• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan UKM dalam Perekonomian .1 Pengertian Usaha Kecil dan Menengah

URAIAN TEORITIS

2.6 Peranan UKM dalam Perekonomian .1 Pengertian Usaha Kecil dan Menengah

Di Indonesia, pengembangan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menduduki peran yang strategis dalam mewujudkan kebijaksanaan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Salah satu usaha pemerintah untuk merealisasikan hal tersebut adalah dengan melaksanakan kebijaksanaan keuangan melalui penyaluran berbagai kredit program, yang disebut Kebijaksanaan Kredit Kecil, dalam rangka untuk menjamin tersedianya dana pembiayaan usaha.

Secara umum, Kebijaksanaan Kredit Kecil yang ditempuh bersifat dinamis sesuai kondisi perekonomian, kondisi sistem perbankan serta arah dari prioritas pembangunan. Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana yang diatur dalam undang-undang ini.

Adapun kriteria usaha kecil yang diatur undang-undang ini yaitu:

• Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

• Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 Milyar • Milik warga Negara Indonesia

• Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar

• Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi

Menurut Keppres RI No. 99 Tahun 1998 pegertian usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan saha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.

Menurut Bank Indonesia, usaha kecil dan menengah adalah suatu perusahaan atau perseorangan yang mempunyai total asset maksimal Rp 600 juta tidak termasuk rumah dan tanah yang ditempati.

Menurut Departemen perindustrian dan Perdagangan, usaha kecil menengah adalah kelompok industri kecil modern, industri tradisional, dan industri kerajinan yang mempunyai investasi modal untuk mesin-mesin dan peralatan sebesar Rp 70 juta kebawah dengan resiko investasi modal/tenaga kerja Rp 625.000 kebawah dan usahanya dimiliki oleh warga Negara Indonesia.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kriteria usaha adalah sebagai berikut:

• Usaha kecil : 6 – 10 orang tenaga kerja • Usaha menengah : 20 – 99 orang tenaga kerja

Usaha kecil yang hanya memiliki tenaga kerja 10 orang saja biasanya pekerjaanya dilakukan masih dengan manual atau dengan menggunakan peralatan yang masih tradisional. Pangsa pasarnyapun masih terbatas disekitar wilayah usahanya saja.

Usaha menengah yang tenaga kerjanya mencapai 99 orang disebabkan karena usahanyapun sudah mulai berkembang dan peralatan yang digunakan sudah lebih maju ( mulai beralih ketekhnologi baru). Pangsa pasar usahanya sudah lebih luas dan mulai berkembang.

Usaha besar umumnya menyerap banyak tenaga kerja karena dalam kegiatanya sudah berskala besar dan maju. Penggunaan peralatan usahapun cenderung menggunakan tekhnologi canggih. Pangsa pasar lebih luas dan biasa sampai taraf internasional. Pada dasarnya UKM telah mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia, seperti yang tercermin pada kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang secara relatif mengalami peningkatan, demikian pula pada kapasitasnya menyerap tenaga kerja seperti khususnya kotribusinya pada produk ekspor.

Salah satu persoalan penting yang sering dianggap sebagai penentu keberhasilan atau kegagalan berusaha bagi UKM adalah masalah permodalan. Bertitik tolak pada anggapan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) telah melancarkan beberapa kebijaksanaan perkreditan khusus untuk membantu UKM untuk mengatasi persoalan tersebut dengan cara utamanya mempermudah eksesibilitas pengusaha kecil dan menengah terhadap kredit perbankan.

2.6.2 Karakterisik UKM

Karakteristik usaha kecil dan menengah pada dasarnya memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat secara umum. Karakteristik tersebut yaitu:

1. Hampir setengah dari UKM hanya menggunakan kapasitas usahanya 60% atau kurang. Penyebabnya antara lain karena kelemahan perencanaan usaha, disebabkan terbatasnya visi pengusaha kecil disebabkan karena kebanyakan sekedar ikut-ikutan berusaha.

2. Bekaitan dengan masalah yang dihadapi UKM yang berbeda di setiap tahapnya. Dimana pada tahap persiapan masalahnya adalah masalah permodalan dan kemudahan berusaha, kemudian pada tahap pengenalan usaha, masalah yang dihadapi adalah masalah pemasaran, permodalan dan hubungan usaha. Sedangkan pada tahap peningkatan usaha masalah yang dihadapi adalah masalah permodalan dan penyediaan bahan baku.

3. Sektor UKM ini biasanya sukar untuk meningkatkan pangsa pasarnya dan bahkan cenderung mengalami penurunan usaha karena kekurangan modal, tidak mampu memasarkan dan kurang keterampilan tekhnis dan administrasi.

4. Tingginya tingkat ketergantungan terhadap bantuan pemerintah, berupa permodalan, pemasaran dan penyediaan bahan atau barang baku.

5. Hampir dari 60% dari UKM menggunakan tekhnologi tradisional dan hampir 70% dari usaha tersebut melakukan pemasaran langsung kekonsumen.

6. Sebagian besar pengusaha sektor UKM menganggap bahwa untuk memperoleh bantuan keuangan dari sektor perbankan merasa rumit

terutama karena persyaratan dokumen yang harus dipersiapkan sukar dipenuhi.

Ciri-ciri umum yang juga merupakan sebagai kelemahan-kelemahan sektor UKM seperti yang disebutkan diatas, jika dilihat dari aspek permodalan dan keuangannya, meliputi hal-hal berikut:

1. Umumnya sektor usaha kecil dan menengah memulai usahanya dengan modal sedikit dan keterampilan yang kurang dari pendiri atau pemiliknya. 2. Terbatasnya sumber-sumber dana yang dapat dimanfaatkan untuk

membantu kelancaran usahanya, seperti dari kredit pemasok (Supplier) dan pinjamam bank ataupun dari bank yang ingin melayani pengusaha kecil dan menengah.

3. Kamampuan memperoleh pinjaman kredit perbankan relatif rendah. Penyebabnya antara lain karena kekurangmampuan untuk menyediakan jaminan dan lain sebagainya.

4. Banyak dari UKM yang belum mengerti pencatatan keuangan/akuntansi. Tetapi bagi mereka yang telah menggunakan catatan keuangan masih memiliki masalah penyusunan laporan keuangan, sehingga menurunkan kemampuannya untuk mengajukan proposal permohonan kredit pada perbankan.

5. Jadi, umumnya sektor UKM kurang mampu membina hubungan dengan perbankan.

2.6.3 Kekuatan atau Kelebihan UKM

Kebijaksanaan pemerintah dalam pengembangan usaha kecil dan menengah dalam jangka panjang untuk meningkatkan potensi dan partisipasi aktif

UKM dalam proses pembangunan nasional, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Dalam rangka mewujudkan pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan pengusaha menengah dan terwujudnya usaha yang makin tangguh dan mandiri sehingga pelaku ekonomi tersebut dapat berperan dalam perekonomian nasional, meningkatkan daya saing pengusaha nasional dipasar dunia, serta seimbangnya penyebaran investasi antar sektor dan antar golongan

Untuk mewujudkan hal tersebut maka harus diketahui kekuatan atau kelebihan dari UKM, yang memiliki kekuatan potensial yang merupakan andalan yang menjadi basis pengembangan pada masa yang akan datang. Secara garis besar kekuatan atau kelebihan dari UKM tersebut antara lain:

1. Penyediaan lapangan kerja. Peran UKM dalam penyerapan tenaga kerja patut diperhitungkan, diperkirakan mampu menyerap sampai dengan 50% tenaga kerja yang tersedia.

2. Sumber wirausaha baru. Keberadaan UKM selama ini terbukti dapat mendukung tumbuh kembangnya usaha baru.

3. Memiliki segmen pasar yang unik.

4. Melaksanakan manajemen sederhana dan fleksibel terhadap perubahan pasar.

5. Memanfaatkan sumber daya alam sekitar. UKM sebagian besar memanfaatkan sumber daya alam yang merupakan unggulan wilayah.

6. Memiliki potensi untuk berkembang. Berbagai upaya pembinaan yang dilaksanakan menunjukkan hasil yang menggambarkan bahwa UKM

mampu untuk dikembangkan lebih jauh dan mampu untuk mengembangkan sektor-sektor lain yang terkait.

2.6.4 Permasalahan UKM

UKM mendapat perhatian karena tingkat perekonomian dan pengetahuan yang kurang maju dalam berbisnis. Dengan adanya kterbatasan itu, timbul berbagai permasalahan dimana tingkat intensitas dan sifat dari masalah tersebut bisa berbeda tidak hanya dari Janis produk atau pasar yang dilayani tetapi juga berbeda antar wilayah, antar jenis kegiatan, bahkan antar unit dalam kegiatan yang sama.

Masalah umum yang biasa terjadi dalam UKM yaitu (Partomo dkk:2002): 1. Keterbatasan finansial

UKM di Indonesia menghadapi dua masalah utama dalam aspek financial yaitu mobilisasi modal awal dan akses kemodal kerja serta financial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan demi pertumbuhan output jangka panjang. Walaupun pada umumnya modal awal bersumber dari modal (tabungan) sendiri atau sumber-sumber informal, namun sumber-sumber permodalan ini sering tidak cukup untuk kegiatan produksi apalagi untuk investasi. Walaupun begitu banyak skim-skim kredit dari perbankan dari bantuan BUMN, sumber pendanaan dari sektor informal masih tetap dominan dalam pembiayaan kegiatan UKM. Hal ini disebabkan karena lokasi bank terlalu jauh bagi pengusaha yang tinggal didaerah, persyaratan terlalu berat, urusan administrasi yang rumit, dan kurang informasi mengenai skim-skim perkreditan yang ada beserta

prosedurnya. Lagi pula sistem pembukuan yang belum layak secara tekhnis perbankan menyebabkan UKM juga sulit memperoleh kredit. 2. Kesulitan pemasaran

Pemasaran sering dianggap sebagai salah satu kendala yang kritis bagi perkembangan UKM. Dari hasil studi yang dilakkan James dan Akrasanee (1988) di sejumlah Negara ASEAN, menyimpulkan jika UKM tidak melakukan perbaikan yang cukup disemua aspek yang terkait dengan pemasaran seperti kualitas produk dan kegiatan promosi maka sulit sekali bagi UKM untuk turut berpartisipasi dalam era perdagangan bebas. Masalah pemasaran yang dialami yaitu tekanan persaingan baik di pasar domestic dari produk yang serupa buatan sendiri dan impor maupun dipasar internasional dan kekurangan informasi yang akurat serta up to date mengenai peluang pasar didalam maupun luar negeri.

3. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM)

Keterbatasan SDM juga merupakan salah satu kendala yang serius bagi banyak UKM di Indonesia, terutama dalam aspek-aspek entrepreneurship,

manajamen, tekhnik produksi, pengembangan produk, engineering design, quality control, organisasi bisnis, akuntansi, data processing, tekhnik pemasaran,dan penelitian pasar. Semua keahlian ini sangat dibutuhkan untuk mempertahankan atau memperbaiki kualitas produk, meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam produksi, memperluas pangsa pasar dan menembus pasar barang.

4. Masalah bahan baku

Keterbatasan bahan baku dan kesulitan mendapatkannya kerena harganya yang mahal menjadi salah satu kendala yang serius bagi pertumbuhan output atau kelangsungan produksi bagi banyak UKM di Indonesia. Banyak pengusaha yang terpaksa menghentikan usahanya dan berpindah profesi kepada kegiatan ekonomi lainnya misalnya menjadi pedagang. 5. Keterbatasan tekhnologi

UKM di Indonesia pada umumnya masih menggunakan tekhnologi lama / tradisional dalam bentuk mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya manual. Hal ini membuat produksi rendah, efesiensi kurang, dan kualitas produk juga rendah.

2.6.5 Kendala dan Arah Kebijaksaaan Keuangan untuk Sektor UKM

Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 telah menetapkan arah perencanaan jangka panjang tahap II (PJPT II), antara lain bahwa pertumbuhan ekonomi harus diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengatasi ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Dalam hal ini pemerintah telah memberikan perhatian lebih konhkrit lagi terhadap pengembangan usaha kecil dan tradisional serta golongan ekonomi lemah pada umumnya. Untuk itu, peranan perbankan diharapkan menjadi semakin penting.

Namun pada kenyataannya, sektor perbankan mengalami beberapa kendala utama dalam pemberian kredit kecil dan koperasi. Kendala tersebut antara lain:

1. Sulitnya memperoleh nasabah usaha kecil yang layak dibiayai karena terbatasnya jaringan kantor cabang.

2. Relatif tingginya biaya transaksi dan risiko pemberian kredit kepada UKM.

3. Keterbatasan perangkat organisasi dan personalia yang menangani UKM.

Dokumen terkait