• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1.3 Komunikasi Positif

2.1.3.2 Peranan Komunikasi Positif

Komunikasi positif memiliki pengaruh yang signifikan bagi perkembangan anak selanjutnya. Terjalinnya komunikasi yang hangat dan positif antara anak dan orangtua/guru menjadi kunci untuk mengembangkan potensi anak secara maksimal. Ramadhani (2006:28) menyatakan beberapa potensi kepribadian tersebut diantaranya adalah:

1. Mampu Mengembangkan Konsep Diri

Konsep diri anak banyak dibentuk dalam proses interaksi dengan lingkungannya. Proses interaksi antara anak dengan lingkungan terdekatnya (orangtua/guru) terjadi melalui proses komunikasi yang bisa berbentuk verbal maupun nonverbal. Melalui komunikasi verbal, anak menangkap penilaian- penilaian dari lingkungan terdekatnya. Jika penilaian ini terjadi secara kontinu, maka akan terinternalisasi dalam diri anak. Ketika anak lebih banyak menerima masukan atau penilaian positif tentang dirinya, maka masukan atau penilaian positif ini akan terinternalisasi dalam diri anak, kemudian masukan atau penilaian ini menjadi bagaian dari kepribadian anak sehingga konsep diri yang berkembangpun lebih cenderung positif. Sebaliknya, jika anak lebih banyak menerima masukan atau penilaian negatif, maka konsep diri yang berkembang lebih cenderung konsep diri yang negatif. Cara mengembangkan konsep diri positif melalui komunikasi positif yaitu:

- Selalu melihat sisi positif anak

- Lebih banyak memberikan pujian ketimbang kecaman - Menghindari pemberian label/julukan negatif pada anak - Mendorong anak untuk berpikir positif tentang dirinya

- Memberikan kesempatan pada anak untuk mengaktualkan potensinya - Mendorong anak untuk menerima dirinya apa adanya

(Ramadhani , 2006:92)

Jadi, konsep diri anak terutama terbentuk dari pengalaman dan interaksi dengan orang-orang terdekat dalam kehidupan, seperti orangtua, kakak, adik, guru, atau teman dekat. Jika kebanyakan orang terdekat menilai diri anak positif, maka anak pun akan mengembangkan konsep diri yang positif pula. Komunikasi yang positif merupakan cara dalam mengembangkan konsep diri anak.

2. Mengembangkan Harga Diri

Harga diri mencakup aspek evaluasi terhadap diri sendiri, sejauh mana kita menilai diri kita secra positif/baik dan negatif/buruk. Rose, Terry & Leventhal (Ramadahani, 2006:108) menjelaskan bahawa orang-orang dengan harga diri yang rendah ternyata mengalami lebih banyak kesulitan ketika manghadapi masalah atau hambatan. Kesulitan ini terjadi karena adanya dua jenis persepsi diri negatif dasar, yaitu orang-orang dengan harga diri rendah memiliki tingkat ketakutan yang lebih tinggi ketika menghadapi anacaman atau masalah, dan

orang-orang dengan harga diri yang rendah menganggap diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang kurang memiliki keterampilan yang baik untuk menangani suatu masalah sehingga akibatnya mereka kurang tertarik untuk mengambil langkah-langkah preventif, keyakinan mereka akan kemampuannya dalam memecahkan masalah rendah sehingga mereka cenderung menarik diri atau lari dari masalah, bukan menghadapi dengan bertanggungjawab.

Orangtua atau guru bisa mengembangkan kekuatan harga diri anak melalui komunikasi positif, yaitu dengan cara:

- Menanamkan keyakinan diri anak bahwa dia berharga - Memotivasi anak untuk meraih prestasi

- Mendukung pilihan anak untuk hidupnya sendiri

- Menegaskan bahwa anak memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.

(Ramadhani, 2006:109)

Jadi, kekuatan harga diri anak dapat dikembangkan melalui komunikasi positif dari orangtua/guru. Semakin sering orangtua/guru berkomunikasi positif pada anak maka akan membentuk harga diri yang baik pada anak sehingga anak memiliki keyakinan diri yang kuat dan keyakinan bahwa mampu untuk sukses dalam mencapai tujuan-tujuannya.

3. Mengembangkan Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri merupakan keyakinan akan kemampuan diri sendiri untuk mencapai suatu yang dicita-citakan. Kepercayaan diri tumbuh berawal dari penerimaan diri. Orang yang percaya diri merasa bahwa dia telah melakukan yang terbaik dengan usahanya, dan berusaha mengaktualkan nilai-nilai luhur dalam hidupnya. Pendorong utama berkembangnya kepercayaan diri anak adalah sikap penerimaan dari orang terdekatnya, artinya orangtua/guru yang menerima anak secara keseluruhan baik kelebihan maupun kekurangan anaknya tanpa syarat, merupakan penentu berkembangnya kepercayaan diri anakyang optimal. Hasil penelitian yang ada menunjukkan bahwa anak yang dotolak dan diabaikan cenderung merasa tersisih, tidak percaya diri dan merasa tidak berharga sebagai manusia. Mereka mengalami gangguan penyesuaian diri dan kurang mampu secara optimal mengembangkan bakat dan potensinya di masa dewasanya. Beberapa cara mengembangkan

kepercayaan diri anak melalui komunikasi positif (Ramadhani, 2006:129) adalah:

- Menanamkan keyakinan pada anak bahwa dia mampu melakukan sesuatu. - Menanamkan keyakinan bahwa anak mampu mengatasi setiap kendala

yang dihadapinya.

- Menanmkan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

- Menanamkan keyakinan pada anak bahwa untuk mewujudkan sesuatu dia membutuhkan bantuan orang lain.

- Menanamkan keyakinan pada anak bahwa Allah SWT selalu memberikan kekuatan dan jalan yang mudah untuk mewujudkan cita-citanya.

Jadi, kepercayaan diri dapat dikembangkan melalui komunikasi positif. Sikap menerima kelebihan dan kekurangan anak akan mendorong secara optimal kepercayaan diri anak sehingga anak memiliki suatu kekuatan dalam dirinya untuk mencapai suatu yang dicita-citakan.

4. Pengembangan Kendali Diri

Seorang anak membutuhkan kendali diri yang kokoh agar mampu mengarahkan perilakunya menuju tujuan yang telah ditetapkannya. Namun seringkali anak tidak mengerti cara yang mudah dilaksanakan untuk mengendalikan perilakunya sendiri. Anak-anak yang kesulitan mengendalikan perilakunya sendiri cenderung bertindak impulsif dan mengikuti gejolak emosinya sehingga akibatnya perilakunya tidak bertujuan dan cenderung menjerumuskan dirinya sendiri. Menurut Ramadhani (2006:142) beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kendali diri internal anak yang kuat yaitu dengan:

- Mengubah paradigma berpikir anak. - Ajak anak untuk memahami kekuatannya.

- Ajarkan anak untuk mengevaluasi setiap tindakannya.

- Latih anak menggunakan teknik positif self statement untuk mengendalikan emosi dan perilakunya.

- Bimbing anak agar mengerti prinsip berusaha sekaligus berdoa.

Jadi, berkomunikasi yang hangat dan positif terhadap anak merupakan cara yang mudah untuk mengembangkan kendali diri anak. Anak dengan kendali diri yang baik akan lebih mampu mengahadapi situasi yang penuh distres, lebih mampu memecahkan masalah secara efektif, dan akan senantiasa aktif menggapai impiannya.

5. Mengembangkan Kematangan Emosional Anak

Kemampuan anak mengelola emosinya bisa ditingkatkan dengan cara berkomunikasi dengan anak. Untuk itulah sangat dianjurkan membangun komunikasi positif dengan anak. Menurut Goleman (Ramadhani, 2006:154) kemampuan individu dalam mengelola emosinya ternyata banyak membantu kesuksesannya di masa depan. Goleman mengatakan bahwa hanya 20% kesuksesan seseorang ditentukan oleh IQ, tetapi 80%nya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya. Kecerdasan emosi ini terdiri dari: kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, optimisme, empati, dan keterampilan sosial.

Jadi, membangun komunikasi positif dengan anak merupakan hal yang penting dalam meningkatkan kematangan emosional anak. Anak dengan kematangan emosional yang tinggi akan mampu menyadari emosi-emosinya dengan tepat, mampu mengendalikan emosi-emosi negatif sehingga tidak mudah mengalami stres, tidak mudah putus asa dalam mengahadapi kesulitan sehingga mampu memotivasi dirinya menuju kesuksesan.

6. Mengembangkan Kecerdasan Sosial Anak

Kecerdasan sosial diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi, dan mempertahankan relasi sosialnya hingga kedua belah pihak berada dalam situasi menang-menang atau saling menguntungkan (Ramadhani, 2006:187). Karakteristik anak yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi yaitu: 1) mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial baru secara efektif, 2) mampu berempati dengan orang lain, 3) mampu mempertahankan relasi sosialnya secara efektif, 4) mampu menyadari komunikasi verbal dan non verbal yang dimunculkan orang lain, 5) mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam relasi sosialnya dengan pendekatan win-win solution, 6) memiliki keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan mendengarkan efektif, berbicara efektif, dan menulis efektif. Beberapa cara yang bisa dilakukan orangrua atau guru untuk mengembangkan perilaku kecerdasan sosial anak (Ramadhani, 2006:189), yaitu:

- Beri contoh dan tunjukkan secara nyata pada anak akan pentingnya perilaku prososial dengan melakukan tindakan membantu, berbagi, dan memberi kepada orang lain.

- Bertindak adil dalam memberi perhatian dan kasih sayang pada semua anak.

- Mengajak anak dalam kegiatan-kegiatan amal sosial.

- Menjelaskan pada anak akan keuntungan berperilaku prososial dengan bahasa yang mudah dipahami.

- Bertindak tegas jika melihat anak berperilaku mementingkan dirinya sendiri, tidak mau bekerja sama atau tidak mau membantu orang lain. - Memuji anak ketika dia berhasil menunjukkan tindakan mau membantu,

mau berbagi, dan mau bertindak kooperatif dengan sebayanya. - Bimbing anak untuk mampu memilih teman-teman yang baik.

Jadi, peran orang terdekat dengan anak seperti orangtua/guru sangat besar dalam mendorong terbentuknya perilaku kecerdasan sosial anak. Melalui komunikasi positif dari keluarga/guru maka kecerdasan sosial anak dapat dikembangkan. Anak yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi akan mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial secara baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Dokumen terkait