LANDASAN TEORI
2.1 Teori yang Mendukung
2.1.7 Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran merupakan hal yang wajib diketahui oleh guru di dalam pelaksanaan implementasi Kurikulum 2013. Trianto (2010) menyatakan bahwa perangkat pembelajaran merupakan perangkat yang digunakan dalam proses pengelolaan proses pembelajaran yang meliputi buku peserta didik, silabus, RPP, LKS, soal evaluasi atau tes hasil belajar dan media pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang disusun oleh guru dapat dijadikan acuan untuk melihat sejauh mana kelancaran guru dalam mengajar di kelas. Akbar (2013: 2) mengungkapkan bahwa “Perangkat pembelajaran terdiri dari model pembelajaran, instrumen asesmen, dan RPP”.
Paparan dari kedua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran adalah segala perlengkapan belajar yang disusun oleh guru untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan. Silabus, RPP, bahan ajar, LKS adalah perangkat pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar, namun pengembangan yang dilakukan peneliti hanya akan terfokus pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPPH).
2.1.7.1 Silabus
Silabus pada dasarnya merupakan acuan bagi penyusunan RPP untuk guru. Silabus adalah rencana pembelajaran pada satu tema besar yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar Departemen Pendidikan Nasional 2008 (dalam Akbar: 2013).
Silabus memiliki beberapa unsur yang harus termuat dalam setiap penyusunannya. Majid (2009) menjelaskan bahwa suatu silabus paling sedikit harus mencakup unsur-unsur berikut : (1) Tujuan mata pelajaran yang akan diajarkan. (2) Sasaran-sasaran mata pelajaran. (3) Keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik. (4) Urutan topik-topik yang diajarkan. (5) Aktivitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberasilan pengajaran. (6) Berbagai teknik evaluasi yang digunakan.
Pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa silabus merupakan seperangkat rencana pembelajaran yang disusun secara sistematis. Silabus memuat komponen kompetensi dasar dan menunjukkan kegiatan pembelajaran secara umum untuk mencapai kompetensi dasar tersebut. Silabus kemudian dijabarkan kedalam RPP untuk setiap kali pertemuan. Berdasarkan kurikulum 2013, penyusunan silabus dapat disusun oleh pemerintah pusat, akan tetapi pengembangan silabus dapat dilakukan oleh guru dengan menyesuaikan lingkungan belajar atau satuan pendidikannya Akbar (2013).
2.1.7.2RPP
Setiap kegiatan pembelajaran, guru wajib menyusun sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan penjabaran dari silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus (Majid: 2009). Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) satu kali pertemuan atau lebih.
Komponen dalam RPP yaitu tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar. Munthe (2009) menjelaskan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun oleh guru harus berorientasi pada penguatan pendidikan karakter bagi siswa. Akbar (2013) mengungkapkan bahwa guru perlu menyusun RPP yang berorientasi pada pendidikan karakter dan mengimplementasikan pada praktik pembelajaran sehari-hari di kelas. Pendidikan karakter adalah upaya menjadikan siswa berkarakter baik. Penyusunan RPP berorientasi Kurikulum 2013 mendukung guru untuk menyeimbangkan aspek pengetahuan dengan karakter siswa.
Pendapat dari beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebuah rencana yang memuat langkah-langkah pembelajaran disertai kompetensi dasar. RPP yang baik adalah RPP yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan lingkungan tempat siswa menetap. 2.1.7.2.1 Prinsip Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajarn (RPPH)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) menjadi pedoman guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Hal tersebut dapat dikembangkan dengan memperhatikan minat dan perhatian siswa terhadap materi pembelajaran (Mulyasa: 2008). Prinsip pengembangan RPP terdapat dalam Permendikbud Nomor 81A (2013) yang menyebutkan bahwa RPPH dapat dikembangkan guru dengan memperhatikan silabus dan menyesuaikan kondisi pendidikan, meliputi kemampuan awal siswa, minat, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai dan/ atau lingkungan siswa yang mampu mendorong partisipasi aktif sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013.
Langkah-langkah pengembangan RPPH menurut Akbar (2013) adalah, (1) identifikasi masalah pembelajaran di kelas melalui review literature, observasi kelas, dan telah dokumen terkait dengan RPPH yang ada dan digunakan dilapangan oleh guru; (2) analisis kurikulum dengan menganalisis starndar isi meliputi kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran; (3) menyusun draft RPPH berdasarkan landasan teoritik dan standar proses; (4) validasiahli untuk mengetahui kesesuaian draft RPPH dengan landasan teoritik penyusunan RPPH menggunakan instrumen validasi; (5) merevisi produk RPPH berdasarkan validasi ahli sehingga menghasilkan draft RPPH yang baik dan sesuai
dengan teori; (6) melakukan ujicoba RPPH dalampraktik pembelajaran di kelas. Kemudian guru melakuakn validasi untuk mengetahui keterterapan RPPH. Bersamaan dengan hal tersebut, dilakukan validasi audience oleh siswa untuk mengetahui keefektifan RPPH dalam mencapai target pembelajaran; (7) melakukan revisi berdasarkan uji coba terbatas. berdasarkan uji coba, analisis efek pembelajaran dan keterbatasan RPPH, melakukan revisi berdasarkan uji coba terbatas akan menghasilkan RPPH yang lebih baik dan efektif untuk pembelajaran.
Uraian diatas, dapat peneliti pahami bahwa pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) harus memperhatikan panduan kurikulum, lingkungan sekolah, kebutuhan siswa, dan minat siswa agar pembelajaran dapat berjalan dengan optimal. Tujuan RPPH agar memiliki kualitas yang baik serta efektif untuk pembelajaran, maka baik jika mengikuti langkah langkah pengembangan yang secara garis besar dibagi menjadi 4, yaitu analisis kebutuhan, penyusunan produk termasuk di dalamnya melakukan analisis KI, KD, indikator, dan tujuan pembelajaran, melakukan validasi ahli, dan uji coba terbatas.
2.1.7.2.2 Kriteria Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang bernilai tinggi Rencana pelaksanaan pembelajaran yang bernilai tinggi mempunyai beberapa kriteria, menurut Akbar (2013) mengemukakan bahwa RPP yang bernilai tinggi (validasinya tinggi) adalah RPP yang memenuhi komponen sebagai berikut: (1) Ada rumusan tujuan pembelajaran yang jelas, lengkap, disusun secara logis, dan mendorong siswa untuk berfikir tingkat tinggi. (2) Deskripsi materi
jelas, sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, dan perkembangan keilmuwan. (3) Pengorganisasian materi pembelajaran jelas cakupan materinya meliputi kedalaman dan keleluasaannya, sistematik, runtut, dan sesuai dengan alokasi waktu. (4) Sumber belajar sesuai dengan perkembangan siswa, materi, dan lingkungan. (5) Ada skenario pembelajaran (awal, akhir inti), secara rinci, lengkap, dan langkah pembelajarannya mencerminkan metode/model pembelajaran yang digunakan. (6) Langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan, menggambarkan metode dan media yang dipergunakan, memungkinkan siswa terlibat secara optimal, memungkinkan terbentuknya dampak pengiring, memungkinkan terjadinya proses inkuiri bagi siswa, dan ada alokasi waktu tiap langkah. (7) Teknik pembelajaran tersurat dalam langkah pembelajaran, sesuai tujuan pembelajaran, mendorong siswa untuk berbartisipasi aktif, memotivasi, dan berfikir aktif. (8) Tercantum kelengkapan RPP berupa prosedur dan jenis penilaian sesuai tujuan pembalajaran, ada instrumen penilaian yang bervariasi (tes dan non-tes), serta rubrik penialaian.
Secara garis besar kedelapan komponen tersebut menilai RPP yang bernilai tinggi adalah RPP yang dirancang secara sistematis dengan memperhatikan silabus sebagai acuan dalam penyusunan RPP. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun harus lengkap, dapat membuat siswa menjadi aktif ketika berlangsungnya pembelajaran serta RPP yang disusun harus menyesuaikan dengan karakteristik juga lingkungan siswa tinggal.
2.1.7.3 Bahan Ajar Tematik
Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan atau materi yang disusun secara sistematis untuk digunakan dalam proses belajar yang bertujuan membantu guru dalam pelaksanaaan kegiatan pembelajaran. Bahan ajar merupakan fasilitas informasi, alat dan teks yang diperlukan guru untuk merencanakan dan menganalisis implementasi pembelajaran (Majid: 2009).
Guru didorong untuk rajin dan kreatif mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran serta keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik tergantung pada wawasan, pengetahuan, pemahaman dan tingkat kreatifitas dalam mengelola bahan ajar (Prastowo: 2014).
Kesimpulan mengenai bahan ajar tematik menurut peneliti yaitu bahwa bahan ajar tematik adalah semua bahan dan materi yang digunakan guru untuk menjelaskan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa sehingga pembelajaran akan berlangsung secara optimal.
2.1.7. 4 Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan lembaran kertas yang diberikan kepada siswa. Lembaran kertas tersebut berisi tugas ataupun langkah kerja yang harus siswa ikuti. LKS dapat bersifat teoritis maupun praktis, mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai siswa dan penggunaannya tergantung pada bahan ajar lain (Prastowo: 2014).
Lembar Kerja Siswa (LKS) berguna untuk mengaktifkan siswa, hal tersebut sesuai dengan pendapat Prastowo (2014) yang mengungkapkan bahwa fungsi LKS adalah (1) LKS sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik
melainkan mengaktifkan siswa, (2) LKS sebagai bahan ajar yang memudahkan siswa untuk memahami materi yang diberikan, (3) LKS sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih, dan (4) LKS mempermudah pelaksanaan pengajaran kepada siswa. Berhubungan dengan pembelajaran tematif, manfaat LKS yaitu mendapatkan kesempatan untuk memancing siswa agar secara aktif terlibat dengan materi yang dibahas (Prastowo: 2014). Materi yang dibahas tentu saja sudah dirancang secara tematik. Untuk itu guru harus selektif dan kreatif dalam memilih dan menggunakan LKS agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Kesimpulannya LKS merupakan lembar tugas siswa yang dapat berisi materi pembelajaran, langkah kerja suatu kegiatan, ataupun tugas untuk siswa. LKS berguna untuk membantu siswa dalam memahami suatu materi pembelajaran, selanjutnya siswa akan mendapat tambahan pengetahuan dari LKS yang dikerjakan ataupun diikuti.
2.1.7.5Pembagian Materi Kelas 1
Bagian ini akan menjelaskan mengenai pembagian materi yang disusun oleh peneliti terkait produk RPPH berbasis permainan anak. Tema dan subtema akan peneliti uraikan dalam bagian ini.
2.1.7.5.1 Tema Kegiatanku
Tema kegiatanku adalah tema ketiga dalam satu semester di kelas 1 SD. Tema ini terdiri dari 4 subtema, yaitu (1) Kegiatan Pagi Hari, (2) Kegiatan Siang Hari, (3) Kegiatan Sore Hari, dan (4) Kegiatan Malam Hari. Materi dalam tema ini memuat topik kegiatan yang dilakukan oleh siswa saat pagi tiba, siang, sore dan malam hari yang kemudian dikaitkan antar muatan pelajaran. Subtema
Kegiatan Pagi Hari dipilih oleh peneliti karena mampu mengakomodasi permainan anak didalamnya.
2.1.7.5.2 Subtema Kegiatan Pagi Hari
Subtema Kegiatan Pagi Hari adalah subtema pertama dalam tema Kegiatanku. Materi yang terdapat dalam tema ini dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari siswa mulai dari pagi hari ketika matahari terbit. Matematika, Bahasa Indonesia, PPKn, SBdP, dan PJOK merupakan muatan pelajaran yang pokok dalam subtema ini. Materi dalam muatan pelajaran Matematika mempelajari tentang mengenal bilangan asli sampai 99, membandingkan lama suatu aktivitas, penjumlahan dan pengurangan terkait aktivitas sehari hari dan mengolah data menggunakan diagram piktograf. Bahasa Indonesia mempelajari mengenai teks deskriptif kegiatan di pagi hari, selanjutnya dalam muatan pelajaran PPKn mempelajari adanya tata tertib dalam kehidupan sehari-hari. Muatan pelajaran PJOK mempelajari tentang konsep gerak dasar lokomotor, dan dalam SBdP siswa belajar untuk mengenal karya seni ekspresi serta pola irama lagu bervariasi. 2.1.8 Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang sangat dengan anak-anak, begitu juga siswa kelas I SD. Bermain merupakan bagian yang amat penting dalam tumbuh kembang anak untuk menjadi manusia seutuhnya, melalui kegiatan bermain ini anak bisa mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi, dan sosial (Prasetyono: 2008).
Kegiatan bermain yang dilakukan siswa dapat membantu siswa mencapai perkembangan emosi dan social. Jamaris (2006) bermain merupakan suatu
kegiatan yang dapat menstimulasi kegiatan dan perkembangan kognitif, psikososial, fisiologis, dan bahasa serta komunikasi.
Paparan ahli tentang bermain dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa bermain merupakan kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif siswa dalam meningkatkan prestasi belajar.