KONDISI PANGAN DI SUMATERA UTARA
4.7 Mengatasi Kelangkaan Beras
4.7.3 Peranan Bulog Dalam Menjaga Ketahanan Pangan
Pemerintah sadar bahwa tanpa ada infrastuktur yang baik akan menghambat konektivitas setiap barang dan jasa yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Ada begitu banyak kelompok yang telibat dalam proses kegiatan pangan baik semua dinas dan badan swasta yang memiliki peran penting di mulai dari produksi pangan, panen dan pengolahan pangan, penyimpangan dan pengawetan pangan, distribusi pangan, pemasaran pangan, sanitasi pangan, penyiapan pangan dan konsumsi dan penerimaan pangan
Badan Urusan Logistik (Bulog) didirikan pada tahun 1967 dengan tugas melakukan pembelian kebutuhan pangan yang di pasok untuk kalangan militer, instansi pemerintah dan badan negara lainnya saja. Bulog merupakan transformasi dari Komando Logistik Nasional (Kolognas) berdasarkan Keputusan Presidium
120
81
Kabinet Ampera No.87/1966.121 Namun tahun 1970, fungsinya di perluas meliputi
tanggungjawab memelihara stabilitas harga melalui kebijakan pembelian, import,
pemasaran dan penetapan harga.122 Melalui badan ini pemerintah Indonesia leluasa
melakukan pengontrolan terhadap distribusi dan harga barang-barang kebutuhan pokok, utamanya beras, gula dan terigu. Sejak tahun 1966/1967 BULOG diberi wewenang untuk berpartisipasi sebagai penyandang dana ke tiga provinsi utama
pengembangan Bimas yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah dn Sumatera Utara.123
Secara fungsinya Bulog memberikan basis tatanan politik dan sosial dengan menjamin pasokan dan harga kebutuhan pokok. Karena menangani masalah beras bukanlah perkara mudah, kelihatannya sederhana sebatas memasok beras ke pasar dengan cukup secara rutin. Namun bagaiman untuk menjamin ketersediaan beras tetap cukup, itu masalah yang paling utama. Beras sebagai “komoditi” politik sangat rentan pada timbulnya sejumlah ramifikasi persoalan. Mengusahakan beras tidak menjadi sumber inflasi dan mengusahakan supaya beras dapat digunakan sebagai Adapun dana tunai tersebut disalurkan langsung melalui Bupati-bupati kepada Kepala Desa yang membagikan secara langsung ke petani, sementara faktor-faktor produksi ditangani oleh PN Pertani.
121
Tugas dan peran Kolognas pada awal pembentukan di fokuskan menangani masalah kestabilan harga pangan tinggi pasca runtuhnya kekuasaan Orde Lama. Catatan khusus Kolognas; pemerintah pusat memberikan wewenang untuk melakukan impor beras dalam jumlah ratusan ribu ton untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gejolak harga pasar. Fachry Ali dkk, op.cit., hlm.117
122
Richard Robinson. Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme Indonesia. (Jakarta: Komunitas Bambu, 2012) hlm. 179
123
Lihat, Jan H.M. Oudejans. Perkembangan Pertanian di Indonesia (terj.Edhi Martono). (Yogyakarta: UGMpress,2006), hlm.52. Lihat juga, Ann Booth, op.cit., hlm.36
82
senjata untuk menjinakkan inflasi yang mengganas sebagai operasi pemulihan kestabilan. Bulog diharapkan menjadi pintu gerbang penyuplai makanan pokok bagi masyarakat dituntut peka terhadap kondisi terkini untuk membaca kebutuhan pasar dan mampu membuat kebijakan tetap sasaran melalui mekanisme pasar maupun mekanisme harga. Perannya yang strategis memaksa Bulog mampu mengendalikan jumlah peredaran beras di lapangan, dengan menguasai sekitar 5-7% dari produksi
beras secara nasional.124
Akan tetapi, badan ini menjadi pemupukan kapital korporasi domestik dengan wewenang yang dimilikinya dalam membagi alokasi distribusi dan kontrak, menjadi lahan subur bagi kaum birokrat politik untuk menghasilkan keuntungan pribadi maupun, seperti dikutip dari Kepala Bulog Bustanul Arifin, “setelah
Pertamina, banyak orang percaya disinilah (Bulog) kalian bisa mendapatkan uang.”125
Bulog dengan kapasitas dan wewenang yang di milikinya dibebani tugas yang begitu sensitif terhadap gejolak sosial. Tidak hanya sebatas penyedia kebutuhan pangan, lembaga ini juga harus kreatif memfasilitasi maupun melakukan distribusi ke perusahaan swasta dalam melakukan injeksi pasar. Namun Robinson melihat bahwa monopoli Bulog dalam import, distribusi dan pembelian manufaktur bahan pangan hanya memberikan pertumbuhan kelas kapitalis domestik swasta.
126 124 Fachry, op.cit., hlm. 364 125
Anne Booth, loc.cit
126
83
Terdapat beberapa kejanggalan distribusi beras yang di jalankan oleh Bulog melalui Dolog Sumatera Utara dari beberapa hasil kajian dari tahun 1981-1997. Dari tabel 3 di bawah setidaknya ada 5 tujuan penyaluran beras oleh Bulog yaitu: Pegawai Negeri, ABRI, PN/PTP, Pegawai Otonom dan terakhir pasar. Sejak tahun 1985-1997 terjadi peningkatan distribusi ke Pegawai negeri, yang sedikit anehnya di tahun 1986 peningkatan cukup signifikan hampir 13 kali lipat dari 1.661 Ton menjadi 21.118 ton. Sementara suplai beras bagi PN, pegawai otonom dan ABRI sangat fluktuatif dan cenderung peningkatan dan penurunannya tidak terlalui signifikan. Begitu juga dengan distribusi terhadap pasar sebagai bagian dalam intervensi harga pangan di sesuaikan dengan stok ketersediaan di pasar, sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kekosongan, maka Bulog antar menginjeksi sejumlah besar untuk menekan peningkatan harga pangan.
84 Tab el.3
Harga Eceran Beras Di Pasar Ibukota Kabupaten/KotaTahun 1978-1999
No. Nama Kabupaten/Kota ( Rp/kg )
Nias Padang Sidempuan Tarutung Rantau Prapat Kisaran Sidi-kalang Sibolga Tj. Balai P. Siantar Medan Binjai 1978 134,5 141,7 141,2 187,7 136,6 153,6 162,5 148,2 157,4 142,0 150,3 1979 154,5 158,7 155,2 218,7 173,0 189,6 206,2 221,7 174,4 151,2 147,4 1980 224,5 228,7 190,0 277,5 226,7 209,0 218,1 230,2 226,6 209,3 222,2 1981 261,5 263,7 236,4 310,7 258,5 244,9 237,0 246,7 235,6 203,5 231,0 1982 311,9 247,0 265,9 303,0 255,5 250,8 239,8 235,5 245,2 233,7 241,3 1983 - - - - - - - - - - - 1984 - - - - - - - - - - - 1985 - - - - - - - - - - - 1986 451,7 383,3 396,5 432,2 464,9 398,0 442,2 351,6 394,8 349,1 385,5 1987 539,1 433,2 429,2 474,2 575,9 473,7 514,9 464,2 465,9 396,9 454,9 1988 849,3 499,4 502,2 610,1 608,9 537,5 583,7 488,9 536,3 527,8 625,4 1989 908,3 529,1 634,9 716,2 686,5 615,7 639,0 572,7 638,7 570,9 734,5 1990 916,7 555,0 610,9 757,7 691,7 620,4 640,5 555,6 621,2 559,5 720,8 1991 1045,0 572,2 675,1 728,3 779,1 705,8 761,2 639,4 653,7 589,3 751,0 1992 1110,6 609,4 738,3 774,6 780,0 750,0 713,6 752.0 716,03 610,4 715,5 1993 1234,3 536,1 694,5 821,9 759,6 733,8 691,2 608,7 654,1 582,3 800,0 1994 1250,0 756,8 793,3 943,6 816,5 929,1 835,5 650,0 837,4 680,5 767,0 1995 - - - - - - - - - - - 1996 1779,1 943,1 1149,9 950,0 1237,5 1102,8 1040,0 970,8 1017,4 868,4 1075,0 1997 1568,7 1132,6 1189,2 1275,0 1334,3 1217,1 1221,8 1179,1 1246,4 1025,1 1266,6 1998 2181,6 2320,7 1977,2 1751,2 3479,0 3375,4 1600,9 1958,3 2406,3 2741,8 2253,1 1999 3282,7 3181,6 2472,3 1972,6 3567,7 3572,6 2320,7 2427,2 3479,0 2842,7 3270,0
85
Namun, melihat data penyaluran beras yang di lakukan oleh Dolog Sumatera Utara, terdapat kejanggalan terdapat besaran distribusi yang dikeluarkan oleh Bulog dalam tabel di bawah, yakni distribusi kelain-lain maupun susut beras. Bagaimana mungkin terjadi susut beras dalam jumlah lebih dari seribu ton dalam setahun.
Bahkan di tahun 1985 dan 1986 susut beras sebesar 3.124 ton dan 4.271 ton. Stok beras
di tahun tersebut juga dalam kondisi yang aman baik secara regional maupun nasional. Hal ini butuh penelitian lebih lanjut secara terperinci, bagaimana sebenarnya kondisi beras di saat itu.
Ketika pun terjadi pertambahan perluasan areal Bimas/Inmas, termasuk juga peningkatan penggunaan teknologi, belum mampu mendongkrak produksi secara signifikan. Defisit beras terjadi hampir setiap tahun. Tahun 1978 saat harga beras mulai tinggi yang diakibatkan oleh kekosongan pasokan—menutupi kekurangan tersebut Bulog melalui DOLOG-SU harus mengimport beras sebesar 180.000 ton
beras dari luar Pulau Sumatera127
127
Sumatera Membangun, op.cit., hlm.62
86 Tab el. 4
Penyaluran Dan Penjualan Beras DOLOGSU (Ton )
Tahun Pegawai negeri ABRI PN/PTP Pegawai Otonom Pasar Lain-lain Susut Total 1981 1.611 18.168 52.239 20.581 41.330 1.865 683 136.777 1982 2.348 17.233 52.777 58.727 14.872 3.095 1.634 150.683 1983 2.386 16.942 48.826 58.161 29.170 1.009 870 157.334 1984 1.529 16.306 35.741 60.591 4.465 502 220 119.354 1985 1.557 15.622 36.740 58.672 48.754 4.852 3.124 109.321 1986 1.661 15.238 38.738 63.500 52.859 60.160 4.271 236.317 1987 21.118 14.607 36.382 39.685 25.082 50.884 886 180.644 1988 28.756 13.502 46.878 39.296 15.563 1.341 359 145.695 1989 30.588 15.244 41.981 39.546 3.550 902 1.802 133.613 1990 32.480 13.031 37.682 39.786 563 55.660 10 179.212 1991 30.084 13.489 34.156 42.906 12.737 2.622 7 136.001 1992 31.107 12.550 35.263 43.518 150 2.875 9 125.476 1993 31.274 13.702 38.479 44.956 10.701 53.104 12 192.298 1994 31.515 13.622 45.967 45.568 65.822 1.544 - 204.038 1995 33.633 13.606 41.980 45.233 45.693 105.265 13 285.423 1996 31.660 14.706 40.970 45.087 36.244 2.961 - 171.656 1997 31.670 14.703 38.980 45.186 102.382 1.009 - 233.930
Sumber: BPS data di olah
Pada tahun 1982, pemerintah mengambil kebijakan tidak populer yakni
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) ditengah booming minyak Indonesia.
Bustanul Arifin selaku kepada Badan Urusan Logistik (BULOG) menyatakan bahwa kondisi pangan daerah maupun secara nasional berada dalam kondisi cukup dalam beberapa bulan ke depan dan yakin tidak akan terjadi kelangkaan beras di pasar. Untuk mengantisipasi inflasi di daerah akibat kenaikan BBM, beliau mengintruksikan
87
BULOG melalui DOLOG segera melakukan operasi pemasaran pangan (beras) untuk memastikan harga tetap stabil dan berkoordinasi dengan seluruh daerah
Kabupaten/kota mengantisipasi kelangkaan beras.128 Pada periode Repelita Kedua
(1974-1978) pemerintah mengintruksikan untuk melakukan upaya maksimal dalam meningkatkan produksi beras yang kemudia disertai dengan pembangunan
gudang-gudang BULOG baru di setiap Kabupaten.129