Koreksi tersebut ditudjukan pada ototantra dan sertatantra dari suatu daerah.
kelalaian itu mengenai suatu peraturan jang diadakan oleh lebih dari suatu swatantra ? Fatsal 27 memungkin- kan bahwa beberapa D.P.R. membikin suatu „peraturan ber
sama mengenai kepentingan bersama dari beberapa swatantra itu. Kepentingan bersama itu harus terletak dalam lingkungan kekuasaan intern dari mereka masing-masing.
Fatsal 27 tidak memberikan pedoman bagaimana kerdja sama itu harus diadakan dan organisasi-organisasi apa jang boleh di
adakan untuk mengurus soal-soal jang diatur bersam a itu.
Dengan demikian maka para swatantra jang berkepentingan ialah bebas untuk memilih tjaranja sendiri, asal tidak melanggar hukum atau kepertjajaan umum, misalnja dengan mengadakan komisi-komisi, N.V., wakaf dsb untuk mengurus kuburan, se- kolahan, saluran air umum dan soal-soal lain untuk kepentingan 48
bersama. Mungkin sekali dapat dibentuk badan-badan tersendiri sebagai suatu „doelgemeenschap” atau „Zweokverband”. Misal
nja beberapa desapradja kemudian dapat membentuk suatu organisasi pengairan untuk mengurus vvaduk bersama dan or
ganisasi itu dapat membikin peraturan-peraturannja sendiri seperti halnja dengan subak-subak di Bali.
Pembikinan, perubahan dan pentjabutan dari peraturan ber
sama itu harus disahkan oleh instansi jang setingkat lebih atas daripada swatantra tertinggi jang ikut serta membuat peraturan bersama itu.
Djika misalnja kota Blitar mengadakan peraturan bersama dengan Kabupaten Blitar, maka jang mengesahkan ialah instansi propinsi. Kota Blitar misalnja mengadakan peraturan untuk me- ngontrol pembikinan rokok kretek didaerah kota, agar supaja penduduk terdjamin kesehatannja, sedang kabupaten membantu usaha itu, karena bahan tembakau jang diperlukan adalah asal- nja dari wilajah kabupaten. Kedua swatantra dapat mengadakan kerdja sama. Kerdja sama itu ialah akibat ototantra, jaitu me
rupakan salah suatu tjara bagaimana soal jang diserahkan dengan ototantra itu dapat diatur sebaiknja. Oleh karena . itu, maka koreksi ex fatsal 25 itu dapat dilakukan terhadap salah suatu fihak partner jang melalaikan kewadjibannja seperti jang ia djandjikan sendiri dalam peraturan bersama itu dengan mem- biarkan partner lainnja jang tak salah.
Djika Kabupaten Blitar tersebut tidak menepati kewadjiban
nja, maka tugasnja dapat diatur oleh Pusat (bukan oleh propinsi) ex fatsal 25 ajat 1 dengan Peraturan Pemerintah Pusat, agar supaja Kota Blitar jang menepati kewadjibannja djangan dirugi- kan. Djika kedua-dua lalai, maka Pusat harus mengambil dua tindakan, jaitu terhadap mereka masing-masing.
Uraian kita tersebut tidak mengurangi hak dari fihak jang dirugikan untuk mengadakan tuntutan sipil pada pengadilan ter
hadap fihak jang merugikan, karena dalam hal kerdja sama antara dua swatantra itu tersimpul pula anasir-anasir dari suatu perdjandjian, jang dapat mengakibatkan „wanprestatie” sipil dsb.
Disini letak perbedaan dengan kelalaian jang hanja mengenai
satu daerah sadja seperti kita uraikan dibab jang lalu jang hanja merupakan „overheidswandaad”.
Karena peraturan bersama itu terdjadi dengan pengesahan swatantra jang diatasnja, maka perubahan dan pentjabutannja harus disahkan pula oleh instansi atasan itu, djadi jang berke- pentingan tidak bebas untuk mengadakan perubahan-perubahan sendiri. Seandainja ada selisih mengenai perubahan dsb itu, m aka instansi jang berhak mengesahkan, harus m emutuskan selisih itu.
Sebenarnja fatsal 27 ajat 3 itu tidak perlu ditjantumkan, karena toh sudah ada fatsal 43 dan 44 jang mengatur atjara perselisihan mengenai soal-soal tentang pemerintahan antara para swatantra.
Perselisihan mengenai „perubahan dan pentjabutan dari suatu peraturan bersama” itu sudah termasuk dalam pengertian perihal
„perselisihan tentang pemerintahan” difatsal 43. Selisih jang sifatnja sipil dapat dia.djukan pada hakim biasa, jaitu swatantra dalam kwalitetnja sebagai suatu badan hukum, „rechtspersoon”
dan tidak sebagai Pemerintah (overheid) dapat berperkara.
Selama belum acla peraturan lain daripada' Peraturan H india Belanda, memang setjara teoretis dapat dipersoalkan apakah suatu swatantra merupakan badan hukum jang bersifat Eropah, djadi misalnja tak dapat memiliki sawah jasan, ataukali badan hukum bersifat asli, djadi misalnja tak boleh m engusahakan per- tambangan dsb.
Djika kerdja sairfa itu sifatnja hanja sebagai agrement dan tidak menelurkan suatu peraturan bersama atau harija bersifat kordinasi antara para D.P.D. dari swatantra-swatantra tersebut, m aka tidak perlulah dimintakan pengesahan atau selisihnja harus di- putuskan menurut fatsal 27 tersebut. Dalam suatu konperensi misalnja dapat diputuskan bahwa tiap-tiap kabupaten diseluruh propinsi atau seluruh negara akan berusaha sekerasnja untuk menambah hasil bumi, dapat diputuskan untuk bersam a-sam a mengadjukan mosi dsb pada Pusat dll. Kerdja sama jang dem i
kian itu berlangsung diluar fatsal 27. Fatsal 27 dengan tepat tidak memberi kemungkinan pada atasan untuk memaksakan peraturan bersama pada swatantra-swatantra, misalnja Swatantra A ingin mengatur sesuatu hal bersama dengan Swatantra B, tetapi B 50
4
membandel, lalu A minta pada instansi atasan supaja dibikinkan aturan bersama. Paksaan itu tak diperkenankan.
Dalam praktek'peraturan bersama itu djarang diadakan. Dalam zaman Belanda misalnja pernah diadakan peraturan bersama ditahun 1932 diantara Kabupaten Probolinggo dengan Kabupaten Lumadjang mengenai saluran air dari Ranubedali jang melewati kedua wilajah otonom tersebut.
97. APALAI-I SOAL EXTERN ITU ?
Soal-soal jang diatur bersama tersebut masih merupakan soal intern dari swatantra jang bersangkutan.
Soal-soal extern ialah soal-soal jang berada diluar kompetensi- nja swatantra, jang urusannja tidak diserahkan pada swatantra itu, tetapi diatur oleh suatu kekuasaan lain daripada swatantra jang bersangkutan.
Kekuasaan extern itu benar dilaksanakan dalam wilajah suatu swatantra, tetapi jang menjelenggarakan ialah instansi lain, misal
nja Pemerintah Pusat ataupun swatantra jang lebih atasan.
Terhadap soal-soal exterji itu tidak berlaku Undang-undang Pokok, jaitu diatur sendiri menurut kehendak instansi extern itu.
Termasuk didalam soal extern ialah :
a. Soal-soal jang sangat mungkin sekali diserahkan sebagai soal intern pada swatantra, tetapi belum dinjatakan akan diserah
kan oleh instansi atasan, misalnja untuk Propinsi Kalimantan ialah soal-soal penerangan, soal-soal perindustrian daerah dsb jang masih tetap dipegang dan diatur oleh/atau atas nama Pusat oleh pegawai-pegawai Pemerintah jang bertindak dibawah perintah Pusat. Buat propinsi di Djawa dan Sumatra soal-soal tersebut sudah berhenti mendjadi soal extern, meski
pun ada kalanja belum diwudjudkan penjerahannja.
b. Soal-soal jang karena sifatnja tidak mungkin atau tidak se- patutnja diserahkan pada sesuatu swatantra, misalnja urusan pelabuhan, urusan-urusan imigrasi, urusan kereta api, pe- nerbangan, pertahanan dsb jang seharusnja diatur oleh Pe
merintah Pusat sendiri setjara sentral, meskipun banjak sekali
objek-objeknja, jaitu pelabuhan-pelabuhan, station-station, lapangan terbang, kesatrijan dll itu, berada diwilajah dari suatu swatantra. Kekuasaan mengurus objek-objek tersebut dilaksanakan didaerah-daerah oleh pegawai-pegawai negeri jang spesial ditugaskan oleh Pusat untuk melaksanakan ke
kuasaan itu sesuai dengan instruksi-instruksi dari Pemerintah Pusat. Tidak djarang suatu swatantra diberi tugas oleh Pusat untuk memberi bantuan pada kekuasaan extern itu. Bantuan itu diadakan guna pegawai-pegawai Pusat jang mengerdjakan tugas extern itu, djadi bukan bersifat sebagai tugas sertatantra.
Berh'ubung adanja kekuasaan extern a dan b tersebut maka masih diperlukan pegawai-pegawai Pusat jang ditempatkan di
daerah-daerah. Mereka tidak dibawah perintah swatantra jang ada disitu.
Sebagai pegawai Pusat, maka suatu kepala daerah disuatu swatantra ataupun diwilajah administratif, misalnja gubernur, wedana, residen dsb mengerdjakan tugas-tugas extern jang di- perintahkan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Pemerintah Pusat, jaitu terutama mengenai bagian a dari tugas extern itu.
V