BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.11. Perangkat Framing Pan dan Kosicki
Pada penelitian ini akan menggunakan analisis framing dari Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki yang mengoperasionalkan empat dimensi struktural teks berita sebagai perangkat framing : sintaksis, skrip, tematik, dan retoris.
Model ini berasumsi bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi ide. Frame merupakan suatu ide yang dihubungkan dengan elemen yang berbeda dalam teks berita kutipan sumber latar informasi, pemakaian kata atau kalimat tertentu- kedalam teks berita secara keseluruhan. Frame berhubungan dengan makna. Bagaimana seseorang memaknai suatu peristiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang dimunculkan dalam teks.
Dalam pendekatan ini perangkat framing dibagi menjadi empat bagian struktur besar yaitu :
1. Sintaksis
Struktur sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun peristiwa -pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa- kedalam bentuk susunan, kisah berita. Dengan demikian, struktur sintaksis ini bisa diamati dari bagan berita antara lain :
a. Headline
Headline merupakan aspek sintaksis dari berita dengan tingkat kemenonjolan yang tinggi menunjukkan kecenderungan berita. Pembaca cenderung lebih mengingat headline yang dipakai daripada bagian berita. Headline mempunyai framing yang kuat (Eriyanto, 2002 : 257).
Posisi judul dianggap penting karena sekilas pembaca akan membuka atau melihat media massa, maka yang akan terbaca lebih dahulu adalah judulnya. Judul berita (Headline) pada dasarnya mempunyai tiga fungsi yaitu : mengiklankan berita atau cerita, meringkas atau mengikhtisar cerita, dan memperbagus halaman. Dalam judul berita tidak diizinkan mencantumkan sesuatu yang bersifat pendapat atau opini (Anwar dalam Sobur, 2002: 76).
b. Lead
Lead yang baik umumnya memberikan sudut pandang dari berita, menunjukkan perspektif tertentu dari suatu peristiwa yang diberitakan (Eriyanto, 2002 : 258). Lead adalah intisari berita yang mempunyai 3 fungsi, yaitu : (1) menjawab rumus 5W +1H (who, what, where, when, why, how), (2) menekankan news feature of the story dengan menempatkan pada posisi awal, (3) memberikan identifikasi cepat tentang orang, tempat, kejadian yang dibutuhkan bagi pemahaman cepat berita (Sobur, 2002 : 77).
Dalam menulis berita biasanya dikemukakan latar belakang atas peristiwa yang ditulis. Latar yang ditulis menentukan kearah mana pandangan khalayak hendak dibawa. Ini merupakan cerminan ideologis, dimana komunikator dapat menyajikan latar belakang dapat juga tidak, bergantung pada kepentingan mereka (Sobur, 2002: 79).
Latar umumnya ditampilkan diawal sebelum pendapat wartawan yang sebenarnya muncul dengan maksud mempengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapat wartawan sangat beralasan. Karena itu latar membantu menyelidiki bagaimana memberi pemaknaan atas suatu peristiwa (Eriyanto, 2002: 258).
d. Kutipan Sumber
Pengutipan sumber berita dalam penulisan berita dimaksudkan untuk membangun obyektifitas prinsip keseimbangan dan tidak memihak. Ini juga merupakan bagian berita yang menekankan bahwa apa yang ditulis oleh wartawan bukan pendapat wartawan semata, melainkan pendapat dari orang lain yang mempunyai otoritas tertentu (Eriyanto, 2002 : 259).
2. Skrip
Struktur skrip berhubungan dengan bagaimana media mengisahkan atau menceritakan peristiwa dalam bentuk berita. Pola pengorganisasian peristiwa dapat dilihat dari hadirnya komponen-komponen atau unsur kelengkapan berita yang sejalan dengan kaidah-kaidah jurnalistik yaitu bentuk 5W + 1 H. Penerapan penulisan berita yang disusun sebagai suatu
cerita dengan strategi cara bercerita tertentu, dilakukan institusi media, dalam hal ini oleh wartawan merupakan salah satu strategi wartawan dalam mengkonstruksi dan memberi penekanan pada berita.
Bentuk umum dan struktur skrip adalah pola 5W + 1 H, antara lain : What : Peristiwa apa yang sedang terjadi ?
Who : Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu ? When : Kapan peristiwa itu terjadi ?
Where : Dimana peristiwa itu terjadi ? Why : Mengapa peristiwa itu terjadi ? How : Bagaimana peristiwa itu terjadi ?
3. Tematik
Struktur tematik berhubungan dengan cara wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa kedalam proposisi, kalimat, atau hubungan antar kalimat yang membentuk secara keseluruhan. Struktur ini akan melihat bagaimana pemahaman itu diwujudkan kedalam bentuk yang lebih kecil. Ada beberapa elemen yang dapat diamati dari perangkat tematik ini antara lain :
a. Detail
Elemen detail berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang (komunikator). Komunikasi akan menampilkan secara berlebihan informasi yang menguntungkan dirinya atau citra yang baik. Sebaliknya, ia akan menampilkan informasi dalam jumlah sedikit
(bahkan kalau perlu tidak disampaikan) kalau hal itu merugikan dirinya. Detail berhubungan dengan apakah sisi informasi tertentu diuraikan secara panjang atau tidak (Sobur, 2002: 79).
b. Maksud kalimat, hubungan
Elemen maksud melihat apakah kalimat itu disampaikan secara eksplisit ataukah tidak, apakah fakta disampaikan secara telanjang ataukah tidak. Umumnya infomiasi yang menguntungkan komunikator akan diuraikan secara eksplisit dan jelas, sebaliknya informasi yang merugikan akan diuraikan secara tersamar, implisit dan tersembunyi. Tujuan akhirnya adalah kepada publik hanya disampaikan informasi yang menguntungkan komunikator (Sobur, 2002 : 79).
c. Nominalisasi antar kalimat
Dengan melakukan nominalisasi, dapat memberi sugesti kepada khalayak adanya generalisasi. Hal ini berhubungan dengan adanya pertanyaan apakah komunikator memegang obyek sebagai sesuatu yang tunggal berdiri sendiri ataukah sebagai suatu kelompok (Sobur, 2002 : 81).
d. Koherensi
Koherensi pertalian atau jalinan antar kata, proposisi atau kalimat. Dua buah kalimat atau proposisi yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan dengan menggunakan koherensi. Sehingga fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan. Pertama, koherensi sebab akibat. Proposisi atau kalimat satu dipandang akibat atau sebab dari proposisi lain. Proposisi sebab akibat umumnya ditandai
dengan kata penghubung “sebab” atau “karena”. Kedua, koherensi penjelas. Proposisi atau kalimat satu dilihat sebagai penjelas proposisi atau kalimat lain. Koherensi penjelas ditandai dengan pemakaian kata hubung “dan” atau “lalu”. Ketiga, koherensi pembeda. Proposisi atau kalimat satu dipandang sebagai kebalikan atau lawan dari kalimat atau proposisi lain. Koherensi pembeda ditandai dengan kata hubung “dibandingkan” atau “sedangkan” (Eriyanto, 2004: 263).
e. Bentuk Kalimat
Berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Logika kausalitas kalau diterjemahkan kedalam bahasa menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Bentuk kalimat ini bukan hanya persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang yang menjadi subjek dari pernyataan, sedangkan dalam kalimat pasif, seseorang menjadi objek dari pernyataannya (Sobar, 2002:81).
f. Kata Ganti
Kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Pengulangan kata yang sama tanpa suatu tujuan yang jelas akan menimbulkan rasa yang kurang enak. Pengulangan hanya diperkenankan kalau kata itu dipentingkan atau mendapat penekanan (Sobur, 2002:82).
4. Retoris
Struktur retoris berhubungan dengan cara wartawan menekankan arti tertentu. dengan kata lain, struktur retoris melihat pemakaian pilihan kata, idiom, grafik, gambar yang juga dipakai guna memberi penekanan pada arti tertentu. Ada beberapa elemen struktur retoris, antara lain :
a. Leksikon
Pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa. Pilihan kata-kata yang dipakai semata-mata hanya karena kebetulan, tetapi secara ideologis menunjukkan bagaimana pemaknaan seseorang terhadap fakta atau realitas Pemakaian kata-kata tersebut seringkali diiringi dengan penggunaan label-label tertentu (Eriyanto, 2002 : 264).
b. Grafis
Dalam teks berita, grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain. Pemakaian huruf cetak tebal, huruf miring. Huruf besar, pemakaian garis bawah, pemberian warna, foto, Pemakaian caption, raster grafik, gambar, table atau efek lain untuk mendukung arti penting suatu pesan (Eriyanto, 2004 : 266).
c. Metafora
Dalam teks berita seorang komunikator tidak hanya menyampaikan pesan pokok, tetapi juga kiasan, ungkapan, metafora, yang dimaksudkan sebagai ornament atau bumbu dari suatu teks. Tetapi, pemakaian metafora tertentu boleh jadi menjadi petunjuk utama untuk mengerti
suatu teks. Metafora tertentu dipakai komunikator secara strategis sebagai landasan befikir, alasan pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik (Eriyanto, 2004: 259).
d. Pengandaian
Pengandaian adalah strategi lain yang dapat memberi citra tertentu ketika diterima khalayak. Elemen pengandaian merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makan suatu teks. Pengandaian hadir dengan memberi pernyataan yang dipandang terpercaya dan karenanya tidak perlu dipertanyakan (Sobur, 2002:79).
Tabel 2.1
KERANGKA FRAMING PAN DAN KOSICKI
STRUKTUR PERANGKAT FRAMING UNIT YANG DIAMATI SINTAKTIS
Cara wartawan menyusun fakta
1. Skema berita Headline, lead, latar informasi, kutipan, sumber, pernyataan, penutup SKRIP Cara wartawan mengisahkan fakta 2. Kelengkapan berita 5W + 1H
Cara wartawan menulis fakta 3. Detail 4. Maksud kalimat, hubungan 5. Nominalisasi antar kalimat 6. Koherensi 7. Bentuk kalimat 8. Kata ganti Paragraf, proposisi RETORIS Cara wartawan menekankan berita 9. Leksikon 10. Grafis 11. Metafora 12. Pengandaian
Kata, idiom, gambar, foto, grafik