• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. MASA LANJUT USIA

E. Peranan Kaum Lanjut usia

Gereja sampai sekarang berusaha untuk melibatkan dan mendukung kaum lanjut usia untuk pelayanan dalam bentuk bantuan dan kegiatan amal kasih. Gereja juga mengharapkan agar kaum lanjut usia tetap meneruskan perutusan untuk

mewartakan Injil. Dalam Amanat Apostolik Pasca-Sinode, tentang panggilan dan perutusan kaum awam, Yohanes Paulus II berbicara kepada kaum lanjut usia dan menulis, bahwa masa pensiun yang dinantikan memberikan kesempatan baru dalam kerasulan kepada mereka yang tidak lagi pergi ke tempat kerja dan melakukan berbagai profesi. Mereka harus selalu berusaha mengetahui dengan jelas, bahwa peranan orang dalam Gereja dan masyarakat sama sekali tidak berhenti pada usia tertentu. Maka dalam tugas pelayanan terhadap Gereja tidak terbatas dalam kurun waktu tertentu, tetapi sepanjang hidup selagi umat beriman mampu untuk melayani.

Melalui tugas perutusan tersebut di atas, Persekutuan Gereja dipanggil untuk menanggapi partisipasi lebih besar yang dimiliki oleh kaum lanjut usia dengan memperhitungkan “karunia” mereka dengan saksi tradisi iman (lih. Mzm 44:2; Kel 12:26-27), sebagai guru kebijaksanaan hidup (lih. Sir 6:34;8:11-12) dan sebagai pekerja amal kasih. Maka setelah Gereja memeriksa peran serta kaum lanjut usia dan kerjasama dalam kerasulan itu, maka ada berbagai bidang yang terbuka kemungkinan untuk kesaksian dan pelayanan kaum lanjut usia dalam Gereja (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 47-49).

1. Kegiatan amal kasih

Dalam masyarakat terutama dalam Gereja, ada banyak tugas yang dapat dikerjakan oleh petugas-petugas yang rela dan bersedia memberikan cukup waktu, entah pekerjaan administrasi atau tugas-tugas kemanusiaan dan kegerejaan. Ada banyak orang lanjut usia yang dengan sukarela menyediakan diri untuk melaksanakan tugas-tugas itu dan merasa puas atas pelayanan tersebut (Piet Go, 1993: 93).

Dewan Kepausan untuk Kaum Awam (2002: 49), menyampaikan bahwa sejumlah besar orang lanjut usia masih mempunyai kekuatan fisik, mental dan spiritual yang cukup untuk membaktikan waktu dan bakat-bakat mereka sendiri dengan penuh kemurahan hati untuk berbagai kegiatan dan program pelayanan sukarela. Dalam hal ini peran kaum lanjut usia sangat besar dalam kegiatan-kegiatan amal kasih yang sering dilupakan orang-orang yang masih “aktif” dalam tugas dan pekerjaannya.

2. Kegiatan hidup beriman

Banyak orang lanjut usia secara efektif memberikan sumbangan kepada pelayanan tempat-tempat ibadat, terlebih- lebih bila mereka mendapat pelatihan. Mereka dapat mengemban tugas yang sesuai seperti sebagai Diakon tetap, Lektor

dan Akolit. Mereka juga dapat membantu untuk memberikan Sakramen Ekaristi

seperti misalnya sebagai Pro-diakon (istilah yang dipakai di Keuskupan Agung Semarang). Dalam tugas pelayanan itu dapat dilihat bentuk keterlibatan kaum lanjut usia dalam kegiatan beriman, bahkan bila dilihat dari segi jumlah, sebagian besar mereka yang menjabat Pro-diakon adalah mereka yang telah mencapai lanjut usia. Piet Go (1993:94) memberikan komentar: “Mungkin pada usia “aktif” orang kurang sempat berperan serta dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang bukan keharusan, dan pada usia pensiun mendapat lebih banyak kesempatan untuk mengikutinya”.

Hal ini berarti bahwa hidup iman orang lanjut usia lebih intensif daripada orang muda atau dewasa, sebab mereka yang mendapat lebih banyak kesempatan dan waktu untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan, misalnya: ikut dalam

Perayaan Ekaristi harian, membaca Kitab Suci dan berdoa. Sebagaimana yang disampaikan Yohanes Paulus II dalam suratnya kepada umat lanjut usia, bahwa masa lanjut usia adalah masa yang perlu digunakan secara kreatif untuk memperdalam hidup rohani, semakin memberikan waktu dan khusuk berdoa serta berbakti untuk melayani saudara dan saudari dalam kasih (Yohanes Paulus II, 2002: 102).

3. Berdoa

Kehidupan batin merupakan tempat tumbuh dan berkembang pengalaman doa serta tempat kebenaran dan cinta kasih. Inilah latar perjumpaan dengan Allah yang diharapkan dan diidam- idamkan. Kehidupan batin juga merupakan tempat untuk mengesampingkan segala hasrat akan barang duniawi, supaya hasrat itu tidak menggerogoti kebutuhan orang yang sejati, yaitu kebutuhan rohani yang terasa dalam lubuk hati melalui doa.

Sebagai ciptaan Tuhan, manusia sangat memerlukan hubungan yang erat dengan Tuhan, sebagaimana orang membutuhkan hubungan dengan manusia, demikian juga sangat memerlukan waktu untuk berhubungan dengan Allah secara khusus melalui doa. Untuk itu dibutuhkan waktu, perhatian, daya upaya dan cinta kasih jika hendak tumbuh dan berkembang.

Dalam menghadapi penderitaan, sakit, kepedihan, kegagalan dan kekecewaan, sangat penting mengusahakan berhubungan dengan Allah dengan kesabaran, ketekunan, dan iman. Kesabaran dan ketekunan adalah kebiasaan yang dapat menopang iman dalam masa- masa pencobaan yang tidak datang dengan sendirinya dan sepenuhnya ketika sedang menghadapi krisis. Kesabaran dan

ketekunan berkembang dari waktu ke waktu selaras dengan bagaimana orang menangani kesulitan kecil-kecil dalam hidup yang memerlukan nilai rohani melalui kesetiaan dalam doa (Wicks, 2004: 17-20).

Bock (2007: 123) mengatakan: “Kita juga dapat duduk hening dan berdoa. Tidak usah membuat doa-doa panjang. Berdoa juga berarti menyadari bahwa Allah sedang memandang kita. Sebetulnya Allah tidak memerlukan doa-doa jitu yang tersusun rapi. Ia hanya menginginkan diri kita dan waktu kita”. Melalui ungkapan ini mau ditegaskan bahwa doa itu merupakan persatuan dengan Allah.

Dewan Kepausan untuk Kaum Awam (2002: 51) menegaskan kembali apa yang disampaikan Yohanes Paulus II ketika berbicara kepada peserta forum Internasional tentang lanjut usia: “Orang-orang lanjut usia, dengan kebijaksanaan dan pengalaman yang merupakan buah perjalanan hidup telah memasuki suatu saat rahmat yang istimewa yang membukakan kepada mereka kesempatan-kesempatan baru untuk berdoa dan bersatu dengan Allah. Karena itu kaum lanjut usia dipanggil untuk mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan sebagai pemberi hidup, dengan daya-daya roha ni yang baru diberikan kepada mereka.

4. Memelihara

Orang bisa sampai pada penerimaan masa lanjut usia bukan sesuatu yang terjadi sesaat dan tanpa perjuangan. Hal ini pasti sudah diusahakan dan dipelihara baik-baik untuk senantiasa mengisi hati dengan kegiatan atau kejadian yang menggugah daya hidup bukan karena kesenangan atau kebahagiaan sementara. Memelihara di sini lebih- lebih mengarah untuk membiasakan segala kegiatan dan

kebiasaan baik, yang dapat membantu dalam menerima dan merasakan tahun-tahun lanjut usia. Dengan sikap ini segala harta sejati yang telah tersimpan tidak pernah akan hilang walaupun mengalami berbagai macam tantangan dan godaan.

Sebagaimana yang dikatakan Wicks (2004: 93), orang perlu diberi makan dan

memerlukan manna baru untuk memenuhi kebutuhan akan makanan bergizi. Kalau tidak demikian, kecenderungan ketagihan dan kebiasaan jelek, akan mengisi kekosongan yaitu rasa bosan. Dari pandangan ini dapat dilihat pentingnya memelihara hal yang baik dalam diri sendiri, agar tidak mudah terjerumus ke hal-hal yang menyebabkan masa lanjut usia menjadi kosong dan hampa.

Bock (2007: 129), mengatakan bahwa salah satu kegiatan kaum lanjut usia adalah merawat sesama lanjut usia dan tidak hanya merawat diri sendiri. Memperhatikan dan mengasihi sesama membawa orang kepada pengertian diri yang semakin mendalam. Tak cukup hanya mengasihi dan mengurusi diri sendiri, tetapi juga diharapkan mengurusi orang lain. Pola pemeliharaan ini tidak lain daripada memelihara dan mengasihi kaum lanjut usia dan kaum dewasa. Melalui kegiatan ini akan semakin dirasakan kebersamaan dan rasa kasih terhadap sesama yang membutuhkan.

5. Mengembangkan hobi

Setelah menjalani masa lanjut usia alangkah baiknya bila mereka yang sudah lanjut usia dapat mengembangkan hobi yang selama ini sudah ataupun yang belum terwujud. Melalui hobi, mereka dapat menyalurkan kesenangan dan bakat-bakat yang mungkin membawa suatu makna dalam kehidupan mereka. Karena selama masa

berkarya, dengan berbagai macam kesibukan, orang sering lupa untuk mengerjakan hobi karena terdesak dengan kegiatan dan tugas-tugas yang menjadi prioritas. Maka dengan berkurangnya atau bahkan berhentinya pekerjaan pada usia “aktif” ada kesempatan untuk melakukan hobi yang dapat memperkaya hidup dan imannya (Piet Go, 1993: 92).

Dokumen terkait