• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB XII PROGRAM RUANG KAWASAN DAN ZONASI

12.2.4 Peraturan Zonasi

Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya disusun dengan memperhatikan:

1. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang alam;

2. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum;

3. pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana alam; dan

4. pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi lingkungan.

A. Peraturan Zonasi Kawasan Lindung

o Peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;

• ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi; dan

• pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk

78

asli dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat.

o Peraturan zonasi untuk kawasan bergambut disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;

• ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem unik; dan

• pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air.

o Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

• penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada;

dan

• penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya.

o Peraturan zonasi untuk sempadan pantai disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;

• pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi;

• pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai;

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud butir di atas; dan

• ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan.

o Peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar danau/ waduk disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air;

• pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi; dan

• penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

o Peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau kota disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi;

• pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya; dan

79

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada butir 2.

o Peraturan zonasi untuk kawasan suaka alam, suaka alam laut dan perairan lainnya disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk kegiatan wisata alam;

• pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam;

• ketentuan pelarangan pemanfaatan biota yang dilindungi peraturan perundang-undangan;

• ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengurangi daya dukung dan daya tampung lingkungan; dan

• ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat merubah bentang alam dan ekosistem.

o Peraturan zonasi untuk suaka margasatwa, suaka margasatwa laut, cagar alam, dan cagar alam laut disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;

• ketentuan pelarangan kegiatan selain yang pada butir 1;

• pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada butir 1;

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada butir 3; dan

• ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan merupakan flora dan satwa endemik kawasan.

o Peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata alam;

• ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau; dan

• ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah mengurangi luas dan/atau mencemari ekosistem bakau.

o Peraturan zonasi untuk taman nasional dan taman nasional laut disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;

• pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat;

• ketentuan pelarangan kegiatan budi daya di zona inti; dan

80

• ketentuan pelarangan kegiatan budi daya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi atau terumbu karang di zona penyangga.

o Peraturan zonasi untuk taman hutan raya disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;

• ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada butir 1;

• pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada butir 1; dan

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada butir 3.

o Peraturan zonasi untuk taman wisata alam dan taman wisata alam laut disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;

• ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf 1;

• pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf 1; dan

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf 3.

o Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, dan pariwisata; dan

• ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan.

o Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor dan kawasan rawan gelombang pasang disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana;

• penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk; dan

• pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum.

o Untuk kawasan rawan banjir, selain sebagaimana dimaksud di atas, peraturan zonasi disusun dengan memperhatikan:

• penetapan batas dataran banjir;

• pemanfaatan dataran banjir bagi ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum dengan kepadatan rendah; dan

• ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan permukiman dan fasilitas

81

umum penting lainnya.

o Peraturan zonasi untuk cagar biosfer disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam;

• pembatasan pemanfaatan sumber daya alam; dan

• pengendalian kegiatan budi daya yang dapat merubah bentang alam dan ekosistem.

o Peraturan zonasi untuk ramsar disusun dengan memperhatikan peraturan zonasi untuk kawasan lindung.

o Peraturan zonasi untuk taman buru disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan untuk kegiatan perburuan secara terkendali;

• penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan;

• ketentuan pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai buruan; dan

• penerapan standar keselamatan bagi pemburu dan masyarakat di sekitarnya.

o Peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan plasma nutfah disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;

• pelestarian flora, fauna, dan ekosistem unik kawasan; dan

• pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.

o Peraturan zonasi untuk kawasan pengungsian satwa disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;

• pelestarian flora dan fauna endemik kawasan; dan

• pembatasan pemanfaatan sumber daya alam.

o Peraturan zonasi untuk terumbu karang disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan untuk pariwisata bahari;

• ketentuan pelarangan kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan terumbu karang;

dan

• ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf b yang dapat menimbulkan pencemaran air.

o Peraturan zonasi untuk kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi disusun dengan memperhatikan:

• ketentuan pelarangan penangkapan biota laut yang dilindungi peraturan perundang-undangan; dan

• pembatasan kegiatan pemanfaatan sumber daya kelautan untuk mempertahankan makanan bagi biota yang bermigrasi.

82

o Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan batuan dan fosil disusun dengan

memperhatikan:

• pemanfaatan untuk pariwisata tanpa mengubah bentang alam;

• ketentuan pelarangan kegiatan pemanfaatan batuan; dan

• kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk penelitian arkeologi dan geologi.

o Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan bentang alam disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan/atau pariwisata.

o Peraturan zonasi untuk kawasan keunikan proses geologi disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan kawasan yang memiki ciri langka berupa proses geologi tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan/atau pariwisata.

o Peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam geologi disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana;

• penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk; dan

• pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum.

o Peraturan zonasi untuk kawasan imbuhan air tanah disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

• penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada;

dan

• penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya.

o Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan:

• pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau; dan

• pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air.

B. Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya

o Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi dan hutan rakyat disusun dengan

83

memperhatikan:

• pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan;

• pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan; dan

• ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf 2.

o Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian disusun dengan memperhatikan:

1. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah; dan

2. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya non pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama.

o Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan disusun dengan memperhatikan:

1. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dan/atau nelayan dengan kepadatan rendah;

2. pemanfaatan ruang untuk kawasan pemijahan dan/atau kawasan sabuk hijau; dan 3. pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari.

o Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan:

1. pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundangundangan;

2. pengaturan kawasan tambang dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat; dan

3. pengaturan bangunan lain disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah.

o Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri disusun dengan memperhatikan:

1. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya; dan

2. pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan industri.

o Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan:

1. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan;

84

2. perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau;

3. pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata;

o Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan memperhatikan:

1. penetapan amplop bangunan;

2. penetapan tema arsitektur bangunan;

3. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan; dan

4. penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

12.3. PENUTUP Peranyaan :

Uraikan tahap-tahap perencanaan tapak serta teknik dan metodenya

85

BAB XIII

RANCANGAN SIRKULASI DAN PARKIR

13.1. PENDAHULUAN 13.1.1. Deskripsi Singkat

Sirkulasi merupakan elemen penting dalam tapak karena menentukan efektifitas, kemudahan, kenyamanan dan keamanan mencapai tapak dan berkegiatan didalam nya Jaringan sirkulasi, bersama sama dengan rekahan-rekahan topografis (sungai, parit, streams) pada umumnya juga merupakan struktur utama yang membentuk pola ruang dalam tapak.

13.1.2. Manfaat

Perencanan sirkulasi yang baik akan memberikan citra yang kuat akan struktur bentukan makro tapak dan menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi pemakainya.

Untuk mencapai kualitas ini, perencanaan sirkulasi harus dapat mensiasati/memodifikasi hambatan-hambatan yang terdapat dalam tapak dan mengoptimalkan potensinya, serta mempertimbangkan kondisi sirkulasi dan transportasi yang sudah ada pada skala yang lebih luas.

13.1.3. Learning Outcomes

Mampu memahami dan menjelaskan rancangan sirkulasi dan parkir.

13.2. PENYAJIAN/URAIAN

13.2.1. Sistem Sirkulasi dalam Tapak (On Site Circulation)

Sistem sirkulasi dalam tapak memfasilitasi perpindahan/pemindahan orang dan barang dari satu fasilitas ke fasilitas lainnya, baik dengan cara jalan kaki maupun berkendaraan. Sebagaimana sistem jaringan pergerakan pada skala yang lebih besar, pada umumnya perencanaan jaringan pergerakan ditujukan untuk memenuhi kriteria kemudahan, keamanan, kenyamanan, dan mungkin juga pengalaman. Namun demikian tidak semua kriteria tersebut harus terpenuhi pada setiap penggal jaringan pergerakan. Titik berat/prioritas dapat diberikan pada suatu jalur disesuaikan dengan fungsi utamanya.

Misalnya jalur yang disediakan untuk drop barang priotitasnya adalah kemudahan dan kecepatan. Sedangkan pedestrian dalam taman mestinya prioritasnya adalah kenyamanan, keamanan dan pengalaman.

86

Berdasar tujuan, fungsi dan prioritas perhatiannya, perbedaan fisik jalur pergerakan dalam tapak akan terlihat dari dimensi, material, penanaman tanaman, dan juga bentuk ramp atau step. Namun demikian seringkali terdapat jalur yang berfungi ganda, bersebelahan atau berpotongan. Dalam hal ini diperlukan suatu cara-cara untuk memadukannya.

13.2.2. Pola-Pola Sirkulasi

Berdasarkan kajian dari Kevin Lynch, jaringan transportasi pada skala kota dapat dikenali ragam dasarnya menjadi pola grid, radial dan linear.

Pemahaman pola jaringan perkotan perlu di pahami karena sedikit banyak dapat menjadi masukan analisis lokasional tapak seperti analisis pencapaian, intensitas dan konflik kegiatan, keramaian, kemacetan, dan kebisingan. Pola geometri jaringan perkotan juga dapat menjadi inspirasi dalam perancangan struktur bentuk tapak.

1. Grid: biasanya pada kota yang berbagai fasilitasnya terdistribusi secara merata, dan kondisi topografi tidak terlalu rumit. Karakter utama dari pola ini adalah keteraturan terjadinya perpotongan antar ruas jalan. Pola grid dapat terbentuk oleh ruas-ruas jalan yang lurus, atau berbelok (curvilinear), dengan sudut 90 atau lainnya (misalnya 60, 45, 30). Pada pola ini, kondisi kritis seperti konsentrasi kegiatan (crowded) dan kemacetan tersebar pada titik-titik perpotongan ruas.

2. Radial: biasanya pada suatu kota yang memiliki guna lahan penting, yang sering menjadi area asal, perpindahan (interchange) dan tujuan umum masyarakat. Pusat tersebut dapat berupa guna lahan yang berfungsi ekonomis, sosial atau simbolik. Pada umumnya, tempat ini menjadi orientasi utama berbagai fasilitas di kota. Pola radial termodifikasi dan bervariasi menjadi jaringan radioconcentric (radial dengan ring road) dan radial bercabang (branches radial). Pada pola ini, pada umumnya terjadai gradasi intensitas kegiatan dan kondisi kritis yang mengikutinya.

3. Linear: terdapat pda kota yang memiliki dua area sebagai magnet utama kota. Pada pola ini, gunalahan dan aktifitas lainnya berada pada sepanjang jalur utama tersebut. Pada kondisi ini intensitas kegiatan dan kondisi kritisnya hampir seragam di sepanjang jalur, meskipun gradasi kecil tetap terjadi berkaitan dengan kedekatannya dengan ke dua magnet kota tersebut. Pola linear tidak berarti selalu lurus (straight), tetapi dapat berupa kurva, bahkan garis organik mengikuti topografi lahan kota.

87

Berikut ini merupakan contoh struktur (konfigurasi) dasar tapak berdasar pola

sirkulasi tamannya :

SIRKULASI DALAM DENGAN FASILITAS DI PHERIPERI

BENTUK POHON BERCABANG

POLA SIRKULASI LINEAR

POLA SIRKULASI HIRARKHIS

FASILITAS TERPUSAT DENGAN SIRKULASI DI PHERIPERI

POLA RADIAL

FASILITAS UTAMA SEBAGAI

PUSAT DAN FASILITAS

LAINNYA BEDARA PADA

SUATU JARAK

88

13.2.3. Penempatan Jalur Sirkulasi Kendaraan Pada Lahan

Jalur sirkulasi, terutama yang diperuntukkan bagi kendaraan sebaiknya diletakkan pada punggung bukit (ridgeline) dengan pertimbangan:

a. Area ini, meskipun tidak begitu lebar, tetapi relatif paling datar, sehingga memerlukan penyesuaian topografi secara minimal

b. Sebagai pembatas watershed, area ini aman dari genangan yang dapat membahayakan pejalan kaki dan kendaraan serta yang merusakkan konstruksi

c. Secara estetika, jalur yang mengikuti kontur pada garis punggung bukit akan menciptakan pola organic yang khas

Sayangnya tidak semua tapak memiliki garis punggung bukit yang sesuai dengan rencana pengembangan system jaringan yang diharapkan. Jika kita berada dalam kondisi demikian, jaringan jalan untuk kendaraan sebaiknya ditempatkan pada kontur secara diagonal dimana kemiringan >4%.

13.2.4. Parkir

Parkir dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan atau aktifitas memberhentikan kendaraan di suatu ruang tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Kendaraan yang berhenti di suatu ruang tertentu kadang juga memilih tempat yang berbeda-beda, ada yang di pinggir jalan, ruang trotoar, taman parkir, maupun ruang kosong yang tidak dimanfaatkan.

Mengingat mobilitas kendaraan tidak hanya berjalan namun juga berhenti di suatu ruang, maka penataan perparkiran menjadi perhatian dalam menata sirkulasi dan akses kendaraan di perkotaan.

Pada prinsipnya, menurut penempatan, parkir kendaraan bermotor dapat dibagi menjadi dua, yaitu parkir di jalan (On-Street Parking) dan Parkir di luar badan jalan (Off-Street parking).

A. Parkir di ruang milik jalan (On-Street Parking)

Parkir On Street adalah parkir yang mengambil tempat sepanjang bahu jalan sebagai tempat untuk memarkirkan kendaraan baik dengan atau tanpa melebarkan jalan. Parkir di tepi jalan bersifat menguntungkan bagi pengunjung dikarenakan kepraktisan dan dapat langsung mencapai objek yang dituju, namum parkir jenis ini memiliki hambatan samping yang besar jika dikawasan tersebut berupa kawasan perdagangan dan jasa yang padat.

89

Parkir di ruang manfaat jalan diatur berdasarkan beberapa prinsip diantaranya:

1. Parkir di daerah milik jalan, hanya diperbolehkan pada jalan lokal dan jalan kolektor sekunder, pada jalan arteri primer parkir on-street dilarang karena menimbulkan hambatan samping yang berarti. Parkir on-street juga dilarang untuk kawasan yang telah ditentukan untuk menyediakan parkir bersama baik berupa gedung maupun taman parkir tersendiri.

2. Penentukan kebijakan parkir di jalan lokal maupun jalan kolektor sekunder ditentukan oleh keputusan bupati masing-masing kabupaten. Hal ini berarti sistem parkir dan besaran retribusi parkir berbeda di tiap-tiap daerah.

3. Penyediaan ruang parkir on-street tidak boleh mengurangi daerah penghijauan dengan tetap memperhatikan kelancaran sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki, serta kesehatan, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.

Metode Parkirdi ruang jalandiantaranya:

a. Parkir On Street dengan susunan kendaraan membujur searah dengan

orientasi jalan.

90

Gambar 13.1 Tampang Melintang Tipikal Parkir On Street dengan Setting Kendaraan Membujur Searah dengan Orientasi Jalan

Sumber: Tugas Mata Kuliah Studio Perencanan Wilayah, PWK 2007

Jenis parkir di jalan dengan setting kendaraan membujur searah dengan orientasi jalan memungkinkan penggunaan ruang sisi jalan yang 90elative lebih sedikit sehingga tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas kendaraan bermoto. Kondisi parkir seperti ini memiliki nilai hambatan samping yang lebih rendah dibandingkan setting sudut parkir lainnya.

b. Parkir di jalan dengan setting kendaraan menyudut

Metode parkir di jalan dengan setting kendaraaan menyudut baik 30

o

, 45

o

, dan

60

o

lebih efisien karena dapat disesuikan dengan lebar jalan yang ada dan

mampu menampung lebih banyak kendaraan, terlebih lagi jenis parkir menyudut

mempermudahkan proses berparkir ketika kendaraan akan keluar maupun

masuk.

91 1. Parkir di jalan dengan sudut 30

o

Gambar 13.2 Tampang Melintang Tipikal Parkir On Street dengan Setting Kendaraan Menyudut 30 o

Sumber: Tugas Mata Kuliah Studio Perencanan Wilayah, PWK 2007

2. Parkir di jalan dengan setting kendaraan menyudut 60

o

92

Gambar 13.3 Tampang Melintang Tipikal Parkir On Street dengan Setting Kendaraan Menyudut 60 o

Sumber: Tugas Mata Kuliah Studio Perencanan Wilayah, PWK 2007

Setting parkir menyudut pada umumnya diaplikasikan dengan melihat lebar jalan yang ada. Keuntungan dari metode parkir menyudut yaitu mampu menampung kendaraan dalam jumlah yang cukup banyak tergantung dari sudut yang direncanakan.

3. Parkir Tegak Lurus

Parkir dengan setting tegak lurus adalah parkir di jalan dengan memposisikan kendaraan berjajar dengan membentuk sudut 90 o, Parkir dengan metode ini mampu menampung kendaraan dalam jumlah banyak namun juga memiliki hambatan samping yang begitu besar dikarenakan memakan badan jalan yang banyak untuk ruang gerak kendaraan ketika masuk dan keluar parkir.

93

Gambar 13.4 Tampang Melintang Tipikal Parkir On Street dengan Setting Kendaraan Tegak Lurus

Sumber: Tugas Mata Kuliah Studio Perencanan Wilayah, PWK 2007

o Perhitungan banyaknya petak parkir di sisi jalan (On-Street Parking)

Menghitung banyaknya jumlah kendaraan yang dapat ditampung pada ruas jalan dapat dihitung berdasarkan metode parkir yang akan diterapkan, banyaknya petak parkir dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabeel Sudut Parkir dan Jumlah Kendaraan yang di Cakupinya

No Sudut Pemakaian

Lebar Jalan (Meter)

Banyak Petak Parkir

Ruang Parkir Ruang Gerak

1. Sejajar 2.60 6.25 N=L/22

2. 300 5.00 8.40 N=(L-2.8/17

3. 450 5.70 9.80 N=(L-6.7)/12

4. 600 6.00 11.70 N=(L-6.6)/9.8

5. Tegak Lurus 5.50 13.10 N=L/8.5

Sumber: Kumpulan Makalah Penunjang Pada Apresiasi Teknik Analisis Penyusunan Rencana Tata Ruang, Direktorat Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum.

94

Keterangan: N= Jumlah Petak Parkir

L= Panjang sisi jalan (feet) 1 feet = 3,048 meter

Ukuran kendaraan sesuai dengan US Standar Passenger Car yaitu 1.8m x 4.8 m

B. Parkir di luar jalan (Of-Street Parking)

Adalah kegiatan perparkiran yang menggunakan tempat tersendiri di luar badan jalan, baik itu di bangunan khusus parkir maupun halaman terbuka. Beberapa bentuk fasilitas parkir di luar jalan dapat berupa gedung parkir atau basement maupun pelataran parkir.

Keunggulan dari parkir di off-street dilihat dari konteks keruangan adalah minimalnya atau bahkan tidak ada hambatan samping sama sekali dari kegiatan perparkiran terhadap laju lalu lintas kendaraan di jalan. Di samping itu manajemen parkir off-street lebih mudah dilakukan dikarenakan dapat diusahakan oleh sektor privat. Keamanan dan kenyamanan ruang juga lebih terjamin pada parkir jenis ini dengan penataan sirkulasi pintu keluar masuk yang benar.

Keleluasaan dalam mengatur petak parkir dapat dicapai dalam usaha untuk memaksimalkan kapasitas lahan parkir.

Merencanakan fasilitas parkir di luar jalan harus mempertimbangkan aspek-aspek

Merencanakan fasilitas parkir di luar jalan harus mempertimbangkan aspek-aspek