HASIL DAN PEMBAHASAN
PERANCANGAN LANSKAP PERMUKIMAN PADJADJARAN REGENCY BOGOR RAYA
Kegiatan perancangan lanskap ini dilaksanakan oleh Departemen Estate. Departemen ini mempunyai tugas merancang lanskap permukiman Padjadjaran Regency beserta budgeting, menyiapkan penawaran kontraktor, memantau pengeluaran biaya dan pelaksanaan di lapangan. Departemen Estate melaksanakan tugasnya di Kantor Estate Perumahan Danau Bogor Raya, tepatnya beralamat di Perumahan Danau Bogor Raya 16143, Indonesia.
Dalam proses pelaksanaan pekerjaan tidak banyak fasilitas yang menunjang, seperti tidak terdapatnya komputer dengan program yang menunjang, meja gambar, dan plotter. Buku referensi yang digunakan didominasi oleh buku-buku jenis tanaman yang dapat diterapkan dalam rancangan, seperti Galeri
Tanaman Hias Lanskap, Pemeliharaan Taman, Taman Rumah Tinggal, beberapa
majalah arsitektur lanskap dan lain sebagainya.
Staf yang bekerja di departemen ini dibagi ke dalam beberapa bagian, khusus lanskap masuk ke dalam bagian lanskap dan kebersihan. Departemen ini dipimpin oleh seorang manager. Saat ini terdapat kekurangan tenaga ahli di bidang lanskap, khususnya yang berlatar belakang pendidikan formal bidang arsitektur lanskap. Dahulu, departemen ini memiliki tenaga ahli di bidang arsitektur lanskap dan menggunakan jasa konsultan lanskap. Seiring waktu, perusahaan tidak sanggup menggunakan jasa konsultan lanskap dikarenakan biaya pelaksanaan dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Sehingga sejak itu proses perancangan lanskap diserahkan pada supervisor lanskap.
Kegiatan perancangan diawali dengan kegiatan inventarisasi lapang oleh staf Departemen Estate. Peta dasar didapat dari Departemen Desain (Lampiran 1). Selanjutnya dilakukan analisis tapak, pembuatan konsep perancangan, dan perhitungan RAB. Gambar desain diajukan langsung kepada General Manager. Setelah gambar disetujui maka hasil perancangan dapat di implementasikan ke dalam tapak.
Mahasiswa diikutsertakan dalam proses perancangan lanskap dari mulai desain sampai pembuatan gambar secara freehand. Mahasiswa magang
melakukan inventarisasi secara individu berdasarkan peta dasar yang telah dibuat, dan selanjutnya dilakukan proses analisis tapak, pembuatan konsep, dan perancangan. Dalam proses perancangan, mahasiswa melakukan diskusi dengan staf Departemen Estate mengenai konsep, desain, dan spesifikasi bahan yang digunakan.
Kegiatan Perancangan sedikit terhambat karena tidak terdapatnya staf yang ahli di bidang arsitektur lanskap. Dengan adanya mahasiswa magang maka perusahaan dapat menyadari dan mengetahui tentang pentingnya keberadaan seorang arsitektur lanskap.
Inventarisasi
Proses inventarisasi awal telah dilakukan oleh staf dari perusahaan sebelum mahasiswa melakukan kegiatan magang. Dimana hasil dari inventarisasi tersebut menghasilkan peta dasar. Selanjutnya mahasiswa dipersilahkan untuk melakukan peninjauan ulang atau evaluasi tapak secara langsung. Dengan peta dasar mahasiswa dapat melakukan peninjauan ulang yang mencakup kondisi fisik dan biofisik tapak. Ilustrasi kondisi awal dan setelah dibangun dapat dilihat pada Gambar 13 a dan Gambar 13 b.
(a). Kondisi Awal Tapak (b) Kondisi Setelah Dibangun Gambar 13. Kondisi Tapak
Kawasan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya merupakan perumahan baru yang dibangun oleh PT. Bogor Raya Development. Pembangunan permukiman pada saat ini masih merupakan pembangunan Tahap I, dimana area permukiman ini masih dalam proses pembangunan. Kawasan
permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya dinamakan berdasarkan lokasi permukiman yang berada di daerah Pajajaran. Kawasan permukiman dengan luas ± 6 ha ini masih dapat diperluas dikarenakan masih terdapatnya lahan kosong sekitar permukiman.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya terdapat beberapa tipe serta luasan tanah dan terdapat pula kavling kosong. Seperti untuk tipe 22 luasan tanah mulai dari luasan 60 m² sampai luasan 72 m²; tipe 30 tanah mulai dari luasan 60 m² sampai luasan 90m²; tipe 46 luasan tanah mulai dari luasan 90m² sampai luasan 216m². Jarak yang ditempuh dari jalan Pajajaran menuju permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya ditempuh selama ± 10 menit. Untuk menuju area ini penghuni dapat menggunakan kendaraan bermotor. Akses untuk menuju permukiman ini melalui jalan yang relatif masih sempit dan rusak sehingga menyulitkan para pengguna kendaraan bermotor khususnya mobil untuk menempuhnya. Penghuni akan merasa nyaman jika pengembang berusaha untuk memperbaiki akses jalan yang rusak dan membuat akses baru langsung dari jalan tol. Ilustrasi akses jalan menuju permukiman PGBR yang sempit dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Akses Jalan Menuju Permukiman PRBR yang Sempit dan Rusak.
Di sebelah Selatan tapak berbatasan dengan Desa Cikondang; disebelah Barat berbatasan dengan Perumahan Baranang Siang; di sebelah Timur tapak berbatasan dengan Desa Cikeas; di sebelah Utara tapak berbatasan dengan lahan pertanian. Terdapat pula Sungai Citangkil yang berada di sebelah Timur tapak. Dan selain sungai terdapat pula Kali Katulampa yang mengalir melintasi kawasan
permukiman ini. Untuk melindungi para penghuni maka dibangun pagar pembatas yang mengelilingi tapak. Dinding pembatas yang digunakan di permukiman ini dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Dinding Pembatas Permukiman
Jenis tanah yang terdapat permukiman ini berjenis Latosol coklat kemerahan. Tanah ini bersifat gembur sehingga cocok bagi pertumbuhan tanaman walaupun demikian tanah tetap membutuhkan pupuk yang sesuai dengan karakter tanah latosol.. Sebelum pembangunan permukiman terlaksana sebelumnya lokasi ini merupakan area pertanian yang dikelola masyarakat sekitar. Tanah ini mempunyai daya permeabilitas yang cukup tinggi dan tahan terhadap erosi.
Secara umum permukiman ini berada pada kemiringan 3-15 %. Topografi di permukiman menandakan cukup landai dan tahan erosi. Walaupun lahan terbilang cukup landai tetapi dalam pembuatan cut and fill khusus untuk bangunan lahan dibuat lebih tinggi dibandingkan dengan jalan. Keadaan jalan yang sedikit bergelombang dibiarkan demikian sehingga terdapat pemandangan yang sedikit berbukit dan terlihat menarik.
Terdapat perbedaan peta dasar dengan hasil pengamatan secara langsung di tapak, yaitu terdapat pergeseran posisi pohon yang terjadi di Berm blok K. Pergeseran ini terjadi karena supervisor lanskap yang ditugaskan untuk menata pohon tidak mengetahui adanya perubahan posisi tiang listrik sehingga posisi pohon ikut berubah. Secara keseluruhan keadaan peta dasar dengan keadaan
sebenarnya di lapang tidak berbeda. Peta inventarisasi dapat dilihat pada Gambar 16.
Analisis dan Sintesis
Gold (1980) menyatakan analisis merupakan suatu tahapan untuk mengetahui masalah, hambatan, potensi, dan kemungkinan pengembangan dari suatu tapak. Untuk itu sangat penting menganalisis dan mensintesis di dalam proses perancangan. Gambar analisis dapat dilihat pada Gambar 17.
Tabel 5. Analisis Kondisi Fisik Dan Biofisik Tapak
Analisis Sintesis No Aspek
Potensi Kendala Pemanfaatan Pemecahan 1. Lokasi dan aksesibilitas Lokasi permukiman berada di pusat kota Terdapatnya penyempitan jalan untuk menuju lokasi Mempertaha-kan jalur jalan menuju permukiman Memperbaiki aksesibilitas dengan memperluas jalan menuju permukiman
2. Aspek Sosial Sebelum
permukiman dibangun masyarakat sekitar merupakan petani, ketika permukiman dibangun sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan Permukiman dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang dapat dikerjakan masyarakat sekitar permukiman. 3. Tanah Jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan Fisik tanah ini baik, karena mempunyai daya permeabilitas yang cukup tinggi dan tahan erosi Kesuburan tanah sedikit kurang Tanah baik untuk pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh subur Diperlukan pemupukan yang sesuai dengan jenis dan karakter tanah 4. Iklim Angin berhembus cukup sehingga terasa nyaman Pada saat musim hujan tanah menjadi becek dan licin Arah angin tidak terhalangi bangunan maupun vegetasi Pembuatan saluran drainase yang benar agar air dapat
Tabel 5. (Lanjutan)
Analisis Sintesis No Aspek
Potensi Kendala Pemanfaatan Pemecahan 5. Topografi Topografi relatif datar bergelom-bang Terdapat perbedaan rencana ketinggian lahan untuk bangunan dan lahan untuk jalan Mempertahan keadaan topografi yang bergelombang Melakukan kegiatan cut and fill dengan mempertim-bangkan estetika and ekologi 6. Hidrologi Sumber air
selain dari PAM, adalah air yang mengalir dari Kali Katulampa Sumber air cukup berlimpah sehingga dapat digunakan oleh para penghuni 7. Vegetasi dan Satwa Sudah sulit ditemukan vegetasi dan hewan asli pada tapak Menata kembali tanaman sesuai kebutuhan dengan mempriori-taskan tanaman asli
8. Pencemaran Lokasi tapak
yang tidak terlalu jauh dari jalan tol sehingga menimbulkan polusi dan kebisingan Mengurangi polusi dan kebisingan dengan menanam tanaman yang dapat mengurangi polusi dan kebisingan 9. Visual Kesebelah Timur tapak dikelilingi pegunungan Permukiman bersebelahan dengan perkampu-ngan sehingga penampakan-nya tidak enak dipandang Tidak membiarkan pemandangan ke arah pegunungan tertutupi baik tanaman maupun bangunan Memberi pagar pembatas dan memberi tanaman yang akan memberi kesan lembut pada pagar (hardscape) sehingga tidak terlihat kaku
Konsep Konsep Umum
Setelah melakukan analisis dan sintesis, dilakukan pembuatan konsep dilengkapi dengan konsep pengembangannya yang dapat dilaksanakan di tapak. Konsep penataan lanskap di tiap permukiman yang dibangun oleh PT. Bogor Raya Development dapat dikatakan sama, demikian juga sama halnya dengan penataan lanskap di permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya.
Dalam perencanaan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya ini memiliki tujuan yaitu, membangun suatu kawasan permukiman dengan lokasi strategi yaitu di pusat kota yang memanfaatkan keindahan panorama pegunungan dengan fasilitas lengkap untuk memenuhi kebutuhan penghuni. Sesuai dengan perencanaan maka konsep lanskap yang menunjang permukiman adalah menyelaraskan lingkungan permukiman dengan desain lanskap.
Tidak terdapatnya tenaga ahli di bidang arsitektur lanskap menyebabkan tidak adanya perencanaan dan perancangan yang sesuai dengan fungsi dan estetika tanaman. Pengelola tidak memprioritaskan konsep penataan lanskap di permukiman, sehingga desain penataan lanskap di permukiman ini dipilih desain yang sederhana, dipilih karakter tanaman yang tidak menyulitkan dalam pemeliharaannya dan dapat beradaptasi, serta memperhatikan jenis tanaman yang sesuai dengan keadaan tapak.
Konsep Pengembangan
Konsep dapat dikembangkan menjadi 3 konsep pengembangan yaitu ruang, tata hijau, dan sirkulasi. Untuk lebih memperjelas konsep
pengembangan maka terdapat akan terdapat penjelasan konsep ruang, tata hijau, dan sirkulasi
Konsep Ruang
Konsep ruang yang dikembangkan dibagi menjadi empat sesuai dengan fungsi yang diharapkan pada tapak, yaitu fungsi sirkulasi, rekreasi dan sosialisasi, komersil, serta area pribadi. Berdasarkan fungsi tersebut maka ruang dibagi menjadi empat ruang, yaitu:
1. Ruang Penerimaan, yaitu merupakan welcome area dari permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya. Ruang penerimaan ini harus memperhatikan desain sehingga menarik perhatian baik penghuni maupun bukan penghuni ketika memasuki kawasan permukiman. Adanya welcome
area ditandai dengan adanya Gerbang dan Pos Satpam. Sehingga gerbang
dapat menjadi point of interest dari ruang penerimaan.
2. Ruang Rekreasi dan Sosialisasi, ruang ini harus memiliki fungsi memberi kesenangan terhadap penghuni serta sebagai wadah kegiatan sosialisasi antar penghuni. Fasilitas rekreasi berupa club house dan taman lingkungan.
3. Ruang Komersil, yaitu ruang untuk melakukan kegiatan perdagangan dan jasa yang disediakan pihak developer bagi penghuni diluar dari ruang pribadi. Dimana pada ruang ini terdapat ruko (rumah toko) yang dapat ditinggali. 4. Ruang Pribadi, yaitu ruang yang berisikan bangunan-bangunan rumah yang
ditinggali penghuni permukiman. Konsep Tata Hijau
Untuk konsep tata hijau diterapkan sesuai konsep umum dimana dipilih tanaman yang sesuai dengan keadaan tapak, tidak mahal perawatan, dan memiliki karakter yang estetik serta fungsional.
Pada kawasan permukiman Padjadjaran Regency Bogor Raya tanaman lanskap dibagi berdasarkan fungsinya yang terdiri dari:
1. Vegetasi Penaung, vegetasi ini menempati area jalan lokal yang merupakan area privacy untuk para penghuni sehingga dibutuhkan vegetasi yang dapat menaungi penghuni dari sinar matahari yang cukup menyengat. Vegetasi yang digunakan adalah Bintaro (Carbera mangas) yang memiliki karakter bentuk tajuk bulat yang rimbun, sehingga berfungsi sebagai vegetasi penaung. Tinggi sempur bisa mencapai 17 meter sehingga cukup seimbang (proportion) dengan ketinggian rumah yang berada disekitarnya. Sempur ini ditanam secara
repetition sehingga menciptakan suatu garis yang menarik untuk dilihat.
2. Vegetasi Pengarah, vegetasi ini ditempatkan di area pintu masuk dan median jalan utama. Tujuan menggunakan pohon pengarah agar dapat membantu pengguna jalan dalam memperjelas arah yang akan dituju. Vegetasi yang
digunakan sebagai vegetasi pengarah di permukiman PGBR adalah Kelapa sawit (Elaeis guinensis). Desain penanaman dari kelapa sawit ini adalah dengan menanam kelapa sawit secara repetititon yang membentuk suatu garis, sehingga dapat mengarahkan jalan yang dituju oleh pengguna kendaraan. Selain itu penanaman vegetasi pengarah mengunakan prinsip simplicity, yaitu dengan menggunakan satu jenis vegetasi.
3. Vegetasi Pembatas, vegetasi ini diletakkan di pagar-pagar pembatas sehingga bentukan dari pagar dapat tertutupi oleh tanaman. Vegetasi yang digunakan sebagai border adalah Bambu Jepang (Arundinaria pumila). Sama halnya dengan vegetasi penaung dan pengarah, pola penanaman dari bambu jepang adalah repetititon dengan jarak yang berdekatan. Penanaman dari bambu jepang ini akan membentuk suatu garis berumpun yang dapat menutupi pagar pembatas (screen) sehingga akan memperhalus bentukan yang terkesan kaku dar pagar.
4. Vegetasi Artistik, dipilihnya vegetasi yang memiliki karakter menarik seperti bunga atau daun berwarna indah dan semarak. Vegetasi ini ditempatkan di
Intersection dan Taman Lingkungan. Tanaman terdiri dari semak yang
memiliki karakter berwarna dan semarak contohnya Krokot (Alternantera sp.) dipilih karena memiliki karakter daun berwarna merah sangat kontras dengan hijaunya rumput yang mengelilinginya.
Konsep Sirkulasi
Menurut Simonds (1983), sirkulasi merupakan hal yang paling dominan pada tapak karena seluruh aspek pada tapak akan ikut berinteraksi di dalamnya. Konsep sirkulasi menjadi sangat penting karena dapat menentukan terhubungnya aspek-aspek pada tapak sehingga terjadi hubungan timbal balik di dalamnya.
Konsep sirkulasi yang diterapkan di permukiman ini adalah satu pintu masuk dimana keamanan dapat lebih terjamin. Terdapat dua arah jalan kendaraan pada jalan utama, sehingga pengguna jalan akan merasa lebih nyaman dengan adanya dua arah tersebut. Sangat penting mendesain permukiman dengan memperhatikan pola jalan yang akan digunakan. Tipe jalan yang tidak monoton
dan dimodifikasi merupakan alternatif yang dapat digunakan dalam mendesain pola jalan.
Chiara dan Koppelman (1990) menyatakan tipe jalan cul-de-sac yaitu memiliki jalan terbuka hanya pada satu sisi dilengkapi dengan sebuah lingkaran putar pada sisi lainnya. Tipe jalan yang digunakan di permukiman ini didominasi dengan tipe jalan cul-de-sac karena memiliki satu pintu masuk dan terdapat lingkaran putar di ujung jalannya (Gambar 18). Selain itu terdapat pula tipe jalan taman karena permukiman ini memiliki taman lingkungan yang berada ditengah-tengah permukiman (Gambar 19). Dengan pola cul-de-sac pola jalan terlihat menarik dan memberi rasa aman bagi para penghuni. Untuk lebih memperjelas konsep pengembangan maka dapat dilihat pada Gambar 20. Dari hasil pengembangan konsep maka dihasilkan siteplan (Gambar 21).
Gambar 18. Tipe Jalan Cul-de-sac di Permukiman PRBR
Perancangan Lanskap
Perancangan Lanskap Area Penerimaan
Perancangan lanskap area penerimaan ditandai dengan adanya pos satpam dan gerbang permukiman. Lanskap pada area ini mencakup berm yang berada di dalam dan luar dari gerbang utama, taman pos satpam atau pos jaga, dan taman di depan papan nama Padjadjaran Regency.
Menurut Ingels (2004), dengan menggunakan prinsip ”Simplicity” maka kesederhanaan akan membuat pengguna merasa nyaman ketika berada di dalam suatu lingkungan. Desain yang sederhana dipilih pada berm jalan. Dengan tidak menggunakan beragam jenis tanaman melainkan menggunakan satu jenis pohon yaitu Kelapa sawit (Elaeis guinensis) dan rumput gajah (Axonopus compressus) maka tanaman tersebut dapat berperan penuh sebagai tanaman pengarah.
Pada taman pos jaga mengunakan desain bergradasi dari mulai rumput gajah (Axonopus compressus), umbi-umbian (Ipomoea batatas), krokot (Alternantera sp.), selain itu terdapat pula iris kuning (Neomarica gracilis), rowelia (Rowelia sp), lolipop (Pachystachys lutea) dan alpinia (Alpinia zerumbut). Pola penanaman semak mengikuti garis organik. Warna tanaman yang digunakan merupakan warna-warna yang kontras antar satu tanaman satu dengan tanaman lainnya sehingga memberikan aksen yang menarik.
Untuk taman yang berada di depan papan nama permukiman di desain dengan sederhana agar perhatian lebih ditujukan kepada papan nama permukiman. Krokot, umbi-umbian, dan rumput ditanam secara bergradasi. Terdapat pula elemen hardscape berupa batu alam dan papan nama yang dibangun secara permanen. Hasil perancangan lanskap area penerimaan dapat dilihat pada Gambar 22.
Perancangan Lanskap Rekreasi
Perancangan lanskap rekreasi di dalam permukiman merupakan taman lingkungan. Dengan menggunakan desain yang bergradasi, kesatuan (unity), dan seimbang (balance) maka akan tercipta taman lingkungan yang menarik. Terdapat penambahan tanah di tengah-tengah taman. Kemudian perancangan dengan jenis
tanaman secara gradasi seperti: kumpulan palem kuning (Chrysalidocarpus
lutescens), Erisin (Iresine herbstii) dan Teh-tehan (Acalipa sp). Di dalam taman
palem kuning menjadi point of interest atau aksen dari keseluruhan taman, dipilih karena memiliki warna yang terang dibandingkan dengan warna di sekitarnya. Selain itu terdapat kumpulan Palem Phonik (phonix sp.) yang berfungsi sebagai penyemarak taman dan Bunga Kupu-kupu (Bauhinia sp.) berfungsi sebagai peneduh karena memiliki bentuk tajuk bulat dan rimbun yang mengelilingi taman. Pola yang digunakan adalah kombinasi yaitu garis organik dan geometrik. Karakter semak dipilih yang memiliki warna daun dan bunga yang mencolok sehingga menimbulkan kesan cerah dan hangat. Hasil perancangan lanskap taman lingkungan dapat dilihat pada Gambar 23.
Perancangan Lanskap Jalur Jalan
Perancangan lanskap jalur jalan di permukiman ini di rancang sesuai dengan konsep perencanaan yang telah dibuat, yaitu dipilih tanaman mempunyai fungsi sebagai pengarah dan dapat menyerap polutan dan kebisingan. Pada median jalan akan terdapat Kelapa Sawit (Elaeis guinensis) sedangkan untuk berm terdapat Palem Sinensis (Ptychosperma macarthurii) yang memiliki karakter tajuk lebar dan daun tidak mudah rontok dimana keduanya ditanam massal sejajar. Di pinggir jalan lokal akan terdapat Bintaro (Cerbera manghas) yang mempunyai fungsi peneduh karena mempunyai tajuk yang melebar. Pola penanaman mengikuti median dan berm jalan yang telah direncanakan. Hasil perancangan lanskap jalan dapat dilihat pada Gambar 24.
Perancangan Lanskap Area Ruko
Perancangan lanskap area ruko meliputi taman area tempat parkir. Desain yang digunakan seimbang (Balance), sederhana (Simplicity), dan terdapat pengulangan (repetition). Direncanakan menggunakan jenis palem-paleman seperti Palem Merah (Crytostachis renda), Palem Phonik (Phonix sp), Pandan Kuning (Pandanus pygmaeus). Semak yang digunakan adalah Oleana atau pucuk merah (Syzygium companulatum), Saberta Montana (Tabernaemonta sp.) ditanam secara bergantian. Elemen hardscape yang digunakan untuk melengkapi
desain taman adalah batu alam. Desain dominan menggunakan pola geometrik dimana pola ini mengikuti pola tempat parkir yang berada di depan bangunan ruko. Hasil perancangan lanskap area ruko dapat dilihat pada Gambar 25.
PELAKSANAAN LANSKAP PERMUKIMAN PADJADJARAN REGENCY