Harapan akan dukungan Amerika semakin tinggal harapan ketika Presiden Roosevelt meninggal dan digantikan oleh Wakil Presiden Truman. Tidak lama setelah berkuasa, Truman dan pemerintahannya harus berhadapan dengan pecahnya persekutuan yang telah terbangun selama Perang Dunia Kedua, yakni persekutuan antara negara-negara Barat dan Uni Soviet. Ketika para pemimpin Soviet menolak kerjasama dengan Amerika untuk proyek rekonstruksi pasca-perang Eropa—sebagaimana ditunjukkan dengan penolakan untuk bergabung dalam Rencana Marshall ( Marshall Plan)—pemerintahan Truman mulai curiga dan tidak percaya pada Kremlin. Pemerintahan Truman mulai memandang Uni Soviet sebagai sebuah kekuatan global yang licik, ekspansionis, agresif, dan berusaha untuk menguasai dunia dengan ideologi komunisnya. Para pejabat di Washington mulai takut bahwa setelah terlepas dari kehancuran ekonomi dan kemanusiaan luar biasa yang dialami selama perang, Uni Soviet akan sanggup membangun kembali dirinya sendiri dan berkembang sebagai sebuah negara yang kuat secara militer. Mereka khawatir bahwa ideologi komunis yang dianut Uni Soviet akan menarik banyak kalangan, khususnya kelompok-kelompok nasionalis radikal di negara-negara yang baru merdeka dan di Eropa sendiri, seperti Italia, Yunani, atau Belanda. Para pejabat itu bahkan khawatir bahwa Jerman dan Jepang, dua negara yang sebelum perang merupakan raksasa industri, akan ikut condong kepada Moskow.
Bisa diduga, mereka takut bahwa dominasi Soviet atas negara-negara itu akan menjadi ancaman serius bagi kepentingan ekonomi dan politik global Amerika.
Ketika pada tanggal 9 Februari 1946 Pemimpin Soviet Joseph Stalin menyampaikan sebuah pidato di hadapan publik di Moskow, sesuatu yang sebenarnya jarang ia lakukan, pemerintahan Truman mencermati kata-katanya dengan sangat teliti. Meskipun tekanan utama pidato Stalin adalah pentingnya Uni Soviet membangun kembali ekonominya yang porak-poranda akibat perang melalui satu rencana ekonomi nasional lima tahunan, para pejabat pemerintahan Truman menafsirkan pidato tersebut sebagai sebuah “tantangan” terhadap Barat. Ketika Stalin menyerukan ditingkatkannya produksi untuk “membuat negara kita siap menghadapi segala kemungkinan”, para pejabat tersebut menginterpretasikannya sebagai sebuah perlawanan langsung terhadap Barat, khususnya Amerika, berikut sistem kapitalisnya. Waktu menyampaikan komentar atas pidato Stalin itu Ketua Mahkamah Agung A.S. Willian O. Douglas mengatakan bahwa pidato itu pada intinya adalah suatu “pernyataan Perang Dunia Ketiga”.18
Semakin banyak pejabat di pemerintahan Truman melihat dunia melalui visi sempit antagonisme pasca-perang. Dalam pandangan mereka dunia itu terbelah menjadi dua kubu yang saling bermusuhan, yang keduanya ingin mendapatkan dominasi seluas mungkin atas urusan-urusan internasional. Para pejabat ini yakin bahwa negara-negara yang berada di bawah rejim komunis dan totaliter telah bersekongkol untuk melawan kapitalisme dan Barat, serta memiliki ambisi yang kuat untuk melakukan ekspansi dan memenangkan dominasi global. “Blok Timur” atau “Blok Komunis” ini terdiri dari Uni Soviet dan negara-negara komunis di Eropa Timur seperti Polandia, Jerman Timur, Cekoslowakia, Hongaria, Romania, dan Bulgaria. Adanya dominasi Soviet membuat persekutuan ini sering disebut sebagai “Blok Soviet”.
Menurut para pejabat itu pada sisi yang berseberangan dari “blok” ini terdapat persekutuan negara-negara Barat yang “bebas dan independen”. Negara-negara itu mendasarkan ekonomi mereka pada prinsip-prinsip kapitalis dan diatur dengan sistem demokratis. Persekutuan negara-negara Barat ini menyebut diri “Free World” (dunia bebas)*, di mana Amerika menjadi tokoh utamanya. Free
World beranggotakan bangsa-bangsa Eropa Barat dan Amerika.
Keyakinan mereka bahwa “Blok Soviet” dan “Blok Barat” saling bertentangan, baik dalam sistem ideologis maupun politik praktisnya, mendorong para pejabat tersebut untuk menyimpulkan bahwa konfl ik besar antara Amerika Serikat dan Uni Soviet beserta sekutu masing-masing adalah suatu keniscayaan, sesuatu yang memang harus dan akan terjadi.
Sebuah telegram yang dikirimkan George E. Kennan, pejabat
charge d’affaires A.S. di Kedutaan Besar Amerika di Moskow,
tertanggal 22 Februari 1946 semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa konfl ik A.S.- Uni Soviet itu akan terjadi. Dalam apa yang sekarang dikenal sebagai “telegram panjang” (long telegram) yang kemudian menjadi landasan utama kebijakan A.S. terhadap Uni Soviet, Kennan memperingatkan bahwa para pemimpin Soviet, yang dipengaruhi oleh dogma Marxis-Leninis, sedang berusaha memperluas pengaruhnya guna memenangkan dominasi atas dunia. Dia mengusulkan diambilnya sebuah kebijakan yang tegas untuk menjawab tantangan tersebut, kebijakan yang akan mampu “membendung” laju ekspansi komunis di dunia.19 Seakan-akan hendak menggarisbawahi peringatan Kennan, kurang dari dua minggu kemudian, pada tanggal 5 Maret, di Westminster College di Fulton, Missouri (A.S.), Mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill menyampaikan sebuah pidato yang juga menyiratkan
* Untuk selanjutnya istilah Free World ini tidak akan diterjemahkan menjadi “dunia bebas” dengan maksud menghindari kemungkinan untuk diterima secara lugas. Istilah free world lebih dimaksudkan untuk kepentingan propaganda sepihak saja.
meningkatnya kekhawatiran Barat atas Uni Soviet. Kata Churchill: “Dari Stettin di Laut Baltik hingga Trieste di Laut Adriatik sebuah tirai besi telah diturunkan atas seluruh Benua [ Eropa]” di mana wilayah timurnya kini semakin lama semakin jauh berada di bawah kendali Moskow. Churchill kemudian menyerukan perlu bersatunya negara-negara demokrasi Barat guna menghadapi makin meluasnya ekspansi komunis. Menanggapi pernyataan Churchill tersebut, Stalin mengatakan bahwa pidato itu adalah “sebuah pernyataan perang” antara negara-negara ( Eropa) Timur yang komunis melawan negara-negara Barat yang kapitalis.20
Karena Moskow menanggapi dengan cara yang sama terhadap kecurigaan dan rasa tidak percaya Barat, perbedaan Timur-Barat makin melebar dan membawa dunia pada ketegangan global pasca-perang yang makin meruncing. Atas perkembangan internasional yang baru ini, sejarawan Melvyn Dubofsky dan Athan Theoharis menulis:
Para pejabat Amerika Serikat dan Soviet mulai saling menyerang tujuan pasca-perang lawan mereka. Pejabat-pejabat Amerika melihat bahwa Soviet sedang berusaha mengamankan wilayah barat Rusia dengan mengendalikan wilayah Baltik, Eropa Timur, dan negara-negara Balkan sebagai bagian dari rencana Kremlin untuk menyebarkan komunisme ke segala penjuru dunia. Sementara itu para pemimpin Soviet memandang munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan adidaya dunia sekaligus merupakan ancaman bagi keamanan Rusia. Sikap saling curiga ini menandai memburuknya hubungan antara dua negara yang selama perang [Dunia Kedua] merupakan sekutu. Kedua pihak saling menyerang tujuan pihak lawan, tetapi tanpa mengambil tindakan militer ...21
Meskipun kedua belah pihak tidak ada yang memiliki rencana jelas untuk menggunakan tindakan militer langsung, mereka terus-menerus menafsirkan setiap langkah yang diambil pihak lain sebagai ancaman yang perlu dibalas. Perbedaan ini tidak hanya terumuskan dalam istilah-istilah politis dan ekonomis yang dilontarkan oleh kedua belah pihak, melainkan juga dalam retorika ideologis dan moral mereka. Walaupun tidak sampai terjadi konfl ik
militer langsung, masing-masing pihak terus mempersiapkan diri untuk membalas jika sewaktu-waktu pihak lain menyatakan perang. Genderang Perang Dingin telah ditabuh.
Ketika Perang Dingin mulai sungguh-sungguh berlangsung, pemerintahan Truman merumuskan berbagai kebijakannya berdasarkan apa yang disebut “keamanan nasional” (national
security), di mana Uni Soviet dipandang sebagai ancaman
militer terdekat.22 Pada waktu itulah pemerintahan Truman merasakan perlunya membentuk sebuah persekutuan baru untuk “membendung” laju penyebaran Komunisme, khususnya di Eropa Barat, di mana ekspansi komunis dipandang semakin cepat berkat bertambah populernya partai-partai komunis. Itulah yang kemudian disebut sebagai “Containment Policy” atau politik pembendungan yang merupakan bagian pokok dari Doktrin Truman untuk membendung laju komunisme internasional. Selanjutnya pemerintahan Truman juga meluncurkan sebuah program bantuan ekonomi yang disebut Program Pemulihan Eropa ( ERP, European Recovery Program). Program ini dikenal sebagai
Marshall Plan atau Rencana Marshall, karena untuk pertama kali
secara publik diumumkan oleh Menteri Luar Negeri A.S. waktu itu, yakni George C. Marshall, pada tanggal 5 Juni 1947. Marshall Plan menyediakan bantuan dalam jumlah yang sangat besar untuk membangun kembali perekonomian Eropa Barat yang hancur akibat perang. Hingga akhir tahun 1948, Belanda, misalnya, menerima bantuan senilai hampir US$300 juta bersama paling tidak US$300 juta dalam bentuk kredit Bank Ekspor-Impor, US$130 juta pinjaman untuk membeli persediaan surplus perang Amerika, US$190 juta untuk keperluan sipil, dan US$61 juta untuk kepentingan para pejabat kolonial Belanda di Indonesia.23
Bantuan pemerintahan Truman kepada Belanda sangat penting bagi kebijakannya terhadap Indonesia. Mengingat bahwa bantuan ekonomi kepada Belanda menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari upaya rekonstruksi ekonomi Eropa. Akibatnya pemerintahan Truman merasa perlu mendukung usaha Belanda untuk menguasai kembali Indonesia. Dengan melakukan hal itu pemerintahan Truman berharap untuk mendapatkan dukungan Belanda untuk menghambat penyebaran komunisme di Eropa Barat, dan sekaligus untuk dapat mengurangi jumlah bantuan ekonominya kepada Belanda. Sebaliknya, menentang upaya Belanda untuk mengklaim kembali kontrol atas Indonesia justru dapat menghalangi terwujudnya tujuan itu. Ketika dihadapkan pada pilihan apakah akan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia atau keberpihakan Belanda kepada A.S. di dalam antagonisme Perang Dingin, ternyata para pejabat pemerintahan Truman lebih memilih untuk berpihak kepada Belanda—meskipun ini berarti mengorbankan keinginan jutaan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan penuh. Namun demikian, dalam penampilan publik para pejabat pemerintahan Truman memberi kesan bahwa mereka menganut sikap “netral” dalam perselisihan antara Belanda dan Indonesia.24
Sikap pro-Belanda pemerintahan Truman semakin diperkuat oleh keraguan atas kemampuan para pemimpin nasional Indonesia untuk memimpin dan mengatur sebuah negara merdeka. Banyak pejabat dalam pemerintahan Truman percaya bahwa sebagian besar rakyat Indonesia tidak tertarik pada dunia politik dan tidak akan sanggup untuk mengatur diri mereka sendiri selama beberapa dasawarsa ke depan.25 Mereka lebih jauh mengira bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan sesuatu yang akan sulit terwujud, sedang pemulihan kembali kekuasaan Belanda atas Indonesia lebih masuk akal.26 Keraguan ini menjadi semakin kuat oleh kekhawatiran pemerintahan Truman bahwa para pemimpin nasional Indonesia itu nantinya akan membawa Indonesia kepada komunisme. Laporan-laporan pejabat Belanda ke Washington terus-menerus mengobarkan ketakutan bahwa Bung Karno, Hatta,
Syahrir, dan para pemimpin Indonesia yang lain telah terpengaruh oleh ideologi komunis atau mungkin bahkan telah menjadi komunis sepenuhnya. Belanda, tentu saja, dengan sengaja tidak menjelaskan latar belakang politik para pemimpin itu, misalnya bahwa kecondongan kiri mereka pada dasarnya merupakan reaksi terhadap sejarah panjang penjajahan Belanda atas rakyat Hindia Belanda. Belanda juga tidak menjelaskan bahwa, sementara gagasan-gagasan Marxis membantu para pemimpin Indonesia itu memahami penderitaan rakyat dengan lebih baik, sebagian besar dari para pemimpin tersebut sama sekali bukan komunis.
Banyak pejabat dalam pemerintahan Truman menerima begitu saja pernyataan Belanda bahwa para pemimpin Indonesia adalah orang-orang berhaluan komunis. Dengan pandangan dunia yang hitam-putih akibat pengaruh Perang Dingin, mereka melihat bahwa karena para pemimpin Indonesia itu berideologi kiri, mereka pasti juga komunis; dan karena mereka itu komunis, mereka tentu akan berpihak pada Blok Soviet untuk melawan kepentingan Barat. Lebih jauh mereka percaya bahwa cara terbaik untuk menghadapi situasi di Indonesia adalah dengan mempersilakan para pemimpin kolonial Belanda—yang mereka pandang lebih mampu daripada para pemimpin Indonesia—merebut kembali bekas jajahan mereka. Walter Ambrose Foote adalah salah seorang pejabat Amerika yang memegang pandangan ini. Sebagai Konsul Jenderal A.S. di Batavia selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, Foote mendukung posisi Belanda, sekaligus meragukan kemampuan para pemimpin Indonesia. Dia melukiskan para pemimpin Indonesia tidak lebih dari sekelompok orang radikal yang berhaluan komunis.27
Namun demikian, tidak semua pejabat A.S. memiliki pandangan seperti itu. Sejak paro kedua dasawarsa 1920-an, misalnya, sejumlah pejabat Amerika telah menentang penggambaran Belanda tentang para pemimpin Indonesia sebagai orang-orang komunis. Ketika menanggapi laporan bahwa sebuah pergolakan yang terjadi Jawa
Barat merupakan pemberontakan komunis, Konsul Jenderal A.S. di Batavia, Chas L. Hoover, menulis kepada Menteri Luar Negeri Amerika bahwa rata-rata rakyat Indonesia “tidak memiliki pengetahuan sedikit pun tentang apa itu komunisme ...” Hoover selanjutnya mencurigai bahwa sebenarnya orang-orang Belanda “mengangkat isu komunisme dengan maksud untuk mengalihkan perhatian dari ketidakmampuan mereka sebagai penguasa.”28
Konsul A.S. di Batavia yang lain, Albert E. Clattenberg, pada tahun 1930 mengkritik penggambaran Belanda bahwa setiap orang Indonesia yang menentang pemerintah kolonial adalah komunis. Di dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada Menteri Luar Negeri A.S., dia menulis:
Jika di kantor ini ada seorang pegawai pribumi yang sedang belajar bahasa Inggris dan mengartikan kata brute sebagai “orang kulit putih”, itu tidak berarti bahwa si pribumi tersebut adalah seorang komunis. Hal itu semata-mata hanya berarti bahwa di sini orang kulit putih sedang kehilangan statusnya sebagai setengah-dewa, sebagaimana yang terjadi di Filipina beberapa tahun yang lalu.29
Pada bulan April 1947, ketika menanggapi laporan Belanda ten . tang kebangkitan kepemimpinan yang berorientasi pada Soviet dan Komunisme di Indonesia, Kepala Divisi Urusan Eropa Utara Hugh S. Cumming, Jr. dan Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Abbot Low Moffat menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kata mereka: “Kita justru berharap bahwa A.S. dapat membantu mengkonsolidasikan dan memperkuat kepemimpinan Indonesia yang ada sekarang ini. Kami yakin bahwa para pemimpin itu berhaluan sosialis dan bukan komunis, nasionalis dan bukan Soviet-sentris. Dukungan kita pada mereka akan menghapus kondisi-kondisi yang membuat efektifnya infi ltrasi komunis.”30
Meski ada pandangan-pandangan yang lebih lunak seperti ini, hingga tahun 1948 pemerintahan Truman tetap menerima penggambaran para pemimpin Indonesia sebagai komunis, dan
mengabaikan suara-suara yang menentangnya. Ketakutan akan dominasi komunis serta meluasnya pengaruh Soviet di Indonesia terus menjadi landasan bagi kebijakan pemerintahan Truman terhadap Indonesia. Dengan mendasarkan berbagai kebijakannya terhadap Indonesia dari sudut pandang meningkatnya ketegangan global pasca-Perang Dunia Kedua antara Barat dan Timur, dan dengan memandang Belanda di Indonesia sebagai pendukung perjuangan Blok Barat melawan komunisme, pemerintahan Truman mendorong Indonesia masuk ke dalam bayang-bayang Perang Dingin. Paradoksnya, walaupun Indonesia tidak pernah menjadi ajang utama bagi berlangsungnya Perang Dingin, kebijakan pemerintahan Truman terhadap Indonesia semakin tidak ditentukan oleh kondisi objektif yang ada di Indonesia sendiri, melainkan oleh hasrat Amerika untuk memenangkan Perang Dingin.