• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Perangkat Hukum dan Peraturan

5.1.1 Kebijakan Nasional Pengelolaan Sampah

Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Amanat Undang-Undang Dasar tersebut memberikan konsekuensi bahwa pemerintah wajib memberikan pelayanan publik dalam pengelolaan sampah. Hal itu membawa konsekuensi hukum bahwa pemerintah merupakan pihak yang berwenang dan bertanggung jawab di bidang pengelolaan sampah meskipun secara operasional pengelolaannya dapat bermitra dengan badan usaha. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Dearah Kabupaten/Kota, sub bidang persampahan termasuk dalam urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum. Serta berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, bidang pekerjaan umum termasuk dalam perumpunan urusan yang diwadahi dalam bentuk dinas. Untuk Kabupaten Bogor perangkat daerah yang berwenang dalam pelayanan dan pengelolaan persampahan adalah berbentuk dinas, sehingga sudah sesuai dengan PP 38 Tahun 2007 dan PP 41 Tahun 2007.

KTT Millenium PBB bulan September tahun 2000 menghasilkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals (MDGs) dalam rangka mewujudkan lingkungan kehidupan yang lebih baik. Salah satu target dan sasaran dari MDGs adalah peningkatan jumlah masyarakat untuk mendapakan akses pelayanan termasuk persampahan hingga mencapai 70% penduduk pada tahun 2015. Kesepakatan MDGs tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Pemerintah Indonesia dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP). KSNP-SPP digunakan sebagai pedoman untuk pengaturan, penyelengaraan dan pengembangan sistem

pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan, baik ditingkat pusat maupun daerah sesuai dengan kondisi daerah setempat. Sasaran utama kebijakan yang hendak dicapai hingga tahun 2010 adalah: Tercapainya kondisi kota dan lingkungan yang bersih termasuk saluran drainase perkotaan, pencapaian pengurangan kuantitas sampah sampai dengan 20 %, pencapaian cakupan pelayanan 60 % penduduk, tercapainya kualitas pelayanan yang sesuai atau mampu melampaui standar minimal persampahan, tercapainya peningkatan kualitas pengelolaan TPA menjadi sanitary landfill untuk kota metropolitan dan kota besar, serta controlled landfill untuk kota sedang dan kecil, serta tidak dioperasikannya TPA secara open dumping, tercapainya peningkatan kerja institusi pengelola persampahan yang mantap dan berkembangnya pola kerjasama regional. Hingga saat ini sasaran yang dicapai oleh Kabupaten Bogor masih belum sesuai dengan kebijakan nasional tersebut, diantaranya mengenai pelayanan persampahan yang baru mencapai 24, 17 % dari timbulan sampah dan belum dioperasikannya TPA secara sanitary landfill di TPA Galuga.

Peraturan perundangan lain yang terkait dengan pengelolaan sampah adalah :

1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;

2. Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) Kawasan Perumahan;

3. SNI Nomor 19-2454-2002 tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan;

4. SNI M-36-1991-03 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan.

Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 lebih mendorong kepada masyarakat untuk ikut langsung berpartisipasi dalam pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah tersebut meliputi kegiatan: a) pembatasan timbulan sampah; b) pendauran ulang sampah; dan/atau c) pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan penanganan sampah termasuk kegiatan

pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.

5.1.2 Kebijakan Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bogor

Kebijakan pembangunan Kabupaten Bogor berkaitan erat dengan kebijakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2008-2013. Kebijakan yang berkaitan dengan penanganan dan pengelolaan persampahan dituangkan dalam :

a. Misi ke-3 RPJMD yaitu Meningkatkan Infrastruktur dan Aksesibilitas Daerah yang Berkualitas dan Terintegrasi Secara Berkelanjutan. Salah satu sasaran dari Misi 3 ini adalah meningkatnya cakupan pelayanan persampahan.

b. Strategi pembangunan daerah bidang fisik lingkungan yaitu : Mengatasi lemahnya pengelolaan sampah terutama untuk mempertahankan potensi keunggulan Kabupaten Bogor di bidang pariwisata dan meningkatkan sanitasi dan kesehatan masyarakat.

c. Kebijakan pembangunan urusan perumahan dan pemukiman yaitu pembangunan prasarana pengelolaan sampah, tempat pemrosesan akhir sampah terpadu disertai dengan penerapan pola 3-R (Recycle = daur ulang;

Reduce = pengurangan; dan Reuse = pemakaian ulang) dari timbulan sampah;

adapun programnya adalah pengembangan kinerja pengelolaan persampahan.

d. Kebijakan pembangunan menurut Tata Ruang Wilayah yaitu Pengembangan Sistem Prasarana Lingkungan, yang salah satunya adalah pengembangan sarana tempat pengelolaan sampah.

Kebijakan yang berkaitan dengan persampahan sebenarnya juga sudah ditetapkan sebelumnya dalam Rencana Strategis Kabupaten Bogor Tahun 2003-2008 yaitu terdapat dalam sasaran dari Misi ke 5, yaitu bertambahnya jumlah TPA sampah dan sarana pengangkutan di masing- masing wilayah Barat, Tengah dan wilayah Timur. TPA yang melayani pembuangan sampah dan beroperasi di Kabupaten Bogor adalah TPA Galuga di Kecamatan Cibungbulang. Status kepemilikan lahan TPA Galuga adalah milik Pemerintah Kota Bogor dan pengelolaanya dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor. Pemerintah Kabupaten Bogor juga sedang mempersiapkan sebuah TPA untuk Tempat Pengelolaan

Sampah Terpadu (TPST) Regional yaitu TPST Nambo yang terletak di Kecamatan Klapanunggal. Sehingga sampai saat ini hanya ada satu TPA di wilayah barat sehingga masih tidak sesuai dengan Renstra Tahun 2003-2008 dan tidak sesuai dengan kebutuhan pelayanan di masyarakat.

Dalam kebijakan RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2008-2013 target peningkatan cakupan pelayanan sampah perkotaan hingga tahun 2013 adalah 31

%. Dengan penetapan sebesar 31 % tersebut maka akan terdapat kesenjangan sebesar 69% timbulan sampah yang belum dapat terlayani sehingga akan menimbulkan permasalahan yang harus diberikan alternatif penanganan masalah sampah.

Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor telah menerbitkan beberapa Peraturan Daerah yang dimaksud untuk mendukung terlaksananya kegiatan kebersihan dan persampahan di Kabupaten Bogor. Adapun dasar hukum yang berkaitan dengan pengelolaan persampahan dan kebersihan di Kabupaten Bogor adalah :

1. Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Ketertiban Umum;

2. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pembentukan Dinas Daerah;

3. Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor;

4. Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2008 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan.

5. Peraturan Bupati Nomor 64 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan dan Sanitasi Pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bogor.

6. Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2009 tentang Perubahan Peraturan Bupati Nomor 64 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan dan Sanitasi Pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bogor.

Dalam pelaksanaannya beberapa peraturan/landasan hukum yang telah diterbitkan tidak semua dijalankan sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan.

Misalnya pelaksanaan jum’at bersih yang seharusnya dilaksanakan secara rutin

setiap minggu dengan melibatkan hampir segala unsur, baik pegawai negeri sipil maupun masyarakat. Hal ini ternyata hanya dilaksanakan pada hari-hari Jum’at tertentu saja terutama yang berhubungan dengan hari-hari besar nasional dan saat adanya penilaian kota bersih atau pada saat timbulnya wabah penyakit seperti demam berdarah.

Dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2006, terdapat pelarangan terhadap setiap orang untuk membuang sampah tidak pada tempatnya termasuk ke sungai, saluran dan situ. Setiap pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dikenakan pidana kurungan atau denda. Ketentuan mengenai pelarangan membuang sampah di sembarang tempat termasuk di sungai juga banyak terjadi pelanggaran. Hal tersebut disebabkan karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah walaupun tingkat pengetahuan sudah cukup memadai, selain itu juga disebabkan karena belum mampunya pemerintah daerah dalam menyediakan sarana pelayanan kebersihan di setiap sudut wilayah di Kabupaten Bogor sehingga masyarakat masih membuang sampah ke sungai atau ke sembarang tempat.

Ketentuan mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah yang dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 mengatur bahwa pengembangan sistem persampahan dilakukan melalui penyebaran lokasi di seluruh wilayah yang memiliki keterkaitan erat dengan sistem transportasi. Rencana pengembangan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) dialokasikan pada :

1. Wilayah barat di Desa Galuga Kecamatan Cibungbulang, Desa Growong dan Desa Dago Kecamatan Parung Panjang, serta Desa Cigudeg Kecamatan Cigudeg.

2. Wilayah tengah di Desa Candali dan Desa Pasir Gaok Kecamatan Rancabungur.

3. Wilayah timur di Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal dan Desa Sukasirna Kecamatan Jonggol.

Untuk dapat melaksanakan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan tersebut diperlukan adanya koordinasi yang baik serta perhatian dari berbagai pihak. Hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan pengelolaan sampah dan

kebersihan terciptanya rasa tanggung jawab dari masing-masing warga sehingga perlu adanya juga peran serta masyarakat.

Lembaga atau instansi pengelola persampahan merupakan motor penggerak seluruh kegiatan pengelolaan sampah dari sumber sampai TPA.

Kondisi kebersihan suatu wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manajemen pengelolaan persampahan. Pelayanan persampahan di lapangan dilaksanakan langsung oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, sehingga dalam hal ini dinas berfungsi sebagai regulator atau pembuat kebijakan juga sekaligus menjalankan kegiatan sebagai operator. Akibatnya sulit dilakukan pengawasan yang obyektif sehingga kualitas pelayanan menjadi tidak terjamin. Ketimpangan tersebut masih belum didukung oleh SDM (sumber daya manusia) yang memadai terutama ditinjau dari kuantitas dan kualitas.

Profesionalisme pelayanan persampahan saat ini sudah mendesak untuk segera diwujudkan. Sehingga satu institusi yang berperan ganda sebagai operator sekaligus regulator perlu dipisahkan. Adanya dua peran dalam satu institusi dapat menyebabkan kerancuan dalam mekanisme pengawasan pelaksanaan pengelolaan sampah. Apabila institusi akan berperan sebagai operator maka diperlukan institusi pengawas yang berperan sebagai regulator. Namun apabila untuk menyelenggarakan pelayanan persampahan dikontrakkan dengan pihak ketiga, maka Dinas menjadi regulator dengan tetap berkordinasi dengan instansi terkait.

Kabupaten Bogor sampai saat ini belum menerbitkan peraturan daerah tentang pengelolaan sampah walaupun sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam Undang-Undang tersebut lebih menekankan pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat sehingga masyarakat diajak ikut serta dalam mengurangi dan menangani sampah.