penurunan dilakukan pemeriksaan adiponektin ulang.
o Kadar adiponektin dibandingkan antara sebelum dan sesudah turunnya HbA1C.
o Prosedur pengambilan dan pengiriman sampel
a) Alat disiapkan berupa : spuit, sarung tangan, dan kapas alkohol.
b) Tempelkan stiker pada setiap spuit dan tuliskan nama pasien serta tanggal pengambilan sampel darah.
c) Pengambilan sampel darah dengan menggunakan plasma EDTA.
d) Sampel dapat disimpan sampai 24 jam pada suhu 2-8°C, penyimpanan jangka lama (sampai 24 bulan) dapat disimpan pada suhu -20°C.
3.8 Definisi operasional
1. Diagnosis DM Tipe 2 (PERKENI 2006)
a. Keluhan klasik diabetes + KGD sewaktu ≥200 mg/dl atau KGD puasa ≥ 126 mg/dl
b. Dalam 2 masa pemeriksaan : KGD sewaktu ≥ 200 mg/dl atau KGD puasa ≥ 126 mg/dl
2. Terapi pengendalian DM : terapi yang diberikan pada subjek penelitian berupa insulin dan atau OHO. Insulin yang diberikan adalah rapid acting dan atau long acting atau mixed. Sedangkan OHO yang diberikan yaitu golongan sulfonylurea (kecuali glimepiride) dan atau biguanide dan atau α-glucosidase inhibitor.
3. HbA1c : Senyawa yang terbentuk dari ikatan antara glukosa dengan hemoglobin.
4. Adiponektin adalah suatu protein yang spesifik disekresikan oleh adiposit yang berperan pada homeostasis glukosa dan lemak.
3.9 Analisa data
Semua data diolah dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS 11,5. Untuk mengetahui sebaran data normal digunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk rerata ± simpangan baku.
Untuk membandingkan kadar HbA1C dan kadar adiponektin antara kelompok DM tipe 2 sebelum dan setelah terapi digunakan uji t berpasangan jika sebaran data normal, tetapi jika sebaran data tidak normal maka digunakan uji Wilcoxon. Untuk mengetahui korelasi kadar HbA1C terhadap kadar adiponektin digunakan uji korelasi pearson bila sebaran data normal, tetapi bila sebaran data tidak normal dipakai uji spearman. Dikatakan bermakna bila p<0,05.
3.10 Ethical clearance dan informed consent
Ethical clearance diperoleh dari Komite Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang ditanda tangani oleh Prof.
Dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP (K) pada tanggal 23 April 2011 dengan nomor surat 103/KOMET/FK USU/2011.
Informed consent diminta secara tertulis dari subjek penelitian yang bersedia untuk ikut dalam penelitian setelah mendapatkan penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian ini.
3.11 Kerangka Operasional
Terapi pengendalian DM dan diikuti minimal 3 bulan Pemeriksaan kadar adiponektin
Subyek penelitian penderita DM tipe 2, HbA1C ≥ 7%
Pemeriksaan HbA1c, hasilnya mengalami penurunan
Pemeriksaan kadar adiponektin
Hasil dibandingkan dan data dianalisis Hasil dikorelasikan
dan data dianalisis
∆ penurunan adiponektin
∆ penurunan HbA1C
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Karakteristik dasar subjek penelitian
Sampel yang direkrut sebanyak 17 orang, kemudian diberikan terapi pengendalian DM. Satu orang tidak meneruskan terapi yang diberikan (keluar dari penelitian), dan 2 orang lainnya tidak teratur menggunakan terapi insulin maupun OHO sehingga penurunan HbA1C tidak tercapai. Sampel yang diteliti sebanyak 14 orang dan karakteristik dasar subjek penelitian pada tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik dasar subjek penelitian
Karakteristik N X ± SD
Keterangan : BB (Berat Badan), TB (Tinggi Badan), IMT (Indeks Massa Tubuh), LP (Lingkar Pinggang), TDS (Tekanan Darah Sistol), TDD (Tekanan Darah Diastol)
4.2 Perbandingan kadar HbA1C dan adiponektin sebelum dan setelah terapi Untuk membandingkan rerata kadar HbA1C dan adiponektin sebelum dan setelah terapi pada sampel yang diteliti menggunakan uji t berpasangan. Pada seluruh subjek penelitian rerata kadar HbA1C sebelum dan setelah terapi terdapat penurunan yang cukup bermakna (10,792 ± 2,696 vs 8,328 ± 1,741, p = 0,001), demikian halnya bila dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, masing-masing rerata kadar HbA1C pada subjek wanita dan pria sebelum dan setelah terapi dijumpai penurunan yang bermakna (9,985 ± 2,055 vs 8,714 ± 2,037, p = 0,045 dan 11,600 ± 3,162 vs 7,942 ± 1,439, p = 0,005) . Bila dibagi berdasarkan kelompok terapi, rerata penurunan HbA1C antara sebelum dan setelah terapi pada subjek yang diterapi dengan insulin saja atau insulin plus OHO atau OHO saja dijumpai penurunan yang secara statistik tidak bermakna (12,825 ± 3,247 vs 9,175 ± 0505, p = 0,095; atau 11,080 ± 1,766 vs 9,360 ± 1,934, p = 0,067; atau 8,880 ± 1,944 vs 6,620 ± 0,476, p = 0,058). Pada subjek yang mengalami penurunan HbA1C < 7% (terkendali baik) setelah terapi, bila dibandingkan HbA1C sebelum dan setelah terapi terlihat mengalami penurunan yang secara statistik tidak bermakna (8,320 ± 1,588 vs 6,480 ± 0,294, p = 0,081), sementara pada subjek lainnya yang penurunan HbA1C setelah terapi tidak sampai terkendali baik (HbA1C ≥ 7%), perbandingan kadar HbA1C sebelum dan setelah terapi mengalami penurunan bermakna (12,166 ± 2,145 vs 9,355 ± 1,250, p = 0,007) (tabel 2).
Untuk rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah terapi (turunnya HbA1C) menunjukkan peningkatan yang bermakna (2,112 ± 0,573 vs 2,584 ±
1,014, p = 0,012). Bila dibandingkan berdasarkan jenis kelamin, pada subjek wanita, rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah turunnya HbA1C dijumpai peningkatan secara bermakna (2,197 ± 0,553 vs 2,975 ± 1,213, p= 0,031).
Sementara pada subjek pria, rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah turunnya HbA1C dijumpai peningkatan tetapi secara statistik tidak bermakna (2,028 ± 0,623 vs 2,192 ± 0,632, p = 0,069). Bila dibandingkan berdasarkan kelompok terapi yaitu insulin, insulin plus OHO ataupun OHO saja, rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah HbA1C turun menunjukkan peningkatan yang secara statistik tidak bermakna (2,252 ± 0,594 vs 3,117 ± 1,582, p = 0,179; 2,408
± 0,530 vs 2,616 ± 0,596, p = 0,128; 1,706 ± 0,432 vs 2,126 ± 0,750, p = 0,073).
Pada subjek yang HbA1C setelah terapi < 7% (terkendali baik), rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah turunnya HbA1C menunjukkan peningkatan secara bermakna (1,754 ± 0,412 vs 2,198 ± 0,676, p = 0,048), sementara pada subjek HbA1C setelah terapi ≥ 7% (tidak terkendali baik), rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah terapi menunjukkan peningkatan yang secara statistik tidak bermakna (2,312 ± 0,569 vs 2,798 ± 1,139, p = 0,08) (tabel 3).
Tabel 2. Perbandingan HbA1C pre dan post terapi (a)
Pre Post Data n
X ± SD X ± SD p
HbA1C seluruh subjek 14 10,792 ± 2,696 8,328 ± 1,741 0,001**
HbA1C wanita 7 9,985 ± 2,055 8,714 ± 2,037 0,045*
Keterangan : I (Insulin), OHO (Obat Hipoglikemik Oral)
(a) uji t berpasangan, * bermakna, p<0,05, **bermakna, p<0,01
Tabel 3. Perbandingan Adiponektin pre dan post terapi (a)
Pre Post Data n
X ± SD X ± SD p
Adipo seluruh subjek 14 2,112 ± 0,573 2,584 ± 1,014 0,012*
Adipo wanita 7 2,197 ± 0,553 2,975 ± 1,213 0,031*
Adipo (tidak terkendali baik) 9 2,312 ± 0,569 2,798 ± 1,139 0,080
Keterangan : Adipo : Adiponektin, I (Insulin), OHO (Obat Hipoglikemik Oral) (a) uji t berpasangan, * bermakna, p<0,05
4.3 Korelasi penurunan kadar HbA1C terhadap kadar adiponektin
Dilakukan uji korelasi pearson antara penurunan kadar HbA1C terhadap perubahan kadar adiponektin pada sampel yang diteliti. Pada seluruh subjek penelitian, tidak dijumpai korelasi bermakna antara penurunan kadar HbA1C terhadap perubahan kadar adiponektin (r = 0,157, p = 0,592). Bila dibagi berdasarkan jenis kelamin, penurunan kadar HbA1C terhadap perubahan kadar adiponektin pada subjek wanita maupun pria juga tidak menunjukkan korelasi yang bermakna (r = -0,102, p = 0,828; r = -0,711 p = 0,073). Sementara bila dibagi berdasarkan kelompok terapi insulin, insulin plus OHO dan OHO saja, korelasi antara penurunan kadar HbA1C terhadap perubahan kadar adiponektin pada masing-masing kelompok tersebut tidak dijumpai korelasi yang bermakna (r
= 0,301, p = 0,699; r = 0,767, p = 0,130; dan r = 0,569, p = 0,317). Pada subjek yang mengalami penurunan HbA1C sampai terkendali baik (HbA1C post terapi <
7%), korelasi penurunan kadar HbA1C terhadap kadar adiponektin juga tidak menunjukkan korelasi yang bermakna (r = 0,275, p = 0,655), demikian halnya pada subjek yang penurunan HbA1C nya tidak terkendali baik (HbA1C post terapi ≥ 7%) (r = 0,153, p = 0,695) (tabel 4).
Tabel 3. Korelasi penurunan kadar HbA1C terhadap kadar adiponektin (b)
∆ Adiponektin
n R P
∆ HbA1C seluruh subjek 14 0,157 0,592
∆ HbA1C wanita 7 -0,102 0,828
∆ HbA1C pria 7 -0,711 0,073
∆ HbA1C (I) 4 0,301 0,905
∆ HbA1C (I+OHO) 5 0,767 0,130
∆ HbA1C (OHO) 5 0,569 0,317
∆ HbA1C (terkendali baik) 5 0,275 0,655
∆ HbA1C (tidak terkendali baik) 9 0,153 0,695
Keterangan : (b) uji korelasi Pearson, bermakna bila p<0,05
BAB V PEMBAHASAN
DM merupakan salah satu penyakit yang underdiagnosed, sering asimtomatik pada tahap awal sehingga dapat tidak terdeteksi pada beberapa tahun pertama, akibatnya seringkali komplikasi DM sudah dimulai sejak dini sebelum diagnosis ditegakkan. Sekitar 30% penyandang diabetes sering tidak menyadari penyakitnya, dan diperkirakan 25% dari jumlah tersebut sudah mengalami komplikasi mikrovaskular saat diagnosis ditegakkan. Rata-rata keterlambatan waktu sejak onset hingga diagnosis ditegakkan diperkirakan 7 tahun. Pemeriksaan HbA1C lebih banyak dikenal dalam menilai kualitas pengendalian glikemik jangka panjang, menilai efektifitas suatu terapi, di samping itu juga studi terbaru menunjukkan manfaatnya semakin luas sebagai alat untuk skrining dan diagnosis DM tipe 2 serta digunakan juga dalam menghitung estimated average glucose (EAG)35-40.
Penatalaksanaan diabetes meliputi tatalaksana non farmakologis (yang meliputi perencanaan makanan dan kegiatan jasmani), dan tatalaksana farmakologis41,42. Penatalaksanaan tersebut bertujuan dapat mengendalikan kadar glukosa darah seperti yang diharapkan. Efek jangka pendek yang diharapkan dari tatalaksana tersebut yaitu dapat menghilangkan keluhan atau gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat, sedangkan jangka panjang yaitu mencegah penyulit baik makroangiopati, mikroangiopati maupun neuropati dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan mortalitas DM42.
Pemantauan status metabolik penyandang DM merupakan hal yang penting dan sebagai bagian dari pengelolaan DM. Hasil pemantauan tersebut digunakan untuk menilai manfaat pengobatan dan sebagai pegangan penyesuaian diet, latihan jasmani, dan obat-obatan untuk mencapai kadar glukosa darah senormal mungkin, terhindar dari keadaan hiperglikema ataupun hipoglikemia. Untuk mengetahui status metabolik penyandang DM dapat dinilai dengan beberapa parameter, salah satunya adalah kadar hemoglobin glikat9.
Pada penelitian ini terdapat penurunan yang bermakna kadar HbA1C antara sebelum dengan sesudah terapi pada seluruh subjek yang diteliti, pada jenis kelamin wanita, pria, dan subjek yang HbA1C sesudah terapi ≥ 7% (10,792
± 2,696 vs 8,328 ± 1,741, p = 0,001; 9,985 ± 2,055 vs 8,714 ± 2,037, p = 0,045;
11,600 ± 3,162 vs 7,942 ± 1,439, p = 0,005; dan 12,166 ± 2,145 vs 9,355 ± 1,250, p=0,007). Sementara bila subjek dikelompokkan berdasarkan terapi dengan insulin, insulin plus OHO, OHO saja, dan subjek yang HbA1C sesudah terapi < 7%, maka kadar HbA1C sebelum dan sesudah terapi mengalami penurunan tetapi secara statistik tidak bermakna (12,825 ± 3,247 vs 9,175 ± 0,505, p=0,095; 11,080 ± 1,766 vs 9,360 ± 1,934; p=0,067; 8,880 ± 1,944 vs 6,620 ± 0,476, p=0,058; dan 8,320 ± 1,588 vs 6,480 ± 0,294, p = 0,081).
Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa jauhnya penurunan atau perubahan kadar HbA1C pada penderita yang diberikan terapi anti diabetik dikaitkan dengan tingginya kadar HbA1C pada saat awal sebelum diberikan terapi43. Penurunan kadar HbA1C ini sangat diharapkan bagi penyandang DM oleh karena setiap penurunan 1% HbA1C akan menurunkan resiko komplikasi sebesar 35%9. Pada
sampel yang diteliti dikelompokkan berdasarkan obat yang diberikan maupun pada kelompok subjek yang HbA1C sesudah terapi < 7% (terkendali baik) maka penurunan HbA1C antara sebelum dan setelah terapi menjadi tidak bermakna, mungkin hal tersebut disebabkan oleh sampel yang diteliti menjadi lebih sedikit oleh karena pengelompokan tersebut.
Penelitian ini juga menilai rerata kadar adiponektin antara sebelum dan sesudah turunnya HbA1C. Terlihat bahwa terdapat peningkatan yang bermakna kadar adiponektin setelah turunnya HbA1C dibandingkan HbA1C pada saat awal penelitian pada seluruh subjek yang diteliti (2,112 ± 0,573 vs 2,584 ± 1,014, p = 0,012), demikian halnya dengan kelompok wanita saja maupun pada subjek yang HbA1C sesudah terapi menjadi terkendali baik (<7%), rerata kadar adiponektin juga meningkat secara bermakna (2,197 ± 0,553 vs 2,975 ± 1,213, p
= 0,031 dan 1,754 ± 0,412 vs 2,198 ± 0,676, p = 0,048). Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini, studi observasional yang dilakukan oleh David Stejskal dkk tahun 2003 membandingkan kadar adiponektin/IMT pada penderita DM tipe 2, ternyata pada DM tipe 2 yang terkendali baik lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terkendali (rata-rata adiponektin/IMT adalah 9,7 vs 6,7, p<
0.01)11. Penelitian lainnya yang mendukung yaitu penelitian kasus kontrol oleh Zahra Farahnak dkk tahun 2007 yang membandingkan kadar adiponektin pada DM tipe 2 yang terkendali dibandingkan tidak terkendali (HbA1C : 7,09 ± 0,58 vs 8,88 ± 0,64, p < 0,001), ternyata kadar adiponektin pada DM tipe 2 yang terkendali lebih tinggi dibandingkan tidak terkendali, walaupun hal ini tidak bermakna (Adiponektin : 6,98 ± 3,42 vs 6,17 ± 3,6, p > 0,05)44. Peningkatan
kadar adiponektin pada penelitian ini kemungkinan berkaitan dengan adanya perbaikan status metabolik seperti penurunan HbA1C, sehingga keadaan inflamasi yang disebabkan hiperglikemia akan berkurang, dan kadar adiponektin menjadi meningkat. Diketahui bahwa adanya hiperglikemia dapat menyebabkan produksi ROS (reactive oxygen species) yang merupakan hasil respirasi dari mitokondria. Hal tersebut akan mencetuskan suatu kaskade proinflamasi yang merangsang beberapa sitokin, diantaranya interleukin (IL)-613. Inflamasi berkorelasi negatif terhadap kadar adiponektin45,46,47. Sementara pada subjek yang penurunan HbA1C nya belum mencapai kendali baik (HbA1C setelah terapi
≥ 7%), rerata kadar adiponektin sebelum dan setelah penurunan HbA1C juga mengalami peningkatan tetapi secara statistik tidak bermakna (2,312 ± 0,569 vs 2,798 ± 1,139, p=0,080). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh karena walaupun status metabolik sudah mengalami perbaikan tetapi belum mencapai kendali yang baik (HbA1C ≥ 7%). Demikian halnya pada subjek pria, menunjukkan peningkatan kadar adiponektin yang secara statistik tidak bermakna (2,028 ± 0,623 vs 2,192 ± 2,632, p = 0,069) dan rerata kadar adiponektin pada pria lebih rendah dibandingkan wanita baik sebelum maupun setelah penurunan HbA1C kemungkinan disebabkan oleh adanya pengaruh androgen terhadap kadar adiponektin. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa androgen menyebabkan hipoadiponektinemia yang berkaitan dengan resiko tinggi resistensi insulin dan aterosklerosis pada pria13,48,49. Pada subjek yang dibagi berdasarkan terapi insulin, insulin plus OHO dan OHO saja juga menunjukkan peningkatan kadar adiponektin dibandingkan sebelumnya tetapi hal tersebut secara statistik tidak
bermakna (2,252 ± 0,594 vs 3,117 ± 1,582, p = 0,179; 2,408 ± 0,530 vs 2,616 ± 0,596, p = 0,128; dan 1,706 ± 0,432 vs 2,126 ± 0,750, p = 0,073). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sampel yang menjadi lebih sedikit karena pengelompokan tersebut.
Uji korelasi yang dilakukan untuk menilai penurunan kadar HbA1C dengan perubahan kadar adiponektin pada seluruh subjek yang diteliti menunjukkan korelasi yang tidak bermakna (r = 0,223, p = 0,464), demikian halnya dengan subjek yang masing-masing dikelompokkan berdasarkan terapi insulin atau insulin plus OHO atau OHO saja (r = 0,149, p = 0,905; atau r = 0,767, p = 0,130;
atau r = 0,569, p = 0,317). Pada sampel yang dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, baik wanita maupun pria juga tidak dijumpai korelasi yang bermakna (r
= -0,102, p = 0,828 dan r = -0,711, p = 0,073) . Begitu pula pada sampel yang dikelompokkan berdasarkan penurunan HbA1C terkendali baik (HbA1C setelah terapi < 7%) dan tidak terkendali baik (HbA1C setelah terapi ≥ 7%) (r = 0,275, p
= 0,655 dan r = 0,153, p = 0,695) . Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang bertentangan, dimana sebagian peneliti menyatakan kadar HbA1C berkorelasi negatif dengan kadar adiponektin11,46,47,50,51,52. Sementara beberapa penelitian lainnya sejalan dengan penelitian ini seperti yang dilakukan oleh Jonathan Krakoff tahun 2003 dalam studi kasus kontrolnya menyebutkan tidak dijumpai korelasi bermakna kadar HbA1C terhadap kadar adiponektin (r = 0,01, p > 0,05)45 begitu pula penelitian prospektif yang dilakukan oleh Edoardo Manucci dkk tahun 2003 menyatakan bahwa kadar adiponektin tidak berkorelasi terhadap HbA1C pada saat awal penelitian demikian halnya
selama pengamatan prospektif bahwa variasi kadar adiponektin juga tidak berkorelasi terhadap variasi kadar HbA1C53. Hasil yang sejalan juga diungkapkan oleh J.A. Wagner dkk tahun 2009, menyatakan bahwa tidak dijumpai korelasi yang bermakna antara perubahan HbA1C terhadap perubahan kadar adiponektin (dari sebelum dan sesudah terapi) pada subjek yang diterapi dengan anti diabetik non PPAR-γ (r = -0,07, p > 0,05) tetapi sebaliknya dengan terapi anti diabetik PPAR-γ, korelasi kadar HbA1C tersebut terhadap kadar adiponektin menjadi bermakna (r = (-0,08, p < 0,05). Pada penelitian ini tidak didapatkan korelasi yang bermakna penurunan HbA1C terhadap perubahan kadar adiponektin kemungkinan berkaitan dengan jumlah sampel yang relatif sedikit selain itu terapi yang diberikan merupakan anti diabetik non PPAR-γ dan atau pemberian insulin. Diketahui bahwa anti diabetik PPAR-γ memiliki peranan dalam memperbaiki sensitivitas insulin sehingga hal tersebut menyebabkan peningkatan kadar adiponektin 13,43.
Adapun yang menjadi keterbatasan penelitian ini adalah jumlah sampel yang relatif sedikit dan tidak dilakukannya pemeriksaan penanda inflamasi (CRP) karena keterbatasan dana.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat diajukan kesimpulan sebagai berikut :
1. T erdapat peningkatan bermakna kadar adiponektin antara sebelum dengan setelah penurunan HbA1C.
2. T idak terdapat korelasi yang bermakna antara penurunan kadar HbA1C dengan perubahan kadar adiponektin.
6.2 SARAN
1. S ebaiknya dilakukan penelitian serupa dengan dengan jumlah sampel yang lebih besar.
2. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan yang mirip dengan penelitian ini tetapi seluruh subjek yang diteliti dengan target penurunan HbA1C sampai terkendali baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Soegondo S. Diagnosis dan Kalsifikasi Diabetes Mellitus Terkini. Dalam Soegondo S dkk (eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu.
Penerbit FKUI. Jakarta. 2005.
2. Suyono S. Patofisiologi Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S dkk (eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit FKUI. Jakarta.
2005.
3. Koenig W, Khuseyinova N, Baumert J, et al. Serum Concentrations of Adiponectin and Risk of Type 2 Diabetes Mellitus and Coronary Heart Disease in Apparently Healthy Middle-Aged Men : Results From the 18 year follow up of a Large Cohort From Southern Germany. Journal of American College of Cardiology 2006; 48:1369-77.
4. Haffner SM, Lehto S, Ronneemaa T, Pyorala K, Laakso M. Mortality from coronary heart disease in subjects with Type 2 diabetes and in nondiabetic subjects with and without prior myocardial infarction. N Engl J Med. 1998 ; 339; 229-34.
5. Shahab A. Komplikasi Kronik DM Penyakit Jantung Koroner. Dalam Sudoyo AW, dkk (eds), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III, edisi IV.
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta, 2009.
6. Sharpless JL. Polycystic Ovary Syndrome and the Metabolic Syndrome.
Clinical Diabetes 2003;21:154-7.
7. Fard A, Tuck CH, Donis JA, et al. Acute Elevations of Plasma Asymmetric Dimethylarginine and Impaired Diabetes Endothelial Function in Response to a High-Fat Meal in Patients with Type 2. Arterioscler Thromb Vasc Biol.2000; 20; 2039-44.
8. Williams SB, Goldfine AB, Timimi FK, et al. Acute hyperglycemia attenuates endothelium-dependent vasodilation in humans in vivo.
Circulation.1998; 97:1695-1701.
9. Soewondo P. Pemantauan Pengendalian Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S dkk (eds), Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu.
Penerbit FKUI. Jakarta. 2005.
10. Aqil S, Jaleel A, Jaleel F, Basir F. Comparison of Adiponectin in Ischemic Heart Disease Versus Ischemic Stroke in Diabetic Patients. World Applied Science journal 2008; 3: 759-62.
11. Stejskal D, Ruzieka V, Adamovska S, et al. Adiponectin Concentration as a Criterion of Metabolic Control in Persons with type 2 Diabetes Mellitus?.
Biomed Papers 2003;147(2):167-72.
12. Duncan BB, Schmidt MI, Pankow JS, et al. Adiponectin and the Development of Type 2 Diabetes, The Atherosclerosis Risk in Communities Study.Diabetes 2004; 53: 2473-78.
13. Scherer PE. Adipose Tissue, From Lipid Storage Compartment to Endocrine Organ. Diabetes 2005; 55: 1537-45.
14. Lau DCW, Dhillon B, Yan H, Szmitko PE, Verma S. Adipokines : Molecular Links between Obesity and Atherosclerosis. Am J Physiol Heart Circ Physiol 2005; 288 : H2031-H2041.
15. Ouchi NS, Kihara Y, Arita K, Maeda H, Kuriyama Y, Okamoto K, et al.
Novel Modulator for Endothelial Adhesion Molecules : Adipocyte-derived plasma protein, adiponectin. Circulation. 1999; 100; 2473-2476.
16. Daimon M, Oizumi T, Saitoh T, et al. Decreased Serum Levels of Adiponectin are a Risk Factor for the Progression to Type 2 Diabetes in the Japanese Population. Diabetes Care 2003;26:2015-20
17. Nakashima R, Kamei N, Yamane K, et al. Decrease Total and High Molecular Weight Adiponectin are Independent Risk Factors for the Development o0f Type 2 Diabetes in Japanese – Americans. J Clin Endocrinol Metab 2006;91:3873-7
18. Hotta K, Funahashi T, Arita Y, et al. Plasma Concentrations of a Novel, Adipose-Specific Protein, Adiponectin, in Type 2 Diabetic Patients.
Arterioscler Thromb Vasc Biol 2000;20:1595-9.
19. Sungkar MA. Hubungan Antara Pengendalian Metabolik dan Komplikasi Kronik Diabetes Tipe 2 pada Penyakit Kardiovaskular. Dalam Darmono, dkk (eds), Naskah Lengkap Diabetes Mellitus Ditinjau dari Berbagai Aspek Penyakit Dalam. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
2007. 257-65.
20. Gallagher EJ, Roith D, Bloomgarden Z. Review of hemoglobin A1C in the management of diabetes. Journal of diabetes 2009 ; 1 : 9-17.
21. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. PB PERKENI. Jakarta. 2006.
22. Report of the expert committee on the diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care. 2003; 26 Suppl 1: S5-20.
23. Pischon T, Rimm EB. Adiponectin : A Promising Marker for Cardiovascular Disease. Clin Chem 2006 ; 52 : 797-799.
24. Meier U, Gressner M. Endocrine Regulation of Energi Metabolism : Review of Pathobiochemical and Clinical Chemical Aspects of Leptin, Ghrelin, Adipnectin, and Resistin. Clin Chem 2004; 50: 1511-1525.
25. Xu Dan-yan, Zhao Shui-Ping, Huang Qiu-xia, Du wei, Liu Yu-hua, Liu Ling, Xie Xiao-mei. Effects of Glimepiride on metabolic parameters and cardiovascular risk factors in patients with newly diagnosed type 2 diabetes mellitus. Diabetes Research and Clinical Practice. 2010; 88 : 71-75.
26. Pscherer S, Heemann U, Frank H. Effect of Renin-Angiotensin System Blockade on Insulin Resistance and Inflammatory Parameters in Patients with Impaired Glucose Tolerance. Diabetes Care. 2010; 33 : 914-919.
27. Matsubara M. Plasma Adiponectin Decrease in Women with Nonalcoholic Fatty Liver. Endocrine Journal 2004;51:587-93
28. Goldstein BJ, Scalia R. Adiponectin: A Novel Adipokine Linking Adipocytes and Vaskuler Funtion. J Clin Endocrinol Metab 2004;
89(6):2563-8
29. Matsuzawa Y, Funahashi T, Kihara S, Shimomura I. Adiponectin and Metabolic Syndrome. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2004;24:29-33.
30. Arita Y, Kihara S, Ouchi N, et al. Adipocyte-Derived Plasma Protein Adiponectin Acts as a Platelet-Derived Growth Factor-BB-Binding Protein
30. Arita Y, Kihara S, Ouchi N, et al. Adipocyte-Derived Plasma Protein Adiponectin Acts as a Platelet-Derived Growth Factor-BB-Binding Protein