• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perang Utah dan Pembunuhan Masal Mountain Meadows

Dalam dokumen Buku Pedoman Guru Landasan Pemulihan (Halaman 158-162)

Ketegangan yang Meningkat Menuntun pada Perang Utah

Tiga tahun setelah para pionir Orang Suci Zaman Akhir yang pertama mencapai Lembah Salt Lake, pemerintah Amerika Serikat mengorganisasi Teritorial Utah dan menunjuk Brigham Young sebagai gubernur pertama atas teritorial tersebut. Pada pertengahan 1857, pemimpin Orang Suci Zaman Akhir mendengar rumor bahwa pemerintah federal mungkin menggantikan Brigham Young dengan gubernur Teritorial Utah yang baru, yang akan didukung oleh sejumlah besar pasukan federal. Tanggal 24 Juli 1857, Presiden Brigham Young sedang bersama sekelompok Orang Suci merayakan peringatan 10 tahun tibanya mereka di Lembah Salt Lake ketika dia menerima konfirmasi akan berita sebelumnya bahwa barisan angkatan bersenjata sedang mendatangi Salt Lake City.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketidaksepakatan dan kesalahpahaman dalam komunikasi telah menghasilkan peningkatan ketegangan antara Orang Suci Zaman Akhir dan pejabat pemerintah Amerika Serikat. Orang Suci ingin dipimpin oleh pemimpin pilihan mereka sendiri dan telah menolak pejabat-pejabat yang ditunjuk federal yang tidak menjunjung nilai-nilai yang sama dengan mereka, yang sebagian di antaranya tidak jujur, korup, dan amoral. Sebagian dari pejabat federal percaya bahwa tindakan dan sikap Orang Suci tersebut berarti bahwa mereka memberontak terhadap pemerintah Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat James Buchanan mengirimkan kira-kira 2.500 serdadu ke Salt Lake City untuk mendampingi seorang gubernur yang baru agar aman tiba di Utah dan untuk menghentikan apa yang dia pikir adalah pemberontakan di antara Orang Suci. Keputusan ini dibuat tanpa informasi yang akurat mengenai situasi di Utah (lihat Buku Pedoman Siswa Sejarah Gereja dalam Kegenapan Waktu, edisi ke-2 [buku pedoman CES, 2003], 368–371).

Bersiap untuk Mempertahankan Teritorial

Dalam khotbah kepada Orang Suci, Presiden Young dan pemimpin Gereja lainnya menggambarkan pasukan yang datang sebagai musuh. Mereka takut bahwa pasukan tersebut dapat mengusir keluar Orang Suci dari Utah, seperti mereka pernah diusir dari Ohio, Missouri, dan Illinois. Presiden Young, yang selama bertahun-tahun telah meminta Orang Suci untuk menghemat biji-bijian, memperbarui instruksinya agar mereka akan memiliki makanan untuk dimakan jika mereka perlu meloloskan diri

dari pasukan tersebut. Sebagai gubernur Teritorial Utah, dia juga mengarahkan militer teritorial agar bersiap untuk mempertahankan teritorial tersebut.

Konflik dengan Iring-Iringan Gerobak Wagon para Emigran

Suatu iring-iringan gerobak wagon para emigran yang melakukan perjalanan ke barat dari Arkansas menuju Kalifornia memasuki Utah tepat saat Orang Suci Zaman Akhir sedang bersiap untuk mempertahankan teritorial tersebut dari pasukan Amerika Serikat yang sedang datang. Sebagian anggota iring-iringan gerobak wagon tersebut menjadi frustrasi karena mereka mengalami kesulitan membeli biji-bijian yang amat diperlukan dari Orang Suci, yang telah diinstruksikan untuk menghemat biji-bijian mereka. Para emigran juga terlibat konflik dengan Orang Suci yang tidak ingin kuda dan ternak iring-iringan gerobak wagon tersebut yang berjumlah besar mengonsumsi sumber makanan dan air yang Orang Suci butuhkan untuk hewan-hewan mereka sendiri.

Ketegangan pecah di Cedar City, permukiman terakhir di Utah dalam perjalanan menuju Kalifornia. Konfrontasi terjadi antara sebagian anggota iring-iringan gerobak wagon dan sebagian Orang Suci Zaman Akhir. Sebagian anggota iring-iringan gerobak wagon tersebut mengancam untuk bergabung dengan pasukan pemerintah yang sedang datang melawan Orang Suci. Meskipun kapten dari iring-iringan gerobak wagon tersebut menghardik rekan-rekannya karena melontarkan ancaman ini, sebagian pemimpin dan pemukim Cedar City menganggap para emigran ini sebagai musuh. Rombongan gerobak wagon tersebut meninggalkan kota hanya sekitar satu jam setelah tiba, tetapi sebagian pemukim dan pemimpin di Cedar City ingin mengejar dan menghukum orang-orang yang telah menyinggung perasaan mereka.

Memperuncing Konfrontasi

Karena Orang Suci ini tidak menyelesaikan konflik mereka dengan para imigran dengan cara Tuhan, situasi menjadi jauh lebih parah. Isaac Haight, walikota, mayor militer, dan presiden pasak Cedar City, meminta izin dari komandan militer, yang tinggal di permukiman Parowan di dekat sana, untuk memanggil keluar militer untuk menghadapi para pelanggar dari iring-iringan gerobak wagon tersebut. Komandan militernya, William Dame, seorang anggota Gereja, menasihati Isaac Haight untuk mengabaikan ancaman para emigran tersebut. Alih-alih mengikuti nasihat ini, Isaac Haight dan pemimpin Cedar City lainnya memutuskan untuk membujuk sebagian Indian setempat untuk menyerang iring-iringan gerobak wagon tersebut dan mencuri ternak mereka sebagai cara

menghukum para emigran tersebut. Isaac Haight meminta John D. Lee, anggota Gereja setempat dan mayor militer, untuk memimpin penyerangan ini, dan keduanya berencana untuk menyalahkan orang Indian akan perbuatan tersebut.

Serangan terhadap para Emigran

Isaac Haight menyajikan rencana untuk menyerang iring-iringan gerobak wagon tersebut kepada dewan yang terdiri dari pemimpin setelah di Gereja, komunitas, dan militer. Sebagian anggota dewan sangat tidak sepakat dengan rencana tersebut dan bertanya kepada Haight apakah dia telah berembuk dengan Presiden Brigham Young mengenai masalah tersebut. Mengatakan bahwa dia belum melakukannya, Haight sepakat untuk mengirim seorang utusan, James Haslam, ke Salt Lake City dengan sepucuk surat yang menjelaskan situasinya dan menanyakan apa yang hendaknya dilakukan. Namun, karena Salt Lake City terletak kira-kira 250 mil dari Cedar City, akan dibutuhkan sekitar seminggu menunggang kuda dengan cepat bagi si utusan untuk mencapai Salt Lake City dan kembali ke Cedar City dengan instruksi Presiden Young.

Tidak lama sebelum Isaac Haight mengirimkan suratnya dengan si utusan, John D. Lee serta sekelompok orang Indian menyerang perkemahan para emigran di tempat yang disebut Mountain Meadows. Lee memimpin serangan tersebut tetapi menyembunyikan identitasnya sehingga tampak seolah-olah hanya orang Indian yang terlibat. Sebagian emigran terbunuh atau terluka, dan sisanya berhasil mengusir penyerang mereka, memaksa Lee dan para Indian tersebut untuk mundur. Para

emigran cepat menarik gerobak wagon mereka membentuk lingkaran, atau pagar berkeliling yang rapat, untuk perlindungan. Dua serangan tambahan menyusul selama pengepungan lima hari terhadap iring-iringan gerobak wagon tersebut.

Pada suatu ketika, orang-orang militer Cedar City mendapati adanya dua pria emigran yang berada di luar pagar berkeliling gerobak wagon mereka. Orang-orang militer tersebut menembaki mereka, membunuh satu orang. Pria lainnya melarikan diri dan membawa berita ke perkemahan gerobak wagon bahwa orang kulit putih juga terlibat dalam penyerangan terhadap mereka. Mereka yang merencanakan serangan tersebut kini tertangkap basah dalam tipu daya mereka. Jika para emigran diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan ke Kalifornia, berita akan tersebar bahwa Orang Suci Zaman Akhir bertanggung jawab atas serangan terhadap iring-iringan gerobak wagon tersebut. Para konspirator takut berita ini akan mendatangkan konsekuensi negatif terhadap diri mereka dan orang-orang mereka.

Pembunuhan Masal Mountain Meadows

Dalam upaya untuk mencegah tersebarnya berita bahwa Orang Suci Zaman Akhir terlibat dalam serangan terhadap iring-iringan gerobak wagon, Isaac Haight, John D. Lee, dan pemimpin Gereja dan militer lainnya membuat rencana untuk membunuh semua emigran yang tersisa kecuali anak kecil. Menindaki rencana ini, John D. Lee menghampiri para emigran tersebut dan mengatakan tentara militer akan melindungi mereka dari serangan lebih lanjut dengan menuntun mereka agar aman kembali ke Cedar City. Sewaktu para emigran sedang berjalan kembali menuju Cedar City, orang-orang militer tersebut berbalik dan menembaki mereka. Sebagian orang Indian yang direkrut oleh para pemukim bergegas dari tempat persembunyian mereka untuk bergabung dalam serangan tersebut. Dari sekitar 140 emigran yang merupakan bagian dari iring-iringan gerobak wagon tersebut, hanya 17 anak kecil yang dibiarkan hidup.

Dua hari setelah pembunuhan masal tersebut, James Haslam tiba di Cedar City dengan pesan jawaban Presiden Young, menginstruksikan pemimpin setempat untuk memperkenankan iring-iringan gerobak wagon tersebut pergi dalam damai. Ketika Haight membaca kata-kata Young, dia terisak bagaikan anak kecil dan hanya mampu mengucapkan, ‘Terlambat, terlambat’” (Richard E. Turley Jr., “The Mountain Meadows Massacre,” Ensign, September 2007, 20).

Konsekuensi Tragis

Pembunuhan Masal Mountain Meadows bukan saja menghasilkan kematian sekitar 120 korban, tetapi itu juga menyebabkan penderitaan besar bagi anak-anak yang selamat dan sanak saudara lainnya dari para korban. Beberapa Orang Suci Zaman Akhir menampung dan mengurus anak-anak emigran yang selamat dari pembunuhan masal tersebut. Pada tahun 1859, pejabat federal mengambil alih hak asuh anak-anak ini dan mengembalikan mereka kepada sanak saudara di Arkansas. Orang Indian Paiute juga menderita karena dipersalahkan secara tidak adil atas tindakan kejahatan tersebut.

Pemimpin Gereja Mendengar mengenai Pembunuhan Masal Tersebut

“Meskipun Brigham Young dan pemimpin Gereja lainnya di Salt Lake City mendengar kabar mengenai pembunuhan masal tersebut segera setelah itu terjadi, pemahaman mereka akan sejauh mana keterlibatan para pemukim dan rincian mengerikan dari tindakan kejahatan tersebut datang sedikit demi sedikit dengan berjalannya waktu. Tahun 1859 mereka membebastugaskan dari pemanggilan mereka presiden pasak Isaac Haight dan anggota Gereja terkemuka lainnya di Cedar City yang memegang peranan dalam pembunuhan masal tersebut. Tahun 1870 mereka

mengekskomunikasi Isaac Haight dan John D. Lee dari Gereja.

Pada tahun 1874 dewan juri teritorial mendakwa sembilan orang karena peranan mereka dalam pembunuhan masal tersebut. Kebanyakan dari mereka pada akhirnya ditangkap, meskipun hanya Lee yang disidang, divonis, dan dieksekusi untuk tindakan kejahatan tersebut. Seorang pria lain yang

didakwa berbalik menjadi bukti negara bagian [secara sukarela bersaksi dan memberikan bukti terhadap tertuduh lainnya], dan yang lainnya menghabiskan bertahun-tahun lari dari hukum. Orang militer lainnya yang melakukan pembunuhan masal tersebut menjalani sepanjang sisa hidup mereka dengan perasaan bersalah yang mengerikan dan mimpi buruk yang berulang mengenai apa yang telah mereka lakukan dan lihat” (Richard E. Turley Jr., “The Mountain Meadows Massacre,” Ensign, September 2007, 20).

Peringatan ke-150 Pembunuhan Masal Mountain Meadows

Presiden Henry B. Eyring dari Presidensi Utama berkata:

“Tanggung jawab atas [Pembunuhan Masal Mountain Meadows] terletak pada para pemimpin setempat Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di kawasan-kawasan dekat Mountain Meadows yang juga memegang kedudukan sipil dan militer serta para para anggota Gereja yang bertindak di bawah arahan mereka …

… Injil Yesus Kristus yang kita anut, muak dengan pembunuhan berdarah dingin terhadap pria, wanita, dan anak. Sesungguhnya, Injil menganjurkan kedamaian dan pengampunan. Apa yang dilakukan [di Mountain Meadows] dahulu kala oleh anggota Gereja kita mewakili penyelewengan yang mengerikan dan tak termaafkan dari ajaran dan perilaku Kristiani .… Tidak diragukan Keadilan Ilahi akan menjatuhkan hukuman yang pantas terhadap mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan masal tersebut …

… Semoga Allah Surga, yang kita adalah putra dan putri-Nya, memberkati kita untuk menghormati mereka yang tewas di sana dengan mengulurkan kepada satu sama lain kasih yang murni dan semangat pengampunan yang dipersonifikasikan oleh Putra Tunggal-Nya” (“150th Anniversary of Mountain Meadows Massacre,” 11 September 2007, mormonnewsroom.org/article/

150th-anniversary-of-mountain-meadows-massacre).

Wahyu mengenai Imamat

Dalam dokumen Buku Pedoman Guru Landasan Pemulihan (Halaman 158-162)